
Suara ombak sudah mulai terdengar. Kiran mempercepat langkah kakinya. Dia tidak sabar melihat keindahan pantai yang ada di belakang villa mewah itu.
" Wah,, cantik banget pantainya" ucap Kiran saat kakinya sudah menginjak pasir putih itu dengan kaki telanjangnya.
" Kamu suka?"
" Hhmm"
Darren memandang birunya lautan itu. Pemandangan di sekitar pantai itu juga indah dan yang penting di sana sangat bersih, tidak ada sampah sedikit pun.
Kiran menyentuh air laut itu dengan kakinya. Dingin, itulah yang pertama kali dia rasakan ketika air laut itu menyentuh kulit kakinya. Ingatannya kembali pada masa kecil dulu. Dimana dia dan abangnya membuat istana dari pasir.
Dia menghela nafasnya ketika rasa sesak datang. Dia teringat saat bermain kejar-kejaran bersama Daffin di pantai. Dulu mereka begitu dekat, tapi sekarang seiring berjalannya waktu mereka mulai menjauh.
" Aaaa" teriak Kiran tiba-tiba, saat dirasa wajahnya sudah penuh dengan cipratan air.
" Darren! usil banget sih kamu"
" Siapa suruh melamun" kata Darren.
Kiran tidak terima wajahnya yang sudah basah karena air asin itu. Dia membalas menyiram wajah Darren dengan air asin itu juga.
" Rasain!" kata Kiran sambil berlari menjauh dari Darren.
" Kiran, awas kamu ya kalau dapat aku cium" kata Darren sambil berlari mengejar Kiran.
" Coba aja, week" kata Kiran meledek.
Aksi kejar-kejaran pun tak terelakkan antara Kiran dan Darren. Mereka berdua seperti anak kecil yang berlarian di sepanjang bibir pantai.
" Wanita ini, kenapa kencang sekali larinya"
Kiran sangat senang karena Darren belum berhasil mengejarnya. " Lari kamu lambat kek siput, payah"
Darren tidak terima karena di bilang payah. Dia mempercepat larinya. Kiran yang melihat Darren makin mendekat menambah kecepatan larinya.
" Aaaww" ringis Kiran saat kakinya menginjak sesuatu benda yang tajam.
" Dapat" kata Darren sambil memeluk tubuh Kiran.
" Sakit" rintih Kiran.
" Apa yang sakit?" tanya Darren dengan nada khawatir.
" Kaki aku"
Darren segera melihat kebawah, tepatnya ke arah kaki Kiran. Darren kaget melihat telapak kaki Kiran. " Darah, kamu terluka"
Tanpa menunggu lama Darren langsung menggendong Kiran ala bridal style. Kiran refleks mengalungkan tangannya ke leher Darren.
Darren membawa Kiran ke saung yang ada di tepi pantai itu. Mungkin saung itu sengaja di buat di sana oleh tuan James. Dia mendudukkan Kiran di saung itu.
" Sini aku liat lukanya?"
Telapak kaki Kiran masih mengeluarkan darah. Mungkin lukanya agak dalam, jadi darah mengalir terus.
" Aku minta bantuan tuan James untuk menghubungi dokter ya"
" Nggak usah, hanya luka kecil. Jadi tidak perlu panggil dokter"
" Luka kecil gimana? kaki kamu itu masih mengeluarkan darah dan aku rasa lukanya agak dalam" kata Darren yang udah mulai kesal.
" Aku nggak apa-apa, beneran?"
Darren tidak mendengarkan ucapan Kiran. Dia tetap kekeuh menghubungi nomor telepon tuan James.
" Hallo" terdengar suara di seberang telepon.
" Tolong panggilkan dokter segera"
Tut.
Tanpa menunggu jawaban dari sana Darren sudah mematikan sambungan teleponnya. Dia tidak peduli kalau tuan James sedang mengutuknya.
__ADS_1
" Naik, aku gendong ke villa" kata Darren sambil menepuk punggungnya sendiri.
" Eh"
" Buruan naik, bentar lagi dokter datang"
" Aku nggak apa-apa, lagian aku mau melihat sunset"
" Liat sunset bisa kapan-kapan aja, sekarang obati luka kamu dulu"
" Dasar tukang paksa"
Mau tak mau akhirnya Kiran naik juga keatas punggung Darren. Entah kenapa dia tidak bisa membantah ucapan lelaki tampan itu.
" Tubuh kamu ringan banget"
" Biarin!"
" Kenapa ngomongnya jutek begitu, hhmm?"
" Aku mau liat sunset, tapi kamu malah bawa aku ke villa"
" Besok-besok masih bisa liat sunset nya honey"
" Aku maunya sekarang, bukan besok"
" Kaki kamu lagi terluka, jadi harus segera di obati"
Mereka berdua sampai di villa. Benar saja saat mereka sampai, seorang dokter wanita sudah ada di sana bersama tuan James. Darren mendudukkan Kiran di sofa yang ada di sana.
" Nona Kiran kenapa?" tanya tuan James saat melihat Kiran datang di gendong Darren.
" Nanti aja tanya-tanya nya. Sekarang suruh dokter itu cepat memeriksa dan mengobati kaki Kiran"
Dokter segera memeriksa kaki Kiran. Dokter itu membersihkan telapak kaki Kiran yang penuh dengan pasir.
" Lukanya harus di jahit tuan"
" Tukan benar kata aku tadi, luka kamu itu dalam"
" Iya nona, luka di kaki anda cukup dalam"
" Perlu berapa jahitan Dok?" tanya Darren.
" Satu tuan"
" Cepat jahit, dan pelan-pelan saat menjahit lukanya. kalau tidak! jangan harap kamu bisa keluar hidup-hidup dari sini" ancam Darren.
" B-baik tuan"
Plak.
" Kamu jangan bikin dokternya takut" kata Kiran setelah mendaratkan pukulan pada lengan Darren.
Dokter itu mulai menjahit luka di telapak kaki Kiran. Sepertinya ancaman Darren berhasil, Dokter itu menjahit luka itu dengan sangat hati-hati. Tak butuh waktu lama, kaki Kiran sudah selesai di jahit.
" Sudah selesai nona"
" Terima kasih Dok" ucap Kiran.
" Sama-sama nona, tapi kalau boleh lukanya jangan kena air dulu ya"
" Terus kalau saya mau mandi gimana Dok?"
" Tenang ntar aku bantuin mandinya"
Bug.
Satu bantal sofa melayang dan mendarat di kepala Darren.
" Aww,," rintih Darren pura-pura sakit.
Tuan James melongo melihat sikap Darren. Lelaki tampan yang terkenal kejam itu bisa bersikap lembut lembut dan juga kekanak-kanakan.
__ADS_1
" Saya pamit dulu tuan" kata dokter.
" Hhmm"
" Sekali lagi terima kasih ya Dok" ucap Kiran.
" Sama-sama nona"
Dokter itu pun pergi dari villa itu. Sekarang hanya tinggal mereka bertiga, sepasang kekasih yang belum jelas statusnya dan juga tuan James.
" Jadi kenapa nona Kiran terluka ?" tanya tuan James.
" Mungkin kena cangkang kerang" jawab Darren.
" Maafkan saya atas ketidak nyamanan ini nona. Nanti saya suruh pelayan untuk membersihkan cangkang yang ada di pantai"
" Sudah ada korban baru mau di bersihkan" kata Darren.
" Darren" panggil Kiran.
" Benarkan yang aku bilang"
" Iya, jangan di bahas lagi. Lagipula tuan James sudah meminta maaf"
" Apa dengan minta maaf luka kamu itu bisa sembuh"
" Sekali lagi maafkan saya tuan Darren"
Huuufftt.
" Kali ini saya maafkan, tapi tidak lain kali"
" Terima kasih tuan, nona"
Kiran hanya menganggukkan kepalanya.
" Apa kamu masih mau liat sunset?" tanya Darren setelah tuan James undur diri.
" Hhmm"
" Lewat balkon aja ya kita liatnya"
" Aku maunya di pantai"
" Kaki kamu masih sakit honey?"
" Kan ada kamu yang gendong aku"
" Emang aku ada bilang mau gendong kamu?"
" Oh jadi kamu nggak mau? ya udah, aku bisa pergi sendiri"
" Nggak boleh jalan sendiri, kaki kamu masih sakit"
" Biarin!"
" Ya udah naik sini"
" Nggak ikhlas"
" Ikhlas sayang, buruan naik sebelum aku berubah pikiran"
" Ok"
Kiran segera naik ke punggung Darren. Dia tidak ingin Darren berubah pikiran, bisa-bisa dia nggak jadi liat sunset.
" Pegangan yang erat"
" Siap" kata Kiran sambil mengalungkan tangannya ke leher Darren.
Darren tersenyum melihat tingkah gadis kecilnya. Dia suka Kiran yang nurut kek gitu. Mereka pun kembali ke pantai tadi untuk melihat sunset. Karena hari sudah mulai petang.
To be continue
__ADS_1
Cie.. yang udah ada kemajuan π€π€
Happy Reading ππ