
Setelah puas bermain mereka memutuskan untuk mengisi perut mereka. Karena perut mereka sudah mulai keroncong minta di isi.
" Nando mau makan apa?" tanya Kiran.
" Mau makan itu, boleh nggak Kak" tunjuk Nando ke salah restoran junk food.
" Boleh, yuk kita ke sana"
Mereka bertiga berjalan menuju restoran junk food itu. Nando sangat antusias mengikuti langkah kaki Kiran. Akhirnya dia bisa makan makanan yang dia lihat sewaktu nonton TV.
" Kita duduk dekat jendela sebelah sana" kata Kiran.
Kiran memang suka duduk di dekat jendela. Karena dari sana dia bisa melihat pemandangan ibu kota. Walaupun yang dia lihat hanya kendaraan yang hilir mudik melewati jalan itu.
" Kalian pesan dulu, aku mau ke toilet sebentar" kata Kiran.
" Kamu mau pesan apa?" tanya Nadia.
" Samain aja"
Kiran segera keluar dari restoran itu. Dia mencari toilet yang ada di lantai empat mall itu.
Dia berjalan melewati toko-toko yang ada di sana.
"Aaww" rintih Kiran saat dia tidak sengaja menabrak seseorang.
" Kamu nggak apa-apa?"
Deg.
Kiran mendongak keatas melihat si pemilik suara. Suara yang seharian ini tidak dia dengar.
" Honey" panggil lelaki itu.
Kiran tersenyum, panggilan itu yang sering dia dengar dari lelaki tampan itu. " Darren"
" Iya honey, ini aku"
Kiran sudah tidak bisa menahan terlalu lama lagi, dia segera pergi dari sana. Darren hanya melongo melihat kepergian tunangannya itu. Namun beberapa detik kemudian dia segera menyusul Kiran.
" Kenapa dia pergi gitu aja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun" kata Darren yang terus ngedumel di sepanjang jalan.
Langkah Darren terhenti saat melihat tulisan yang ada di dinding itu. Dia memutuskan untuk menunggu kekasihnya di luar pintu toilet.
Mata para wanita yang keluar masuk dari toilet itu tidak berkedip melihat ketampanan Darren. Tapi yang di tatap malah cuek saja.
" Kenapa lelaki setampan ini berdiri di depan pintu toilet"
" Apa dia mau menunggu kita, atau mau mengintip?"
" Saya lagi menunggu istri saya, jadi cepat pergi sebelum istri saya ngamuk dan mencongkel mata kalian" kata Darren.
Cewek-cewek itu refleks memegang mereka masing-masing. Kemudian mereka segera pergi dari sana sambil memegang matanya, seakan apa yang di bilang Darren tadi sungguhan.
" Dasar Tante-tante girang, nggak bisa liat daur muda matanya langsung jelalatan"
Setelah menunggu beberapa menit, Darren melihat pujaan hatinya sudah keluar dari dalam toilet.
" Sudah selesai?"
" Astagfirullah" ucap Kiran sambil memegang dadanya.
" Biasa aja, Aku tau kalau aku ini tampan. Jadi nggak usah kaget gitu"
" Kamu itu kayak ghost"
" Are you kidding me ?"
" No"
" Wah,, baru kali ini ada yang bilang cowok setampan aku, ghost"
" Ngapain kamu di toilet perempuan, jangan bilang kamu itu lagi ngintip"
" Rencananya sih mau ngintip kamu"
" Apa!"
__ADS_1
" Jangan berteriak honey, nanti orang berpikir aku mau perkosa kamu"
" Udah buruan jawab, kamu ngapain di sini?"
" Nungguin kamu"
" Tapi aku kan nggak minta di tunggu" kata Kiran sambil berlalu pergi. Darren dengan setia mengikuti dari belakang.
" Kamu kesini sama siapa?" tanya Darren setelah berhasil menyamakan langkahnya dengan sang pujaan hati.
" Sama Nadia dan Nando"
" Pulangnya ikut mobil aku ya"
" Nggak!"
" Kenapa?"
" Aku kesini bukan sama kamu, jadi kenapa aku harus pulang sama kamu"
" Walaupun kamu nggak berangkatnya sama aku, tapi aku ingin kamu pulang sama aku. Karena aku nggak bisa jauh dari kamu"
" Ck..gombal"
" Serius honey, itu makanya aku mau cepat-cepat halal in kamu, jadi mau pergi kemana saja kita selalu berdua"
" Oh iya, kamu kok bisa ada di sini?"
" Tadi habis ketemu sama klien"
Ya setelah orang tuanya pulang tadi Darren mendapatkan telepon dari asisten sekaligus sahabatnya itu, kalau salah satu investornya ingin bertemu.
" Ya udah, mau ikut makan bareng aku nggak?" tanya Kiran.
" Aku temenin aja deh, soalnya aku juga baru selesai makan"
" Baiklah, yuk"
Kiran dan Darren beriringan menuju restoran. Nadia tersenyum melihat sahabatnya yang kembali dengan membawa seorang lelaki tampan.
" Perasaan tadi kamu pergi ke toiletnya sendiri deh. Tapi kok kembalinya udah berdua?"
" Eh bocah, kamu di mana-mana kok ada sih" kata Darren pada Nando.
Pletak.
" Aww,, sakit honey"
" Jangan ganggu Nando"
" Siapa yang ganggu dia"
" Itu barusan"
" Iya heran aja, kenapa dia selalu nempel ama kamu terus"
" Dia adek aku, ya wajarlah dia nempel terus"
" Aku aja nggak bisa nempel terus ama kamu"
" Kalau mau nempel buruan halal in " kata Nadia.
" Tenang Nad, besok orang tua aku akan datang untuk melamar Kiran"
" Besok?!" tanya Kiran.
" Hhmm"
" Kenapa?"
" Karena mommy ingin segera membawa menantunya ke mansion nya" jawab Darren.
" Kok mendadak. Aku juga belum ada bilang sama mommy"
" Kasih kabar sekarang aja" usul Darren.
" Iya princess. Niat baik itu harus segera dilaksanakan" kata Nadia.
__ADS_1
" Betul itu kata Nadia"
" Emang orang tua kamu tau rumah aku dimana?"
" Tau dong, kan aku udah kasih tau kalau kamu putri dari tuan Vandy. Cepat hubungi mommy kamu" kata Darren.
Kiran mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Dia mencari kontak sang mommy, setelah ketemu dia langsung menghubungi nomor itu.
" Hallo assalamualaikum sayang" terdengar suara lembut di seberang sana.
" Wa'alaikum salam"
" Tumben adek telpon mommy"
" Bukannya hari-hari adek selalu telpon mommy"
Terdengar kekehan dari seberang sana.
" O iya Mom, besok orang tua Darren mau datang"
" Benarkah?"
" Hhmm"
" Apa mereka mau melamar adek?"
" Ka-kalau itu adek nggak tau Mom"
" Mommy rasa iya deh"
" Nggak tau, Yau udah telponnya adek tutup dulu ya Mom. Assalamualaikum"
Tut.
Kiran segera mematikan sambungan teleponnya. Karena kalau masih di teruskan, bisa-bisa dia akan di goda terus sama sang mommy.
" Tante bilang apa?" tanya Darren setelah Kiran menyimpan ponselnya.
" Nggak ada"
" Apa Tante ada nanyain calon menantunya yang tampan ini?"
" Nggak, lagian ngapain juga mommy aku nanyain kamu"
" Ya siapa tau aja bilang, bisa menikah dengan putri Tante Minggu depan"
" Idih, itu maunya kamu"
" Emang kamu nggak mau kita cepat nikah?"
" A-aku--"
Belum sempat Kiran melanjutkan ucapannya, pelayan datang membawa pesanan Kiran. Setelah menyajikan makanannya, pelayan itu pamit undur diri.
" Kamu jangan sering-sering makan junk food"
" Nggak kok, ini karena Nando lagi pengin makan junk food"
Darren melirik Nando. " Bocah, jangan sering-sering makan makanan beginian, nggak sehat"
" I-iya Om"
" Apa! kamu manggil saya apa tadi?"
" Om"
" Wah,, bocah tengik ini"
" Sudah-sudah kamu membuat dia takut. Lagian kamu kan emang om-om" kata Kiran sambil mengigit burgernya.
Darren melongo mendengar ucapan pujaan hatinya itu. Tapi setelah itu dia tersenyum, karena panggilan itu.
Om, ah kenapa kalau dia yang mengucapkan kata itu terasa indah.
To be continue.
Babang tampan minta vote-nya dong.
__ADS_1
Happy Reading ππ