Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
107.


__ADS_3

Liona masih dengan aksinya, dia memang dutugaskan untuk menjadi hacker dan asistennya. Untuk tugas yang lain Pak Jo dengan mudah menghandle. Walaupun usianya sudsh terbilang sepuh. Tapi beliau sangat cekatan dan gesit.


" Hmm.. 10% juga saham nyonya. Memang sangat tepat jika saya akan melanjutkan kerja sama ini dengan perusahaan yang anda pimpin saat ini. Dan perlu anda ketahui, kebanyakan dari pengusaha yang tidak memberikan bantahan, pertimbangan, dan penawaran kepada saya tentang bisnis. Tetapi anda? Anda bisa memberikan penawaran yang gamblang kepada saya" ucap Xano.


" Ya, begitulah bisnis Mr. Xano. Saya akan selalu memperhitungkan entah itu saham, dana, kawan maupun lawan. So, saya akan selalu menawarkan apa yang perlu saya tawarkan. Dan bisnis ini adalah kompetisi bukan? Bukan kompensasi ataupun komisi dari suatu perhitungan" telak Rayina.


Xano tampak berpikir dengan sangat cermat. Melihat cara bicara dan menerangkan sesuatu semua secara gamblang dan tanpa ada keraguan. Sorot matanya dipenuhi dengan keyakinan. Tidak ada kata apapun yang meragukan.


" Siapa sebenarnya dia? Dia sangat tajam dalam berpikir. Dia selalu mmelangkah setapak jika aku mendekati setapak. Bagaimana mungkin seorang wanita mungil itu berpikir sangat luas. Dan.. keuangan yang akan mengguncang perusahaan ini dengan mudah di selundup" batin Xano.


" Embb.. Apakah anda berkenan dengan penawaran ini? Saya akan sangat senang sekali jika bersedia dengan kerja sama ini" ucap Xano.


" Apa keuntungan yang saya dapat?" tanya Rayina dengan gamblang.


" Jika anda bersedia menanam saham 50% dan saya 50%. Maka keuntungan yang kita dapatkan adalah 200%. Jika demikian kita akan mendapatkan 100% sama rata. Bagaimana?" ucap Xano.


" Waow.. sangat mengggiurkan ternyata..." ucap Rayina berbinar.


Tapi binar itu hanya akting sebagai pelengkapnya. Rayina masih terdiam dan menunggu ekspresi selanjutnya dari Xano dan seluruh anak buahnya. Dan, ternyata Xano melihat adanya harapan yang tinggi kepada Rayina. Rayina hanya tersenyum dengan sangat lembut.


" Tapi maaf tuan Xano... saya tidaj tertarik dengan bisnis itu" ucap Rayina dengan santai.


" Apakah keuntungan yang anda minta kurang?" tanya Xano kemudian.


" Tentu saja. Tetapi, saya memang tidak tertarik dengan bisnis yang anda tawarkan kepada saya" tegas Rayina.


" Tolong berikan alasan yang tepat kepada saya" tanya Xano dengan nada sengit.


" Kerja sama ini bukan hanya kerja sama. Kerja sama jangan dilihat dari keuntungan masing - masing perusahaan bahkan personal. Apakah anda akan berpikir jauh kedepan, jika wilayah tersebut kita bangun real estate? Sudahkah anda perhitungkan dampaknya? Baik buruknya yang akan menimpa perusahaan, orang, bahkan daerah sekitar?" ucap Rayina panjang lebar.


" Maksud anda? " tanya Xano mengernyit.

__ADS_1


" Liona, view!" perintah Xano.


Tanpa banyak kata Liona segera menampilkan semua wilayah sekitar wilayah O. Dan sudah terpampang nyata batasan wilayah tersebut.


" Di utara ada sebuah gunung, di selatan ada pemukiman desa, barat dan timur masih jangkauam hutan lindung. Apakah disini anda akan membuat real estate? Anda tentu tau apa julukan anda? " Perusak" Ya, itu benar. Anda akan merusak alam dan ekosistem yang sudah terjalin dengan begitu indah. Anda merusak kawasan hutan lindung itu artinya anda ilegal dalam berbisnis. Apa anda paham maksud saya?" papar Rayina.


" Disamping itu, hutan adalah paru - paru dunia. Kita tidak akan mendapatkan kenyamanan yang sangat nyaman juka semua hutan di buat real estate seperti yang anda harapkan. Itu sangat merusak lingkungan. Dan bencana akan terjadi tanpa kita sadari. Dan dari sisi itulah saya menolak kerja sama ini. Sekian pernyataan saya dan keterangan alasan saya. Saya tutup dan saya akhiri. Selamat siang" tutup Rayina.


Xano merasa ditampar dengan telak kali ini. Baru hari ini dia mendapatkan penolakan kerja sama. Apalagi dia dengan sangat repotnya bekerja sama dengan mendatangi langsung perusahaan ini.


Sungguh diluar dugaan, yang dia dapat hanya tamparan keras. Dia mulai meremang, matanya mulai memerah menahan amarah yang bergejolak.


Berbeda dengan sikap Rayina yang masih dengan santai dan wajah cantik nan ayunya dia masih tersenyum hangat.


Ketika Xano dan semua anak buah yang dia bawa berpamitan dan akan keluar dari ruangan, Rayina berkata dengan lantang.


" Tunggu Mr. Xano.. " ucap Rayina.


Xano merasa heran, Apakah Rayina akan berubah pikiran dan akan menerima tawarannya. Dan dia sekarang berbalik arah menghadap Rayina.


Suara pintu ruangan berbunyi sesuai arahan dari Rayina.


" Bawa sekalian wanita ini. Aku tidak butuh orang seperti dia!" tegas Rayina.


Dony yang membawa Winda yang sudah ditugaskan Pak Jo untuk membawanya. Segera mendorong tubuh Winda kepada Xano.


Xano semakin menggretakkan giginya. Terlihat kilat amarah di wajahnya. Kini Rayina hanya tersenyum dan selalu berkata positif.


" Terimakasih tuan Xano, atas kunjungannya di perusahaan nomor tiga. Dan jangan lupa pintu keluar ada di sebelah sana. Dan tolong bereskan sampah ini" ucap Rayina santau dengan menunjuk Winda.


Liona terkaget saat Rayina segera membereskan semuanya dengan sangat cepat. Bahkan Rayina tadi tidak beranjak dari singgasananya. Kapan dia mengatakan kepada Pak Jo?.

__ADS_1


" Bawa dia dan bereskan !! Terimakasih Selamat siang" ucap Xano dengan menekan amarah yang membuncah.


Xano berjalan dengan langkah lebar. Mukanya sudah tak karuan lagi. Anak buahnya sudah mulai menjaga jarak. Akan ada badai yang besar kali ini. Karena sebenarnya belum pernah ada yang seberani ini menghadapinya langsung.


Semua orang akan takut jika sudah mengetahui sampingannya sebagai mafia. Tetapi tidak dengan CEO Rayiden. Dia begita santai dan gamblang menghadapi Xano.


Setelah Xano masuk di dalam mobil. Sedangkan Winda sudah diamankan oleh anak buahnya yang lain. Dia sudah dua kali terkena tamparan dari Ryaina secara tidak langsung.


" Alex, cari tahu siapa dia sebenarnya. Jangan sampai ada yang tertinggal sedikitpun datanya. Dan bereskan pelacur itu. Aku sangat jijik melihatnya" ucap Xano kesal.


" Bagaimana bisa dia menamparku dengan tidak langsung. Menyangkal telak aku sampai aku tidak berkutik. Tidak pernah aku merasa sehina dan sebodoh ini. Dan kenapa mulutku menjadi kelu ketika dia mengatakan apapun. Ahhhh shiitt" gerutu Xano di dalam mobil yang didengarkan asistennya.


" Bos, tidak ada keterangan apapun mengenai wanita itu secara media ataupun database. Jadi sepertinya dia bermain di belakang layar. Dan sepertinya CEO lama bukankah Mr. Devran?" ucap Asistennya itu.


" Devran.. hmmm... apa hubungannya dengan Devran" Xano penasaran.


" Cari tahu dimana Devran berada !" perintah Xano.


" Maaf tuan sepertinya anda belum mendengar akan hal ini. Sebenarnya perusahaan itu sudah dibeli oleh Nona Rayina sejak setahun yang lalu. Dan Mr. Devran dibiarkan menjadi CEO sementara. Karena nona Rayina masih dalam mengejar kuliahnya" ucap asisten Xano.


" Hmmm siapa kau nona manis? Kau bermain denganku sekarang. Kau harus mendapatkan apa yang sudah aku rasakan" gumam Xano jengkel.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈπŸ’πŸ’πŸ’


Hay readers... jangan lupa like komen dan vote ya...


Author akan kembali...


Jangan kemana - mana ya...


Happy reading...

__ADS_1


Love you all.....


🌹🌹🌹🌹πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€βš˜βš˜βš˜πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


__ADS_2