
" Tidak perlu kamu pikirkan masalah Liona, Dev. Kakak mu dan Mama yang akan berbicara kepadanya. Kamu bersiaplah sebagaimana mestinya. Dan siapkan dirimu semaksimal mungkin. Dan hapalkan semua ijab qobulnya" tegas Ayden.
" Hihihi. Rasanya aku ingin menahan ketawa melihat ekspresimu begini. Apakah ini ekspresi penuh dengan tekanan dan ekspresi ketakutanmu Dev? Hanya kamu yang tahu right?" batin Ayden.
Di sebuah kamar yang lumayan luas.
" Liona sayang, Mama ingin berbicara sesuatu kepadamu. Apakah kamu sudah siap dan bersedia untuk mendengarkan pembicaraan Mama kali ini?" tanya Mama dengan sangat lembut.
Ya, bak penyair yang sedang bersyair. Suaranya yang mendayu- dayu mampu menghipnotis hati yang sedang gundah gulana menghadapi dunia dan segala isinya.
" Iya Ma" jawab Liona dengan mengangguk.
" Liona, pakailah pakaian ini" pinta Mama.
" Ini?" tanya Liona heran dengan penuh pengharapan sejuta jawaban dan penjelasan.
" Ya, tentu saja sayang. Pakailah!" perintah Mama.
" Tapi Ma... Kenapa kebaya ini?" tanya Liona penasaran.
" Hmmm. Begini sayang, Papamu memberikan pesan sebelum dia meninggal ingin segera menikahkan kamu dengan lelaki pilihanmu. Dan kini... Embb maksud Mama.." ucap Mama menggantung.
" Hm.. mertuaku jago sekali, pintar sekali ya. Ada bakat terpendam rupanya" batin Rayina.
" Liona.. pakailah kebaya itu. Mungkin kita merasa, kamu sudah menemukan lelaki pilihanmu. Dan, kami semua akan melaksankan pesan dari Papamu untuk menikahkanmu" sambung Rayina.
" Ya, maksud Mama begitu" timpal Mama.
" Maksud Kakak dan Mama aku akan menikah hari ini? Didepan jenazah Papa?" tanya Liona lirih.
" Ya sayang. Bisakah kamu memenuhi pesannya ?" pinta Mama penuh harap.
" Hmm baiklah. Tetapi siapa laki - laki itu?" tanya Liona yang bingung.
" Haduh.. kenapa anak ini menjadi bodoh seperti ini Ma?" gerutu Rayina..
" Sudahlah sayang. Liona akan ada MUA sebentar lagi. Kamu akan ditemani mbak disini. Dan kamu sayang bersiap untuk semua ini. Ayo kita keluar" pinta Mama.
" Baiklah Ma. Liona, kami selalu bersamamu. Karena kami adalah keluargamu. Okay! Semua akan baik- baik saja. Tersenyumlah demi Papamu" ucap Rayina menambahi.
__ADS_1
Liona terpaksa menampakkan senyum yang dipaksakan dengan diikuti jawaban yang yang hanya dengan satu gerakan, mengangguk.
Rayina dan mertuanya segera keluar kamar Liona. Mereka memastikan semua berjalan dengan lancar. Suara sirine sudah terdengar. Menandakan ambulance sudah tiba. Semua orang segera bergegas mempersiapkan semuanya.
Keperluan sudah sangat matang. Dan iru semua diluar kendali yang ada. Tetapi semua berjalan sebagai mana mestinya.
" Ma, sudah datang. Mas juga sudah memastikan semuanya siap. Tinggal tunggu Liona dan Devran. Dan kita juga harus bersiap" ucap Rayina.
" Baiklah sayang, mama tinggal touch up aja beres kan? Kamu juga sudah datang itu MUA langgananmu. Sepertinya, anak mama sudah menunggu di kamar" terang Mama.
" Iya Ma" jawab Rayina segera kr kamar.
Seseorang muncul dari dalam kamar.
" Ma" panggil Ayden.
" Yes boy? What happend?" tanya Mama.
" Oh.. tidak. Don't worry. Semua dalam kendali. Ma, makeup di kamar kita. Semua sudah dipindahkan ke kamar. Orang MUA juga sudah di sana. Papa juga sudah di sana" terang Ayden.
" Oh.. ayo kalau begitu" jawab Mama.
Mereka segera berlalu dan masuk ke kamar Ayden. Ayden segera menuju ke ruang ganti rayina.
" Sayang, siapa yang mendesign semua ini? " tanya Mama.
" Hehe, aku si Ma. Dan Rayina yang mendekorasi semuanya. Bagaimana menurut Mama" tanya Ayden.
" Perfect. Sesuai karakter kalian. Penuh rahasia dan tantangan" ucap Mama.
Ayden hanya tersenyum dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kini mereka sudah berada di ruang ganti Rayina.
Rayina nampak ayu menggunakan kebaya berwarna pink muda dengan make up flawless dan aksesoris yang tidak berlebihan.
Cincin berlian bermata satu yang melingkar di jari tengahnya. Serta gelang keluaran terbaru brand dunia lemited edition melengkapi tampilannya. Tidak terlihat seperti menggunakan berlian dengan harga yang fantastis. Nampak sederhana namun sangat elegan.
Padahal jika mau dia bisa menggunakan akeseoris lain yang lebih mencolok dengan harga dan designnya. Tapi itu bukan karakter rayina.
Ayden dan Mama yang melihat penampilan istri dan menantunya hanya melongo tanpa berkedip.
__ADS_1
" Subhanallah, sungguh indah ciptaanMu Ya Allah" ucap Ayden.
Mama hanya manggut- manggut membenarkan ucapan Ayden. Mama juga heran, Rayina berdandan sangat cepat.
" Sayang, ingin rasaya kembali untuk mengadakan pesta pernikahan kita deh" ucap Ayden.
" Apa sih mas" jawab Rayina dengan rona malu.
" Embb.. mungkin bisa bersama. Bagaimana ide Mama? Undang seluruh relasi dan kawan bisnis kalian. Sudah saatnya !" pinta Mama.
Ayden dan Rayina saling pandang dan hanya dengan pemikiran masing - masing tanpa menjawab ya ataupun tidak.
Kini Mama berlalu dan segera bergantian dengan Rayina. Ayden dan Papa sudah berada diruang ganti Ayden.
Mereka segera berdandan dan juga memantau keadaan. Ayden dan Rayina tidak lepas memantau monitor yang ada di ponsel mereka. Sesekali mereka terlihat sangat sibuk untuk memastikan semua berjalan dengan sebagaimana mestinya.
" Mas, Ready? Mama dan aku siap. Bagaimana dengan kalian? Devran?" tanya Rayina.
" Lihatlah. Sudah ada Farhan yang aku perintahkan sesuai rencana. Dan Liona ada mbak. So, is perfect" ucap Ayden.
" Ma, Pa ayo kita ke bawah. Semua sudah menunggu" ucap Rayina.
" Mas, semua aku serahkan kepada mas. Jangan sampai ada celah sedikitpun" ucap Rayina.
" Dan pastikan keamanan boy!!" ucap Papa.
Mereka segera keluar dan turun untuk bergabung dengan yang lainnya. Keranda yang tertutupoun sudah siap berada di tempatnya.
Semua orang memasang muka sedih. Sesekali mereka diam dan hanya bicara berbisik. Sesuai dengan yang di arahkan.
Penghulu serta saksi sudah berada di tempatnya. Walipun sudah siap. Kini tinggal Liona dan Devran bergabung.
Ayden segera memerintahkan Farhan dan Mbak untuk membawa mereka turun. Dan tak lama mereka keluar dari dalam kamarnya.
Berjalan dengan perlahan dan gontai. Di selingi dengan isakan yang masih terdengar. Mbak yang berada di kamarnya sesekali menenangkan agar bisa menahan tangisnya.
Farhan juga menjalankan perintah tuannya sesuai komando. Dan ketika mereka akan sampai di ruangan tersebut, tiba - tiba lampu padam.
Semua orang berteriak kaget karena tiba - tiba lampu mati. Ayden yang sudah mengkomando Farhan segera bersiap.
__ADS_1
Semua sudah dalam keadaan tenang dan hanya lilin yang menerangi Liona dan Devran. Ketika mereka sudah sampai dan didudukkan ke kursi masing- masing, tetiba Om Rony bangun dan ikut duduk bergabung.
Dengan wajah pucat, tanpa kata tanpa kalimat Om Rony duduk di kursi wali. Sedangkan Liona dan Devran kaget bukan kepalang. Apakah ini hanya ilusi semata ataukah ini nyata.