Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
79.


__ADS_3

" Ma, Pa. Silahkan duduk dan diamlah. Rayi siapkan semuanya. Mama tidak perlu membantuku. Cukup jaga Papa" pinta Rayina.


" Sayang, Papa sudah sembuh. Kamu membiarkan Papamu seperti dalam sangkar saja! " keluh Papa.


" Tidak apa Pa, jarang bukan Papa istirahat total selama ini?" tanya Rayina dengan tersenyum.


" Dev, kemarilah. Duduklah. Makan. Pekerjaan nanti lagi bisa dilanjutkan" pinta Rayina.


" Mbak, atur seluruh pekerja. Makan siang semuanya dulu. Pekerjaan stop dulu. Kesehatan nomor satu" perintah Rayina.


" Baik Bu" jawab mbak.


" Lihat lah Ma, menantumu bagai bidadari tak bersayap. Begitu baik kepada semua orang" ucap Papa.


" Papa berhentilah memujiku. Sekarang nikmatilah makan siang Papa. Oh ya, Mas sudah berangkat kerja. Tadi mau berpamitan dengan Mama dan Papa takut mengganggu. So, dia hanya titip salam saja" terang Rayina.


" Hmm okey sayang. But, He already mesage me ( tapi, dia sudah mengirim pesan kepadaku)" ucap Papa.


" Oh.. okay lah. Dev makan yang banyak. Silahkan semua dinikmati. Boy, ini makanan kesukaan kamu sayang. Bunda sudah membuatkan khusus untukmu" cerocos Rayina.


" Horeee... thank you bunda. I love you so much" ucap Ben dengan mengecup pipi Rayina yang kinclong.


" Sayang, dimana Ganesh?" tanya Mama.


" Oh.. dia tidur Ma. Masih ditemani pawangnya. Nanti kalau Rayi sudah selsai biar gantian sama Mbak. Mbak biar makan siang" jelas Rayina.


" Ooo begitu. Baiklah" jawab Mama santai.


Semua orang yang ada di rumah itu menikmati makan siang. Baik tuan rumah ataupun pekerja semua menu makan sama saja. Rayina tidak pernah membedakan lauk, sayur dan lain sebagainya untuk dirinya dan pekerja lainnya.


Makannya, semua pekerja sangat betah bekerja dengan keluarga kecilnya. Mertuanya yang baru dua hari tinggal dirumah ini pun merasa sangat nyaman. Rayina memperlakukan mereka dengan sangat baik.


Bahkan melebihi anaknya sendiri. Perharian yang diberikan kepada seluruh orang yang ada dirumah ini sama. Dia tidak pernah lupa tanggung jawabnya.


" Ma, Pa.. Mas sudah membicarakan hal ini sebelumnya? Maaf ya Ma, Pa. Mama sama Papa maukah tinggal bersama kami disini?" pinta Rayina.


Suara dentingan sendok beradu kini terhenti. Mata tua sang mertua saling beradu. Saling berbicara satu sama lainnya. Bibir keriput kini mulai membeku karena permintaan sang menantu kesayangannya itu.


" Sayang, maaf.. bukan maksud kami tidak menghargai pendapatmu. Tapi Papa masih memegang perusahaan di sana. Dan masih ada rumah disana" jawab Mama lembut.


" Embb.. bagaimana kalau Perusahaan Dev saja yang handle. Dan untuk rumah nanti Rayi akan bicarakan dengan mas" jawab Rayi.


" Rayi tahu Ma, rumah itu kenangan kalian. Banyak cerita di rumah itu. Semua cerita terbingkai rapi di dalam rumah itu bukan? Untuk itu nanti akan Rayi bicarakan dengan mas, jika Papa dan Mama bersedia" cerocos Rayina.

__ADS_1


" Pa, bagaimana?" tanya Mama.


" Ayolah Pa, aku mohon. Aku tidak mau rumah ini sepi. Papa disana juga pasti ninggalin Mama kerja bukan? Papa pensiunlah" rengek Rayina.


" Dev, kamu ambil alih perusahaan Papa. Sampai abangmu bersedia untuk menggantikannya" pinta Papa.


" Mana mau dia Pa. Dia sudah punya perusahaannya sendiri disini" ceplos Devran.


" Dev??? jelaskan !!" tegas Rayina.


" Hadeehhh.... mulut comel kalik lah. Dibilangnya tidak perlu suara. Suara jua lah.. Abang pasti angry lah ini. Ohh... God help me please" batin Devran dengan memejamkan mata.


" Dev.." panggil Papa.


" Ta.. ta.. tapiii.." jawab Devran gugup.


" Embb... itu..." ucap Devran dengan mengelus tengkuk kepalanya.


" Dev!! Kamu tau bagaimana kalau singa marah? Kamu mau menjadi santapan putih?" ancam Rayina.


" Ha.. Dev, dengar tu kakak ipar. Singa marah kau dikasih ke putih jua" ejek Papa.


" Ooohhh shittt... damn..." gerutu Devran.


" Ah... baiklah Dev, kamu sungguh menyusahkan!" jengkel Rayina.


" Kakak ipar tahu sendiri bukan, bagaimana abang marah?" Devran menegaskan.


" Okey.. Okey.. cerewet sekali kamu. Cepat katakan atau ...?" ancam Rayina.


" Atau apa kak?" tanya Devran penasaran.


" See??" tunjuk Rayina sebuah foto.


" Papa... lihatlah!" pamer Rayina.


" Aaaa... hhaaa. Benarkah sayang?" tanya Papa kepada Rayina.


" Of course Papa. Jadi kita apakan Pa enaknya?" ancam Rayina kembali.


" Terserah padamu sayang. Asalkan kamu bahagia" jawab Papa.


" Oh... kakak ipar. Please" pinta Devran.

__ADS_1


" Satu... dua... ti...." hitung Rayina sebagai ancaman.


" Okay.. aku akan cerita" jawab Devran tegas.


" Huuufffftttsss" Devran mengambil nafas dalam - dalam.


" Abang sudah mempunyai sebuah perusahaan di bidang properti. PT. Rayiden namanya. Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang properti yang cukup terkenal. Dan termasuk kedalam 3 terbesar sahamnya di London" jelas Devran singkat.


" Whaaattttt?????" kaget Papa.


" Pantas saja, dia selalu bekerja lebih setelah dia berdinas. Ini alasannya" tampak Rayina berbicara.


" Kakak ipar tidak kaget?" tanya Devran.


" Aku malah curiga. Bukannya kaget. Begini... Jadi selama ini, setiap usai berdinas. Abangmu selalu berada diruang kerja. Aku berpikir, apakah pekerjaannya sekarang ada yang harus selesaikan di rumah. Sedangkan semua peralatan berada di kantor bandara. Untuk itu aku pernah sekali melihat sebuah laporan tentang properti. Aku pikir dia akan membeli sebuah properti untuk tabungannya" ucap Rayina.


" Kakak ipar, abang malah bosnya properti. Kalau kakak ipar ingin tahu perkembangan bisnisnya, kakak bisa lihat laman web ini" ucap Devran memberi tahu.


" Ahh.. okay.. aku cek dulu Dev" ucap Rayina.


Rayina kemudian melihat dan mengecek laman web tersebut. Tertera CEO adalah Devran Danendra.


" Dev.." panggil Rayina.


" Karena abang bekerja di belakang layar Kakak ipar. Dia belum siap menjadi CEO dan dia sangat mencintai pekerjaannya saat ini" jawab Devran sebelum Rayina bertanya.


" Bahkan kau tahu sebelum aku tanyakan itu" ucap Rayina.


" Tentu saja, siapa dulu dong" bangga Devran.


" Dev, sepertinya perusahaan X-one corps adalah saingan terbesar abangmu. Lihatlah!" perinta Rayina.


" Ohhh waow... CEOnya masih muda, tampan, bak casanova kak. Tapi abangku lebih menggoda. hahaha" canda Devran.


" Dev, aku sepertinya akan membahas oni dengan abangmu. Papap bagaimana menurut Papa?" tanya Rayina.


" Bagaimana? maksudnya?" tanya Irfan penasaran.


" Begini Pa, selama ini mas kan bekerja di belakang layar. Devran kamu masih ada perusahaan sendiri bukan? Ditambah kamu punya tanggung jawab dengan perusahaan Papa. Dan aku akan mencoba menjadi CEO di perusahaan mas. Biarkan mas menjalani pekerjaannya sekarang" terang Rayina.


" Kenapa kamu tiba- tiba ingin memegang kendali perusahaan? Apakah ada sesuatu hal yang mengganggu pikiranmu? Atau kah ada permainan didalamnya? Tujuan kamu apa? " berondong Irfan dengan pertanyaan.


" Pa, aku curiga dengan Perusahaan X- on corps. Sepertinya hatiku merasa ada yabg tidak beres" terang Rayina.

__ADS_1


" Dev, problem apa yang dihadapi sekrang di perusahaan?" tanya Rayina.


__ADS_2