
Kiran hanya diam, karena dia memang tidak tau siapa wanita yang pernah dekat dengan Darren.
" Apa kamu tau?" tanya Daffin lagi.
" Nggak, dan aku juga tidak ingin tau"
" Monica" kata Daffin.
" Apa?!"
" Kekasih, calon suami kamu itu Monica. Mantan aku" kata Daffin.
Kiran kaget mendengar ucapan Daffin barusan. Begitu juga dengan Kenzo dan yang lainnya.
" Bukankah Monica itu pacar kamu?" tanya Kenzo.
" Iya, tapi dia selingkuh sama calon suami Kiran"
" Sudah gue duga, kalau pacar lo itu nggak beres" kata Gian.
" Berarti pacar kamu itu murahan " kata Keyra.
" Iya kek cicak, nempel di mana aja" kata Tristan.
" Tapi sekarang aku sudah putus dengan dia" kata Daffin.
" Oh jadi karena lo udah putus sama wanita itu, makanya sekarang lo deketin adek gue, begitu?!" tanya Kenzo.
" Nggak Bang, aku baru menyadari kalau aku cinta sama princess"
" Itu bukan cinta" kata Kenzo.
" Itu obsesi" kata Tristan dan Gian.
" Bukan!" kata Kenzo.
" Obsesi Ken" kata Gian.
" Bukan, kalau obsesi dia tergila-gila selalu ingin memiliki adek gue. Tapi di kasus ini, dia baru menginginkan adek gue setelah dia putus dari kekasihnya. Karena kekasihnya itu ketahuan selingkuh. Jadi perasaan kamu sekarang itu hanya pelarian dan juga rasa bersalah kamu sama princess"
Daffin mencerna semua ucapan Kenzo. Apa benar perasaannya ke Kiran sekarang hanya pelarian saja.
" Tapi lelaki itu juga tidak pantas untuk jadi suami Kiran. Karena dia selingkuh dengan Monica"
" Lantas kenapa kalau dia pernah menjalin hubungan dengan Monica? lagipula saat dia pacaran dengan Monica, aku belum dekat dengannya" kata Kiran.
" Pokoknya dia tidak pantas dengan kamu princess" kata Daffin.
" Pantas atau tidaknya dia bersamaku, bukan urusan kamu" kata Kiran.
Daffin kecewa mendengar ucapan Kiran barusan. Bukan ini jawaban yang dia inginkan. Dia ingin Kiran marah dan membatalkan pernikahannya, itulah keinginannya.
" Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi, kamu boleh pergi" kata Kiran.
" Kenapa?" tanya Daffin.
" Apa?"
" Kenapa kamu masih mau dengan lelaki seperti itu. Sedangkan aku, kamu tidak mau memberikan kesempatan"
" Karena dia tidak pernah menyakiti dan juga merendahkan aku"
Deg.
Hati daffin seperti tercubit mendengar ucapan Kiran barusan. Dia memang tidak bisa mengontrol ucapannya ketika sedang emosi.
" Semua orang punya masa lalu, begitu juga dengan Darren. Dia bisa menerima segala kekurangan dan kelebihan aku. Begitu juga dengan aku yang menerima semua kekurangan dan kelebihannya. Termasuk masa lalunya. Makasih sudah mau bersusah payah ngasih tau aku soal masa lalu Darren"
" Apa aku benar-benar tidak punya kesempatan lagi?"
" Tidak, karena lelaki baik seperti kamu tidak pantas untuk wanita manja dan murahan seperti aku "
__ADS_1
Lagi-lagi hati Daffin sakit mendengar ucapan Kiran. Dia benar-benar menyesal telah berkata seperti itu pada wanita cantik itu. Sekarang dia benar-benar tidak mempunyai harapan lagi.
" Kau sudah dengar apa yang di katakan princess kan. Kau tidak punya kesempatan lagi" kata Gian sambil menepuk pundak sang adik.
" Wanita itu pendendam, kalau kau sudah pernah menyakitinya satu kali. Seumur hidup mereka akan selalu ingat" kata Tristan.
Para wanita yang ada di sana langsung memberikan tatapan mematikan pada Tristan. Seketika Tristan merasa hawa di sekitarnya sangat seram.
" Kamu bilang apa tadi?" tanya sang istri pada Tristan.
" Aku nggak ada bilang apa-apa. Mami salah dengar kali" kilah Tristan.
" Jangan bohong Pi, jelas-jelas mami dengar tadi mulut papi itu komat-kamit gaje" kata Dira istri Tristan.
" Kalau dengar, kenapa masih nanya?"
" Papi malam ini nggak dapat jatah"
" Jangan dong Mi"
Kiran tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka kalau abangnya yang satu itu akan bucin seperti itu. Padahal dulu dia sangat malas berdekatan dengan wanita yang telah menjadi istrinya sekarang ini.
" Kamu sudah dengar apa yang di katakan princess kan. Sekarang kamu pergi dari sini" usir Gian.
" Abang kok tega sih sama aku. Padahal aku ini adik kandung abang" kata Daffin.
" Ya kamu memang adik kandung ku, tetapi itu dulu, sebelum kamu menyakiti princess"
" Princess sudah memaafkan aku Bang"
" Tapi maaf kamu tidak bisa menyembuhkan hatinya yang terluka karena sikap dan ucapan kamu"
Daffin tidak bisa berkata lagi. Apa yang di bilang Abangnya memang benar. Tapi apa dia tidak pantas untuk mendapatkan kesempatan kedua dari wanita cantik itu.
Niatnya datang ke sana untuk merebut hati Kiran kembali. Namun siapa sangka semua orang di sana tidak ada yang mendukungnya. Dia benar-benar sendirian.
Di tempat lain.
Seorang lelaki tampan sedang berdiri dengan gagahnya di dekat kaca jendela ruangannya. Ia menatap gedung-gedung pencakar langit yang ada di seberang sana.
" Masuk!"
" Permisi Pak, ada orang yang mau bertemu dengan bapak?"
" Persilakan masuk" kata Darren tanpa menoleh ke arah sekretarisnya.
" Tuan" sapa lelaki itu.
" Apa kau sudah melakukan perintah saya?" tanya Darren.
" Sudah tuan, saya sudah memberikan foto tuan pada lelaki itu"
" Bagus, sekarang kau boleh pergi"
" Baik tuan" Setelah melapor pada tuan mudanya, bodyguard Darren pun pergi dari sana.
Darren tersenyum penuh kemenangan. Ya orang yang di kira detektif oleh Daffin adalah salah satu bodyguard Darren.
" Dasar lelaki bodoh! sayang aku tidak bisa menyaksikan pertunjukan saat kau bertemu dengan wanitaku"
Flash on.
Satu Minggu yang lalu.
Darren baru pulang dari kantor bersama Romy. Di perjalanan tiba-tiba mobil Darren melaju dengan tidak stabil. Itu dikarenakan ban mobilnya kempes.
" Sepertinya ban mobil lo pecah deh" kata Romy.
" Yang benar aja lo. Mobilnya baru di servis kemarin"
" Mungkin lo servisnya di bengkel abal-abal kali"
__ADS_1
Pletak.
" Jangan ngaco, cepat periksa sana!" titah Darren setelah memukul kepala sahabatnya itu.
" Bentar gue liat dulu"
Romy turun dari mobil. Dia akan memeriksa keadaan ban mobil sahabatnya itu. Mata Romy terbelalak melihat paku besar menancap dengan sempurna di ban mobil itu.
" Pantas aja kempes. Ada paku gede yang nancap " kata Romy.
" Buruan lo ganti bannya, keburu sore"
" Emang lo bawa ban serep nggak?"
" Ada di bagasi " kata Darren sambil turun dari mobil.
Romy mengambil ban serep yang ada di bagasi. Tapi baru saja bannya diambil tiba-tiba hujan turun.
" Rom hujan, cepat masuk mobil " kata Darren.
" Ban mobil lo gimana?"
" Ntar aja, buruan masuk"
Romy segera masuk kedalam mobil, tapi tangannya menggantung di handle pintu mobil.
" Di suruh masuk malah hujan-hujanan dia. Rom buruan masuk, ntar lo sakit"
" Bukankah itu pacar si Monica?" kata Romy.
" Mana?" tanya Darren.
" Noh, yang main hujan-hujanan di pantai"
Darren menoleh kearah yang di maksud sama sahabatnya itu.
" Sepertinya dia ada masalah " kata Darren turun dari mobil.
" Lo ngapain turun juga"
" Gue mau menyapa dia" kata Darren sambil menyeberang jalan. Romy pun mengikuti sahabatnya itu.
Berjarak beberapa meter dari tempat Daffin duduk sambil hujan-hujanan. Darren bisa melihat, betapa kacaunya lelaki itu.
" Kiran, aku tidak akan membiarkan kamu menikah dengan lelaki itu"
Deg.
Jantung Darren berpacu lebih kencang dari biasanya. Dia mengepalkan tangannya hingga kuku tangannya memutih. Dia ingin menghajar lelaki itu, tapi keburu di tahan sama sahabatnya.
" Lepasin Rom"
" Sabar, kita dengar dulu uneg-uneg dia. Siapa tau kita dapat informasi penting"
Mau tak mau Darren pun mengikuti saran sahabatnya itu. Mereka bersembunyi di balik mobil Daffin.
" Aku akan cari tau siapa lelaki yang akan jadi calon suami kamu itu. Ya aku akan pakai jasa detektif"
Darren tersenyum penuh arti. Tiba-tiba ide yang sangat cemerlang melintas di otak cerdasnya. Dia melirik sahabatnya itu.
" Jangan bilang lo mau jadi detektif abal-abal" kata Romy.
" Kagak, gue akan suruh salah satu bodyguard gue"
" Dasar licik"
" Gue cuma membantu dia" kata Darren sambil berlalu pergi dari sana, diikuti sama Romy di belakang.
Flash Off.
To be continue.
__ADS_1
Happy Reading ππ