
Rayina membaca doa sebelum makan semua yang sudah Ayden sediakan.
" Hmmm... maass... enak... I like it mas " ucap Rayina dengan mulut yang masih mengunyah.
" Sure? Ya sudah, besok mas belikan lagi ya.. Ada rasa yang lain yang kamu mau sayang?" tanya Ayden.
" Sama dengan yang ini mas... enak... nanti kalau sudah bosan aku akan minta rasa yang lain. Dan... bolehkah..." tanya Rayinda dengan menunjuk makanan disebelah kue.
" Kamu mau mencobanya?" tanya Ayden.
" Kalau Mas ijinkan.. hehehe" jawab Rayina.
" Hmm... baiklah.. tapi ini sangat pedas. Mas takut anak kita kepedasan. Jadi, kamu makan sedikit saja ya? Bagaimana?" tawar Ayden.
" Baiklah.. aku janji" jawab Rayina dengan mengangkat kedua jarinya membentuk seperti huruf v.
Ayden segera menyendokkan nasi goreng seafood kemudian menyuapkannya kepada istri tercintanya. Dengan penuh kelembutan dan penuh kasih sayang, bak seorang bapak menyuapi anaknya. Dengan sabar dan telaten menyuapinya.
" Mmmmmm" ucap Rayina dengan mata yang merm melek.
" Why sayang? Kepedesan ya?" tanya Ayden kembali.
" Mas... ini istimewa... Mas beli di restoran mana?" tanya Rayina.
" Ini buatan Siti sayang. Mas minta tadi setelah kita enak - enak. Hehehe" terang Ayden.
" Aku mau mas, tapi jangan terlalu pedas. Ini sangat pedas" ucap Rayina.
Rayina kemudian meminum jus dan segera beranjak untuk memakai pakaian lengkap dan penutup kepalanya. Ayden heran, sepertinya istrinya akan membuat makanan.
" Sayang.. tidak perlu, kita bisa meminta Siti membuatkannya lagi. Kamu tidak perlu memasaknya" Ucap Ayden.
" Mas tidak apa, aku juga belum melihat anak - anak. Aku akan menengok ke keamarnya" ucap Rayina.
" Tidak perlu. Anak - anak sudah tidur. Tadi aku sudah melihatnya dan menengoknya. Sekarang kembalilah. Buka bajumu, dan kembali disisiku" perintah Ayden.
Rayina segera kembali dan mengganti pakaiannya. Dia tahu, suaminya kali ini akan bergelayut manja dengannya. Dan Ayden, memesan nasi goreng sepertinya melalui ponsel.
Rayina kembali naik ke ranjang dan berada di sisi suaminya. Menciumi bahu kekar suaminya adalah kebiasaannya. Rasa nyaman menghinggapi hatinya. Ayden yang masih sibuk dengan ponselnya memantau pekerjaannya merasa tidak terganggu.
Awalnya, Ayden sangat terganggu karena tidak terbiasa. Bukan dia risih tetapi geli dengan perlakuan Rayina. Sedangkan dulu saat bersama almarhum Aleesha tidak seperti ini.
__ADS_1
" Sayang... masih bekerja?" tanya Rayina.
" Hm.. kenapa? Sayang mau?" tanya Ayden.
" Tidak mas.. hanya mau bercerita sedikit. Sudikah kiranya mas mendengarkan keluh kesahku?" ucap Rayina melembut.
" Hmm... baiklah.. Sayang bisa menceritakannya. Mas akan mendengarkan dan menyimaknya" ucap Ayden dengan menaruh ponselnya.
" Mas, sepertinya akan ada kebahagaiaan datang dikeluarga ini" ucap Rayina.
" Devran dengan Liona" celetuk Ayden.
" Ya.. tentu saja. Oh ya.. tadi Xano memata - matai rumah ini dan dia datang kembali ke perusahaan. Dan dia menawarkan kerja sama kembali dengan membeli real estate di tengah kota milik perusahaan kita" terang Rayina.
" Lalu... kamu bagaimana?" tanya Ayden.
" Aku tidak melepaskan mas. Karena lambat laun aku sudah punya rencana tersendiri untuk real estate itu. Bolehkah mas?" ijin Rayina.
" Tentu sayang. Mas sudah percaya denganmu. Dan ingat... jangan sampai terlalu capek dan membahayakan kalian. Okay?" pinta Ayden.
" Sayang... Mas mau tanya... bolehkah?" tanya Ayden.
" Apakah Xano bersikeras selalu menawarkan kerja sama ke perusahaan kita?" tanya Ayden.
" Sepertinya dia tidak tertarik dengan bisnisnya. Tetapi tertarik denganmu. Aku yakin dalam dunia bisnis hal itu lumrah terjadi" terang Ayden.
" Mas.. aku jadi takut.." ucap Rayina memelas.
" Hahaha.. mas yang harusnya takut. Karena akan banyak lelaki lain yang semakin menggilai istri mas yang cantik ini" ucap Ayden dengan menarik dagu istrinya.
" Mas, aku sudah mempunyai dua anak. Dan, sebentar lagi perutku juga akan membesar. Lihatlah.. Mana ada yang amu dengan wanita gendut sepertiku" rajuk Rayina.
" Wanita hamil itu sangat seksi sayang... betapa seksinya istri mas ini.. apalago besok kalau perutnya mulai menggendut. Mas sudah tidak sabar lagi sayang" ucap Ayden dengan mengelus perut istrinya yang masih rata.
" Xano perlu diwaspadai sayang. Dia terobsesi denganmu. Awasi, perintahkan tambah keamananmu. Jangan sampai lengah. Okay?" pinta Ayden.
" Untuk mobil, sebenarnya itu hadiah ultahmu besok. Tapi kamu sudah menggunakannya. Dan itu sudah menjadi hakmu. Pakailah.. " terang Ayden.
" Jika dalam keadaan darurat aku akan memakainya mas. Tapi kalau hari - hari biasa aku lebih nyaman dengan mobil yang biasanya mas" terang Rayina.
" Terima kasih ya mas... hadiahnya.. aku suka sekali..." ucap Rayina.
__ADS_1
Rayina kemudian membuka ponselnya dan menghubungkan ke layar lebar yanga da di depannya. Dan dia melihat satu persatu cctv yang ada. Dia kemudian menyambungkan ke ruangan Aruni.
Ayden hanya melihat apa yang dilakukan istrinya. Melihat layar yang dia cek dengan begitu teliti. Di raihnya bahu nan nyaman untuk bersandar kepalanya.
Dikecupnya leher jenjang istrinya dengn kulit selembut sutra. Dienduanya aroma tubuh istrinya yang harum aroma vanila. Dengan mengecup dan menghirup membuat Ayden merasa nyaman.
" Bagaimana dengan Aruni sayang?" tanya Ayden.
" Sebentar mas. Laporan dari dokter syaraf akan segera dikirim melalui emailku. Dan aku sudah melihat ruangannya dia tertidur dan dijaga oleh penjaga hatinya. Lihatlah" ucap Rayina.
" Farhan memang begitu mencintainya sejak dulu. Dia pantas mendapatkan cinta itu" celetuk Ayden.
" Sayang... wait... balik ke cctv samping rumah. Siapa itu?" ucap Ayden.
" Aishhh... tikus kecil lagi" ucap Rayina.
" Nyalakan saja saluran listriknya" ucap Ayden.
" Okay tuan raja, sesuai perintah tuan" ucap Rayina dengan tersenyum usil.
Dia kemudian mengaktifkan saluran listrik yang ada di samping rumahnya. Dan, tidak lama tikus kecil yang mulai nakal itu akhirnya tersengat listrik. Dan aksinya tidak kembali di lancarkan.
kling...
Suara pesan email dari seseoranf sudah masuk ke ponselnya.
" Ya Allah.... " ucap Rayina tercengang.
" Why sayang??" tanya Ayden yang tak kalah kaget mendengar teriakan istrinya.
" See.." pinta Rayina.
" Alhamdulillah..." jawab Ayden.
Sementata di ponsel Ayden berdering, dia kembali mendapatkan tugas akan pergi keluar negara. Karena hanya dia yang berpotensi untuk mengikuti penerbangan yang ada.
" Sayang... besok pagi mas harus ikut penerbangan ke Dubai. Bolehkah?" ijin Ayden.
" Tentu sayang. Itu kan tugas mas. Mas harus menjalankan kewajiban pekerjaan itu bukan?" ucap Rayina.
" Tidak perlu khawatir sayang, Insyaallah aku aman dan tidak ada halangan apapun. Banyak yang menjagaku selama mas jauh dariku. Dan aku sudah menyiapkan banyak parfum sesuai dnegan parfumku. Mas bisa membawanya dan membagikannya kepada teman yang lain" terang Rayina.
__ADS_1
" Baju dan bawaan lainnya udah aku siapkan. Tinggal melihat dan mengecek kekurangannya apa saja. Kita bisa menambahkannya" terang Rayina kembali.
" Kapan kamu menyiapkannya?" tanya Ayden penasaran.