
Doni dan Serly bersiap ke rumah sakit, karena mereka ingin melihat dan memastikan kebenaran, apakah istrinya itu benar-benar hamil.
" Wajahnya jangan jutek kek gitu dong?"
" Habisnya kamu kasih hukumannya kek gitu"
" Tapi kamu suka kan?"
" Kagak!"
" Bohong dosa lho?"
" Siapa juga yang bohong"
" Mulut boleh berkata tidak, tapi didalam hati siapa tau?"
" Tau apa?"
" Kamu juga menikmati permainan aku tadi. Buktinya mulut kamu tidak berhenti mengeluarkan suara-suara seksi "
Wajah Serly memerah mendengar ucapan suaminya itu. Emang benar apa yang dikatakan suaminya itu. Kalau dirinya menikmati permainan mereka di kamar mandi tadi.
" Enak dimana mainnya, dikamar mandi atau di atas ranjang?"
" Beda-beda enaknya"
" Tuh kan benar apa yang aku bilang. Kamu juga menikmati permainan tadi?"
" Ih kamu nyebelin tau nggak!"
" Tapi aku lebih suka permainan di kamar mandi tadi. Lebih gimana gitu"
" Dasar mesum"
" Yang ngajarin aku mesum kan kamu"
" Enak aja. Aku nggak pernah ngajarin ya"
" Tadi yang nyosor duluan siapa?"
" Aku"
" Jadi yang mesum siapa?"
" Kamu lha"
" Kok aku"
" Ya kamu lha, kan yang ngajak iya-iya kamu"
" Ya deh aku"
" Emang"
" Sekarang pasang sabuk pengamannya?"
" Pasangin "
" Manja"
" Biarin!"
Doni pun memasang sabuk pengaman pada istrinya. Setelah itu barulah ia melajukan mobilnya meninggalkan kediamannya.
Siang itu suasana jalanan lumayan sepi. Mungkin karena jam kantor. Tak butuh waktu lama mereka pun sampai di rumah sakit. Doni memarkirkan mobilnya. Setelah itu mereka masuk kedalam rumah sakit.
Doni mengambil nomor antrean. Kemudian mereka mencari kursi untuk duduk. Karena nomor antrean mereka cukup jauh.
" Ser"
Serly mendengar ada yang memanggil namanya pun menoleh kearah suara. Ia melihat sahabatnya sedang melambaikan tangan padanya.
" Kalian disini juga?"
" Iya. Kamu ngapain ke sini? apa jangan-jangan kamu lagi hamil?"
Serly tersenyum, kemudian ia mengangguk.
" Selamat ya Ser"
" Makasih Nad"
" Lo harus banyak-banyak stok kesabaran nanti" kata Romy.
" Kenapa?"
__ADS_1
" Karena permintaan istri lo yang diluar nalar"
" Tapi sampai saat ini istri gue belum ada minta yang aneh-aneh"
" Karena belum. Nggak lama lagi pasti dia akan minta yang aneh-aneh sama Lo"
" Mudah-mudahan istri gue nggak kek gitu"
" Pasti dia akan kek gitu"
" Lo kok doanya jelek kek gitu sih?"
" Siapa yang doain. Gue cuma bilangin"
" Kalian berdua itu kenapa sih berisik banget" kata Nadia.
" Tau nih, liat ibu-ibu itu pada liatin kesini"
Kedua suami tampan itu langsung diam. Mereka tidak ingin berdebat dengan sang istri. Jadi lebih baik diam, karena diam itu emas.
Tak berselang lama nama Nadia pun terpanggil.
" Kita masuk dulu ya"
" Ok"
Romy dan Nadia masuk kedalam ruangan dokter Linda. Mereka tidak sabar ingin mendengarkan detak jantung anak mereka. Karena dokter bilang, bulan keempat baru bisa mendengarkan detak jantung sang bayi dengan jelas.
" Selamat datang tuan dan nona"
" Makasih Dok"
" Bagaimana, apa ada keluhan?"
" Untuk sekarang nggak ada sih Dok. Si dedeknya udah nggak rewel lagi"
" Bagus dong. Berarti udah nggak mual dan muntah lagi ya?"
" Mual dan muntah sih nggak Dok. Tapi keinginan yang aneh-aneh nya masih berlanjut" kata Romy.
Dokter Linda tersenyum mendengar ucapan Romy. " Yang sabar ya tuan. Namanya juga istrinya lagi ngidam"
" Iya Dok. Stok sabar saya masih banyak kok"
" Karena tidak ada keluhan apapun. Sekarang kita liat dedeknya"
" Apa nona dan tuan siap untuk mendengarkan detak jantungnya?"
" Siap Dok" jawab pasutri itu kompak.
" Kita mulai ya"
Dokter pun mencari letak jantung si bayi. Tak berselang lama terdengar bunyi jantung berdetak dari alat yang ada di samping Nadia.
" Apa nona dan tuan mendengarnya?"
" Dengar Dok. Apa itu detak jantung bayi kami Dok?"
" Benar tuan"
Romy pun menitikkan air matanya. Ia sangat terharu karena bisa mendengar detak jantung bayinya. Berkat tekhnologi yang sudah semakin canggih, ia bisa mendengar detak jantung calon anaknya.
" Detak jantungnya normal, dan air ketuban nona juga bagus"
Akhirnya sesi melihat calon bayi pun selesai. Dokter Linda membersihkan sisa gel yang ada di perut Nadia. Setelah itu mereka kembali duduk.
" Nona masih minum susu?"
" Masih Dok"
" Lanjutkan terus minum susu sama vitaminnya ya nona"
" Iya Dok"
Setelah semuanya selesai. Romy dan Nadia pamit undur diri. Karena pasien lain sudah banyak yang menunggu giliran, termasuk sahabatnya.
" Ser, kita duluan ya"
" Iya Nad, hati-hati di jalan"
" Kalian juga"
Akhirnya dua sahabat itupun berpisah. Romy dan Nadia pulang. Sedangkan Serly masih menunggu nama mereka di panggil.
πππ
__ADS_1
Kiran sedang melihat Nando latihan. Besok adik angkatnya itu akan ikut lomba seni bela diri. Walaupun Nando sudah menguasai seni bela diri taekwondo, tapi dia masih tetap harus belajar.
" Sekarang kamu lawan Abang, ya" kata Kiran.
" Apa Abang nggak akan nangis nanti kalau kalah"
" Ck, kamu pikir saya bocah"
" Ya siapa tau nanti Abang nangis pas kena pukulan aku"
" Coba aja. Kalau kamu bisa mengenai Abang, maka Abang akan penuhi satu keinginan kamu"
" Nggak seru cuma satu. Om jin aja tiga bisa mengabulkan permintaan"
" Abang bukan Om jin. Udah jangan banyak protes, mau nggak nih"
" Boleh deh"
" Ayo mulai"
" Aku boleh serang bagian manapun"
" Boleh, pilih mana yang kamu suka"
" Ok, siap ya Bang"
" Hhmm"
Nando mulai menyerang Darren dengan keahlian yang dia pelajari. Ia menyerang Darren dengan serangan membabi buta. Sedangkan Kiran, hanya jadi penonton.
Kedua lelaki tampan beda usia itu saling serang satu sama lain. Lebih tepatnya Nando yang menyerang, sedangkan Darren hanya diposisi bertahan.
Para bodyguard yang lagi beristirahat juga ikut menonton duel Nando dan Darren. Kapan lagi bisa melihat tuan muda mereka latihan seperti sekarang.
Kedua lelaki tampan itu belum ada yang mau kalah. Mereka sama-sama kuat. Tapi Darren belum menyerang, ia masih betah di posisi bertahan.
" Kalian pilih siapa?" tanya Kiran.
" Tentu saja pilih tuan muda nona"
" Yakin? nggak mau pilih Nando?"
" Nggak"
" Kenapa?"
" Karena saya melihat posisi tuan muda masih sangat bagus. Sedangkan Nando sudah mulai kewalahan"
Kiran tersenyum mendengar jawaban salah satu bodyguard itu. " Tapi menurut saya tuan muda kalian akan kalah. Coba lihat posisinya sudah mulai terpojok"
Para bodyguard itu melihat ke arena. Benar tuan muda mereka terpojok, tapi dia masih bisa mempertahankan posisinya. Sedangkan Nando sudah mulai kewalahan.
Darren mulai menyerang. Karena ia melihat Nando sudah mulai kewalahan. Ia mulai memperlihatkan kemampuannya. Hanya satu pukulan Nando sudah tumbang.
" Bagaimana?"
" Ok, Abang menang"
" Sebenarnya kamu sudah lihai. Tapi cara menyerang kamu masih bar-bar, itu makanya tenaga kamu cepat terkuras"
" Jadi aku harus melatih cara menyerang ya Bang"
" Hhmm"
" Gagal deh dapat permintaan?"
" Nggak, Abang akan penuhi satu keinginan kamu. Sebutkan aja"
" Beneran nih Bang?"
" Iya, buruan bilang"
" Aku mau ngajak teman-teman panti liburan"
" Ok, weekend besok kita pergi"
" Beneran Bang!"
" Iya. Emang kapan Abang pernah bohong sama kamu"
" Asik. Makasih Bang"
Walaupun ia tidak bisa mengalahkan sang Abang. Tapi dia masih bisa mendapatkan keinginannya. Dan ia sangat bersyukur sekali, karena sang Abang mau memenuhi keinginannya.
To be continue.
__ADS_1
Masih ada yang baca nggak ya π€
Happy reading ππ