
" Finish" ucap Rayina.
" Oh... shit..." ucap Ayden.
Ayden kemudian bangkit dan menggendong istrinya menuju kamar mandi. Dinyalakannya shower dengan tekanan yang maksimal. Membuat keduanya basah kuyub.
Lingerie yang digunakan istrinya nampak lebih menggoda. Bahan tipis jika terkena air maka akan tertampak semua yang terjiplak di seluruh tubuhnya.
Tak terasa ada yang merespon dengan cepat. Mengeras dan kemudian tegak berdiri. Rayina yang saat itu hanya memandangi suaminya karena merasa ada yang menonjol kini berbalik tersenyum mengejek.
Di rengkuh tengkuk suaminya dan segera terjadi cumbuan dan ciuman hangat yang membuat semua syaraf dan bulu kuduknya berdiri. Selanjutnya terjadilah hal enak - enak yang diinginkan.
Mereka segera menyelesaikan kegiatan itu dan berakhir dengan rambut yang basah. Segera mereka melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim.
Rayina segera menuju ke kamar anak - anaknya. Dilihatnya anak - anak tidak berada di dalam kamarnya. Dicarinya keseluruh penjuru rumah. Pertama yang dia tuju tentu saja tempat ibadah dirumah itu.
Karena memang kebiasaan sholat subuh berjamaah selalu diterapkan di rumah ini. Jika absen dari jamaah juga tidak akan ditanyakan. Semua hanya kesadaran akan kewajibannya dalam beribadah.
Setelah sampai di mushalla rumah, dilihatnya dua punggung kecil yang khusuk sedang mengamini doa sang imam. Senyum merekah di wajahnya. Kembalilah dia ke kamar anak - anaknya. Disiapkan segala keperluan dan kebutuhan anaknya.
Setelah semua selesai dia kembali ke kamarnya. Dia kemudian menyiapkan kebutuhan suaminya dan segala keperluan perlengkapan untuk berangkat bekerja. Dia selalu dengan detil untuk menengok segala sesuatunya.
Rayina juga menyiapkan keperluan kerjanya. Semua sudah berjajar rapi. Mulai dari pakaian hingga keperluan yang lainnya. Kini dia membuka hijab yang dia kenakan selama keluar kamar dan segera mengeringkan rambutnya.
Dengan cepat dia menyelesaikan mengeringkan rambut nan basah akibat perbuatan suami yang sangat dia sayangi. Dan segera menggulung serta mengenakan kembali hijab yang selalu menutupi mahkota kepalanya itu.
Berjalan dengan berlalu begitu saja, dia kemudian menuju kedapur. Ya, bagian ruangan yang sangat dia senangi. Dan dia akan melupakan segala sesuatunya jika sudah bercengkrama dengan peralatan memasaknya.
" Mas..." pekik Rayina kaget.
" Emmmbbb... tidak bisakan istriku tidak memasak pagi ini?" pinta Ayden dengan manja.
__ADS_1
" Embb... apakah suamiku ini tidak ingin menikmati sarapan pagi ini dengan masakan istrinya?" tanya Rayina kembali.
" Okay... aku selalu menanti semua menu baru darimu sayang. Semua yang kamu masak aku akan selalu menikmatinya. Kamu tahu?? Masakanmu adalah favoritku. Dan kamu tahu, aku mau dibuatkan sandwich untuk bekalku. Bisakah?" pinta Ayden.
" Of course sayang. Baiklah... tunggu. Duduklah dengan santai. Aku akan membuatkan teh chamomile untukmu mas" pinta Rayina dengan lembut.
Sang pesona fajarpun telah nampak dengan indahnya. Dinikmatinya teh chamomile buatan sang pujaan hatinya. Di seruputnya pelan dinikmatinya teh itu dengan sangat nikmat.
Sedangkan Rayina dengan cepat membuat kan sarapan untuk seluruh orang dirumah ini. Dan dia selalu memasak dengan porsi banyak. Kali ini sarapan pagi ditemani dengan cah sayur, ikan goreng dan ayam goreng. Tak lupa sambal yang menjadi favorit keluarga ini.
Segera dia menata meja dan menyiapkan bekal untuk suami serta anak - anaknya. Ditatanya rapi seluruh meja untuk sarapan. Semua orang sudah paham dengan kegiatan sang nyonya jika dia sedang penat pasti dia akan masuk ke dapur. Bercengkrama dengan seluruh anggota perabot rumah tangganya.
Semua segera ke meja makan dan segera menikmati sarapan paginya. Semua menikmati dengan sangat santai dan benar - benar menikmati setiap suapnya.
" Bunda... Apakah bunda yang menyiapkan semua kebutuhan dan keperluaku tadi?" tanya Ben.
" Of course honey..." jawab Rayina dengan melihat wajah sang pesona dengan senyuman secerah mentari.
" Why sayang?" tanya Rayina.
" Unda..." panggil lelaki kecilnya yang kini mulai lancar berbicara.
" Oh... sayang..." jawab Rayina dengan memeluk dan menciumi kedua bocah itu.
" Abang... duduklah. Dan adek duduklah disamping abang. Dengarkan untuk kalian wahai malaikat kecilku. Hari ini Bunda akan mengantarkan Ayah sampai ke tempat kerja. Dan juga Abangb akan ikut bersama Bunda. Setelah mengantar Ayah, Bunda akan antar abang ke sekolah. Dan... untuk Adek, Adek juga boleh ikut. Tapi..." ucap Rayina menggantung.
" Adek nanti sama mbak juga. Okay? Kalian harus dalam pengawasan. Nanti Adek ikut Bunda ke kantor. Setelah itu Adek bisa pulang dengan mbak dan Pak Farhan. Mengerti?" ucap Rayina tegas.
" Siap bos !!" jawab kedua bocah kecil itu.
" Good. Duduklah, Bunda sudah menyiapkan kesukaan kalian dan bekal juga kesukaan kalian. Ingat ya... pesan Bunda" ucap Bunda.
__ADS_1
" Jadi anak sholeh, pintar dan membanggakan" jawab Ben dengan penuh semangat.
Segera mereka melaksanakan perintah dan titah sang bunda. Jika Bunda sudah bertitah maka mereka akan menurutinya. Karena waktu untuk mereka bersama saat ini tidaklah banyak. Dua anak kecil itu sudah memahami kesibukan kedua orang tuanya.
Dan sepertinya Bundanya juga masih menyayangi mereka, pikir mereka. Kedua orang tua Ayden tak kalah bangganya dengan menantunya itu. Dengan segala kesibukannya dan kepenatannya masih sempat memperhatikan anak - anaknya.
" Bun, bunda janji ya... setelah semua masalah clear, Ben mau bunda jangan bekerja lagi ya. Please" ucap Ben ditengah suara riuh rendah sarapan.
" Iya sayang... Bunda janji" Semua orang memandang kearah kedua insan yang saling menyayangi satu sama lain.
Mereka segera menyelesaikan sarapan paginya. Semua perintah dari Rayina segera dikirimkan melalui ponsel smartna. Untuk melaksanakan tugas mereka masing - masing sesuai bagiannya.
Dia selalu memantau pekerjaan para pekerja yang bekerja dengan keluarga ini. Rayina segera mandi untuk membersihkan badannya karena bau bawang selama dia memasak di dapur. Dengan secepat kilat dia berdandan.
Disusulnya suami dan anak - anaknya yang sudah menunggu di dalam mobil.
" Wait.. ada yang tertinggal atau tidak? Coba kalian periksa. Karena waktu mahal harganya!" ucap Rayina.
" Sepertinya mas tidak sayang. Bagaimana denganmu Boy?" tanya Ayden.
" Okay Yah, semua terbawa" ucap Ben.
" Wait !!" ucap Rayina.
" Mbak... ada yang tertinggal?" tanya Rayina.
" Tidak Bu. Komplit. Tapi maaf Bu, apakah Ibu tidak memakai lipstik? Ibu terlihat pucat" ucap Mbak.
Diraihnya cermin yang berada di dasbor mobilnya. Dilihatnya wajah nan ayu itu. Dan benar saja, dia terlihat pucat sekali. Seperti kehabisan darah sangat banyak.
" Sayang, sepertinya kamu harus beristirahat hari ini. Mas tidak mengijinkan kamu hari ini untuk bekerja. Nanti setelah mengantarkan Ben, kembalilah pulang. Pastikan nyonya berada dirumah mbak !" perintah Ayden.
__ADS_1
" Tapi mas..." ucap Rayina mengusulkan.
" Kamu bisa bekerja dirumah. Dan, istirahatkan badanmu sayang. Kamu terlalu lelah. Dan ingat, ada dua nyawa didalam sini" ucap Ayden dengan menunjuk perut istrinya.