Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
101.


__ADS_3

Liona menikmati setiap gaungan suara yang mendayu - dayu. Menikmati setiap bacaannya yang fasih. Rasanya sejuk, nyaman dan membuat hati menjadi tenang. Siapakah gerangan?


Suasana subuh pagi ini sangat menentramkan jiwa siapapun yang berjamaah bersama. Tak terkecuali semua pekerja.


Selentingan dan gumaman para pekerja sampai di telinga Irfan. Irfan hanya tersenyum senang. Kini anaknya yang dikatakan brengsek sudah menunjukkan sisi baiknya terhadap khalayak.


Mama pun demikian adanya. Mama sangat bangga mempunyai dua jagoan yang mempunyai dasar pondasi agama yang kuat. Walaupun terkadang ya... masuk ke dalam kubangan khilaf. Atau kubangan dosa.


Sebenarnya Devran adalah anak yang baik. Tetapi karena lingkungan pertemanannya dan di dalam dunian kerjanya sering bersandingan dengan yang namanya maksiat. Jadi dia tergiur dengan hal itu.


Sebagai orang tua tak luput mereka selalu memperingatkan bahkan tak segan - segan menghukumnya. Berbeda dengan Ayden. Dia memang tidak terlalu suka dengan dunia hingar bingar. Hidupnya hanya bekerja dan meraih tujuan hidupnya.


Mentari sudah nampak malu - malu memancarkan sinarnya. Dari kejauhan sesosok bayangan sedang melakukan yoga dengan kontrasi yang tak terpatahkan.


Menikmati suara desiran angin, suara gemericik air dan suara riuh rendah burung dipagi hari. Ya, tentu saja. Siapa lagi kalau bukan Nyonya rumah. Dia selalu menjaga kesehatan tubuhnya dengan berolahraga. Dia sangat menyukai senam yoga.


Selain mendapatkan sehat dia juga mendapatkan ketentraman pikiran dan hati. Bisa lebih mengolah perasaan dari pada egonya. Sedangkan sang tuan rumah sudah berpeluh dengan bermandikan keringat. Ayden selalu menjaga kesehatan dan bentuk tubuhnya. Potongan roti sobek di perutnya sangat pas nan epik. Itu karena rajinnya dia berolahraga.


Berbeda dengan sang cassanova. Walaupun bentuk tubuhnya juga tak kalah bagus dari sang abang. Tetapi dia hanya sesekali berolah raga. Kali ini setelah sholat subuh, dia kembali menggelungkan tubuhnya di dalam selimut tebalnya.


Semalam suntuk dia tidak tidur karena mempelajari semua berkas dan laporan tentang perusahaan Papanya yang akan diembannya. Dia berusaha sebaik mungkin menjaga amanat dari sang Papa.


Semua beraktifitas sesuai tugas dan keinginnya. Semua pekerjapun tak lupuy dari kewajibannya. Liona yang pagi ini sangat bersemangat tetap menjalankan tugasnya.


Aruni kini sudah berangsur baik. Liona memberikan perawatan bak dokter pribadi yang sangat telaten. Aruni pun merasa tidak canggung lagi dengan perlakuan Liona.


Sesuai rencana, semua berjalan dengan sangat perlahan namun pasti. Kevin juga sudah memberikan laporan setiap hari kepada Rayina. Karena tugasnya tidak hanya mengurus Aruni. Dia juga mengemban dan mengabdi di sebuah rumah sakit swasta milik papa Liona.


Rayina yang sudah selesai berkatifitas, dia menyiapkan segala keperluan sang suami. Hari ini Ayden sudah mulai masuk kerja. Ayden sebenarnya sangat berat meninggalkan rumah. Tetapi karena tugas berada di pundaknya dia tetap semangat.


Semua sudah siap di meja makan. Ayden dan Rayina pun sudah berada di singgasana yang ada. Liona juga sudah menduduki kursinya. Semua menikmati sarapan dengan senda gurau. Terasa hangat.


" Kapan rumah Papa akan sehangat ini? Aku sangat merindukan kebersamaan seperti ini. Dari aku kecil hingga sekaranf tidak ada hal semacam ini" batin Liona yang tak kuasa menitikkan air mata.


Rayina melihat kelinci kecilnya meneteskan air mata. Rayina mendekat dan mengusap punggung kecil si kelinci itu.


" Kenapa ?? Hmmm? Katakanlah!" ucap Rayina.

__ADS_1


" No, tidak ada kak. Kakak tidak perlu khawatir" ucap Liona dengan menghapus air matanya.


" Ceritakanlah singa kecilku" ucap Rayina dengan mengusap pucuk kepalanya.


" Aku bahagia kak, bisa berada di tengah keluarga ini. Aku tidak pernah merasakan seperti ini. Aku selalu kesepian. Papa hanya memberikan aku materi saja. Sesekali Papa hanya menengokku. Untuk sarapan saja, kita masing - masing. Hikss... hikss..." isak Liona.


" Ohh.. sayang... kelinciku sudah bisa menangis... Dimana kelinciku kemarin yang bersungut - sungut sama seseorang itu?" tanya Rayina meledek.


" Kakak..." rengek Liona.


" Kemarilah" ucap Rayina dengan merentangkan kedua tangannya.


" Sayang, kamu bisa menganggap semua yang berada di sini adalah keluargamu. Kan memang Papamu adik Papa Irfan bukan? So, kita memang saudara. Liona juga bisa menganggap kakak, kakak Liona" ucap Rayina dengan mengusap lembut rambut Liona.


" Thanks kakak" ucap Liona.


" Sudahlah.. ayo makan. Tugas perawat Liona sudah menumpuk bukan? Kakak tunggu laporannya ya !" ucap Rayina.


" Iya kakak... " jawab Liona seraya mengusap air matanya.


Devran hanya diam membisu menyaksikan dua insan yang saling berkeluh kesah itu. Dipikorannya sekarang, dia akan segera terbang dan bertandang ke negaranya dulu. Negara yang sudah melahirkan dan membesarkannya dulu.


" Dev, sudah siap?" tanya Irfan tegas.


" Hmm" jawab Devran singkat.


" Kalau belum siap jangan di paksakan Dev, apapun yang dipaksakannhasilnya tidak akan baik" celetuk Ayden.


" Sejujurnya aku belum siap berpisah dengan kalian.. " ucap Devran lesu.


" Ciihh... lebay!!" ucap Rayina.


" Ha ha ha" tawa Ayden lebar.


Semua orang melihat mereka berdua. Karena mereka tidak tahu artinya. Ayden tertawa terbahak- bahak karena menurutnya sangat lucu dan membenarkan ucapan istrinya.


" Lebay itu bahasa gaul dari negara istriku, yang artinya berlebihan. Jadi apapun yang berlebihan dan membuat aneh menurut seseorang biasanya mereka mengatakn demikian" terang Ayden.

__ADS_1


" Hahaha... begitu... Dev, Lebay" celetuk Mama


Papa juga merasa terhibur dengan ucapan dan perkataan menantunya itu. Terkadang anak itu sangat tegas. Terkadang lembut dan terkadang membuat tertawa.


" Berwarna !!" ucap Irfan.


" Why pa?" tanya Mama.


" Hidup kita bisa lebih tenang dan lebih indah Ma, jika kelakuan anak dan menantu kita selalu begini. Aku bahagia Ma, hidup yang berwarna" terang Irfan.


" Liona, apakah teh yang diberikan ke Aruni sudah kami berikan pagi ini?" tanya Rayina.


" Sudah kak. Tadi sebelum aku kesini" ucap Liona.


" Okay. Nanti siang tidak perlu dibuatkan lagi. Menurut kakak sudah cukup. Dan berikan ini" ucap Rayina dengan memberikan sekotak pil.


" Embb.. baiklah kak. Kalau boleh tahu ini pil apa?" tanya Liona.


" Itu pil perangsang syaraf. Nanti setelah kamu berikan obat itu. Suntikkan juga perangsang. Dengan dosis minim saja. Jangan lupa Liona. Dan kamu pastikan semua sendiri. Ini tugasmu!" perintah Rayina.


" Okay kak. Obatnya diberikan berapa kalo sehari?" tanya Liona.


" Sekali saja. Dan berikan pil ini. Ino hanya vitamin " ucap Rayina.


" Baiklah kakak" jawab Liona.


" Papa, sebenarnya siapa yang tadi pagi menjadi imam? Karena mas dan aky sholat di kamar" tanya Rayina.


" Tu... " ucap Irfan dengan memonyongkan bibirnya.


" Ohhh wow... " ucap Rayina.


" Lebay!!" ucap Devran.


" Dev, berani begitu kepadaku?" ucap Rayina.


" Haha.. sorry kakak ipar. Kakak ipar sudah siap ke kantor?" tanya Devran.

__ADS_1


" Bagaimana sayang? Bolehkah?" tanya Rayina.


" Hey, singa kecil.. temani kakakmu ke kantor" perintah Ayden.


__ADS_2