
Tiga bulan kemudian.
Doni tidak ingin meninggalkan istrinya sendiri di rumah. Tapi mengingat ia ada tugas penting dari tuan mudanya, mau tidak mau iapun harus pergi. Karena hanya dirinyalah yang bisa mengatasi masalah itu. Bukan berarti bodyguard lain tidak bisa, tapi Doni lebih unggul dari pada yang lain.
" Kamu yakin akan baik-baik saja?"
" Iya. Lagipula aku nggak sendirian di rumah. Ada pelayan dan juga bodyguard yang jaga. Jadi sekarang kamu harus fokus sama kerjaan kamu"
" Tetap aja aku nggak tenang ninggalin kamu sama pelayan dan juga bodyguard"
Serly tersenyum mendengar ucapan suaminya. Ia tau suaminya itu sangat khawatir dengan keadaannya.
" Nanti Kiran sama baby twins juga akan nemenin aku di rumah"
" Nona muda mau ke rumah kita?"
" Iya. Dia juga khawatir sama aku. Bahkan ia sempat marahin Darren karena menyuruh kamu bekerja saat aku sudah mau melahirkan"
" Ini karena keadaannya darurat, makanya ia meminta aku yang mengerjakannya"
" Dengar-dengar si tampan Nando juga ikut ya?"
" Iya. Tuan muda yang minta"
" Kenapa? kan dia masih kecil? nanti kalau dia terluka gimana?"
" Kok kamu lebih perhatian sama tuh bocah. Seharusnya kamu itu lebih khawatir sama aku"
" Kamu itu sudah besar dan juga jago beladiri. Jadi untuk apa aku khawatir"
" Nando juga jago beladiri?"
" Iya, tapi dia belum pernah terjun langsung ke lapangan. Sedangkan kamu sudah berpengalaman"
" Ada aja jawabannya"
Serly terkekeh melihat ekspresi suaminya. Bisa-bisanya sang suami cemburu sama bocah. Nggak ingat apa kalau sebentar lagi sudah mau jadi seorang ayah.
Doni melihat jam yang melingkar di tangannya. Jarum jam itu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Itu tandanya ia sudah harus pergi bertugas, dan meninggalkan istrinya untuk sementara waktu.
" Udah mau berangkat ya?"
" Hhhmm"
Serly memeluk suaminya itu. Walaupun ia mengatakan akan baik-baik saja, tapi jauh didalam lubuk hatinya, ia sangat mengkhawatirkan suaminya itu.
" Aku berangkat dulu ya, baik-baik di rumah"
" Kamu juga. Jangan sampai ada yang terluka"
" Iya sayang"
Doni memeluk istrinya. Dan juga mencium bibir istrinya. Tapi ia seakan tidak rela menyudahi ciumannya yang selalu membuatnya candu.
" Sudah cepat berangkat. Bisa-bisa kamu nggak jadi lagi perginya kalau sesi ciumannya masih di lanjutkan"
" Hehehe, istriku paham sekali "
" Tentu saja. Aku nggak menyangka, lelaki yang dulu polos sekarang sudah berubah menjadi mesum"
" Ya kan kamu yang ngajarin"
" Sudah berangkat sana!"
__ADS_1
" Ngusir nih?"
" Anggap aja begitu"
" Ya udah, aku berangkat dulu ya. Nggak usah anterin aku sampai depan"
" Hhmm"
Doni mengecup kening dan juga perut istrinya. Setelah itu iapun keluar dari rumah, meninggalkan istrinya yang sedang hamil.
" Udah mau berangkat ya Don?"
" Eh nona muda. Iya nona"
Doni kaget karena nona mudannya tiba-tiba sudah ada di depan pintu rumahnya. Mungkin benar apa kata istrinya, kalau nona mudanya juga khawatir dengan sang istri.
" Hati-hati, dan cepat selesaikan tugasnya. Supaya nanti kamu bisa nemenin istri kamu lahiran"
" Iya nona"
" Kamu jangan khawatir tentang istri kamu, karena aku yang akan menjaganya. Kamu fokus saja sama kerjaan kamu"
" Makasih nona. Saya jalan dulu, dan titip istri saya"
" Hhhmm"
Doni lumayan tenang sekarang. Karena ada nona mudanya yang ikut menjaga istrinya. Jadi ia harus fokus pada tugas yang diberikan oleh tuan mudanya.
Setelah berbicara panjang lebar dengan suami sahabatnya. Kiran pun masuk kedalam rumah sahabatnya itu. Ia dan baby twins akan menemani Serly supaya bumil itu tidak bosan karena sendirian di rumah.
" Ser"
" Hei, ponakan Aunty udah Dateng"
" Iya dong. Kita kan mau nemenin aunty Serly"
" Kamu jangan gendong Axel dulu, ntar perut kamu sakit"
" Nggak apa-apa. Lagian Axel nggak berat kok"
Axel anteng aja saat diambil dari gendongan si mbak. Sebenarnya Axel ingin protes, tapi apalah daya ia belum bisa bicara. Jadi sekarang ia hanya bisa pasrah di gendong sama Serly.
" Axel makin tampan aja sih. Di kasih makan apa sama mommy-nya kok bisa tampan kek gini, hhmm"
" Makan nasi tim aunty"
" Makin kesini wajah Axel, makin mirip kek Bapak nya ya"
" Ya iyalah, wong yang ngadon Bapaknya"
" Anak gue bakal mirip siapa nantinya?"
" Ya mirip kalian berdua lha. Masa mirip tetangga"
" Jangan dong. Ntar dikira, tetangga gue ikut nyumbang lagi saat ngadon nya"
" Makanya pertanyaannya jangan yang aneh-aneh"
" Oh princess, waktu melahirkan baby twins sakit nggak?"
" Mau jawaban jujur atau gimana nih?"
" Jujur dong"
__ADS_1
" Rasanya emang sakit sih Ser. Apalagi saat kontraksinya itu"
" Kok jadi takut kek gini ya"
" Jangan takut. Lo bayangin aja saat enak ngadon nya. Tapi rasa sakitnya langsung hilang kala kamu sudah mendengar tangisan bayi"
" Jadi nggak sabar ingin melihat baby-nya lahir ke dunia"
" Itulah momen yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidup kamu. Bagaimana kita berjuang untuk melahirkan mereka"
" Kamu nggak pengen nambah momongan lagi?"
" Kalau aku mau sih nambah, tapi suami aku yang nggak mau. Dia bilang dua anak sudah cukup. Suami aku takut melihat aku kesakitan lagi saat melahirkan"
" So sweet banget sih suami Lo"
" Lho kan tau sendiri gimana bucin-nya suami gue"
" Alah, kalian berdua itu sama aja tau nggak"
" Sesama bucin jangan menghina"
Kedua wanita cantik itu pun tertawa. Karena mereka sama-sama bucin.
" Gila! tawa kalian gede banget, terdengar sampai ke luar" kata Nadia yang muncul tiba-tiba.
" Astagfirullah. Lo ngagetin kita aja Nad"
" Ya elah, kalian berdua aja yang nggak denger bunyi bel"
" Tumben lo ke sini?" tanya Kiran.
" Gue mau nemenin bumil yang bentar lagi mau meleduk ini"
" Lo Kate gue kompor meleduk"
" Sini Farel nya, aku gendong" kata Kiran.
Belum sempat tangan Kiran menyentuh baby Farel, Axel sudah lebih dulu naik ke atas Kiran. Sepertinya bayi tampan itu cemburu.
" Abang Axel nya jealous " kata Nadia.
" Iya, kecil-kecil udah bisa jealous juga dia"
" Axel lebih over protective sama gue" kata Kiran.
" Berarti dia lebih care sama lo dibandingin sama bapaknya?" tanya Serly.
" Iya sepertinya begitu. Beda sama Alexa"
" Kalau Alexa lebih protective sama suami Lo"
" Iya. Terkadang sama Axel aja dia nggak mau ngalah. Malahan Axel yang selalu ngalah sama dia"
" Sifat anak sultan mah beda " kata Serly.
" Jangan-jangan kalau udah besar nanti, Axel juga yang lebih banyak ngalah" kata Nadia.
" Sepertinya begitu"
Kiran tidak bisa membayangkan bagaimana putranya yang terlihat dingin itu akan di buat kewalahan menghadapi sikap kakaknya nanti. Nggak sabar menunggu mereka tumbuh besar nanti.
To be continue.
__ADS_1
Udah bulan Desember nih. Boleh dong minta vote sama hadiah nya π€π€
Happy reading ππ