Mengejar Cinta Nona Muda

Mengejar Cinta Nona Muda
Bumil yang sensitif


__ADS_3

Berbeda dengan Darren. Romy diusir oleh istrinya dari kamarnya. Pasalnya sang istri tidak mau dekat-dekat dengan dirinya.


" Masa kamu tega liat aku tidur di luar?"


" Aku nggak suruh kamu tidur di luar. Tapi di kamar lain"


" Ya sama aja. Tidurnya nggak bisa meluk kamu"


" Habisnya aku mual kalau dekat sama kamu"


Romy refleks mencium aroma tubuhnya. Ia tidak mencium aroma yang aneh. Malahan aroma tubuhnya sangat wangi.


" Wangi kok yank"


" Iya, tapi entah kenapa aku mual mencium aroma tubuh kamu itu"


" Kamu tu aneh tau nggak"


" Kok aneh?"


" Iya. Biasanya kalau orang mual itu mencium aroma busuk atau minyak si nyong-nyong. Lha kamu mencium aroma wangi. Jangan-jangan hidung kamu bermasalah nih?"


" Oh gitu? hidung aku bermasalah?"


" Terus apa coba?"


" Kamu jahat..!" kata Nadia sambil menangis.


Deg.


Romy baru tersadar kalau hormon ibu hamil itu sering berubah-berubah. Sekarang istrinya itu sedang hamil, jadi wajar dia seperti itu.


" Sayang"


" Jangan dekat-dekat, aku benci sama kamu"


" Aku minta maaf sayang"


" Kamu udah nggak sayang dan cinta sama aku lagi?"


" Aku sayang dan cinta banget sama kamu sayang"


" Bohong!"


" Bener sayang"


" Buktinya apa?"


" Tuh yang ada di dalam perut kamu sekarang"


" Maksud aku bukan bukti itu"


" Terus bukti yang mana?"


" Bukti selain ini?"

__ADS_1


" Kamu ingin aku membuktikan dengan apa, hhmm?"


" Emang nanti kamu mau melakukannya?"


" Mau. Apapun akan aku lakukan untuk mu sayang. Sekalipun kamu meminta nyawaku akan aku berikan"


" Sekarang kamu keluar dari kamar kita dan tidur di kamar tamu"


" Baiklah, aku akan tidur di kamar tamu"


Walau berat hati, Romy segera keluar dari kamarnya. Ia tidak ingin membuat mood istrinya buruk. Karena itu akan mempengaruhi calon bayinya.


" Lho Rom, kamu mau kemana bawa bantal dan selimut?"


" Mau tidur di kamar tamu Ma"


" Nadia ngusir kamu?"


" Iya Ma. Dia bilang mual mencium aroma tubuh aku"


Sandra tersenyum mendengar jawaban menantunya itu. Ia tau itu akibat hormon kehamilan Nadia.


" Kamu yang sabar ya. Itu karena istri kamu lagi hamil, jadi hormonnya selalu berubah-ubah"


" Iya Ma, aku tau kok. Aku pamit tidur dulu ya Ma"


Sandra menganggukkan kepalanya.


Romy berjalan menuju kamar tamu. Walaupun di kamar tamu ada bantal dan juga selimut. Ia tetap membawa bantal dan selimutnya, karena kata sang istri ada aroma tubuhnya. Jadi mau nggak mau Dia membawa bantal dan juga selimut itu.


Romy menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk itu. Ia yakin malam ini tidak bisa tidur. Dan ia juga yakin kalau istrinya juga tidak akan bisa tidur. Karena istrinya tidak akan bisa tidur kalau tidak dipeluk olehnya.


Romy mencoba memejamkan matanya. Tapi sebelum itu ia mematikan lampu kamar dan mengganti dengan lampu tidur. Tak berselang lama ia pun sampai ke alam mimpi.


Beda dengan suaminya. Nadia malah tidak bisa tidur. Ia melihat kesamping, ternyata suaminya itu tidak ada di sana. Ia bangkit dari tidurnya, kemudian ia pergi mencari suaminya.


Nadia melihat lampu kamar tamu sudah temaram. Itu tandanya suaminya sudah tidur. Ia membuka pintu dengan hati-hati, supaya tidak membangunkan sang suami.


Nadia berjalan dengan mengendap-endap seperti pencuri. Ia naik ke atas ranjang dan berbaring di samping suaminya. Sangat nyaman berada di dalam pelukan suaminya itu. Tak berselang lama ia pun terlelap.


Romy membuka matanya. Sebenarnya dia sudah bangun dari tadi. Saat istrinya naik ke atas ranjang. Tapi ia pura-pura tidur, karena ia ingin melihat apa yang akan dilakukan istrinya itu.


" Makanya jangan sok-sokan ngusir suami dari kamar. Kamu sendiri kan yang repot"


Tapi ia juga senang, karena itu tandanya sang istri tidak bisa jauh-jauh dari dirinya. Romy membawa istrinya kedalam dekapannya. Ia pun menyusul sang istri ke dunia mimpi. Mereka pun tidur saling berpelukan seperti Teletubbies. Mungkin lebih mesra dari Teletubbies.


Pagi hari.


Nadia terbangun dari tidurnya. Ia terbangun saat sinar matahari mengenai wajahnya. Ia membuka matanya, dan yang pertama ia lihat adalah wajah tampan suaminya.


Ia teringat kejadian semalam, dimana dia mengendap-endap seperti pencuri hanya untuk bisa tidur dengan suaminya itu. Mumpung suaminya masih terlelap dan ia tidak ingin ketahuan kalau diam-diam pergi menemui dirinya. Bisa gede kepala nanti suaminya itu.


Nadia menyingkirkan tangan suaminya dari atas perutnya. Dengan sangat hati-hati ia memindahkan tangan nan besar itu.


Setelah terbebas dari tangan besar yang melingkar di perutnya tadi. Ia turun pelan-pelan dari atas ranjang. Kemudian ia berjalan menuju pintu.

__ADS_1


Nadia bersyukur karena ia bisa keluar dari kamar itu tanpa membangunkan suaminya. Ia segera menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Setelah istrinya pergi. Tawa Romy pun lepas. Bisa-bisanya sang istri berpikir kalau dia tidak akan ketahuan. " Awas kamu ya yank"


Romy bangkit dari tidurnya. Ia menyusul sang istri ke kamarnya. Ia juga ingin membersihkan dirinya. Mudah-mudahan ia tidak akan di usir lagi, seperti semalam.


Sesampainya di kamar, ia tidak menemukan sang istri. Tapi dirinya mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Itu tandanya sang istri lagi mandi.


Tanpa menunggu lama, ia langsung menyusul sang istri ke dalam kamar mandi. Beruntungnya Romy karena pintu kamar mandi tidak kunci oleh istrinya.


Aaaaaa...


Nadia berteriak saat ada tangan yang memeluk dari belakang.


" Sayang ini aku"


" Kamu ngagetin aja sih Bee. Aku pikir siapa?"


" Lagian kamu nggak waspada banget. Pintu kamar mandi nggak di kunci. Atau kamu memang sengaja nggak mengunci pintunya, dan berharap aku masuk"


" Idih pede benget sih kamu Bee "


" Terus kenapa?"


" Karena lupa. Lagian kamu kenapa main masuk aja kedalam kamar mandi"


" Karena aku ingin mandi bareng dan juga olahraga sebentar sama kamu" kata Romy yang langsung menyerang sang istri.


Akhirnya mereka berolahraga di bawah guyuran air shower. Dinginnya air tidak menyurutkan semangat Romy untuk terus memacu sang istri.


Nadia berpegang di wastafel. Suaminya benar-benar membuat sekujur tubuhnha bergetar. Suara d*s*h*n pun tidak pernah berhenti keluar dari mulutnya.


Akhirnya suara erangan pun keluar dari mulut pasutri itu. Romy pun mendapatkan pelepasannya. Sedangkan Nadia entah yang sudah ke berapa kali.


Romy membantu istrinya mandi. Ini baru mandi dalam artian yang sebenarnya. Karena ia yakin istrinya sudah tidak punya tenaga lagi.


" Perutnya sakit nggak Yank" tanya Romy saat selesai memakaikan handuk pada istrinya.


" Nggak, emang kenapa?"


" Aku takut karena kegiatan kita tadi menyakiti calon baby "


" Aku juga nggak tau sih Bee. Tapi mudah-mudahan dedeknya nggak kenapa-napa"


" Aamiin. Apa sebaiknya kita ke dokter aja"


" Nggak usah Bee "


" Tapi aku benar-benar khawatir sayang"


" Aku sama calon baby baik-baik aja Bee"


" Kita ke dokter aja ya untuk memastikannya "


" Ya udah terserah kamu aja" kata Nadia sambil berlalu pergi meninggalkan suaminya.

__ADS_1


To be continue.


Happy reading 😚😚


__ADS_2