Mengejar Cinta Nona Muda

Mengejar Cinta Nona Muda
Tamu tak diundang


__ADS_3

" Nona sudah pulang?" tanya bibik saat melihat Kiran dan Nadia masuk kedalam rumah.


" Iya Bik "


" Pas sekali nona datang, ada Aden kasep yang sedang menunggu nona?"


" Aden kasep?"


" Iya non. Bibik teh lupa nanya namanya"


" Ya udah, kita liat dulu ya Bik siapa tamunya"


" Iya non"


Kiran dan Nadia berjalan menuju ruang tamu. Alangkah kagetnya dia melihat siapa sosok tamu yang datang itu.


" Kamu!"


" Hai" sapa Daffin.


" Kenapa kamu bisa ada di sini?"


" Tentu saja untuk menemui kamu princess"


" Kamu tau darimana rumah aku?"


" Aku cari tau sendiri. Kamu tau berapa lama aku bisa menemukan rumah ini?"


" Aku nggak tau, dan nggak mau tau"


" Kenapa kamu berubah princess?"


" Ck,, kamu tanya kenapa aku berubah? apa kamu lupa dengan kata-kata yang kamu ucapkan sama aku dulu. Apa perlu aku ingatkan Daffin Putra Hermansyah!"


Daffin terdiam. Ia tau ucapannya dulu telah menyakiti hati wanita cantik yang ada di hadapannya itu.


" Bukankah kamu sudah memaafkan aku?"


" Ya, aku memang sudah memaafkan kamu. Tapi bukan berarti kita bisa bersama lagi"


" Aku mencintai kamu princess. Dan aku baru menyadari semenjak kamu pergi dari kota ini?"


" Omong kosong!"


" Itu bukan omong kosong. Sekarang aku baru menyadarinya " kata Daffin sambil memegang tangan Kiran.


Tubuh Daffin membeku saat melihat cincin bertatahkan berlian melingkar di jari manis Kiran. Ia menatap wanita cantik yang ada di hadapannya itu.


" I-ini apa?"


" Itu cincin tunangan"


" Tu-tunangan?"


" Hhmm"


" Ka-kapan?"


" Semalam"

__ADS_1


Daffin tertawa. Namun tawanya itu terdengar memilukan bagi orang yang mendengarnya. Hatinya seketika hancur mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut Kiran.


" Ka-kamu pasti bohong kan?"


" Apa untungnya aku bohong sama kamu"


" Siapa?"


" Apa?"


" Siapa lelaki yang berani meminang kamu! siapa!" kata Daffin sambil mencengkram lengan Kiran.


Awww.


Kiran meringis saat merasakan sakit di lengannya, karena di cengkram Daffin.


Nadia melihat Kiran kesakitan, segera melepaskan cengkraman tangan Daffin dari lengan Kiran.


" Lo nyakitin Kiran! lebih baik sekarang lo keluar dari rumah ini. Karena kami tidak menerima tamu seperti lo" kata Nadia.


" Anda jangan ikut campur nona, ini urusan saya dengan princess"


" Tentu saja gue akan ikut campur. Kiran itu sahabat gue! dan gue tidak akan membiarkan elo menyakiti dia lagi. Sekarang pergi!" usir Nadia.


" Princess, jawab pertanyaan aku tadi. Siapa lelaki itu?!"


" Nanti kamu juga tau. Dan yang pasti dia jauh lebih baik dari kamu" kata Kiran.


" Aku nggak akan biarkan kamu menikah dengan lelaki itu! karena kamu hanya milik aku!"


" Sepertinya kamu sudah gila!" kata Nadia.


" Coba saja, dan setelah kamu tau siapa tunangan aku itu. Maka aku jamin kamu tidak akan mampu menyingkirkannya. Karena dia bukan lelaki lemah dan pengecut seperti kamu!" teriak Kiran.


" Aku tidak akan pernah membiarkan kamu dimiliki lelaki lain. Camkan itu!" kata Daffin sambil berlalu pergi meninggalkan rumah Kiran.


Tubuh Kiran terasa lemas. Untung Nadia dengan sigap menangkap tubuh sahabatnya itu. Kemudian dia memapah Kiran ke sofa yang ada di sana.


" Bik, tolong ambilkan segelas air putih" titah Nadia.


" Baik non"


Bibik bergegas menuju dapur untuk mengambilkan segelas air putih untuk nona mudanya.


" Ini non minumnya" kata sang bibik sambil menyerahkan segelas air putih pada Nadia.


" Minum dulu " kata Nadia pada sahabatnya itu.


Kiran meneguk segelas air putih itu hingga setengahnya. Setelah itu dia meletakkan gelas itu di atas meja.


" Non Kiran kenapa?" tanya bibik.


" Nggak kenapa-napa kok Bik"


" Tapi kok wajah non pucat gitu"


" Kiran kecapean Bik" kata Nadia.


" Istirahat non supaya tubuhnya baikan lagi"

__ADS_1


" Iya Bik, makasih ya "


" Sama-sama non. Kalau gitu bibik permisi ke dapur dulu"


" Ya Bik"


Kiran menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Dia tidak habis pikir dengan Daffin. Dulu lelaki itu terang-terangan menolaknya di depan semua keluarga besarnya. Tapi sekarang dia muncul dan mengatakan kalau dirinya tidak boleh dengan lelaki lain. Ucapan bodoh macam apa itu.


Kiran menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia menyesal pernah mencintai lelaki egois seperti Daffin.


" Kamu nggak usah pikirkan laki-laki plin-plan seperti itu" kata Nadia.


" Aku cuma heran aja, kenapa di saat aku sudah bisa melupakannya. Dia datang lagi dan bilang kalau dia mencintai aku. Sedangkan dulu aku tau bagaimana dia dengan teganya menghina aku dan keluargaku"


" Makanya, sekarang kamu fokus pada tuan muda tampan aja. Si Daffin itu tenggelamkan saja"


" Dia sudah lama aku tenggelamkan Nad"


" Bagus, sekarang saatnya untuk kamu bahagia"


Kiran menganggukkan kepalanya. Benar apa yang dikatakan sahabat dan keluarganya. Kini saatnya untuk dia bahagia bersama dengan lelaki yang mencintainya.


Daffin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak peduli sama pengendara lain yang mengumpatnya, karena hampir saja mobil mereka tabrak kan. Ia terus melajukan mobilnya menuju klub malam.


Akhirnya mobil itu sampai di sebuah klub malam terkenal dan terbesar di kota itu. Dia melangkahkan kakinya masuk kedalam klub malam itu.


Ini kali pertamanya Daffin menginjakkan kaki ke tempat haram itu. Orang tuanya juga tidak pernah mengizinkannya ketempat klub Malam. Tapi malam ini ia akan mencoba minum haram itu.


Suara musik terdengar memekakkan telinga ketika Daffin masuk ke sana. Aroma minuman beralkohol itu, memenuhi indra penciumannya. Perut Daffin terasa di aduk-aduk mencium aroma yang ada di klub malam itu. Karena tidak tahan dengan aroma yang ada di sana, ia pun memutuskan untuk pergi dari sana.


Niatan ingin mencoba minum haram itu pun diurungkannya. Dia melajukan mobilnya meninggalkan tempat terkutuk itu. Ia melajukan mobilnya menuju pantai.


Daffin menatap laut luas yang ada di depan matanya. Ia terbayang jari manis Kiran yang sudah terpasang dengan cincin bertahtakan berlian.


Aaaaaaaa...


Daffin berteriak untuk melepaskan semua rasa sesak yang ada di dadanya. Dia tidak akan membiarkan wanita yang sedari kecil bersama dengannya itu menikah dengan lelaki lain.


Ia memukul-mukul dadanya berharap supaya rasa sesak itu akan hilang.


" Kamu hanya milik aku princess. Milik aku!"


Untungnya suasana pantai malam itu sepi. Kalau tidak, tubuh Daffin akan babak belur karena di lempari batu sama orang-orang yang ada di sana.


Cuaca pagi itu mendung. Tak berselang lama hujan pun turun membasahi bumi. Tapi lelaki itu belum juga beranjak dari tempat dia berdiri. Sepertinya langit tau kesedihan dan juga rasa sakit yang dia rasakan. Daffin membiarkan tubuhnya basah kuyup karena air hujan.


Dia teringat kejadian tiga tahun lalu, dimana dia menolak wanita cantik itu didepan seluruh keluarga besarnya. Sekarang ia tau bagaimana sakitnya wanita itu dulu.


" Apa sakitnya seperti ini princess. Atau lebih sakit dari yang aku rasakan saat ini. Maafkan aku princess. Sekarang aku tau bagaimana sakitnya kamu dulu. Aku menyesal telah menyakiti kamu princess. Tapi aku janji, kali ini aku akan membahagiakan kamu"


Ya penyesalan emang datang di akhir Daffin. Kalau di awal itu namanya pendaftaran.


Daffin tidak tau kalau usahanya sekarang akan sia-sia. Karena hati dan perasaan Kiran sudah bukan untuknya lagi. Melainkan untuk orang yang sekarang mencintainya dengan sepenuh hati.


To be continue.


Sorry kemarin nggak up. Tapi hari ini Feby usahakan up dua๐Ÿค—๐Ÿค—


Jangan lupa like, komen dan hadiahnya๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰

__ADS_1


Happy Reading ๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š


__ADS_2