Mengejar Cinta Nona Muda

Mengejar Cinta Nona Muda
Kehancuran


__ADS_3

Sebelum kembali ke ruang tamu tempat ibu panti dan sahabatnya tadi, Kiran menghampiri bodyguard Darren terlebih dahulu. Dia meminta bantuan salah satu bodyguard Darren untuk menyiapkan mobil untuk membawa anak-anak panti.


" Baik nona, saya akan segera cari mobilnya. Lalu nanti saya tunggu di mana nona?"


" Tolong tunggu di simpang jalan sana"


" Baik nona"


" Makasih sebelumnya ya Pak"


" Sama-sama nona, itu sudah menjadi tugas saya. Kalau begitu saya permisi dulu nona"


" Baik Pak"


Untung para preman itu tidak melihat Kiran bicara dengan bodyguard Darren. Kalau mereka lihat dan dengar, bisa-bisa rencananya akan gagal total. Dia kembali ke ruang tamu, diikuti oleh asisten ibuk panti.


" Boleh saya bicara dengan adik-adik di sini?" tanya Kiran setelah kembali dari toilet.


" Untuk apa nona?" tanya Titin dengan selidik.


" Hanya ingin berbicara saja. Apakah tidak boleh?"


" Tentu saja. Tolong kamu kumpulkan semua anak-anak di halaman" titah Titin pada asistennya.


" Baik Bu"


Kiran memberikan kode isyarat dengan matanya pada asisten Titin. Asisten itupun mengerti dengan kode isyarat yang di berikan Kiran padanya.


Asisten itu pergi menemui anak-anak yang ada di panti asuhan itu. Dia akan membawa anak-anak kabur lewat pintu belakang panti.


" Aku harus percaya pada gadis itu. Karena sepertinya hanya dia yang bisa menyelamatkan kami dari sini"


Ia mempercepat langkah kakinya menuju lapangan panti. Tidak butuh waktu lama untuk mengumpulkan anak-anak itu. Karena mereka punya bel seperti yang ada di sekolah-sekolah. Jadi asisten itu hanya memencet bel, semua anak-anak itu pun berkumpul.


" Apa kalian mau ikut Bapak?" tanya asisten itu.


" Ikut kemana Pak?"


" Kita akan pergi dari sini"


" Kalau kami ikut Bapak pergi dari sini, terus setelah itu kami tinggal di mana?"


" Kalian tenang saja, ada orang yang akan menampung kita semua"


" Apa orang itu baik? jangan-jangan nanti kami di siksa lagi"


" Tidak akan, Bapak bisa jamin itu. Jadi kalian harus percaya sama Bapak"


Anak-anak itu saling lirik. Mereka seperti berpikir. Apa mereka akan benar-benar bisa selamat dari panti itu. Tak berselang lama mereka pun menganggukkan kepala tanda setuju dengan asisten ibu panti itu. Bukankah hanya itu yang bisa mereka lakukan. Percaya dengan apa yang di katakan asisten ibu panti itu.


" Kalau kalian setuju, kita harus segera pergi dari sini, sebelum ketahuan sama preman-preman itu"


" Baiklah kami ikut Bapak"


" Ayo ikut Bapak, kita lewat jalan belakang "


Anak-anak itu mengikuti langkah kaki asisten ibu panti itu. Dia menjaga pintu, sementara anak-anak itu antre untuk keluar.


Satu persatu anak-anak panti itu keluar melalui pintu belakang. Mereka terus berjalan sampai persimpangan jalan yang di maksud oleh Bapak Sodikin. Ya asisten Titin bersama Sodikin.


Sodikin mengantarkan anak-anak itu ke mobil yang sudah di siapkan oleh Kiran di persimpangan jalan itu.


Sesampainya di persimpangan jalan, anak-anak panti itu melihat satu unit mobil besar. Mereka segera menghampiri mobil itu. Bodyguard Darren melihat anak-anak panti berlari ke arahnya, langsung membukakan pintu mobil supaya anak-anak itu bisa masuk.

__ADS_1


" Ayo buruan anak-anak" kata bodyguard Darren.


Anak-anak panti itu bergegas masuk kedalam mobil. Setelah semuanya masuk, bodyguard Darren menutup pintu mobil itu kembali.


" Bapak tidak ikut masuk?"


" Tidak Pak saya harus kembali ke panti. Tolong bawa mereka ke tempat yang aman ya tuan"


" Bapak tenang saja, saya akan membawa mereka ke tempat yang lain. Kalau begitu saya jalan dulu Pak"


" Siap Pak"


Bodyguard Darren segera melajukan mobilnya meninggalkan persimpangan jalan itu. Sedangkan pak Sodikin kembali ke panti Asuhan.


" Maaf Buk anak-anak tidak ada" lapor Sodikin setelah kembali ke ruang tamu.


" Apa!"


" Iya Buk, anak-anak menghilang"


" Cepat cari mereka, sekarang!"


Coba lihat wajah panik mu itu perempuan tua, sungguh sangat menyenangkan. Gumam Kiran dalam hati.


Kiran tersenyum melihat kemarahan ibuk panti itu. Sungguh pemandangan yang menyenangkan. " Maksudnya anak-anak hilang gimana ya Buk?"


" Maaf nona, maksud asisten saya bukan hilang dalam artian mereka pergi dari sini. Tapi mungkin mereka pergi bermain dengan anak-anak kompleks sebelah"


" Benarkah?"


" I-iya nona. Jadi bagaimana sembakonya, apa sudah bisa saya terima?" tanya ibuk panti itu.


" Maaf Buk, bukannya saya nggak mau ngasih. Tapi saya ingin memberikan bantuan itu di depan anak-anak "


" Sembakonya mungkin bisa, tapi kalau tas sama sepatunya saya harus kasih langsung ke adik-adik yang ada di sini"


" Kalau begitu sembako saja dulu nona, kalau tas sama sepatunya nanti aja"


" Baiklah Buk, ayo kita keluar untuk mengambil sembakonya"


" Iya nona"


Kiran keluar dari ruangan itu. Diikuti sama Nadia, Ibu panti dan juga asistennya. Mereka berjalan menuju mobil box yang terparkir tidak jauh dari panti asuhan itu.


" Buka box nya Pak " titah Kiran pada Bapak sopir yang membawa mobil box tadi.


Mata ibuk panti itu tidak berkedip melihat banyak beras yang ada di dalam box itu. Dia sudah membayangkan pundi-pundi uang yang akan dia dapatkan nanti.


Lihat saja sampe mata kau buta wanita tua. Tapi kau tidak akan pernah menyentuh beras-beras itu.


" Berasnya mau di pindahkan ke mana Buk?" tanya Kiran.


" Ke mobil yang ada di sebelah sana aja nona"


" Mobil?" tanya Kiran.


" Ma-maksud saya gudang beras sebelah sana nona"


" Jadi mana yang benar ini Buk, mobil apa gudang?"


" Gu-gudang nona"


" Angkat semua karung berisi beras ini ke gudang itu Pak" kata Kiran pada bodyguard Darren.

__ADS_1


" Baik nona"


Belum sempat para bodyguard Darren itu menyentuh karung berasnya, salah satu preman yang duduk di bawah pohon tadi datang.


" Biar saya aja yang mengangkat beras itu Pak"


" Terima kasih Pak, tapi kami masih sanggup kok untuk membawa karung berisi beras ini"


" Nggak apa-apa Pak, kami akan membantu"


" Baiklah kalau emang bapak mau bantu silakan" kata Kiran.


Para preman yang duduk di bawah pohon besar tadi mengangkat karung berisi beras itu satu persatu, kemudian membawa ke gudang yang ada di sana.


Sampai di pintu gudang, preman itu meminta bodyguard Darren untuk meletakkan berasnya sampai di pintu gudang saja.


" Pak berasnya letakkan di sini saja, nanti biar saya yang membawa ke dalam" kata salah satu preman itu.


" Saya harus mengantar sampai ke dalam gudang seperti yang di perintahkan nona saya tadi"


" Nggak usah Pak, sampai sini aja"


" Kenapa kami tidak boleh mengantarkan sampai kedalam gudang. Apa kalian menyembunyikan sesuatu di dalam gudang itu"


" Tidak!"


" Lalu kenapa kami tidak boleh mengantarkan sampai kedalam"


" Karena yang boleh masuk kedalam sini hanya petugas panti"


" Oh ya, kalau begitu anggap saja kami petugas panti"


" Saya bilang tidak bisa ya tidak bisa!"


" Kalau begitu kami tidak perlu mengikuti perintah anda"


" Kau berani sama kami, huh?!"


" Tentu saja kami berani"


" Apa kalian tidak tau siapa kami?"


" Kami tidak ingin tau siapa kalian" kata bodyguard Darren.


" Rupanya kau tidak sayang dengan nyawamu, kalian cepat hajar mereka"


Lima orang preman penjaga gudang itu menyerang bodyguard Darren dengan membabi buta. Bodyguard Darren tentu saja tidak tinggal diam, mereka ikut menyerang preman itu.


Perkelahian mereka membuat kegaduhan dan itu menyita perhatian Kiran dan juga Nadia.


" Ada ribut-ribut apa itu?" tanya Kiran pura-pura tidak tau.


" Sepertinya ada orang yang lagi berantem" kata Nadia.


" Coba kita lihat ke sana " kata Kiran sambil melangkah kakinya menuju gudang.


Dasar bodoh! nanti nona ini akan curiga sama aku. Batin ibu panti.


To be continue.


Sorry telat up. Tapi tenang aja hari ini up 2 bab kok πŸ˜‰πŸ˜‰


Happy Reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2