Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
67.


__ADS_3

Netra tua yang dari tadi diam dan menikmati hasil karya jemari menantu kesayangannya yang dengan lihainya beradu dengan api dan alat masak lainnya. Yang berpadu dengan baunya bawang dan teman segerombolannya. Tiba - tiba berhenti menikmati dan melirik tajam kearah sumber suara.


" Kau!! kalau kau sudah bosan hidup bersiaplah. Apa susahnya makan tanpa bicara ? Dasar beo kecil!" gertak Irfan.


" Tidak apa Pa, biar aku jelaskan" jawab Rayina lembut.


" See... kakak ipar memang best" puji Devran.


" Dev, Ganesha adalah anakku. Anakku dengan mendiang / almarhum suamiku. So sudah jelas bukan? Ada pertanyaan lainnya?" terang Rayina.


" Emb.. sepertinya belum. Kakak ipar kita akan mulai permainan kita kapan? Abang tempatnya ready bukan? Permainannya siapa yang main?" pertanyaan memberondong dari Devran.


" Emb.. makanlah dulu Dev, aku sengaja memasak semua ini karena ada Papa, Mama dan kamu tentunya. Untuk permainan kita bahas setelah ini. Makanlah yang banyak, kamu terlihat sangat kurus begitu" ejek Rayina.


Semua saling pandang dan menahan tawa. Rayina yang biasa berkata yang perlu kini sudah bisa mengimbangi Devran yang bagai beo nias itu.


Ayden juga tidak menyangka, bahwa istrinya bisa berkata demikian. Tetapi Ayden merasa sangat terhibur dengan ejekan istrinya kepada adiknya. Setidaknya dia tidak akan berbalik mengejek Rayina.


" Kenapa suasana seperti ini tidak pernah ada? Saat aku bersama Aleesha pun bahkan sama sekali tidak ada yang berkunjung. Rayina.. semua karena dirimu. Kamu mengalihkan duniaku. I love you unconditional" batin Ayden.


" Selesai makan cucilah piring - piring itu, sebagai ganti kau telah membayar lunas apa saja yang kau makan!" ucap Ayden datar dan pergi berlalu.


" Abang !!! kau keterlaluan kepada adikmu yang tampan ini. Kakak ipar... tolonglah... help me please" rengek Devran.


" Ah.. cup ... cup... sayang kenapa kamu begitu? kenapa tidak semua pekerjaan rumah ini kamu serahkan kepadanya? sepertinya itu ide bagus suamiku. Biar mbak - mbak libur semua. Hahaha" seloroh Rayina.


" Huhh dasar pasangan yang kompak. Aku sungguh iri" gerutu Devran.


" Dev... " ucap Ayden.


" Hmm" jawab Devran singkat.


" Setelah ini ikutlah bersamaku sekejap. Aku akan membahas topik yang menyuruhmu untuk segera kesini" jelas Ayden.

__ADS_1


"Aku sudah selesai, aku pamit ke ruang kerjaku. Sayang aku ke ruang kerja. Pa, Ma aku ke ruang kerja. Dev setelah selesai segera menyusul" pamit Ayden.


" Ok bang.. tunggu. Wait.. aku masih menikmati masakan kakak ipar. Boleh makan itu kakak ipar?" tanya Devran dengan menunjuk bakso dan sate.


" Boleh, sebanyak yang kau mau. Silahkan" jawab Rayina.


Rayina tengah asyik menyuapi Ganesha dan Ben di ruang keluarga. Karena mereka berdua kurang begitu suka makan di meja makan. Mereka lebih menikmati makan dengan di temani tayangan kesukaannya. Kedua bos kecilnya sungguh menggemaskan. Mereka makan dengan lahapnya.


" Bunda, aku bahagia sekali. Mempunyai bunda yang begitu sayang dan perhatian" celetuk Ben.


" Sama - sama sayang. Pun bunda, bunda sangat sayang dan bersyukur mempunyai kalian. Baik Ganesh atau abang semua adalah anak bunda. Tidak ada yang beda dan tidak akan ada yang berubah" terang Rayina.


Seketika Ben memeluk Rayina san menitikkan air mata. Rayina merasa terjingkat dengan perlakuan Ben. Tidak seperti biasanya anak lelaki ini melakukannya. Bahkan untuk mengeluarkan buliran air matanya.


" Hai.. why anak bunda crying? Ada yang sakit? Ada yang menyakiti hatimu? Ada yang membuatmu takut?" tanya Rayina khawatir.


" No, bunda. Aku hanya bahagia. Aku tidak pernah tahu wajah Ibuku. Setelah bertemu Aleena dan semua mengatakan Aleena saudara kandung Ibu. Rasanya aku ingin memeluknya dan mengatakan Ibu. Tetapi Atuk menjelaskan siapa Aleena aku tidak mau mendekat kepadanya. Bahkan aku tidak akan mengingat wajahnya lagi. Karena sama saja melihat wajah Ibuku" terang Ben.


" Sayang, sebenarnya baik Ibumu atau tantemu semua orang baik. Keadaan dan kebutuhan ataupun ambisinya saja yang membuat berubah. Jadi jangan pernah membenci siapapun. Bunda akan selalu ada buat kamu sayang. Kamu adalah abak bunda yang sangat baik" papar Rayina.


"Tahu dari mana kamu, jika Ayah seperti itu? Dia bahkan memperlakukan bunda sangat baik dan sangat lembut. Kamu tahu, ayahmu terbaik" jawab Rayina.


" Really? Tapi pernah saat kami berdua pergi, dan ketika ada wanita yang mendekat kepada Ayah. Ayah seperti kanebo kering yang tidak ada sedikitpun gemingnya. Dia bahkan bersikap acuh" cecar Ben.


" Ya mungkin Ayah masih belum bisa menerima kehadiran wanita, ataupun ayah dalam keadaan yang kurang baik hatinya" terang Rayina.


" Ya sudah, makan sudah selesai dan sudah habis. Bersiaplah menyiapkan belajarmu. Nanti bunda akan menyusulmu" perintah Rayina.


" Baik bunda" jawab Ben dengan mengecup pipi Rayina dan berlalu.


" Ayah dengan anak sama saja, manja, melow daannn..." gerutu Rayina.


"Dan apa? suara bariton berada tepat di belakangnya.

__ADS_1


" Loh.. mas.. katanya mau pergi bersama Devran? Kenapa kesini?" tanya Rayina.


" Sayang belum menjawab pertanyaanku, Dan apa? jangan mengalihkan pembicaraan" cecar Ayden.


" Dan romantis.. " jawab Rayina dengan malu dan tersenyum.


" Benarkah?" tanya Ayden kembali.


Ayden kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Rayina berdiri dan segera merengkuh pinggang rampingnya.


Membalikkan badan dengan secepat mungkin pemilik pinggang ramping itu. Kini tangan kekarnya sudah berada di pinggang ramping itu dan segera memeluk dari belakang.


Dagu yang telah ditumbuhi sedikit bulu itu di tempelkannya ke bahu ternyamannya. Sesekali mengecup bahu itu. Bahu yang selalu membuat candu untuk sekedar melepaskan beban di hati atau di pikirannya.


" Sayang... cup... " ucap Ayden dengan mengecup bahu minimalis itu.


" Why? ada yang mas butuhkan?" tanya Rayina.


" Berikan waktu sebentar saja untuk ini. Hanya ingin melepas beban dihati" jawab Ayden.


" Apakah ada sesuatu yang mengganjal? Ada masalah?" tanya Rayina.


" Besok aku harus ikut penerbangan ke UEA, karena penerbangan itu membutuhkan engineer pilot, so aku harus bertugas kesana. Sedangkan kalian besok akan menjalankan rencana yang sudah kita sepakati. Bahkan Dev sudah ada di antara kita" terang Ayden.


" It's okay sayang. Jangan khawatir okay? Ada Papa, Mama juga Dev yang akan membantuku nantinya. Mas bertugaslah dengan baik. Bukankah pekerjaan ini adalah keinginan mas? Ingat perjuangan mas dulu, saat ingin memasuki pekerjaan ini" terang Rayina.


" Sayang, setelah aku bersamamu kini. Rasanya sungguh berat meninggalkan kalian. Rasanya ingin resign dari pekerjaanku. Dan mungkin sudah saatnya aku menggantikan Papa" keluh Ayden.


" Kita bisa membahasnya nanti. Pekerjaan mas saat ini masih butuh mas bukan? Jalanilah dengan ikhlas. Insyaallah akan mendapatkan ketenangan hati yang lebih" jawab Rayina.


Irfan yang menyaksikan pemandangan ini mengembangkan senyumnya. Senyum merekah yang penuh cinta dan kehangatan. Mengingatkan kisah hidup anaknya dulu dengan menantunya dulu sangat jauh berbeda.


"Tidak salah aku memilihnya sebagai menantu, setiap kata dan tindakannya sangat menyejukkan hati. Bagaimana mungkin semua orang tidak jatuh cinta kepadanya" batin Irfan.

__ADS_1


"Papa.. " Mama memanggil dan melihat mata tua itu melihat sesuatu.


Diikutinya penglihatan suaminya itu kearah yang dituju. Sebuah pemandangan yang sangat romantis.


__ADS_2