
" Why?" tanya Devran yang kini mengerti dengan semua tatapan mata itu.
" Hmmm pengantin baru sayang" sindir Ayden.
" Hihihi" kikik Rayina.
" Wes, ndak usah nggoda begitu. Nanti malu tersangkanya" ucap Bapak menengahi.
" Apa kurang waktu bulan madu yang aku berikan?" ucap Ayden sinis.
" Isshhh... Abaaanggg! Bagaimana dikatakan bulan madu. Kalau disana aku tetap bekerja. Dan jadi tour guide!!" jawab Devran sebal.
" Kok bisa??" tanya Rayina heran.
Sembari bertanya, Rayina menggandeng tangan adi iparnya dan segera menarikkan kursi untuk duduk. Diambilkannya piring dan diisikqnnyq nasi ke dalam piring itu.
" Thank you Kakak... Love you...." ucap Devran.
" Mulai.... " ucap Rayina yang paham arti bahasa itu.
Bahasa mengejek atau mengerjai atau bisa semacam memanasi abangnya uang pastinya seperti orang kebakaran jenggotnya alias cemburu level dewa.
" Hahaha... kakak masih saja membelaaa tuuuu" jawab Devran dengan memonyongkan bibirnya ke arah Ayden.
" Kenapa??" tanya Rayian tiba - tiba.
" Kenapa???" jawab Devran mengernyit.
Dengan kapasitas otak yang mumpuni Devran dapat menangkap arti pertanyaan itu.
" Kakak tahu, aku di sana masih bekerja. Laporan perusahaan semua aku yang handle. Dan ditambah aku merangkap sebagai pengasuh. Lebih tepatnya tour guide istri dan mama" cerocos Devran penuh drama.
" Hilihhh... kita yang tidak mau untuk kamu kawal !! Kamu saja yang berlebihan. Aku bisa jaga Mama lebih baik dari pada kamu yang sibuk dengan ponselmu itu !!" sambar Liona secepat kilat.
Rayina yang mendengar sautan suara itu segera mendekat dan meraih lengan Liona. Mengusapnya dengan penuh cinta. Di gandeng tangan mungil itu menuju meja makan. Di tariklah sebuah kursi kosong tepat di hadapan Devran.
Tak lupa Rayina memberikan lima sendok makan nasi dengan berbagai macam lauk khas Indonesia yang Rayina tahu bahwa Liona sangat menyukai itu.
" Ahhh... kakak.... I Love You!!!" ucap Liona sembari mengecup pipi Rayina yang mulai menggembul.
__ADS_1
Liona sangat bahagia mendapatkan perhatian yang begitu besar dari Rayina. Bahkan Rayina tidak membedakan qntara dirinya dengan Devran. Memperlakukan mereka sama seperti anak - anaknya.
" Kamu... !!!" gerutu Ayden.
Rayina segera menyambar lengan suaminya dan mengecup lembut pipi suaminya. Semua mata memandang tak percaya. Bahkan ada beberapa mbak yang menyaksikan kejadian itu.
Wajah putih dengan rahang tegas itu kini seperti udang rebus. Dengan telinga yang memerah dan pipi merona bak tomat.
Ayden langsung diam seribu bahasa tanpa bantahan dan jawaban apapun. Seukir senyum tersemat di wajah tampan nan rupawan itu.
" Nah tuuu dapet begituan baru diem. Cemburu Abang berlebihan. Kak, apa kakak tidak terganggu dengan makhluk itu?" ejek Devran kemudian.
" Keluar atau habiskan !!" ucap Ayden tegas.
Seketika Devran tahu perintah seperti itu, jika Abangnya yang bersenandung. Sementara Liona hanya terkikik geli melihat suaminya mendapatkan keisengan di rumah ini.
" Sayang, oleh - olehnya mana?" tanya Devran.
" Ada.. Kamu bisa tolong ambilkan setelah ini. Aku ingin membicarakan tentang wanita dengan kakak. Kamu !!! Ladenin Abangmu itu!! Bang... jangan kasih kendor!!" ucap Liona sengit.
" Buuuu... apakah Ibu sebagai seorang istri begitu tingkahnya?? " ucap Devran memelas meminta pertolongan dari mertua abangnya.
" Hissss lagu lamaa!!! Bosen !!" ucap Liona sengit .
" Masss..." tegur Rayina.
" Sayang... kau ajarkan itu singa kecil supaya jinak sama Dev" ucap Ayden kemudian.
" Abang !!" rengek Liona dengan mengerucutkqn bibirnya.
" Hahaha" semua tertawa bahagia.
Dua pasang netra tua yang kini menyaksikan obrolan ringan itu kini tersenyum penuh kebahagiaan. Melepaskan anak perempuannya untuk menikah dengan warga asing dan tinggal jauh di negeri orang memanglah momok menakutkan. Tapi kini terjawab sudah keraguan itu.
Agaknya, keluarga anak perempuannya itu memeperlakukan dengan sangat baik. Terbukti bagaimana kedua adik kakak saling bercanda dan tidak ada permusuhan bahkan dendam. Ipar yang saling menyayangi. Semua bahkan memberikan cinta dan kasih sayang yang melimpah kepada anak perempuannya.
Bulir jernih tak terasa menetes dipipi yang mulai banyak kerutan di sana sini. Devran yang melihatnya kini paham akan perasaan wanita paruh baya itu. Diusapnya tangan tua itu dengan lembut.
Memandang dan menelisik lebih dalam apakah benar pemikiran Devran. Air mata kebahagiaan dan keharuan yang keluar menganak sungai. Bukan air mata penyesalan dan kesakitan.
__ADS_1
" Bu... jangan khawatir. Kakak berada di tempat yang aman. Bahkan kami semua menjaganya dengan proteksi yang berlapis. Alhamdulillah semua anggota keluarga sangat menyayangi kakak. Bahkan kami yang anaknya harus tersisih karena orang tua kami begitu sayang dengannya" ucap Devran lembut.
Ayden dan Rayina tersenyum tulus dan mengusap tangan tua itu dengan mengangguk tanda membenarkan ucapan Devran.
" Ibu lega" ucap Ibu kemudian.
Hanya itu yang keluar dari bibir wanita paruh baya itu. Dan segera menghapus air mata yang tak permisi keluar begitu saja.
" Makanlah!! Habiskan jika suka. Nikmatilah liburan disini. Untuk meregangkan otot yang kaku karena hiruk pikuknya pekerjaan serta kebisingan kota" ucap Bapak memecah keharuan itu.
" Terimakasih " jawab Liona dan Devran bersamaan.
" Kak... Aku suka sekali kuda kakak. Apakah boleh??" tanya Liona dengan mata mengerjap - ngerjap.
Mata indah itu membentuk pupoy eyes yang menggemaskan. Membuat orang yang menatapnya menjadi terharu dan tidak tega.
" Bukan milikku Lion... milik Bapak" jawab Rayina.
" Boleh kah Pak?? Please..." mohon Liona kepada Bapak.
Sementara mata permohonan lain menuju arah Bapak. Dan Bapak tahu kegundan yang melanda Devran.
" Izinlah dulu dengan suamimu. Kalau diizinkan Bapak pinjamkan tapi... ada yang mengawasi dan menjaga" ucap Bapak.
Devran yang mendengar itu langsung berfikirqn liar. Istrinya menunggangi kuda dengan orang lain. Bahkan bisa jadi tubuh istrinya di pegang - pengang orang lain. Tentu itu sangat mengerikan bagi Devran.
" Sayaannng... booo...." Liona mulai beraksi merayu suaminya.
" Nooo!!! Big Nooo!!" jawab Devran cepat sebelum Liona menyelesaikan ucapannya.
Liona makin cemberut dengan jawaban tegas Devran. Suami yang menyebalkan itu ternyata overprotectife terhadap dirinya.
" Jangan marah. Nanti kakak ajak kamu keliling villa!! Biar suamimu dengan Abangmu. Sepertinya ada misi baru dari mereka!!" celetur Rayina menyindir.
Dua kepala yang awalnya tidak begitu mendengarkan percakapan keuda wanita itu kini beradu pandang dan saling menatap kearah sumber suara. Suara sindiran lebih tepatnya.
Rayina sudah sedikit mencium bau yang tidak enak. Secara, mereka datang ke villa tanpa sepengetahuan Ayden atau Rayina. Jadwal mereka berubah total dan bertolak ke haluan yang lain yang sudah di perhitungkan dan direncanakan jauh hari.
Pemicu selanjutnya Devran itu bak burung merpati pada masa lampau. Ya, sebagai pemberi kabar. Sedangkan dia pasti akan memberikan informasi penting. Entah terkait perusahaan atau menyangkut hal lainnya.
__ADS_1
" Heheee" kekek Ayden dan Devran bersamaan.
" Diskusikanlah!! Jangan lupa masih ada kami!! Kami juga akan terlibat " ancam Rayina tegas.