Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
76.


__ADS_3

" Sayang, haruskah meminum obat?" tanya Irfan.


Rayina mengernyitkan dahinya. Kenapa mertuanya berkata demikian. Sedangkan yang lain hanya bisa menahan tawa.


" Why Papa? Apa yang membuat papa khawatir?" ucap Rayina dengan mengusap tangan Papa mertuanya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


" Papamu takut obat sayang" ucap Mama.


Seketika semuanya tertawa terbahak - bahak. Irfan hanya diam dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedangkan Rayina menatap mata netra tua itu yang tidak pernah ada kebohongan didalamnya.


" Ohh itu masalahnya. Okay. Aku yang menyiapkan tinggal Papa yang minum" ucap Rayina.


Rayina kemudian mengambil obat yang sudah disiapkan dan segera menggerus obat itu menjadi serpihan halus. Kemudian dia memberikan madu yang sudah ada di kotak obat. Dan ...


" Aaa" perintah Rayina untuk membuka mulut seraya menyodorkan obat uang sudah dia gerus.


"Appppp" Irfan menyanggupi obat itu.


" Alhamdulillah" ucap Rayina.


" Bagaimana mungkin bayi tua ini menyusahkan istriku? Mama, lihatlah bayimu begitu manja dengan istriku. Bisakah Mama mengurusnya? " rengek Ayden dengan bercanda.


" Ya, begitulah. Dari dulu setiap sakit dia tidak mau meminum obatnya. Dia selalu minta semua obat di transfer melalui suntikan atau infus" terang Mama.


" Ma, lakukan seperti ini besok jika aku disuruh meminum obat lagi" pint Irfan kepada istrinya.


" Iya, sayang..." jawab Mama


" Rayi, thank you so much. Rumah ini sangat berwarna ketika kamu hadir diantara kita. Kamu seperti oksigen di tengah kebakaran rumah ini. Kamu juga yang membuat taman indah dihati kami" tutur Mama.


Hanya senyuman manis yang terangat manis yang Rayina berikan. Ayden segera mengulurkan tangannya dan merentangkan dengan lebar membawa istri tercinta dalam pelukannya.


Ayden kemudian memberikan kecupan di dahi wanitanya itu. Semua pun menjadi tersenyum bahagia.


Berbeda dengan sesosok yang berada di pojokan, menyaksikan keromantisan dua pasang manusia berbeda generasi. Dia sibuk mengabadikan momen yang ada di depan mata. Momen yang menurutnya sangat langka. Dia sangat bahagia, terlebih dengan kakak iparnya itu.


Rasa kagum, hormat, dan rasa yang begitu bangga terhadap kakak iparnya. Dia merasa abangnya yang terlalu beruntung. Apakah balasan untuk orang yang terlalu baik dahulu kala dan dibalas dengan beribu kebaikan dan keuntungan?


Rayina dan Ayden segera pamit keluar, disusul dengan Devran yang membiarkan kedua orang tuanya beristirahat. Karena waktu sudah menjelang adzan subuh.


" Sayang, mari jamaah" pinta Ayden.


" Baiklah mas, aku akan melihat anak - anak sebentar saja. Sepertinya mbak juga sudah bangun" ucap Rayina.

__ADS_1


" Bagaimana tidak, seluruh orang yanga da dirumah ini pasti bangun mendengar teriakan Papa. Hahaha" uca Ayden.


Rayina hanya tersenyum dan menggeleng- gelengkan kepalanya. Sedangkan Ayden setia mengikuti langkah istrinya menuju kamar anak - anaknya.


" Good morning sayang, ayo sholat dulu" perintah Rayina kepada Ben.


Sedangkan Ganesha masih tidur dengan lelapnya. Ganesha selalu begitu ketika subuh menjelang.


" Sayang, bangun yuk. Sholat dulu" ucap Rayina kepada Ganesha.


Rayina kemudian menyiapkan baju sekolah untuk Ben. Melihat jadwal pelajarannya dan mengecek isi tas Ben. Takut ada yabg tertinggal atau terlupakan.


"Ternyata setiap pagi istriku melakukan ini. Bahkan aku tidak pernah mengetahuinya. Betapa lembutnya dia menghadapi anak - anak. Betapa perhatiannya kepada Ben" batin Ayden.


" Sudah?" tanya Ayden.


" Bunda tunggu di musholla. Jangan tidur lagi sayang. Bunda melihatnya" teriak Rayina.


Rayina segera kembali ke kamar dan segera berganti pakaian. Karena dia hanya memakai kimono dan dilamnya hanya lingerie yang suaminya inginkan.


Segera mungkin dia menuju mosholla semua orang sudah banyak yang menunggu. Ayden sebagai imam segera iqomah.


" Rapikan shafnya" pinta Ayden.


" Allahuakbar" takbiratul ikhram.


Semua makmum melaksankan ibadah dengan khusyuk.


@@@@@@@@


Matahari agak malu - malu menampakkan sinarnya. Rayina sudah berada di halaman taman rumah untuk melakukan olah raga sekedarnya agar badannya tetap terjaga.


Setelah berolah raga Rayina melihat dapur dan segera mengkomando mbaknya untuk memasak sarapan. Semua sibuk dengan tugasnya masing - masing. Ayden sudah keluar dari ruangan olah raganya.


" Sayang aku minta minum" pinta Ayden.


" Sudah tersedia mas, kemudian keringkan badan dan bersih - bersih mas" pinta Rayina.


" Setelah mandi kita sarapan. Jangan lupa Mama dan Papa. Eh.. Devran juga" pinta Rayina.


" Laksanakn tuan putri" jawab Ayden menggoda.


"Jauh berbeda dengan nyonya yang dulu. Kini rumah ini berwarna. Penuh canda tawa. Riuh rendah dengan ocehan duo bocil. Tidak ada drama menyedihkan lagi. Tidak ada perintah kebohongan lagi. Sangat nyaman di hati. Nyonya memang sangat istimewa" gumam Mbak yang sudah ikut Ayden sangat lama bahkan dengan pernikahannya dulu.

__ADS_1


Di belakang rumah


Tukang kebun yang biasanya merawat dan menjaga keindahan taman di mansion itu sudah sangat tua. Tetapi hanya usianya saja. Fisik dan tampangnya tidak begitu tua. Dia bersiul dan bernyanyi sesuka hatinya. Tidak ada yang melarangnya. Bahkan saat menata taman bunga di samping kolam renang dia menyalakan lagu dangdut kesukaannya.


Karena banyak pekerja Ayden dari Negara Rayina berasal. Jadi Rayina merasa nyaman dan percaya.


Mang salim dulu sangat takut dengan nyonyanya. Tapi nyonyanya yang sekarang sangat humble dan gaul.


"Eh.. ada den Devran" celetuk mang Salom.


" Eh.. Mang Salim. Apa kabar?" tanya Devran.


" Baik den. Kapan sampai?" tanya mang Salim


Mang Salim memang agak berani bertanya jika dengan Devran. Karena Devran memang selalu menyapa semua pekerja yang bekerja dirumah. Entah itu dirumahnya, di rumah Mamanya atau abangnya.


" Kemarin sore mang. Mang mau kemana?" tanya Devran.


" Ya bekerja to den. Nyiram taman nyonya sebentar den. Nanti kita lanjut ngobrolnya den. Kembangnya nyonya sudah menunggu. Takut kecantikannya runtuh. Nanti gak secantik nyonya lagi. Hehehe" canda mang Salim


" Okay Mang. Aku juga berenang dulu" jawab Devran.


Mereka melanjutkan masing - masing yang dilakukan. Setelah semua santai.


" Eh.. mang Salim sudah menunggu" ucap Devran.


" Hehe. Ini Den. Disuruh nyonya bawa sarapan. Tadi nyonya nyuruh den Devran sarapan bersama. Tapi saya bilang masih berenang. Jadi nyonya menyuruh saya membawakan sarapannya" terang mang Salim.


" Thank you mang" jawab Devran.


" Memang kakak iparku paling best. Mang Salim ayo sarapan bersama" pinta Devran.


" Loh.. saya sudah den. Nyonya marah kalau saya bekerja tidak sarapan dulu. semua harus sarapan dulu den. Beda dengan nyonya yang dulu. Upssss!!" ceplos mang Salim.


" Really? Bagaimana nyonya yang dulu? " selidik Devran penasaran.


" Tapi den Dev jangan aduin ke pak bos ya?" pinta mang Salim memelas.


" Siap mang. Tenang saja. Kita kan friend. Right?" yakin Devran.


" Right den" jawab mang Salim.


Sedangkan di dalam rumah masih berbunyi dentingan sendok yang saling beradu. Semua menikmati sarapannya. Riuh rendah suara dua bocah yang saling tertawa dan bermain . Bercanda tawa dengan menyuap makanan.

__ADS_1


__ADS_2