
" Ahhh baiklah. Permaisuriku sudah tidak sabar untuk bermain- main. Are you ready sayang?" tanya Irfan.
" Ya,, of course" jawab Mama semangat.
Mereka berdua segera menghampiri sang empunya pembuat romansa malam. Bukan bermaksud untuk membuyarkan lamunan ataupun membuyarkan keadaan. Tetapu waktu adalah segalanya. Jika sudah berniat jangan pernah menundanya.
" Boy,... sorry.. " sapa Irfan kepada Ayden.
" Ah.. Papa.. why pa? tanya Ayden balik.
" Beo mu mulai mengoceh. Kapan bisa dimulai?" tanya Irfan.
" Ah.. marilah Pa. Beo itu memang brengsek Pa.. Dasar beo.." gerutu Ayden.
" Sayang, marilah. Kalian juga bisa membahas misi kalian di ruang kerja" ucap Ayden.
" Mas, apakah ruangan itu sudah siap?" tanya Rayina penasaran.
" Ya. Tentu saja. Why sayang?" tanya Ayden penasaran.
" Embb.. bagaimana kalau kita di ruangan itu saja?" tawar Rayina.
" Baiklah. Papa kita ke ruang kerja menantu kesayanganmu ini. Bisa kan? Aku akan menelpon beomu itu" ucap Ayden.
Tak lama jari jemarinya mencari kontak yang ingin dia hubungi. Tertera nama "Dev brother"
Ayden☎️ " Beo!! keluar dari ruang kerjaku. Keluarlah kami tunggu di lorong taman" titah Ayden.
Devran ☎️ " Ah... baiklah ceroboh"
Begitulah kiranya jika mereka sedang melakukan percakapan via telepon. Tidak ada kemesraaan antara satu dengan yang lainnya. Tidak ada batas dan jarak diantara mereka. Jika orang lain yang belum mengetahui yang sebenarnya pasti akan beranggapan mereka berdua saudara kandung.
Semua berjalan menuju lorong taman. Lorong tersebut yang akan menghubungkan rumah utama dan ruangan yang dimaksud Ayden.
" Tunggu bang... " teriak Devran.
" Ayo, cepatlah" jawab Ayden dengan seraya berjalan.
Mereka sudah sampai di ambang pintu. Tidak ada yang istimewa pintu itu. Bahkan sangat kontras dengan pintu kerja ruangan Ayden.
" Sayang, kemarilah! " pinta Ayden.
__ADS_1
Rayina kemudian mendekat dan berada paling depan pintu itu. Ayden kemudian meraih tangan lentik istrinya itu. Tak lama tangan yang sudah diraih kemudian di pasangkan ke finger print.
Ternyata dibalik kesederhanaan bentuk pintu itu, ada perlindungab khusus. Bukan dengan kunci atau pasword untuk bisa menerobos masuk.
Ruangan ini hanya bisa diakses jika Rayina yang mengijinkan dan menginginkan masuk. Ya, tentu saja dengan sidik jarinya.
Semua terperanjat kaget dengan kejadian ini. Tak lain juga dengan sang calon pemilik ruangan ini.
" Masuklah, aku serahkan ruangan ini untuk kamu bekerja. Semua pekerjaan bisa kamu lakukan disini. Jangan pernah berpikir untuk bisa kerja diluar rumah ini. Semua yang kamu inginkan akan aku penuhi selama aku mampu" cerocos Ayden.
" Satu set meja kerja mewah. Dengan warna yang sangat elegan. Dilengkapi berbagai furniture pendukung yang sangat epik. Ini adalah hadiah paling indah untukku. Terimakasih mas" ucap Rayina.
" Jangan bersenang hati dulu, ingat! kamu sekarang punya klien baru. Itu" ucap Ayden dengan memonyongkan bibir.
" Ah.. tentu saja. Mari semua silahkan duduk" ajak Rayina.
" Marilah" jawab Devran.
Semua sudah berada pada posisi masing - masing. Suasana tegang mulai tercipta. Rayina mulai hafal dengan kebiasaan tiga lelaki dewasa ini saat menghadapi masalah atau akan menghadapi sesuatu yaitu keseriusannya.
Sedangkan Rayina tipe wanita yang santai tapi pasti bergerak. Dia kemudian mempunyai ide untuk meminta kepada Mbak untuk mengantarkan 3 cangkir kopi dan 2 cangkir teh dan sedikit camilan.
" Huufft.. Dev.. Kamu tahu kan Papa paling tidak suka bertele - tele?" tanya Irfan kembali.
" Pa, aku sudah bertanya kepadamu bukan?" tanya balik Devran.
" Okay. tunggu sebentar" jawab Rayina yang mendengar ketukan pintu dari luar.
Rayina kemudian membukakan pintu itu selanjutnya mbak diizinkan masuk untuk meletakkan minuman dan camilan.
Devran merasa kaget. Dia tidak pernah meeting dalam suasana santai. Dia selalu menghadapinya dengan serius. Kakak iparnya hanya tersenyum simpul ketika mata Devran terbelalak.
" Jangan memandang istriku berlebihan. Dia memang cantik. Jangan pernah sekalipun kau menaruh hati padanya" seloroh Ayden dengan perasaan cemburunya.
" Abang! apa yang kamu maksud? Aku hanya terpana. Kau tau bukan, aku tidak pernah meeting, briefing atau apapun dalam membahas sesuatu hal dengan santai. Dengan cara seperti yang kakak ipar sajikan" papar Devran.
" Istriku memang tidak suka ketegangan. Dua lebih suka suasana santai. Bekerja juga santai tapi pasti. Itulah hidupnya" terang ayden.
" Ah.. cocok! Si ceroboh dan si pasti" ejek Devran.
" Tapi aku akan mencoba hal baru ini. Not bad lah " gumam Devran.
__ADS_1
" Bolehkah aku yang menyampaikan dulu?" pinta Rayina.
" Tentu saja sayang.. silahkan. Apa yang akan kamu sampaikan. Semua keinginan dan idemu bisa kamu tuangkan" Papar Irfan.
" Baiklah. Dev, kamu seorang IT? kamu bisa jadi hacker bukan? Untuk itu aku memerlukan bantuanmu" ucap Rayina.
" Oke kakak ipar aku siap. Next!" jawab Devran.
" Papa memintaku untuk membuatkan sebuah alat. Sebenarnya alat itu adalah rancanganku dulu dan aku pakaikan setiap kali aku berjauhan dengan Ganesha. Hanya untuk melindungi dia selama jauh dari jangkauanku.
Untuk itu aku mau, kamu membantuku menyempurnakan alat yang sudah aku buat. Dan Papa menginginkan semua personilnya dan karyawan menggunakannya. Untuk itu alat ini akan diproduksi lebih banyak. Untuk itu apakah kita perlu perijinan dalam pembuatan alat ini?
Alat ini tujuannya untuk melindungi sesuatu yang berharga, anak misalnya. Dan berjaga untuk keamanan diri. Selanjutnya Papa akan menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya" terang Rayina.
" Okay, aku siap membantumu kakak ipar" ucap Devran.
" Bagus.. Thank you Dev" jawab Rayina.
" Begini boy, Aleena kembali" ucap Papa dengan helaan nafas.
" Sudah ku duga" gumam Devran.
" Aleena sepertinya merencanakan sesuatu. Kamu sudah tahu bukan tentang hal ini? Dan Papa yakin kamu juga sudah menyiapkan amunisi" tanya Papa.
" Aku berencana melancarkan alat kakak ipar dulu Pa, selanjutnya kita ikuti permainan Aleena. Jangan lupa setiap sudut rumah ini di beri pelindung ketat. Lakukan kegiatan seperti biasanya. Karena aku yakin dia pasti menyiapkan mata - mata" terang Devran.
" Ya, kamu benar Dev. Alatku mendeteksi orang asing. Lihatlah!" ucap Rayina.
Saat Devran berbincang dengan Papa, Rayina sibuk mencoba peralatan yang disiapkan Ayden. Kemudian Rayina mencoba untuk menghubungkan alat pelacak yang sudah dia pasang di setiap sudut rumah.
Dan benar, sensornya telah menangkap benda asing yang berada di sekitar wilayah rumah ini.
" Ah.. dia.. Thomas. Kenapa dia sampai tahu mansionmu bang?" tanya Devran.
" Kamu tahu dia ??" tanya Ayden terkejut.
" Tentu saja, selama ini aku membayar orang untuk selalu menguntitnya. Dia masih punya hutang denganku bang. Dia pernah hampir saja mencelakai wanita yang aku cintai" terang Devran.
" Wanita?????" Semua serempak bertanya.
Kaget? tentu saja. Karena mereka semua belum pernah tahu jika Devran dekat dengan seorang wanita.
__ADS_1