
Daffin pulang ke rumahnya dalam keadaan berantakan. Rambut acak-acakan dan lagi tubuhnya basah kuyup karena hujan.
" Sayang kamu kenapa?" tanya Sinta saat melihat putra bungsunya pulang dalam keadaan basah kuyup.
" Aku nggak apa-apa Ma" kata Daffin sambil menaiki tangga menuju kamarnya.
Sinta hanya menatap sendu kepergian putra bungsunya itu. Dia tidak tau apa yang telah terjadi pada putranya itu. Kenapa putranya pulang dalam keadaan kacau seperti itu.
Daffin mengunci pintu kamarnya, supaya tidak ada yang masuk. Ia ingin sendiri dulu tanpa ada yang menggangu. Ia ingin menenangkan pikirannya dahulu.
Daffin membaringkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Dia tidak mengganti pakaiannya yang basah karena air hujan tadi. Ia menatap foto wanita cantik dengan seragam putih abu-abu yang sedang tersenyum. Ia ingat betul kapan foto itu diambil. Foto itu diambil saat dia memberikan bunga saat gadis cantik itu memenangkan pertandingan cerdas cermat tingkat provinsi.
Tanpa terasa air matanya menetes membasahi pigura itu. Ia benar-benar menyesal telah mengabaikan wanita yang sedari dulu mencintainya dengan setulus hati. Ia mengecup foto wanita cantik itu.
" Aku memang bodoh princess, tapi aku mohon beri aku kesempatan satu kali lagi" ucap Daffin pada pigura Kiran yang tampak tersenyum itu.
Lagi-lagi Daffin teringat bagaimana di mengacuhkan Kiran saat mereka sudah duduk di kelas dua SMA. Ya saat itulah Daffin tidak pernah menghiraukan Kiran lagi. Dia asik dengan dunianya sendiri, bersama teman-teman wanitanya. Dan yang paling menyakitkan pas di ulang tahun Kiran yang ke 17 tahun, dia membawa wanita lain dan memperkenalkannya sebagai kekasih.
" Maafkan aku princess, maafkan aku!" ucap Daffin sambil memeluk pigura foto Kiran.
Pakaiannya yang basah tadi sudah mulai kering di tubuhnya. Karena kelamaan menangis, akhirnya Daffin terlelap dengan memeluk foto Kiran.
Sinta sangat khawatir dengan keadaan putra bungsunya itu. Ini pertama kali dia melihat putranya pulang dalam keadaan kacau seperti tadi.
" Ma, kamu kenapa mondar-mandir kek setrikaan gitu?" tanya Aldi.
" Daffin Pa"
" Kenapa dengan Daffin?"
" Dia pulang dalam keadaan kacau"
" Mungkin dia lagi berantem sama pacarnya"
" Mereka kan udah putus Pa"
" Biarkan saja, mungkin dia sedang menyesali perbuatannya"
" Hhmm, tapi tetap saja aku nggak tega melihat dia seperti itu"
" Biarkan saja, kita kan sudah peringat dia kemarin-kemarin. Bahkan dia membentak kamu kemarin"
Ya Sinta masih ingat dengan jelas kejadian itu. Karena itu kali pertamanya sang putra membentaknya. Semua itu gara-gara kekasih putranya yang nggak ada akhlak itu.
Malam hari.
Anggun meminta para sahabatnya datang ke kediamannya. Dia mengadakan acara barbeque dadakan. Acara itu hanya akan di hadiri oleh para sahabat mereka saja, tanpa ada anak-anak. Di acara itu Ia akan memberikan kabar bahagia pada para sahabatnya.
Para sahabat mereka sudah datang. Seperti biasa, para istri bertugas membakar daging dan kawan-kawannya. Sedangkan para suami duduk tenang di gazebo yang ada di taman itu.
" Tumben lo ngajak kita ngumpul?" tanya Aldi pada sahabatnya itu.
" Iya dalam rangka apa ini" tambah Gio.
" Nggak dalam rangka apa-apa. Lagian kitakan sudah jarang ngumpul-ngumpul kek gini" kata Vandy.
" Benar juga apa yang lo bilang"
__ADS_1
" Tapi istri gue mau menyampaikan kabar baik pada kalian"
" Oh ya, kabar baik apa itu?" tanya Gio.
" Mungkin mereka akan memberikan adik untuk Kenzo dan juga Kiran" kata Aldi.
Pletak.
" Lo kalau ngomong jangan asal. Masa iya, gue mau memberikan mereka adik, sementara gue akan punya cucu" kata Vandy setelah mejitak kepala Aldi.
" Ya siapa tau lo nggak mau kalah dari Kenzo" kata Aldi.
" Ntar kalian akan tau kabar baik apa yang akan di sampaikan sama istri gue"
Aroma wangi dari daging dan juga sosis bakar sudah tercium oleh indra penciuman para suami-suami tampan itu. Itu tandanya steak dan juga sosisnya sudah siap untuk di santap.
Para istri sudah siap membakar daging dan kawan-kawannya. Mereka menata steak, sosis dan juga kentang goreng ke piring. Kemudian mereka membawakan ke tempat para suami yang sedang asik mengobrol.
" Kayaknya enak nih" kata Aldi saat melihat steak yang di bawa sang istri.
" Pasti enak dong, yang masaknya kan chef cantik-cantik" kata Sinta.
" Ya makanan istri kita memang tiada duanya" puji Gio.
" Tapi tetap masakan istri gue yang paling enak" kata Vandy.
Ketiga istri cantik itu hanya tersenyum mendengarkan pujian para suami mereka. Ya begitulah kalau suami yang baik, selalu memuji masakan istri mereka.
Semua makanan dan juga minuman sudah terhidang di atas meja di hadapan mereka. Para istri mulai melayani suami mereka masing-masing.
Inilah kali pertamanya mereka barbeque-an tanpa anak-anak mereka. Ini seperti kembali ke masa saat-saat mereka belum mempunyai momongan.
" Iya, biasanya rame banget kalau ada mereka" kata Sinta.
" Mereka sudah sibuk, apalagi sekarang mereka juga sudah pada menikah" kata Sisil.
" Kapan-kapan kita barbeque-an lagi dan kita ajak juga mereka" usul Sinta.
" Boleh juga tu ide Lo" kata Sisil.
" Oh ya guys gue ada kabar bahagia nih" kata Anggun.
" Apa?" tanya Sinta dan juga Sisil berbarengan.
" Ntar setelah makan gue kasih tau sama kalian" kata Anggun.
" Ok"
Mereka melanjutkan kembali menyantap steak dan juga kawan-kawannya. Sekarang mereka makan dengan sangat hikmat, tanpa ada yang bersuara.
Selesai makan, Anggun meminta para pelayan untuk membersihkan piring serta gelas kotor yang ada di meja itu. Para pelayan pun membawa semua piring dan gelas kotor itu ke dapur untuk di cuci.
" Sekarang kasih tau kita kabar bahagia apa yang mau lo sampaikan ke kita semua?" tanya Sinta.
" Kiran satu bulan lagi akan menikah" kata Anggun.
" Apa!" kata Sinta dan Sisil berbarengan.
__ADS_1
" Iya, putri kesayangan gue mau menikah" kata Anggun lagi.
Sinta, Sisil dan juga suami mereka benar-benar kaget mendengar kabar yang di berikan Anggun.
" Sebelum gue mau minta maaf sama kalian, karena nggak ngundang kalian ke acara pertunangan Kiran kemarin malam"
" Semalam?" tanya Sinta.
" Iya, calon besan kami datang melamar Kiran semalam"
" Kenapa mendadak sekali, Kiran nggak lagi itu kan?" tanya Sisil.
Anggun tersenyum mendengar pertanyaan sahabatnya itu. " Nggak kok Sil, putri gue nggak lagi hamil"
" Syukurlah, terus siapa lelaki yang beruntung itu?" tanya Sisil lagi.
" Putra dari keluarga Narendra"
" Apa!"
Lagi-lagi para sahabatnya kaget mendengar nama siapa yang akan menjadi calon besan ya nanti.
" Maksud lo keluarga Narendra yang terkaya nomor satu di Eropa itu?" tanya Sinta.
" Hhmm"
" Wah,, keluarga lo benar-benar luar biasa Nggun" puji Sisil.
" Kami turut bahagia ya Van atas pertunangan putri lo " ucap Aldi.
" Makasih Al"
Sisil melirik Sinta. Dia tau sahabatnya yang satu itu masih berharap Kiran menjadi mantunya. Tapi apa mau dikata, Kiran sudah dilamar sama lelaki lain. Itu semua gara-gara putranya yang bodoh itu.
" Sin, are you ok?" tanya Sisil.
Anggun dan yang lain menoleh kearah Sinta. Anggun merasa tak enak hati pada sahabatnya itu. Dia tau bagaimana Sinta dan Aldi dulu ingin mereka menjadi besanan.
" Kenapa kalian liatin gue kek gitu. Gue nggak apa-apa kok. Gue ikut bahagia karena Kiran sudah mau menikah " kata Sinta sambil tersenyum.
" Benar lo nggak apa-apa?" tanya Sisil lagi.
" Benar Sil, emang gue kek kelihatan sakit gitu kah?"
" Ya nggak sih "
" Gue baik-baik aja. Gue ikut senang dan bahagia karena Kiran sudah menemukan lelaki yang mencintainya. Putri lo pantas bahagia Nggun, walaupun itu bukan sama putra gue yang bodoh itu"
" Makasih Sin" kata Anggun sambil memeluk sahabatnya itu.
" Sama-sama Nggun" kata Sinta sambil membalas pelukan sahabatnya.
Vandy dan Aldi tersenyum melihat istri mereka. Ya hubungan kedua wanita cantik itu sempat merenggang karena kejadian tiga tahun lalu. Tapi Vandy dan Aldi bersyukur hubungan persahabatan mereka kembali seperti dulu lagi.
To be continue.
Sorry telat up, soalnya tadi jaringan errorπ©π©
__ADS_1
Happy Reading ππ