
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu setengah jam, akhirnya Jet pribadi milik keluarga Narendra mendarat dengan selamat di bandar udara internasional Soekarno-Hatta.
Para bodyguard berbaris dengan rapi untuk menyambut kedatangan tuan besar dan keluarganya.
" Selamat datang kembali tuan" sapa sang ketua bodyguard.
" Makasih Jhon"
Jhon kaget melihat nyonya besarnya sedang menggandeng tangan seorang wanita cantik. Dia seperti pernah melihat wanita cantik itu, tapi dimana?. Ah iya di supermarket.
" Nyonya bukankah dia?"
" Ya, dia calon nona muda keluarga Narendra"
" Jadi Nyonya grebek tuan muda sama gadis ini?"
" Betul sekali. Saya tidak menyangka ternyata anak nakal itu suka sama gadis cantik ini"
" Selamat datang nona muda" sapa Jhon.
" Makasih Om"
Jhon tersenyum pada calon nona mudanya itu. Dia merasa tuan mudanya sangat cocok dengan gadis cantik itu.
" Jangan senyum dan menatap terlalu lama calon istri saya Jhon"
Gleg.
" Maaf tuan muda"
" Kalian semua dengar, tidak boleh terlalu lama memandang nona muda. Kalau kalian melanggarnya, maka siap-siap kalian saya kirim ke Afrika. Mengerti"
" Mengerti tuan muda"
Kiran menggelengkan kepalanya mendengar ancaman Darren pada bodyguardnya. Dia tidak tidak habis pikir tuan muda itu sangat posesif padanya.
" Ayo honey, kita masuk kedalam mobil" kata Darren.
" Apa kamu nggak ke mansion mommy dulu sayang?" tanya Clarissa pada Kiran.
Belum sempat Kiran menjawab pertanyaan Clarissa. Darren sudah menyela duluan.
" Besok-besok aja deh Mom" jawab Darren.
" Mommy nggak tanya kamu"
" Iya sama ajalah itu. Lagian nanti malam aku sama Kiran ada acara"
" Oh ya, acara apa?"
" Mommy kepo banget deh. Kita pergi dulu" kata Darren masuk kedalam mobil.
" Ck.. anak ini, selalu saja bikin mommy-nya darah tinggi"
" Udah sayang, lagian itu urusan anak muda" kata sang suami.
" Jadi menurut daddy, mommy udah tua gitu?!"
" Ng-nggak sayang. Mommy masih kelihatan muda dan cantik. Dan yang penting Daddy selalu mencintai mommy "
" Beneran?"
" Bener sayang. Yuk kita pulang"
Pasutri itu masuk kedalam mobil. Mobil mewah itu mulai melaju meninggalkan bandar udara internasional Soekarno-Hatta.
Darren merasa lega karena sang Daddy berhasil menahan sang mommy. Kalau tidak bisa kacau acara dinner nya ntar malam bersama wanitanya.
" Habis ini langsung istirahat ya, nanti malam aku jemput" kata Darren setelah mobil miliknya berhenti di depan rumah Kiran.
" Emang kita mau kemana?"
" Rahasia"
" Ck.. pakai rahasia segala"
" Ntar malam kamu juga tau"
" Baiklah"
Darren membelai rambut panjang Kiran. " Ntar malam kamu pasti akan tau juga, ya"
" Hhmm"
__ADS_1
Cup.
Mata Kiran membulat sempurna, karena mendapatkan kecupan tiba-tiba dari Darren. Ya Darren mengecup kening Kiran.
" Masuk gih"
" Hhmm"
Kiran turun dari dalam mobil. Ia berjalan memasuki rumahnya. Setelah Kiran menghilang di balik pintu, barulah Darren melajukan mobilnya meninggalkan rumah Kiran.
" Kamu kapan datangnya?" tanya Nadia.
" Baru aja. Nando mana?"
" Tidur "
" Oh"
" Katanya tiga hari di Bali?" tanya Nadia.
" Rencananya sih gitu, tapi mommy sama daddy Darren datang ke sana"
" Ngapain?"
" Grebek gue sama anaknya. Auto di suruh nikah "
" Apa! Nikah?"
" Hhmm"
" Apa kalian di grebek saat melakukan hubungan intim?"
" Ngaco kamu!"
Tawa Nadia pun pecah. Dia suka melihat ekspresi sahabatnya yang kesal kek gitu. Ya dia tau Kiran tidak akan pernah melakukan hal seperti itu.
" Siapa tau kan karena terpesona sama ketampanan tuan muda Narendra. Eh khilaf deh"
" Kamu kebanyakan nonton sinetron deh"
" Nggak lha, padahal aku berharap banget kamu khilaf di sana"
Kiran terbayang saat di kolam berenang. Dimana dia hampir berciuman dengan tuan muda itu. " Hampir sih "
" Apa!"
" Kamu serius hampir khilaf. Oh God ternyata sahabat aku masih normal"
Bug.
Batal sofa melayang ke kepala Nadia.
" Aku masih normal tau!"
" Ya syukurlah kalau sahabatku ini masih normal. Jadi sampe mana khilaf nya?"
" Khilaf nya nggak seperti dalam pikiran kamu"
" Jadi khilaf seperti apa?"
" Kami hampir berciuman"
" Serius kamu"
" Hhmm"
" Terus ke tangkap gitu"
" Ya begitulah"
Tawa Nadia kembali pecah. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kacaunya sahabatnya dengan Darren saat itu.
" Ck.. bahagia banget kamu" kata Kiran.
Ehem.
" Jadi kapan sahabat aku ini akan menikah?" tanya Nadia serius.
" Belum tau. Tapi orang tua Darren pengin secepatnya"
" Bagus dong. Tapi apa kamu sudah mencintai Darren?"
" Saat ini sih belum Nad. Aku akan coba buka hati aku untuk dia"
__ADS_1
" Setuju, karena Darren itu cowok yang sangat cocok untuk jadi pasangan kamu"
" Ck.. sok tau"
" Beneran? daripada kamu sama Daffin, lebih baik sama Darren. Dia sudah tampan, tajir, penyayang dan tentunya kamu nggak akan pernah di sakiti sama dia. Pangeran berkudaku entah kapannya?"
" Kamu nunggu Romy ya"
" Si-siapa juga yang nunggu dia"
" Cie,, gugup dia"
" Kita lagi bahas kamu, kok jadi bahas aku"
" Ya nggak apa-apa"
" Udah ah, mandi gih" kata Nadia.
" Menghindar dia"
" Nggak "
" Ya udah, aku mau ke kamar dulu. Oh ya, pelayan yang mau kerja di sini udah datang?"
" Orang yayasan bilang sih besok"
" Ya udah, aku mau ke atas dulu"
" Siap bos"
Kiran menarik kopernya menuju kamarnya. Dia tidak sabar ingin berbaring di atas kasur miliknya. Ya baru satu hari dia meninggal kamarnya itu, tapi dia sudah merasa rindu.
" Ah nyamannya" kata Kiran setelah membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Dia menatap langit-langit kamarnya. Ia teringat akan ucapan Darren. ' Aroma tubuh kamu wangi, aku suka' ya kata-kata itu selalu terngiang di telinganya. Lagi-lagi wajahnya merona.
Dasar lelaki menyebalkan.
Kiran melihat jam dinding yang ada di kamarnya. " Sudah jam 5 sore. Kalau gitu tidur sebentar lha"
Kiran memejamkan matanya. Hari ini sangat melelahkan. Tidak berapa lama dia pun terlelap dalam tidurnya.
πΈ
πΈ
πΈ
Darren baru selesai mandi. Dia berjalan menuju walk in closet untuk mengambil pakaiannya. Ia mengambil baju t-shirt berwarna putih dan celana pendek.
Setelah selesai memakai pakaiannya, dia menghubungi sahabat sekaligus asistennya itu. Ia ingin menanyakan bagaimana persiapan di restoran itu.
" Hallo bro"
" Bagaimana situasi di sana?"
" Aman terkendali, persiapannya sudah 90 persen"
" Good. Lo bisa kirim fotonya ke gue nggak?"
" Ntar gue kirim "
" Ok, gue tunggu"
" Sip bro"
Tut.
Darren mematikan sambungan teleponnya. Dia mengambil paper bag yang ada di dalam kopernya. Ia mengambil cincin yang dia beli tadi.
" Ntar malam lo udah terpasang indah di jari manis wanita gue" kata Darren seraya mengajak cincin itu berbicara. ( Emang dia ngerti apa yang lo omongin Bangπ).
Darren sudah tidak sabar menunggu malam tiba. Dia berharap lamaran dadakannya nanti berjalan dengan sempurna. Dan Kiran mau menerima lamarannya itu.
To be continue.
Yang tadi minta visual mommy Clarissa dan daddy Jhonatan. Nih Feby kasih ππ
Daddy Jhonatan.
Mommy Clarissa
__ADS_1
Happy Reading ππ