
Akhirnya hari yang di tunggu sama Nadia pun tiba. Hari ini ia akan jalan dengan Romy. Ia melihat pakaiannya yang ada di dalam lemari. Ia bingung mau pake baju apa.
" Bagusnya pake baju apa ya?"
Ini kali pertamanya Nadia jalan berdua saja dengan seorang lelaki. Jadi wajar dia merasa gugup. Sudah banyak baju yang dia coba, tapi tidak ada yang cocok.
" Pake dress ini aja " kata Kiran.
Ya Kiran pusing melihat sahabatnya yang dari tadi bolak balik ganti baju, tapi tidak ada yang cocok. Sebenarnya bukan tidak ada yang cocok, tapi sahabatnya itu bingung mau make baju yang mana.
" Aku coba dulu ya"
" Hhmm"
Nadia pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaian yang di pilih oleh sahabatnya itu. Tak berselang lama ia pun keluar dari kamar mandi.
" Gimana?"
" Cantik" puji Kiran.
" Benarkah?"
" Coba aja liat" kata Kiran sambil membawa sahabatnya itu ke depan cermin besar yang ada di kamar itu.
Nadia menutup mulutnya karena kaget melihat penampilannya sekarang. Ia tidak menyangka dress yang dipilihkan sahabatnya itu sangat pas di tubuhnya.
" Kamu itu cantik. Aku yakin Romy pasti akan klepek-klepek sama kamu"
" Apaan sih" kata Nadia dengan wajah yang sudah merona.
" Cie ada yang malu-malu kucing" goda Kiran.
" Ren bawa bini kamu pergi dari kamar aku"
" Idih ngusir dia"
Darren yang mendengar namanya di panggil langsung membawa istrinya ke luar dari kamar Nadia.
" Hubby"
" Biarkan dia berdandan sendiri. Mending kamu layani suami kamu makan"
" Oh iya, hampir saja lupa"
Darren menggendong Kiran ke ruang makan. Kiran langsung mengalungkan tangannya ke leher suaminya. Kalau tidak dia akan jatuh nanti.
" Kak Kiran sakit?" tanya Nando yang melihat Kiran di gendong.
" I-ini apa namanya"
" Kakak kamu habis jatoh tadi" jawab Darren.
" Ah i-iya, jatuh" kata Kiran tersenyum kikuk.
" Lain kali hati-hati Kak" pesan Nando.
" I-iya"
Kiran benar-benar malu saat ini. Ini semua gara-gara suami mesumnya itu. " Ini gara-gara hubby"
" Kok aku?"
" Ya iyalah. Kenapa harus pake acara gendong segala"
" Kan biar cepat sampai dan juga aman honey"
" Alasan "
Ting nong.
Terdengar suara bel berbunyi.
" Bik tolong bukain pintu dong" pinta Kiran.
" Baik non "
Bibik segera membukakan pintu untuk tamu nona mudanya.
Ceklek.
" Eh Den Romy. Mari masuk Den"
" Makasih Bik"
Romy masuk kedalam rumah. Diikuti bibik dari belakang.
" Nona dan tuan muda ada di ruang makan"
Romy berjalan menuju ruang makan. Benar saja, pasutri itu sedang asik menyantap makan malam mereka.
Ehem..
" Batuk minum komik " kata Darren.
Plak.
Kiran menepuk lengan suaminya.
" Jangan iklan di sini. Noh ada Romy"
__ADS_1
" Cie yang udah keliatan hilalnya"
" Apaan sih Lo"
" Mau pergi kencan ya? ajak-ajak napa"
" Nggak! ntar lo ganggu acara gue"
" Ya elah gitu banget yang udah mau berubah status"
" Masih abu-abu Ren"
" Makanya di perjelas dong biar nggak abu-abu"
" Ni lagi usaha"
Saat mereka kedua lelaki tampan itu sedang asik mengobrol, terdengar langkah kaki dari arah tangga. Romy segera mengalihkan pandangannya ke arah tangga.
Tampaklah seorang gadis cantik yang sedang berjalan menuruni anak tangga. Romy terpesona melihat kecantikan Nadia malam ini. Penampilannya beda dengan hari-hari biasanya. Romy berjalan menghampiri Nadia diikuti sama Darren dan Kiran.
" Lap ilernya bro" bisik Darren di telinga sahabatnya.
Refleks Romy mengusap sudut bibirnya. Ia tidak merasakan sesuatu. Kemudian ia tersadar kalau sahabatnya itu sedang mengerjainya.
" Gimana? cantik kan sahabat aku?" tanya Kiran.
" Cantik " puji Romy.
" Roman-romannya bakal ada bibit bucin juga nih honey" ledek Darren.
" Sepertinya begitu hubby"
" Ck,, laki bini sama aja kelakuannya" kata Romy.
" Iya dong. Kita itukan model Couple Goals sejagat raya" kata Darren.
" Kata siapa?"
" Kata reader "
" Mereka itu bohong. Mana model Couple Goals datar kek lo"
" Justru yang model kek gini yang laris manis. Ya kan honey?"
" Betul banget"
" Yuk Nad, kita jalan. Lama-lama di sini ikut error kita" kata Romy.
" Apa lo bilang?!"
"Sudah-sudah, biarkan saja mereka pergi" kata Kiran sambil menarik tangan suaminya kembali ke ruang makan.
" Sudah siap berangkat?"
" Siap"
Romy melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Kiran. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang.
Suasana jalan raya sangat ramai malam ini. Banyak pasangan muda-mudi yang pergi kencan sama dengan mereka saat ini.
Nadia melihat sepasang kekasih yang pergi kencan dengan sepeda motor. Ia membayangkan kalau dia pergi kencan sama motor. Pasti menyenangkan juga. Ia bisa memeluk Romy dari belakang, seperti yang di lakukan pasangan yang ada di depan mereka.
Ia tersenyum membayangkan hal itu. Bisa-bisanya dia membayangkan hal semacam itu. Lagipula Romy belum tentu mau kencan pake sepeda motor.
" Apa yang membuat kamu senyum-senyum seperti itu?" tanya Romy.
" Eh"
" Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Romy lagi.
" Ng-nggak apa-apa "
" Yakin?"
" Hhmm"
" Tapi kok kamu senyum-senyum sendiri?"
" Liat pasangan yang ada di depan kita itu. Kayaknya asik juga kencan pake sepeda motor"
" Kamu mau jalan sama sepeda motor?"
" A-aku--"
" Kalau kamu mau, kita jalannya pake motor"
" Kapan-kapan aja "
" Beneran nih?"
" Bener"
Tanpa terasa mereka pun sampai di salah satu restoran pinggir pantai yang terkenal di kota itu. Romy memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang tersedia di sana.
" Mari masuk nona" kata Romy sambil mengulurkan tangannya pada Nadia.
" Terima kasih" ucap Nadia sambil menerima uluran tangan Romy.
Mereka masuk kedalam restoran dengan bergandengan tangan. Romy mencari kursi yang kosong. Karena pengunjung malam itu cukup ramai.
__ADS_1
" Kita duduk di sana aja yuk" ajak Romy.
" Baiklah"
Mereka mendapatkan tempat duduk yang sangat bagus, dengan view lautan luas. Suara deburan ombak menambah kesan romantis pada malam ini.
Pelayan memberikan buku menu pada kedua sejoli itu. Setelah mencatat pesanan Romy dan Nadia. Pelayan itu pamit untuk membuatkan pesanan pasangan itu.
" Kamu sering datang ke restoran ini ya?" tanya Nadia.
" Nggak juga, ini kali pertamanya aku ke sini. Kenapa?"
" Aku pikir sering. Soalnya restoran ini terkenal di kalangan remaja dan juga orang yang mempunyai pasangan"
" Kamu wanita pertama kali yang aku ajak datang ke sini"
" Benarkah?"
" Hhmm"
" Aku bukan tipikal cowok yang hobi nongkrong di cafe dan juga restoran seperti ini. Aku dan Darren lebih suka masakan rumah"
" Really?"
" Ya, masakan mommy Darren lebih enak daripada masakan di restoran-restoran. Itu makanya aku dan juga Darren jarang makan di luar. Kami lebih suka makan di rumah"
" Wah,, nggak nyangka anak orang kaya kek Darren lebih suka makan di rumah"
" Ya begitulah. Bahkan aku sama Darren bisa masak"
" Serius?"
" Hhmm"
" Kapan-kapan boleh dong aku mencicipi masakan buatan kamu"
" Boleh"
" Beneran ya"
" iya"
Pesanan mereka pun datang. Pelayan menghidangkan makanannya di atas meja. Setelah itu ia pamit undur diri.
Romy memotong kecil-kecil steak yang ada di piringnya. Kemudian ia menukar dengan piring yang berisi steak punya Nadia.
" Makan yang ini aja"
" Makasih"
" Sama-sama"
Nadia mulai memasukkan suapan pertamanya. Begitu juga dengan Romy. Rasa steak itu sangat enak. Pantas saja restoran itu menjadi salah satu restoran favorit.
Tak berselang lama steak yang ada di piring mereka pun habis tak bersisa. Romy mengambil tissue yang ada di depannya.
" Makanya kek anak kecil" kata Romy sambil mengusap sudut bibir Nadia.
Wajah Nadia merona karena di perlukan semanis itu oleh Romy.
" Biar aku aja" kata Nadia sambil mengambil tissue dari tangan Romy.
Romy tersenyum melihat wajah Nadia yang merona seperti itu.
" Nad"
" Hhmm"
" Maukah kamu memberi aku izin untuk mengenal kamu lebih dekat lagi"
" Maksud kamu?"
" Maukah kamu jadi pacarku"
Deg.
Nih cowok to the point banget ya. Tapi aku suka.
Nadia menganggukkan kepalanya.
" Apa itu artinya kamu mau jadi pacar aku?"
Nadia menganggukkan kembali kepalanya.
" Ngomong dong, jangan cuma mengangguk aja"
" Iya aku mau"
" Jadi sekarang kita udah pacaran nih"
" Iya"
Romy refleks memeluk Nadia. Nadia kaget mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Romy. Tapi setelah itu dia membalas pelukan lelaki yang sudah berubah status menjadi kekasihnya itu.
To be continue.
Udah up dua nih, mana hadiahnya π€π€.
Happy Reading ππ
__ADS_1