
Nadia dan Romy baru sampai di rumah sakit. Mereka langsung menyusul Kiran ke ruang persalinan.
" Serly udah di dalam ya?" tanya Nadia saat sudah sampai di depan ruang persalinan.
" Baru aja"
Mereka duduk di kursi yang ada di sana. Kedua wanita cantik itu tidak henti-hentinya berdoa untuk kelancaran proses persalinan sahabatnya. Karena mereka tau bagaimana sakitnya saat melahirkan.
Di dalam ruang persalinan.
Serly sedang mendengarkan instruksi yang di berikan dokter Linda padanya. Doni pun ikut mendengarkan instruksi itu.
" Anda sudah siap nona?"
" Siap Dok"
" Baik. Sekarang tarik nafas, dorong!"
Serly mengejan sekuat tenaganya. Sungguh, rasanya sangat menyakitkan. Ini seperti tulangnya di tarik pasak keluar dari tubuhnya. Tapi ia harus berjuang demi buah hatinya.
Doni dapat melihat bagaimana kesakitannya sang istri. Melihat bagaimana perjuangan istrinya itu, membuat dirinya semakin cinta pada istrinya. Dan ia tidak akan pernah menyakiti hati sang istri kelak. Sekarang ia hanya bisa berdoa dan memberikan semangat untuk istrinya itu.
" Terus dorong nona. Kepala bayinya sudah kelihatan"
" Ayo sayang, kamu pasti bisa melakukannya"
Doni terus memberikan semangat dan juga membisikkan kata-kata cinta pada istrinya. Serly yang mendengar ucapan penuh cinta dari suaminya tambah semangat untuk melahirkan bayinya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia mengejan sekuat tenaganya.
Oek..oek..
Suara bayi menggema di ruang persalinan itu. Doni langsung mengucap syukur saat mendengar tangis bayinya. Begitu juga dengan Serly.
" Selamat tuan dan juga nona, bayi kalian telah lahir dengan sempurna. Dan bayinya juga sangat cantik"
" Alhamdulillah. Terima kasih Dok"
" Silakan tuan di adzan kan dulu. Setelah itu baru kami bersihkan" kata Linda sambil menyerahkan bayi cantik itu pada ayahnya.
Doni terharu sampai menitikkan air mata bahagia, saat bayi cantik itu berada dalam gendongannya. Ia segera mengadzani putri cantiknya itu. Setelah itu ia memberikan kembali pada dokter Linda.
" Makasih sayang, sudah mau berjuang melahirkan putri cantik kita"
" Sama-sama Yank "
" Silakan tuan keluar sebentar, saya mau membersihkan sisa persalinan tadi. Setelah itu nona Serly akan langsung kami pindahkan ke ruang rawat bersama bayi kalian"
" Sayang aku keluar dulu ya"
Serly hanya menganggukkan kepalanya. Karena ia sudah tidak ada tenaga lagi. Doni pun ke luar dari ruang persalinan.
" Selamat ya Don, sekarang udah jadi ayah"
" Makasih semuanya"
" Gimana keadaan Serly?"
" Alhamdulillah istri saya baik-baik saja nona muda. Dan sekarang lagi membersihkan sisa lahiran tadi"
" Don, baby kalian cowok apa cewek?" tanya Nadia.
" Cewek nona"
" Teman gelut Alexa nanti tu sayang" kata Darren.
" Iya By"
" Nama putri lo siapa bro?" tanya Romy.
" Ntar gue kasih tau di ruang rawat"
" Kasih tau sekarang aja napa"
" No. Istri gue juga harus dengar nama putrinya"
" Ya elah pelit amat lo"
Dokter dan suster keluar dari ruang persalinan. Suster mendorong Serly menuju ruang VVIP yang sudah di siapkan oleh pihak rumah sakit. Doni dan yang lain mengikuti dari belakang.
Box bayi diletakkan di sebelah bed Serly. Kiran dan Nadia langsung menghampiri box bayi. Mereka ingin melihat wajah cantik putri sahabatnya itu.
__ADS_1
" Masya Allah cantik banget baby girl nya" puji Kiran.
" Mirip Serly banget ya wajahnya".
" So siapa nama bayi cantik ini?" tanya Kiran.
" Iya Don, siapa nama bayi Lo ?" tanya Romy.
" Namanya Adele Adriana Agatha. Di panggil Adele "
" Nama yang cantik, seperti orangnya" puji Kiran.
" Terima kasih nona muda"
Kiran dan Nadia memberikan selamat untuk sahabatnya itu. Karena dia sudah berhasil menjadi seorang ibu.
" Gimana rasanya setelah melihat baby kalian?" tanya Kiran.
" Rasanya bahagia banget. Dan yah, apa yang kalian berdua bilang itu benar. Rasa sakitnya langsung hilang kala melihat bayi mungil nan cantik itu"
Kiran dan Nadia tersenyum mendengar jawaban Serly. Memang benar, rasa sakit itu akan langsung hilang kala mendengar tangis dan juga wajah sang bayi.
" Gimana perasaan Lo sekarang Don?" tanya Romy.
" Bahagia sekaligus sedih bro"
" Kenapa harus ada sedihnya juga?"
" Sedih liat istri gue kesakitan kek tadi. Nggak tega gue liatnya"
" Itu hal yang wajar. Karena mereka berjuang antara hidup dan mati. Kita harus bersyukur memiliki istri yang kuat"
" Lo nggak ada minat mau pindah rumah Rom?" tanya Darren.
" Iya bro. Biar anak-anak kita nanti bisa main bersama-sama" kata Doni.
" Ntar gue tanya sama ibu negara dulu. Soalnya Sekar tidak bisa memutuskan sendiri. Kudu dimusyawarahkan dulu sama bini"
" Ya harus dong. Karena dengan begitu mereka juga merasa dihargai sebagai istri" kata Darren.
" Oh iya, tu para preman jadinya Lo apain?" tanya Romy.
" Sesuai perintah tuan muda"
" Ya kagak lha"
" Lo bilang tadi ngikut apa yang di perintahkan Darren"
" Emang"
" Berarti lo bunuh mereka kan?"
" Kagak. Lagian tuan muda nggak nyuruh bunuh mereka"
" Tapi tadi gue denger dia bilang begitu"
" Ketahuan kalau lo menguping pembicaraan gue " kata Darren.
" Lo kan nelponnya dekat gue. Otomatis gue denger dong semua pembicaraan kalian"
" Kalau Lo denger, berarti Lo tau dong gue beri perintah apa ke Doni?"
" Tau lha. Lo suruh Doni untuk membunuh semua preman itu"
Pletak.
Aawwww..
" Sakit Ren"
" Makanya jangan ngaco"
" Kan emang bener Lo kasih perintah kek gitu"
" Nggak bener"
" So what?"
" Sudahlah, susah ngomong sama orang kek lo"
__ADS_1
" Lo mah gitu sama gue"
Dering ponsel Darren menghentikan perdebatan antara kedua lelaki tampan itu. Darren langsung mengambil ponselnya dan melihat nama Nando tertera di sana.
" Hallo, Assalamualaikum Bang"
" Wa'alaikum salam "
" Abang sama kakak kapan pulang?"
" Kenapa? apakah twins rewel?"
" Nggak, aku mau keluar sebentar"
" Tumben kamu mau keluar?"
" Ada yang mau aku beli"
" Si mbaknya kemana?"
" Ada disini. Tapi Alexa nggak mau di tinggal sama si mbak"
" Ya udah bawa aja twins ke luar sama kamu"
" Apa nggak apa-apa aku ajak mereka ke luar?"
" Nggak apa-apa, asalkan wajah mereka di tutup "
" Berarti pakai kereta dorong mereka ya bawanya?"
" Iya. Ajak si mbak sekalian?"
" Ok Bang"
" BTW kamu keluar mau ketemu pacar ya?"
" Abang ngaco deh. Lagian aku masih kecil, jadi belum kepikiran untuk pacaran"
" Ya siapa tau kan. Tapi bagus lha kalau belum mau pacaran"
" Ya udah, aku tutup dulu ya Bang telponnya"
" Hati-hati dijalan "
" Siap Bang. Assalamualaikum"
" Wa'alaikum salam"
Panggilan telepon pun berakhir. Darren menyimpan kembali ponselnya kedalam saku celananya.
" Siapa By?" tanya Kiran.
" Nando"
" Bilang apa dia? apa twins rewel?"
" Nggak? dia mau keluar, tapi Alexa nggak mau ditinggal"
" Terus gimana?"
" Ya aku suruh aja dia bawa twins keluar"
" Kenapa kamu biarkan dia bawa twins. Ntar acara ngedate nya jadi kacau?"
" Dia nggak beli sesuatu, bukannya mau ngedate"
" Kirain mau ngedate"
" Nggak"
" Ya udah, sekarang kita pulang. Ntar kalau Nando balik kita udah di rumah"
" Ok"
Kiran berpamitan sama sahabatnya. Ia tau sahabatnya itu pasti ingin istirahat. Karena dari tadi Serly belum ada istirahat. Nadia dan Romy juga pamit pulang. Tapi besok mereka akan ke rumah sakit lagi, sekalian bawa baby twins dan juga Farel.
To be continue.
Adele Adriana Agatha.
__ADS_1
Happy reading ππ