
" Honey bolehkah aku mengukir wajah ulet keket ini?"
" Tentu saja boleh hubby" kata Kiran sambil menyerahkan pisau kecil yang ada di tangannya pada suaminya.
" Bagusnya bikin gambar apa ya?" tanya Darren.
" Terserah kamu mau bikin apa "
Monica susah payah menahan ludahnya. Pasangan yang ada di hadapannya itu benar-benar pasangan iblis berwujud manusia.
" Gimana kalau matanya kita lepaskan satu dari tempatnya" kata Darren.
Para penjahat itu memegang mata mereka masing-masing. Seakan mata mereka lha yang akan di congkel dari tempatnya.
" Ide bagus. Jadi dia seperti bajak laut nantinya" kata Kiran.
Darren mengarahkan pisau yang ada di tangannya ke mata Monica.
" Ja-jangan, tolong jangan lakukan itu" pinta Monica dengan nada memohon.
Darren tidak mendengarkan ucapan Monica. Dia terus mengarahkan pisaunya kearah mata Monica. Suasana berubah menakutkan. Mengalahkan acara uji nyali yang ada di tv.
Keringat dingin mengucur deras dari kening Monica. Ketika pisau milik Darren berhenti tepat di depan matanya. Bahkan sedikit lagi akan mengenai matanya itu.
Darren mencium aroma tak sedap. Begitu juga dengan Kiran. Mereka berdua melirik kearah Monica. Pasutri itu kaget melihat kursi yang diduduki Monica sudah basah.
" Kamu ngompol?" tanya Darren.
Para penjahat itu sontak melihat ke arah Monica. Sontak semua orang yang ada di sana tertawa melihat Monica ngompol. Begitu juga dengan Darren dan Kiran.
" Belum lagi pisaunya nancap, kamu sudah ngompol aja " kata Kiran.
" Tau tu, mana kesombongan yang kau tunjukkan tadi nona" kata salah satu penjahat itu.
" Honey apa perutnya aja yang kita robek, terus isi perutnya kita kasih ke singa"
" Singa nggak akan mau makan isi perut ulat keket itu"
" Kenapa?"
" Karena isi perutnya itu tidak enak dan juga tidak sehat"
" Oh iya, diakan banyak makan duit yang tidak halal" kata Darren.
" Bagaimana kalau kita jual dia ke rumah bordil" usul Kiran.
" Setuju"
" Tidak! aku mohon jangan jual aku ke rumah bordil"
" Siapa yang ingin mencicipi tubuh wanita ini?" tanya Darren pada para penjahat itu.
" Kami tidak minat tuan. Soalnya punya dia sudah banyak yang pake" kata bos penjahat itu.
__ADS_1
" Benar tuan, udah usang" kata yang lainnya.
Kiran tersenyum mendengar ucapan para penjahat itu. " Sepertinya tubuh mu tidak menarik. Buktinya orang-orang ku tidak suka dengan tubuh mu"
" Mungkin kalau Om-om perut buncit mau, honey" kata Darren.
" Ternyata yang minat sama dia cuma orang-orang yang tidak berkelas " kata Kiran.
" Lebih baik kasihkan ke ikan piranha aja nona" usul bos penjahat itu.
" Ide bagus. Tapi dia akan cepat mati, nggak seru" kata Kiran.
" Gimana kalau kita ukir seluruh tubuhnya, setelah itu kita siram pake air perasan jeruk" kata Darren.
Gleg.
Para penjahat itu susah payah menelan ludahnya. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana perih dan juga sakitnya tubuh Monica nanti. Begitu juga dengan Monica dia terlihat sangat shock.
" Kau mau pilih mati dengan cara apa Monica?"
" To-tolong jangan bunuh saya. Saya akan berikan berapa pun uang yang kau mau"
Kiran tertawa mendengar ucapan Monica. Ia tidak menyangka wanita yang nyawanya sudah di ujung tanduk itu masih bisa menyombongkan diri.
" Saya tidak butuh uang kamu. Apa kamu lupa aku siapa? aku putri dari Rivandy Putra Dwipangga dengan Anggun Ariana Wiguna. Jadi kau pasti tau kan seberapa kaya orang tuaku. Dan lagi, aku adalah pengusaha terkaya nomor dua di Eropa"
Monica kaget mendengar ucapan Kiran. Bagaimana bisa wanita manja itu bisa menjadi pengusaha kaya nomor dua di Eropa.
" Ah satu lagi. Aku juga menantu satu-satunya di keluarga Narendra. Kau bisa bayangkan seberapa kayanya aku" lanjut Kiran.
Lagi-lagi ucapan Monica membuat Kiran tertawa. " Saya sudah punya suami yang sangat sempurna. Dan dia sangat mencintai saya. Jadi untuk apalagi saya mencari cinta lelaki lain. Dan lagi saya juga mencintai dia?" kata Kiran sambil melirik suaminya.
Hati Darren seperti ditaburi banyak kelopak bunga mawar. Ia tidak menyangka kalau istrinya akan mengatakan hal seromantis itu didepan orang banyak.
" Jadi hukuman apa yang akan kita berikan untuk ulet keket ini, honey?"
" Jual ke rumah bordil aja nona"
" Benar nona"
" Wah,, seperti banyak yang setuju kalau kamu di kirim ke rumah bordil"
" Tidak! lebih baik aku mati daripada kau jual aku ke sana"
" Mati hukuman yang sangat ringan untuk kamu. Saya ingin kamu menderita dulu, setelah itu kamu akan memohon untuk mati"
" Tubuhnya kita ukir aja honey, setelah itu kita siram sama perasan air jeruk"
" Ja-jangan, tolong jangan lakukan itu. Saya janji setelah ini tidak akan pernah mengusik hidup kamu lagi"
Kiran menatap Monica. Ia melihat ada ketulusan dari mata wanita itu. Tapi dia sudah dua kali berencana untuk membunuhnya.
" Kalau saya ingkar janji, kau boleh melakukan apapun pada tubuhku Kiran " lanjut Monica.
__ADS_1
" Honey jangan percaya dengan ucapan dia"
" Aku bersumpah Kiran. Aku tidak akan mengingkari janji ku"
" Jangan membuat istriku bingung. Mungkin rumah bordil lebih cocok untuk kamu" kata Darren sambil mencekik leher Monica.
Kiran kaget melihat tangan suaminya sudah menempel di leher Monica. " Hubby, kamu bisa membunuhnya. Dan aku nggak mau kamu jadi seorang pembunuh"
Uhuk...uhuk..
Darren melepaskan tangannya dari leher Monica. Untung dia pake sarung tangan, jadi dia tidak akan gatal-gatal karena sudah menyentuh ulet keket itu.
" Baiklah, saya beri kamu satu kesempatan untuk berubah"
" Terima kasih "
" Tapi ingat, kalau kau berani melakukan kejahatan lagi. Maka mereka akan langsung membawa kamu ke rumah bordil"
" Aku janji tidak akan melakukan kejahatan lagi"
" Baiklah. Mereka akan saya tugaskan untuk mengawasi semua gerak-gerik kamu"
" Baik"
Kiran meminta salah satu penjahat itu untuk membuka tali pengikat tubuh Monica. Ia rasa hukuman untuk wanita itu sudah cukup. Lagipula ulet keket itu sudah mendapatkan hadiah di wajah dan juga di tangannya.
Suaminya membuat ukiran di tangan Monica cukup dalam dan juga panjang. Mungkin perlu beberapa jahitan. Begitu juga dengan pipi sebelah kiri, itu cukup membuat Monica akan berpikir ulang untuk melakukan kejahatan.
" Sekarang pergi lha ke rumah sakit, luka kamu harus segera di obati"
" Terima kasih"
" Sebelum itu kamu ganti pakaian kamu dulu, soalnya baunya tidak enak banget"
Wajah Monica memerah karena malu. " Ba-baik. Sekali lagi terima kasih"
" Kalian, tolong antarkan ulet keket ini ke rumah sakit"
" Baik nona"
" Mulai hari ini kalian saya tugaskan untuk mengawasi gerak-gerik ulet keket ini" kata Darren.
" Baik tuan"
" Cepat bawa dia pergi dari sini, saya sudah tidak tahan sama bau tubuhnya" kata Darren.
" Kami pamit dulu tuan, nona"
" Hhmm"
Para penjahat itu membawa Monica pergi dari sana. Begitu juga dengan Darren dan juga istrinya. Mereka tidak ingin berlama-lama di tempat yang kotor itu.
To be continue.
__ADS_1
Happy Reading ππ