Mengejar Cinta Nona Muda

Mengejar Cinta Nona Muda
Memantau


__ADS_3

Dering ponsel Darren memekakkan telinga. Dia terpaksa menghentikan sejenak kegiatan mengasyikkannya. Ia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.


Ia melihat nama sang mommy tertera dengan sangat jelas dan nyata di layar ponselnya itu. Dengan malas dan juga berat hati dia menjawab sambungan telepon itu.


" Hhmm"


" Roman-romannya ada yang kesal nih"


" Udah tau nanya"


Terdengar tawa lepas dari seberang sana.


" Udah di ujung ya Ren?"


" Ada apa Mom telpon aku?"


" Mommy cuma kangen aja sama kamu dan juga mantu mommy"


" Tapi kita nggak kangen sama mommy"


" Wah tega kamu sama mommy"


" Mommy yang tega sama aku"


" Kenapa jadi mommy "


" Iya, mommy nggak tau gimana sakitnya menahan. Udah di ujung, eh? malah harus ke pending "


" Senang banget dengar suara kesal anak durhakim"


" Ya udah, sekarang udah denger suara kesal aku kan. Jadi telponnya aku matiin dulu"


" Mana boleh main matiin gitu aja"


" Mommy mau punya cucu nggak?"


" Mau lha"


" Kalau mau, jangan ganggu aku saat lagi dalam proses pengadonan"


" Mommy kan kangen sama kalian berdua"


" Kangen mommy di saat yang tidak tepat"


Tut.


Darren mematikan sambungan teleponnya begitu saja. Dia benar-benar kesal sama mommy-nya itu. Ia akan memproses Darren junior, eh mommy-nya mengganggu. Akhirnya dia harus memancing kembali hasratnya yang udah di puncak tadi.


Kiran tidak dapat lagi menahan tawanya. Sumpah demi apapun, wajah suaminya saat ini sangat lucu. Bagaimana tidak, juniornya sudah siap tempur, eh? mommy malah ganggu.


" Senang banget kamu liat aku tersiksa kek gini"


" Banget"


" Awas ya kamu, nggak akan aku kasih ampun"


" Kok jadi aku yang kena. Yang ganggu kamu kan mommy, bukan aku"


" Sekarang aku harus hukum kamu dulu. Setelah kita pulang baru Mak tiri yang akan aku kasih hukuman"


" Nggak adil dong "


" Adil sayang, malah ini sangat adil" kata Darren sambil melancarkan aksinya yang tertunda tadi.


Dia benar-benar tidak akan memberikan ampun pada istrinya itu. Berani sekali sang istri menertawakan dirinya yang lagi tersiksa karena kegiatannya mengenakannya di gantung begitu saja.


Kiran hanya bisa pasrah, karena mau melawan pun percuma. Tenaga suaminya lebih besar daripada dirinya. Alhasil nanti tubuhnya akan remuk lagi ulah suaminya itu.


Dua jam lamanya mereka melakukan kegiatan yang mengenakan itu. Akhirnya Darren keluar sebagai pemenang. Karena sang istri sudah terlelap karena kelelahan.

__ADS_1


" Sorry ya honey, aku terlalu bersemangat tadi" ucap Darren sambil mengecup kening sang istri.


Dia berharap Darren junior akan segera hadir. Karena mereka tidak pernah libur untuk memproses membikin adonan Darren junior. Jadi dia berharap buah cinta mereka akan segera hadir.


Di tempat lain.


Nadia sedang melatih Nando beladiri di taman belakang. Ya sudah sebulan ini Kiran dan dirinya mengajarkan beladiri pada bocah yang sudah berumur sepuluh tahun itu.


Mereka sengaja melatih Nando untuk bela diri, supaya dia bisa menjaga dirinya sendiri dari orang-orang yang berniat jahat padanya. Jadi Kiran memutuskan untuk melatih dia beladiri taekwondo. Karena Kiran sedang bulan madu, jadi Nadia lha yang menggantikan untuk sementara waktu.


" Sekarang kamu lawan kakak"


" Hah?!"


" Kakak mau liat teknik menyerang kamu"


" Baik Kak"


Nando mulai menyerang Nadia dengan cara menyerang yang diajarkan oleh Kiran padanya beberapa hari yang lalu sebelum dia pergi bulan madu.


Nadia kaget dengan gerakan Nando yang sangat cepat, kalau dia tidak segera menghindar, mungkin serangan dia yang barusan akan mengenainya.


" Bagus, cara menyerang kamu lumayan cepat juga"


" Benarkah?"


" Hhmm. Tapi ingat, jangan pernah sombong dan memperlihatkan kepandaian kamu pada orang lain. Gunakan kekuatan kamu di saat yang diperlukan saja. Mengerti?!"


" Mengerti Kak"


" Ok, latihannya kita cukupkan sampai di sini. Besok kita lanjut lagi"


" Baik Kak. Oh iya, Kak Kiran kapan pulang?"


" Mungkin dua hari lagi. Kangen ya?"


" Iya"


Nando yang tidak mengerti maksud omongan Nadia hanya menganggukkan kepalanya.


" Yuk kita masuk kedalam, kakak mau mandi dulu"


" Kakak duluan aja, aku mau coba latihan lagi"


" Baiklah, kakak tinggal kedalam dulu ya"


Nadia masuk kedalam rumah sedangkan Nando melanjutkan kembali latihannya. Karena dia merasa kemampuannya belum cukup bisa untuk melindungi dirinya dan juga kedua kakaknya itu.


Nando merasa seperti ada yang mengawasinya.Tepatnya bukan mengawasi dirinya, tapi mengawasi rumah kakaknya itu. Dia tidak tau apa tujuan orang-orang itu mengawasi rumah kakaknya.


Ya para penjahat bayaran Monica sudah bergerak melaksanakan tugas. Saat ini mereka akan memantau tempat tinggal Kiran terlebih dahulu. Karena mereka akan melakukan serangan di saat penghuni rumah itu lengah.


" Kau yakin dia tinggal di rumah ini?"


" Benar bos. Wanita itu tinggal dengan sahabat dan juga seorang anak kecil"


" Anak kecil?"


" Betul bos"


" Bukannya wanita itu bilang, target kita baru menikah?"


" Iya bos, bocah itu mereka adopsi dari panti asuhan"


" Bagus, kapan perlu bocah itu kita gunakan sebagai sandera"


" Apa kita bertindak sekarang bos"


" Tunggu dulu"

__ADS_1


Para penjahat itu mengatur strategi untuk melakukan penyergapan. Mereka tidak boleh gagal melakukan tugas ini. Kalau tidak mereka tidak akan mendapatkan bayaran.


Nando tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi dia yakin orang-orang itu pasti ingin berbuat jahat pada mereka. Kalau tidak mengapa mereka memantau rumah ini.


Aku harus segera melaporkan ini pada Kak Nadia.


Nando menyusul Nadia masuk kedalam rumah. Dia tidak ingin kecolongan dan membahayakan semua orang yang tinggal di sana.


" Kak,, kakak!"


" Non Nadia lagi mandi Den. Ada apa?"


Nando tidak boleh menceritakan tentang ini pada bibik. Karena dia tidak ingin membuat mereka khawatir.


" Nggak kenapa-napa Bik. Aku cuma mau nanya gerakan yang diajarkan Kak Nadia tadi"


" Woalah,, bibik kirain ada apa. Ya udah bibik mau lanjut masak dulu ya"


" Ok Bik"


Nando naik ke kamarnya untuk membersihkan diri. Dia akan memberi tau kakaknya nanti setelah dia mandi.


Nadia sudah selesai mandi dan juga memakai baju santainya. Dia turun ke bawah untuk makan, karena perutnya sudah demo minta diisi. Saat akan menuruni tangga dia berpapasan dengan Nando.


" Kak"


" Kamu udah selesai mandi juga"


" Hhmm"


" Berarti kamu nggak jadi melanjutkan latihannya"


" Nggak, soalnya ada penjahat"


" Penjahat?"


" Iya Kak, dia lagi mantau rumah ini"


" Benarkah?"


" Hhmm" jawab Nando sambil menganggukkan kepalanya.


Nadia langsung melihat dari jendela lantai dua. Ya dari jendela itu dia bisa melihat orang-orang yang berada di luar. Tapi mereka tidak bisa melihat kegiatan yang terjadi di dalam rumah itu.


" Mereka cari mati"


" Apa kita kasih tau Kak Kiran"


" Jangan, kita belum tau tujuan mereka apa. Karena sekarang ini mereka belum melakukan tindakan apa-apa"


" Gimana kalau mereka menyerang kita tiba-tiba?"


" Kita lawan, bukankah kamu sudah bisa beladiri"


" Bisa, tapi belum semahir kakak"


" Tidak apa-apa, yang penting kamu bisa melindungi diri kamu sendiri dulu"


" Aku juga mau melindungi kakak dan juga yang lainnya"


" Untuk sekarang ini, cukup lindungi diri kamu dulu. Sisanya serahkan pada kakak, ok"


" Ok"


" Yuk kita makan. Kita akan liat pergerakan mereka nanti. Yang penting sekarang kita harus isi tenaga dulu"


" Baiklah"


Walaupun masih khawatir, tapi dia percaya kalau kakaknya yang satu ini bisa menghajar para penjahat itu. Karena kalau terlalu khawatir itu juga akan membuat konsentrasi kita buyar. Jadi cukup tenang, tapi tetap dalam kewaspadaan.

__ADS_1


To be continue.


Happy Reading 😚😚


__ADS_2