Mengejar Cinta Nona Muda

Mengejar Cinta Nona Muda
Kehancuran 2


__ADS_3

Nadia dan Titin mengikuti langkah kaki Kiran. Sampai di depan gudang, Kiran melihat bodyguard Darren dan preman itu saling pukul.


" Berhenti! apa-apaan kalian ini?!" hardik Kiran.


" Maaf nona, orang-orang ini menyerang kami" kata bodyguard Darren.


" Bisa anda jelaskan ini ibuk panti, kenapa orang-orang ini menyerang bodyguard saya"


" Maafkan kami nona, mungkin di sini ada ke salah pahaman"


" Kesalahpahaman apa? sudah jelas kalian menyerang kami. Pada kami mau memasukkan beras ke dalam gudang itu, tapi orang-orang itu melarang kami untuk membawa beras-beras ini kedalam gudang"


" Kenapa kalian melarang bodyguard saya untuk membawa beras-beras itu masuk kedalam gudang"


" Karena beras itu akan kami bawa ke tempat lain!" kata preman itu keceplosan.


" Sudah saya duga, kalau ada yang tidak beres dengan kalian" kata Kiran.


" A-apa maksud anda nona?"


" Kau pasti tau maksudku"


" Sa-saya tidak mengerti maksud ucapan anda nona"


" Ck.. masih berpura-pura tidak tau. Saya sudah mengetahui kebusukan anda!" kata Kiran.


" Kebusukan apa maksud nona?"


" Semua perlakuan anda pada anak-anak di sini"


" Emang apa yang saya lakukan?"


" Kau memberi makan anak-anak di sini cuma satu kali sehari. Dan yang paling parahnya kau menjual semua sembako yang di berikan donatur!"


Gleg.


Titin susah payah menelan ludahnya. Dia tidak menyangka perbuatannya akan di ketahui oleh wanita itu.


" Kalau iya emang kenapa? kau juga tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari panti ini. Cepat habisi mereka semua " titah Titin.


Salah satu dari preman itu membunyikan peluit. Dan keluarlah seratus orang laki-laki berbadan kekar dari bagunan yang ada di samping gudang itu.


" Kenapa? apa sekarang kalian takut?" tanya Titin.


" Takut? tentu saja tidak! karena tidak ada kata takut dalam kamus ku wanita tua!" kata Kiran.


" Kau! berani sekali kau bilang aku tua"


" Emang kau udah tua"


" Hei kalian! tunggu apalagi cepat bunuh wanita sombong itu" kata Titin.


Para preman yang berjumlah 100 orang itu maju menyerang Kiran dan juga para bodyguard Darren.


" Nad, kamu amankan wanita tua itu"


" Siap bos"


Kiran ikut bergabung dengan bodyguard Darren. Dia mulai menghajar satu persatu preman itu.


" Keren! ternyata nona muda bisa beladiri juga" kata salah bodyguard Darren.


" Benar, sangat cocok dengan tuan muda kita"


Kiran tidak menghiraukan omongan para bodyguard Darren. Dia masih sibuk menghajar para preman itu.


Titin kaget melihat para anak buahnya sudah banyak yang tumbang. Dia pikir Kiran hanya gadis yang lemah. Tapi kenyataannya tidak sesuai dengan pikirannya.


" Tidak usah kaget gitu. Karena setelah ini giliran anda" kata Nadia.

__ADS_1


Wajah Titin semakin memucat. Dia tidak ingin mati di tempat seperti ini. Dia pun mencari cara untuk kabur. Tapi rencananya itu sudah terbaca oleh Nadia.


" Jangan coba-coba untuk kabur, karena kau tidak akan bisa kabur dari sini" kata Nadia sambil mengikat Titin di kursi.


" Hei asisten bodoh! cepat lepaskan saya, dan bunuh wanita ini" titah Titin pada asistennya.


" Maaf saya bukan asisten anda lagi" kata mantan asisten ibu panti itu.


" Dasar orang tak berguna, berani kau me--"


Belum sempat Titin menyelesaikan ucapannya. Nadia keburu menyumpal mulut Titin dengan kain.


" Kau sangat berisik!"


Asisten itu menutup mulutnya menahan tawa mendengar ucapan Nadia tadi. Dia juga senang dan bahagia karena kekejaman ibu panti akan segera berakhir, dan anak-anak di panti bisa hidup dengan bahagia tanpa harus merasakan sakit karena disiksa.


Semua preman sudah tumbang oleh Kiran dan juga para bodyguard Darren. Wajah mereka sudah penuh sama luka lebam karena pukulan Kiran dan bodyguard Darren.


" Ini balasan untuk kalian yang sudah berani menyiksa anak-anak yang ada di sini" kata Kiran sambil menginjak tangan salah satu preman itu.


Krak...


Bodyguard Darren menelan saliva-nya saat mendengar bunyi tulang patah. Mereka tidak menyangka calon nona mudanya kejam seperti tuan muda mereka.


Aaaakkkk,,


" A-ampun nona"


" Saya tidak akan mengampuni kalian" kata Kiran dengan aura membunuh.


Gila! auranya sama persis dengan aura tuan muda.


" To-tolong ampuni saya nona. Saya hanya menjalankan perintah wanita jahat itu"


" Saat anak-anak itu meminta ampun ketika kalian pukuli, apa kalian berhenti untuk memukul mereka? tidak kan!" kata Kiran sambil menginjak dada preman itu, hingga darah segar keluar dari mulutnya.


Dia bukan manusia? dia iblis! batin Titin.


Para preman yang lain berusaha untuk bangkit. Mereka tidak ingin mati di tangan wanita iblis seperti Kiran. Mereka bersusah payah untuk berdiri, tapi baru mau berdiri bodyguard Darren sudah memukul mereka kembali.


" Kalian tidak akan bisa kabur dari sini" kata salah satu bodyguard Darren.


" Benar, sekarang kalian harus terima nasib mati di tangan nona muda kami"


Para preman itu hanya bisa pasrah menerima nasib mereka. Karena mau kabur juga tidak akan bisa. Mereka tidak menyangka akan mati di tangan wanita berdarah dingin itu.


" Bagaimana kalau kita rekam aksi nona muda, terus kita kirim ke tuan muda"


" Boleh juga ide Lo. Tunggu apalagi cepat ambil ponsel dan segera rekam dan kirimkan ke tuan muda"


Salah satu bodyguard itu mengambil ponselnya, kemudian dia mulai merekam aksi nona mudanya. Dia yakin pasti tuan mudanya akan senang mendapatkan video yang dia kirim nanti.


Selesai menghajar preman-preman itu, Kiran menghampiri ibu panti yang sudah diikat di kursi oleh sahabatnya. Dia sudah tidak sabar ingin memberi pelajaran pada wanita tua itu.


Kiran membuka kain yang ada di mulut ibu panti itu.


" Lepaskan saya, atau kalian akan saya laporkan ke polisi!"


" Oh? mau melapor ke polisi, silakan? kita liat siapa yang akan di tangkap oleh polisi. Saya atau anda"


Titin terdiam. Dia tau kalau melapor ke polisi sudah pasti dia yang akan ditangkap oleh polisinya, karena kejahatannya.


" Bagaimana, apa anda masih mau melapor ke polisi?"


" Kenapa kau harus ikut campur dalam urusanku, huh!"


" Tentu saja saya harus ikut campur, karena wanita seperti anda tidak pantas hidup di dunia ini"


Gleg.

__ADS_1


Titin susah payah menelan ludahnya. Gadis di hadapannya ini bukan lagi manusia, dia iblis. Ya iblis.


" Kau bukan manusia!"


Hahaha...


Tawa Kiran menggema di sana. Tawa itu terdengar menyeramkan bagi mereka yang ada di sana. Tapi tidak bagi Nadia, karena dia sudah sering mendengar tawa itu ketika mereka di Eropa dulu.


" Kau baru tau kalau aku iblis?"


" A-aku tidak takut sama kamu!" kata Titin.


" Bagus, dengan begitu aku tidak perlu ragu untuk menyiksa tubuhmu yang berlemak ini" kata Kiran sambil menusuk-nusuk lengan besar Titin dengan jarinya.


" Kita kurung aja dia di gudang itu, tanpa kita kasih makan. Biar tubuhnya yang gendut dan berlemak ini bisa sedikit menyusut. Hitung-hitung dia diet" kata Nadia.


" Boleh juga ide kamu. Biar dia juga bisa merasakan bagaimana rasanya tidak makan"


" Jangan! jangan kurung saya di gudang bau itu"


" Kenapa saya harus mengikuti kata-kata anda" kata Kiran.


" Sa-saya akan menyerahkan diri saya pada posisi"


" Tidak! kamu harus merasakan apa yang di rasakan adik-adik di panti ini, setelah itu baru saya akan serahkan anda ke polisi"


" Tidak! tidak, jangan kurung saya"


" Ck.. belum dikurung anda sudah teriak-teriak seperti itu. Bagaimana kalau saya melakukan apa yang sudah anda lakukan pada adik-adik di sini, bisa-bisa anda mati mendadak. Cepat kurung wanita nggak punya hati ini" titah Kiran pada bodyguard Darren.


" Siap nona"


" Tidak! jangan kurung saya"


Kiran tidak mendengarkan teriakkan Titin. Dia harap hukuman ini akan membuat dia sadar nantinya.


" Terima kasih nona" ucap mantan asisten Titin.


" Sama-sama Pak, ini semua berkat adik saya Nando. Kalau tidak saya tidak tau akan seperti apa nasib adik-adik di sini"


" Nando?"


" Iya, dia pernah tinggal di panti ini dan sekarang dia tinggal di rumah saya"


" Pantas saja preman itu tidak bisa menemukan dia. Ternyata dia sudah di tempat yang aman"


" Iya Pak, panti ini saya serahkan pada bapak. Kalau masalah adik-adik yang di bawa bodyguard saya tadi. Besok saya suruh dia mengantar mereka kembali ke sini. Tapi setelah kita menyerahkan wanita itu ke polisi"


" Baik nona, sekali lagi terima kasih"


" Sama-sama Pak. Sembakonya letakkan di dalam panti aja dulu Pak, nanti di bantu sama bodyguard saya"


" Baik nona"


" Kalau begitu kami pamit dulu"


" Sekali lagi terima kasih nona"


Kiran menganggukkan kepalanya. Setelah itu dia berlalu pergi meninggalkan panti itu.


" Mati kau!"


" Princess, awas!"


To be continue.


Udah up dua bab nih, dan panjang juga πŸ€—πŸ€—


Happy Reading 😚😚

__ADS_1


__ADS_2