
Setelah semua sudah bergabung di meja makan. Makanan juga sudah tertata sangat cantik. Bau harum aroma masakannya pun tak kalah menggairahkan. Membuat semua perut keroncongan.
Ayden sangat antusias melihat menu makanan yang dibuat oleh istrinya kali ini. Rayina tidak mengatakan akan membuatkan makanan kesukaannya. Nasi lemak memang kesukaan Ayden. Dan di negara ini jika menginginkan itu harus pergi ke restoran melayu yang jaraknya lumayan jauh dari mansionnya.
Ayden dan Ben melihat ada nasi lemak dihadapannya langsung membulatkan matanya. Rayina melihat reaksi antara ayah dan anak itu sungguh sangat lucu.
Ayden membuka percakapan dengan mengatakan kepada Ben untuk memimpin doa makan. Ben pun dengan penuh semangat memimpin doa sebelum makan. Ketika mereka akan mengambil makanan, Rayina mengambil ponselnya.
" Waittt !!" teriak Rayina.
Rayina kemudian selfi bersama semua orang yang ada di meja makan. Dan dia kirimkan kepada Devran.
" Apa yang kamu lakukan sayang?" tanya Ayden penasaran.
" Aku mau mengirimkan kepada anak nakalnya Papa. Hohoho" ketawa Rayina.
" Yang banyak sayang ngirimnya. Nih juga ambil foto menu makan kita kali ini" pinta Papa menimpali.
" Ahhhsiiiaaapp Pa" jawab Rayina.
Semua mulai mengambil makanan dan menyantapnya dengan penuh kebahagiaan. Mama dan Papa juga memang sudah lama tidak merasakan nasi lemak.
Rayina masih fokus dengan ponsel ditangannya, sehingga dia melupakan makanan yang ada di meja. Ayden melihat istrinya masih sibuk dengan ponselnya. Dia kemudian penasaran apa yang dilihat di ponsel tersebut. Rayina menyadari akan hal itu. Segera dia meletakkan ponselnya di meja dan membiarkan suaminya ikut melihat.
Ayden kemudian menyuapi istrinya. Rayina menerima suapan suaminya itu dengan senyuman. Dia kemudian menolak kembali dan segera mengambil makanan yang ada.
" Mas, pakai piring mas saja ya" ijin Rayina.
" Baiklah... sepiring berdua ya?" ucap Ayden.
" Ya... tentu saja. Nanti aku yang suapi mas" ucap Rayina.
Ayden sangat bersemangat dengan itu. Tawaran yang sangat dinantinya. Disuapi istrinya, dimanja dan di sayang. Itulah yang saat ini dia inginkan.
__ADS_1
Rayina mengambil nasi lemak, ayam pop dan sambal mentahnya. Tak lupa dia juga mengambil lalapan yang sebelumnya sudah di bersihkan.
Rayina masih sesekali melihat ponselnya. Ayden pun tak kalah serius melihat tampilan video yang sedang putar oleh Rayina.
" Mas, kita makan dulu. Nanti kita putar di televisi ruang keluarga. Sekarang aku mau lihat sadapan yang sudah Liona dapatkan" ucap Rayina.
Ayden hanya manggut - manggut dan segera menerima suapan dari istrinya. Rayina juga menyuapi mulutnya sendiri. Sambal yang dia buat tidak over pedasnya tetapi bikin nagih.
" Sayang, sambal ini namanya apa? Bagaimana resepnya?" tanya Mama.
" Sambal mentah Ma. Resep ada di dinding dapur. Mama bisa coba deh lain kali" ucap Rayina.
" Okey sayang, sepertinya Papa juga cocok dengan sambalnya" ucap Mama.
" Kamu pintar masak nasi lemak. Sangat pas dilidah Papa, ayam popnya juga gurih cocok pakai sambal mentahnya. Kalau pakai daun itu apakah enak?" tanya Papa.
" Cobalah Pa, itu lalapan. Rasanya seger" ucap Rayina.
" Woooww" ucap Papa.
Tanpa kalimat lanjutan, Papa segera mengambil kembali lalapan itu. Rayina bisa menyimpulkan kalau Papa mertuanya cocok dengan itu.
Sedangkan Aruni disuapi oleh mbak yang sudah diperintahkan oleh Rayina. Aruni perlahan makan dan sepertinya masih menikmati. Sesekali terlihat matanya berkaca - kaca. Entah apa yang ada di pikiran dan hatinya.
" Aruni... bagaimana? Apakah kamu suka? Jika suka, tambahlah.. makan dengan tenang dan nikmati. Kesembuhanmu adalah kebahagiaanku" ucap Rayina dengan lembut.
Bagai mendung pekat menyelimuti hati Aruni. Gemuruh di dada menahan gejolaknya. Netranya kini sudah mengembun, menampung derasnya air yang akan luruh ke pipi tirusnya.
Mendengar ucapan Rayina yang begitu tulus kepadanya. Tanpa rasa malunya air mata itu akhirnya tumpah begitu saja. Rayina melihat hal itu langsung menghentikan kegiatannya.
" Aruni.. kenapa? Why? Ada yang sakit? Ada yang kamu rasakan?" tanya Rayina lembut.
Aruni hanya menggeleng dan memberikan senyuman yang lebar. Dia kemudian mengedipkan matanya, menandakan dia baik - baik saja.
__ADS_1
Dan semua kembali di peradabannya. Ayden melihat kelembutan hati istrinya menjadi sangat bahagia dan membuat hatinya menjadi lebih bangga. Ternyata pilihannya tidak lah salah. Selama ini masih ada bidadari tak bersayap yang sudah Allah ciptakan untuknya.
Dulu Ayden menganggap bahwa Aleesha adalah wanita yang sangat sempurna di matanya. Tetapi, setelah penjelasan dari Papa dan saksi mata Devran, Ayden merasa kecewa dengan Aleesha. Bahkan entah kenapa rasa cintanya dulu sangat berbeda dengan rasa cintanya kepada Rayina.
Mungkin benar yang dikatakan oleh Devran. Dia hanya simpati dan bertanggung jawab. Selebihnya hanya rasa kemanusiaan saja.
π© Devran
" Ah.. kakak ipar curang... Kenapa kemarin saat aku disitu tidak masak itu... π"
Itu balasan pesan daru Devran. Ayden seketika menyeringai dan iseng kepada adiknya itu. Ayden kemudian dengan jahilnya mengirimkan sebuah foto kepada Devran. Ya, tentu saja Foto siapa lagi.
π© Devran
" Ini pasti yang balas bukan Kakak ipar. Tetapi si ceroboh. Alias singa jantan π"
Devran mengirim pesan itu. Ayden melijat pesan itu menjadi sangat jengkel. Dia kemudian melakukan vidio call.
π±Ayden call
Devran dengan rasa senangnya tahu akan abangnya yang mulai jengkel karena ledekannya. Mereka kemudian bertemu dalam layar ponsel. Mereka sesekali saling ejek. Kadang Papa dan Mama menimpali sambungan telepon itu. Menanyakan apapun yang perlu ditanyakan.
Rasa kekeluargaan dan keakraban sangat terjaga di keluarga ini. Bahkan pekerja di rumah ini ikut merasakan euforia kebahagiaannya. Aruni merasa beruntung bisa di selamatkan di keluarga ini.
" Beruntungnya aku ditemukan oleh seorang yang sangat baik. Memperlakukan aku dengan begitu baik dan manusiawi. Aku yakin Allah akan membalas beribu kebahagiaan dan kebaikan untuknya. Aku berjanji akan membantu sebisaku dan aku bertekat ingin sembuh dan segera dapat membayar semua ini dengan caraku" batin Aruni.
Devran juga sesekali menanyakan Aruni dan dia juga menanyai Aruni. Karena Aruni masih bisa menjawab dengan anggukan dan gelengan, Devran merasa itu sudah sangat baik. Dari pada perkiraannya duku akan lumpuh total.
Setelah puas melakukan vidio call bersama Ayden segera mematikan ponselnya. Makan siangpun sudah selesai. Dan kebiasaan mereka di meja makan adalah setelah selesai makan mereka tidak langsung beranjak. Jika tidak mempunyai keperluan dan kebutuhan mendesak, mereka masih bercengkrama di meja makan.
Rayina kemudian beranjak ke ruang keluarga. Menyalakan ponselnya dan segera memutar vidio yang dia dapatkan dari Liona. Dengan perlahan dan sangat hati - hati dia memulai memutar vidio itu di layar televisinya yang sangat besar itu.
Dari meja makan yang terhubung langsung dengan ruang keluarga bisa menyaksikan itu. Rayina membesarkan volumenya dan segera kembali duduk di samping suaminya.
__ADS_1