Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
188.


__ADS_3

Ganesha masih belum terlalu memahami tentang jawaban dari Kakeknya.Dia hanya diam dan mencerna apakah itu benar atau tidak.


Dicari wajah dan mata sang Ibu untuk mencari jawaban kebenarannya. Dan sang Ibu sudah menatap wajah polosnya. Dibalasnya dengan senyuman dan anggukan dengan penuh keyakinan.


" Are you sure Bun?" tanya Ben kembali.


" He hem" jawab Rayina dengan tersenyum.


" Yeayyy... kamu milliader Ganesh!!" teriak Ben dengan penuh gembira.


" No.. no.. no... Semua ini belum milik Ganesha seutuhnya. Masih dalam pengawasan Bunda dan Kakung. So, Ganesha harus meraih cita - cita Ganesha terlebih dahulu" ucap Rayina lembut.


" Ya Bun. Tapi..." jawab Ganesha menggantung.


" Kenapa ini semua jadi milikku? Bukankah bunda hanya mempunyai rumah kita yang dulu? Dan, Bunda hanya seorang Guru saja? Kenapa sekarang jad mempunyai banyak harta?" tanya Ganesha penasaran.


" Yaaahh.. Kamu benar bro!! Aku juga mau bertanya akan hal itu kepada Bunda" ucap Ben pula.


" Okay... nanti Bunda jawab. Sekarang apakah kalian tidak penasaran untuk melihat kedalam? " tawar Rayina penuh semangat.


" Bolehkah Bun??" teriak dua jagoan itu dengan berbinar.


" Ya... sure" jawab Rayina dengan bahagia.


" Wait!! Ada pemandu yang akan menerangkan kepada kalian. Sebentar" ucap Rayina.


" Pak, dimana Pak Saleh?" tanya Rayina kepada Bapaknya.


Tiba - tiba lelaki paruh baya datang menghampiri. Rambutnya yang kini mulai ditumbuhi uban dan badannya yang dulu sedikit gendut kini mulai menyusut. Tapi wajah kharismatiknya tidak pernah luntur. Ya, itu adalah Pak Saleh. Orang kepercayaan almarhum suami Rayina.


" Assalamualaikum, Maaf Den ayu. Sya terlambat" ucap Pak Saleh.


" Waalaikumsalam Pak. Bagaimana kabar Bapak? Saya lihat agak kurusan!" ucap Rayina.


" Alhamdulillah sehat Den Ayu. Maklum Den Ayu, dimakan usia. Jadi sedikit menyusut. Sekarang pula minyak tanah sudah tidak ada. Jadi untuk merendam badan saya tidak bisa juga. Hahaha" kelakarnya.


" Hahaha... Pak Saleh tidak berubah. Masih saja lucu seperti dulu" ucap Rayina.


" Oh.. iya. Maaf Pak, kenalkan. Ini keluarga kecil saya. Ini suami saya, dan ini dua jagoan saya. Dan tak lupa akan nambah anggota keluarga baru kami. Doakan ya Pak!!" ucap Rayina.


Ayden segera mengulurkan tangan dan menyalami dengan sopan.


" Perkenalkan saya suami Rayina, Ayden" ucap Ayden dengan senyumnya.


" Ah.. ya.. saya Pak Saleh. Saya yang di percaya Ndoro Almarhum dulu untuk menjaga ini" ucap Pak Saleh dengan menunjuk Pabrik Gula.


" Ndoro Almarhum?" tanya Ayden.

__ADS_1


" Maaf Den Bagus. Em.. Den Ayu?" ucap Pak Saleh meminta persetujuan.


Rayina hanya tersenyum dan mengangguk. Memberikan kesempatan Pak Saleh untuk menjelaskan tanpa ada yang perlu ditutupi.


" Itu adalah Almarhum suaminya Den Ayu" jawab Pak Saleh.


" Ah.. ya.. " jawab Ayden manggut - manggut.


" Ya mas, Pak Saleh orang kepercayaan ayahnya Ganesha dulu hingga sekarang. Dan Pak Saleh, suami saya sekarang Mas Ayden. Beliau orang Malaysia. Dan kami menetap di London" terang Rayina.


" Iya Den Ayu. Den Bapak sudah cerita banyak. Dan Den Bagus ini ndak kaya orang Malaysia, malah seperti Bule. Hihihi" ucap Pak Saleh.


" Lah tapi yo pantes saja. Den ayu cantik begini ya dapetnya mesti yo sik guanteng - guanteng to!!" celetuk Pak Saleh.


" Halah.. omong opo kowe Leh ( ngomong apa kamu Leh)?? " ucap Bapak menengahi.


" Wes, kae anak - anak pengin muter - muter ndelok Pabrik. Tulung diterno lan di awasi. Terangno kabeh kondisi Pabrik iki. Nganti paham lan ngerti ( Sudah, itu anak - anak mau lihat - lihat Pabrik. Tolong antarkan dan diawasi. Di terangkan juga semua keadaan Pabrik ini. Sampai paham dan mengerti)" Ucap Bapak .


" Njih Den Bapak. Tak permisi Den Ayu, Den Bagus" ijin Pak Saleh.


" Ya Pak, Silahkan" jawab Rayina.


Pak Saleh kemudian mendekati dua anak kecil yang tengah kagum - kagum dengan sebuah bangunan besar itu.


" Halooo Den kecil" sapa Pak Saleh.


Tak lupa mereka menyalami dan mencium tangan Pak Saleh dengan khikmad. Tak luput Pak Saleh mengusap kedua bocah itu.


" Waalaikumsalam Den kecil" jawab Pak Saleh.


" Didikan Den Ayu memang sangat baik. Mereka tidak melupakan adat istiadat dan tradisi negaranya. Bahkan dengan orang yang lebih tua sangat sopan dan menghargai. Pantas saja Ndoro Almarhum sangat mencintai Den ayu" batin Pak Saleh.


" Ayo anak - anak kita berkeliling? Are you ready?" ajak Pak Saleh.


" Yaa... we ready Pak!!" jawab meereka serempak.


Pak Saleh sedikit bisa berbahasa Inggris. Karena dulu, Almarhum duami Rayina sedikit - sedikit menggunakan bahasa inggris saat berbicara. Sehingga dia juga menterjemahkan artinya. Dan, Pak Saleh mengingat akan hal itu.


" Lihatlah sayang.. anak - anak begitu bahagia. Dan kamu... hutang penjelasan denganku!" ucap Ayden dengan merengkuh pinggang ibu hamil itu.


" Okay sayang... siap Komandan!!" jawab Rayina nyleneh.


" Haissssshhh kamu. Masih kuat berjalan?" tanya Ayden.


" Tentu sayang" jawab Rayina dengan menyeka keringatnya.


" Hmmm baiklah. Tapi... " ucap Ayden menggantung.

__ADS_1


Ayden mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


" Tolong bawa sekarang!! Kamu sudah tahu tempatnya kan??" ucap Ayden


" ....."


" Ya.. segera. Saya tunggu lima menit!!" ucap Vendra lagi.


Setelah itu Ayden menutup ponselnya.


" Siapa Mas??" tanya Rayina penasaran.


" Nanti kamu akan tahu sayang" jawab Ayden.


" Masih mau nunggu? Bapak tak masuk dulu saja. Mau ngecek kantor dulu sekalian" ucap Bapak.


" Ya, Pak. Nanti kami menyusul" jawab Rayina.


Ibu yang sudah dulan masuk pabrik bersama anak - anak ikut senang. Seperti mengikuti karya wisata anak - anak. Mereka terlihat sangat bahagia. Nampak Ganesha yang sangat antusias mengetahui isi semua pabriknya.


Dan semua karyawan pabrik menyapanya dengan antusias. Mereka semua orang - orang terbaik pilihan Ayah Ganesha dulu. Orang - orang yang dulunya terpuruk dan tidak mempunyai pekerjaan.


Ayah Ganesha memberi bimbingan dan pembelajaran hidup yang berarti untuk mereka. Serta memberikan pekerjaan di pabriknya.


Dulu mereka juga bekerja di pabrik teh. Karena Bapak mengalihkan hasil dari pabrik teh, kemudian mendirikan pabrik gula. Sehingga sebagian dari mereka di pindahkan ke pabrik gula.


Rayina masih menunggu sembari duduk di kursi taman yang sudah ada. Ayden sedikit memberengut karena orang suruhannya sedikit lama datang.


" Bos!! Maaf terlambat !!" ucap salah satu orang suruhannya.


" dua menit tiga puluh detik. Hukuman kalian..." teriak Ayden belum menyelesaikan kalimatnya


" Terimakasih Pak. Silahkan bapak kembali ke mobil saja. Dan beristirahatlah sejenak" putus Rayina menutup ucapan Ayden.


" Alhamdulillah. Terimakasih Nyonya" jawab mereka berdua.


" Ingat !! itu semua karena istri saya. Kesalahan terulang tiada ampunan bagi kalian !!!" ancam Ayden.


" Mass.. sudahlah. Terimakasih Pak. silahkan istirahat " ucap Rayina lembut.


Mereka segera kembali ke mobil dan mendapatkan kelegaan dihatinya.


" Alhamdulillah, Nyonya memang sangat baik dan lembut. Pantas saja Bos sangat patuh kepadanya dan sangat mencintainya. Andai saja aku belum menikah" ucap salah satu anak buah.


" Huuuuu" toyoran mendarat di kepala anak buah itu.


" Kalaupun kamu belum nikah. Nyonya juga tidak akan mau denganmu!! Mimpi !!" jawab qnak buah satunya.

__ADS_1


" Hahaha.... ya kalikk" kekeh anak buah pertama.


__ADS_2