
Seperti janjinya pada sang istri. Sore hari Darren membawa istrinya jalan-jalan sekitar taman rumah sakit.
Kiran sangat senang, karena ia bisa menghirup udara di luar ruangannya. Walaupun ia harus menggunakan kursi roda. Karena suaminya tidak memberikan izin keluar kalau ia tidak mau memakai kursi roda.
" By, duduk di sana sebentar. Boleh?"
" Boleh"
Kiran sangat senang karena suaminya memenuhi keinginannya. Darren mendorong kursi rodanya. menuju taman bunga yang ada di sekitar rumah sakit itu.
Ternyata di taman itu banyak orang. Kiran dan Darren pun duduk di salah satu kursi kosong yang ada di sana.
Banyak pasang mata yang menatap Kiran dengan tatapan yang meremehkan. Tapi Kiran tidak ambil pusing, ia hanya ingin menikmati indahnya bunga-bunga yang ada di taman itu.
" Coba liat pasangan anak muda itu"
" Kasihan sekali ya wanita itu?"
" Iya. Cantik-cantik, tapi cacat "
" Bukan wanitanya yang kasihan, tapi lelaki tampan itu"
" Benar, dia harus menghabiskan waktunya untuk mengurus wanita cacat"
Darren mengepal tangannya menahan emosi. Ia tidak suka ada orang yang menghina istrinya. Enak saja mereka bilang istrinya cacat.
Salah satu ibu itu menghampiri Darren. " Apa kamu nggak malu punya pasangan cacat seperti dia?"
" Kenapa saya harus malu?"
" Ya kamu kan tampan, tapi malah mau mengurus wanita cacat ini"
Darren sudah tidak bisa lagi menahan emosi. Tapi belum sempat ia bicara, istrinya sudah menahannya.
" Lalu wanita seperti apa yang cocok untuk suami saya?" tanya Kiran.
" Tentu saja yang cantik, berpendidikan tinggi, kaya dan yang penting tidak cacat"
Kiran tersenyum mendengar ucapan ibuk itu. Karena semua yang di bilang ibuk itu ada pada dirinya.
" Berarti, saya memang cocok untuk suami saya. Karena saya cantik, berpendidikan tinggi dan juga tidak cacat" kata Kiran sambil berdiri dari kursi rodanya.
Ibuk itu kaget melihat Kiran bisa berdiri. Begitu juga dengan teman-teman ibuk itu. Mereka tidak menyangka wanita yang mereka bilang cacat tadi, ternyata tidak cacat.
" Jangan menilai orang dari penampilannya saja. Belum tentu semua orang yang duduk di kursi roda itu cacat. Anda tau kenapa saya duduk di kursi roda? Suami saya tidak mengizinkan saya berjalan. Karena saya habis melahirkan, jadi saya tidak diizinkan untuk berjalan"
Ibuk itu langsung terdiam. Ia tidak dapat berkata-kata lagi. Darren tersenyum melihat ibuk itu hanya diam. Ia tidak menyangka istrinya bisa membungkam mulut ibuk-ibuk itu.
" Istriku memang pintar"
" Kita tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk melawan ibuk-ibuk seperti itu. Cukup dengan membalikkan ucapannya kita langsung memberikan pukulan mematikan untuk mereka"
Darren mengecup kening istrinya di depan ibuk-ibuk itu. Ia ingin menunjukkan betapa ia mencintai istrinya.
__ADS_1
" Yuk By kita pergi dari sini"
" Yuk sayang"
Baru satu langkah Darren menghentikan langkahnya. Ia menoleh kebelakang. " Kalau pun seandainya istri saya cacat, saya tidak pernah malu memilihnya sebagai istri. Setidaknya dia lebih baik, daripada kalian yang mempunyai fisik baik, tetapi hati cacat"
Setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan. Pasutri itu pun pergi dari taman itu. Darren tidak menyangka bertemu dengan manusia seperti tadi.
" Maaf ya sayang" ucap Darren tiba-tiba.
" Maaf kenapa?"
" Gara-gara aku, kamu di hina sama ibuk-ibuk tadi"
" Ini bukan salah hubby. Lagian kita kan tidak tau akan ada kejadian seperti tadi"
" Iya sih. Tapi tetap aja aku merasa bersalah sayang"
" Aku nggak apa-apa By, jadi jangan merasa bersalah gitu lagi ya. Mending sekarang kita akan kembali ke kamar, karena aku nggak tega meninggalkan baby twins lama-lama"
" Siap sayang"
Darren mendorong kursi roda sang istri menuju ruangannya. Karena hari juga sudah mulai mendung. Dan baby twins juga sudah lama di tinggal.
Salah satu bodyguard Darren segera membukakan pintu untuk tuan mudanya. Darren pun membawa istrinya masuk ke dalam ruangannya.
" Apa baby twins menangis?" tanya Kiran pada suster yang menjaga baby twins.
" Tidak nona, baby twins sangat anteng. Bahkan dari tadi mereka belum terbangun"
" Iya nona"
" Wah, baby twins mommy memang pintar. Terima kasih ya sudah menjaga baby twins dengan baik"
" Sama-sama nona"
Darren mengambil uang dari dompetnya dan memberikan pada kedua suster itu. " Ini sebagai tanda terima kasih saya dan juga istri saya"
" Nggak usah tuan, kami ikhlas kok menjaga baby twins. Lagipula kami senang menjaga mereka"
" Tidak apa-apa, ambil saja" pinta Kiran.
Karena Kiran dan Darren memaksa, akhirnya kedua suster itu mengambil uang yang diberikan Darren.
" Terima kasih tuan, nona"
" Sama-sama"
" Kalau begitu kami permisi dulu nona, tuan"
" Baik, sekali lagi terima kasih ya"
" Iya nona"
__ADS_1
Kedua suster itu pamit undur diri. Sepeninggal suster itu, Darren menggendong istrinya naik ke atas bed. Ia membaringkan tubuh sang istri dengan sangat hati-hati.
" Aku mandi dulu ya sayang, udah gerah nih?"
" Iya By"
Darren berjalan menuju kamar mandi. Ia akan membersihkan dirinya. Setelah suaminya pergi ke kamar mandi Kiran menyalakan televisi. Sudah lama ia tidak menonton Drakor.
Sepuluh menit kemudian. Darren keluar dari kamar mandi. Setelah mandi, tubuh Darren terasa fresh.
Kiran yang mencium aroma wangi sabun pun menoleh kearah kamar mandi. Ia melihat suaminya keluar hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya.
Ia menelan ludahnya, karena melihat pemandangan yang menyejukkan mata itu. Padahal ia sudah sering melihat tubuh suaminya itu, tapi tetap saja tubuh sang suami membuat dia tergoda. Tidak mau otaknya bertraveling, ia pun kembali menatap drama kesukaannya.
Di Maldives.
Nadia terbangun dari tidurnya. Ia merasakan tubuhnya seakan mau remuk. Itu semua gara-gara suaminya yang tidak memberikan waktu dia untuk istirahat. Bahkan suaminya itu melakukannya berkali-kali.
Ia melilitkan selimut ke tubuhnya. Kemudian ia berjalan menuju kamar mandi. Baru turun dari ranjang, Nadia merasakan perih di area miliknya.
Awww..
Romy terbangun mendengar rintihan sang istri. Benar saja, istrinya sedang kesakitan dan sulit untuk berjalan.
" Sini aku bantu"
Ia menggendong tubuh istrinya ke kamar mandi. Ia mendudukkan sang istri di atas wastafel.
" Tunggu, aku isi bathtub nya dulu"
Romy mengisi bathtub dengan air hangat. Tak lupa ia meneteskan aroma terapi dan juga wewangian vanilla kesukaan sang istri. Setelah air bathtub terisi penuh. Romy menggendong tubuh istrinya.
" Aku bisa sendiri Bee"
" Yakin?"
" Yakin" jawab Nadia.
" Ya udah, nanti kalau perlu sesuatu panggil aku. Aku tunggu di luar"
" Hhmm"
Romy keluar dari kamar mandi. Ia tau istrinya itu malu. Setelah suaminya keluar, barulah Nadia membuka selimut yang menutup tubuhnya.
Nadia kaget melihat tubuhnya yang sudah seperti macan tutul. Ia tau itu ulah suaminya yang nggak ada akhlak itu.
" Romy! awas kamu, nggak aku kasih jatah!"
Mampus gue.
To be continue.
Hot Daddy.
__ADS_1
Happy reading ππ