
Betul apa yang dikatakan orang bijak, penyesalan itu datang di akhir. Itulah yang di rasakan oleh Daffin sekarang. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur.
Aaaaaaaaa....
Daffin berteriak melepaskan rasa sakit yang ada di dalam hatinya. Ia berharap dengan berteriak rasa sakitnya yang ada dihatinya akan hilang.
Sekarang ia berada di pantai. Ia berharap dengan pergi ke pantai bisa mengurangi rasa sakit yang sedang ia rasakan. Daffin tidak menyangka kalau orang yang dia cintai tega mengkhianatinya.
" Dasar cewek brengsek!"
Daffin menumpahkan semua rasa kecewanya pada rumput pasir putih yang ada di sana. Ia menendang pasir itu dengan kakinya. Seakan pasir itu adalah wanita yang telah mengkhianatinya.
Ia teringat akan wanita yang sedari kecil menemani hari-harinya. Bahkan wanita yang telah ia sakiti hatinya.
" Princess, maafkan Affin" lirihnya.
Andai waktu bisa di putar kembali, pasti dia tidak akan menyia-nyiakan wanita yang selalu menemaninya saat suka maupun duka. Wanita yang mencintainya dengan tulus, tapi dia malah menghina wanita cantik itu.
" Apa masih ada tempat untuk aku kembali princess?" kata Daffin sambil menangis.
Sekarang ia benar-benar rapuh. Ia butuh seseorang untuk mendengarkan ceritanya. Seketika dia teringat akan sosok wanita yang sudah melahirkannya. Wanita yang tidak sengaja ia bentak.
" Mama, maafkan Affin Ma"
Daffin terus menangisi penyesalannya karena telah menyakiti hati orang-orang yang dia sayangi. Terutama sang mama dan juga princess.
Di tempat lain.
Berbeda dengan Daffin. Darren justru sedang merayakan keberhasilannya dengan sahabatnya, karena bisa menyingkirkan wanita ular itu dalam hidupnya.
" Gue nggak nyangka lo bisa membuat Monica kehilangan cinta dan juga ATM berjalannya" puji Romy di sela makannya.
" Tentu saja, wanita licik seperti itu harus dilawan dengan kelicikan juga" kata Darren.
" Sekarang apa rencana lo?" tanya Romy.
" Tentu saja mengejar cinta gadis kecil gue. Udah lama gue menunggu waktu seperti ini Rom. Sudah cukup 3 tahun lalu gue tidak bisa mendengar kabar tentang dia"
" Lo yakin itu cinta bukan obsesi?"
" Ini cinta bukan obsesi"
" Seandainya dia nggak bisa mencintai lo"
" Kalau gue udah berusaha dan ternyata tidak bisa membuat dia cinta sama gue. Gue akan lepasin dia, karena kebahagiaan dia lebih dari segalanya Rom"
" Gue pikir lo akan maksa dia"
" Nggak lha. Gue cuma ingin melihat dia bahagia"
" Uluh..uluh so sweet banget sih tuan muda Narendra ini. Untung gue cowok, kalau cewek udah gue Pepet Lo"
" Najis! walaupun lo berubah jadi bidadari sekalipun, gue nggak akan suka sama lo"
" Ck... dasar sahabat nggak ada akhlak lo. Tapi gue penasaran, gimana nasib tu cowok sekarang ya?"
" Paling menangisi nasib karena sudah mencintai wanita ular itu"
" Kasihan juga ya dia?"
" Ngapain kasihan sama dia. Lagian dia itu beg* banget, masa nggak tau akal bulus cewek kek Monica itu"
" Iya juga sih"
" Buruan habiskan makanan lo, gue mau apel in gadis kecil gue"
" Ck.. yang udah bucin"
" Buruan! ntar gue tinggal nih?"
" Iya ah. Kalau sekarang orang lain melihat lo, mungkin mereka nggak akan takut"
" Kenapa?" tanya Darren.
" Karena lo terlihat seperti lelaki yang sedang di mabuk cinta, bukan dewa kematian lagi"
" Gue bisa berubah menjadi dewa kematian kalau ada yang mengusik gue"
Romy hanya menganggukkan kepalanya. Sahabatnya itu memang sangat berbahaya kalau sisi iblisnya sudah keluar. Dia tidak akan memberi ampun pada lawan yang sudah berani mengusiknya.
Setelah selesai makan, Darren membayar bill yang di berikan pelayan padanya. Selesai membayar kedua cowok tampan itu pergi meninggalkan restoran itu.
__ADS_1
" Lo pulang pake taksi aja ya?" kata Darren setelah sampai di parkiran.
" Apa!"
" Kenapa lo berteriak sih" kata Darren sambil menutup kedua telinganya.
" Masa Lo tega suruh gue pulang pake taksi"
" Udah, nggak usah sok manja gitu. Nih ongkos taksinya, gue jalan dulu" kata Darren sambil melajukan mobilnya menuju rumah gadis kecilnya.
" Darren!" teriak Romy setelah mobil sahabatnya melaju meninggalkannya di parkiran.
Sang empunya mobil menurunkan kaca mobilnya, kemudian melambaikan tangannya pada sahabatnya itu.
" Teman nggak ada akhlak lo!"
Darren terus melajukan mobilnya tanpa menghiraukan umpatan sahabatnya itu. Baginya sekarang adalah segera menemui wanitanya.
Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit Darren sampai di depan pintu gerbang rumah sang gadis. Ia membunyikan klakson mobilnya, tak berselang lama pintu gerbang pun terbuka. Darren segera melajukan mobilnya menuju rumah utama.
Sesampainya di rumah utama, ia memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang ada di sana. Kalau dia parkir di depan pintu utama, wanitanya itu pasti akan mengomeli nya.
Sebelum turun dari mobil, ia melihat penampilannya di cermin terlebih dahulu. Setelah dirasa cukup barulah dia keluar dari mobilnya. Ia berjalan menuju pintu utama rumah gadis itu.
Ting.. nong.
Ceklek.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Orang yang ingin dia temui sekarang sudah ada di depan matanya.
" Kamu!"
" Iya aku"
" Ngapain kesini malam-malam?"
" Ini masih jam 8 malam" kata Darren sambil melirik jam tangannya.
" Ada perlu apa kesini?"
" Apa seperti ini cara kamu menerima tamu?"
" Terima kasih" ucap Darren sambil melenggang masuk kedalam rumah utama itu.
Sebelum gadisnya mempersilakan duduk, Darren sudah lebih dulu duduk di sofa ruang tamu.
" Sekarang beri tau kenapa kamu datang bertamu ke sini?"
" Mau apelin kamu"
" Apelin?"
" Hhmm. Kamu nggak tau, kalau sekarang itu malam Minggu"
" Iya hubungannya sama aku apa?"
" Kamu teman aku, jadi wajib aku apelin"
" Bukankah yang di apelin itu pacar?"
" Kalau sebenarnya sih iya, tapi kan kamu tau aku lagi jomlo sekarang. Jadi aku apelin kamu aja"
" Nggak mungkin seorang playboy kek kamu jomlo"
Darren tersenyum mendengar ucapan gadisnya itu. Sepertinya akan butuh waktu yang lama untuk menaklukkan hati wanita yang ada didepannya ini.
Hanya kamu yang selalu ada dalam hati dan pikiran aku Zanna Kirania Dwipangga. Sejak dulu sampai sekarang.
" Mommy sama daddy kamu kemana?"
" Lagi keluar" jawab Kiran.
" Sahabat kamu?"
" Lagi tidur di kamar"
" Kamu kenapa belum tidur?"
" Tadi udah mau tidur, tapi ada tamu nggak di undang datang"
" Jadi aku ganggu nih ceritanya?"
__ADS_1
" Bagus deh kalau kamu nyadar"
Darren tersenyum, dia sangat senang melihat gadis kecilnya kesal seperti tadi. " Keluar yuk"
" Udah malam"
" Belum terlalu malam. Yuk"
" Nggak!"
" Cuma sebentar"
" Emang mau kemana?"
" Suatu tempat, aku yakin kamu pasti suka"
Kiran melirik Darren. " Kamu nggak lagi merencanakan sesuatu kan?" tanya Kiran penuh selidik.
" Nggak, kamu boleh bunuh aku, kalau aku macem-macem sama kamu"
" Baiklah. Tapi Nadia gimana?"
" Dia kan udah tidur"
Kiran berpikir sejenak, setelah beberapa detik dia menganggukkan kepalanya.
" Yuk berangkat" kata Darren.
" Bentar, aku pamit sama bibik dulu"
Kiran berjalan menuju dapur untuk berpamitan pada kepala pelayan di rumah itu.
" Bik Mirna?"
" Iya Non"
" Adek mau keluar bentar"
" Iya Non, tapi nona mau keluar sama siapa?"
" Sama saya Bik" jawab Darren yang muncul tiba-tiba.
" Eh, Aden kasep ternyata"
" Nama saya Darren Bik, bukan kasep"
Kiran tertawa mendengar ucapan Darren barusan. Begitu juga dengan Bik Mirna.
" Kok kamu tertawa sih?"
" Habisnya kamu itu lucu"
" Lucu?" tanya Darren sambil menautkan alisnya.
" Iya. Emang kamu nggak tau kasep itu apa?"
" Enggak"
" Kasep itu tampan. Jadi Bik Mirna bilang kamu itu tampan"
Darren hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bisa-bisa nya dia bertingkah bodoh seperti tadi.
" Udah yuk berangkat"
" Kita pergi dulu ya Bik"
" Iya nona"
" Assalamualaikum"
" Wa'alaikum salam"
Darren membukakan pintu mobil untuk gadisnya. Setelah itu dia mengitari mobilnya, kemudian duduk di kursi kemudi. Ia memasang sabuk pengamannya. Mobil mewah itu melaju meninggalkan rumah utama kediaman Vandy.
To be continue.
Daffin nangis.
Happy Reading ππ
__ADS_1