Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
183.


__ADS_3

Perjalanan ke kampung halaman terasa sangat singkat. Tidak ada kendala apapun yang terjadi. Sesampainya di kampung orang tua Rayina segera menemui kedua orang tuanya.


" Assalamualaikum, Pak.. Bu" ucap Rayina.


" Waalaikumsalam " jawab mereka serempak.


" Alhamdulillah sampe selamet ya nduk cah ayu" ucap Ibu.


" Iya.. Alhamdulillah... Bu" jawab Rayina bahagia.


Setelah itu Ayden dan disusul anak - anak segera menyapa dan menyalami Ibu mertuanya.


" Assalamualaikum bu, Pak. Bagaimana kabar?" tanya Ayden.


" Alhamdulillah nak... Kami disini sehat dan lihatlah sendiri kami bisa berdiri didepan kalian dengan keadaan yang sangat baik" jawab Bapak bijak.


" Ayo.. masuk. Sepertinya akan turun hujan. Ayo cucu - cucu kakung" ajak Bapak.


" Kamar sudah dirapihkan. Kamar kamu sudah Ibu bereskan. Anak - anak bisa tidur di kamar yang sudah bapakmu buatkan. Ya, walaupun tidak sebesar kamar kalian. Semoga kalian nyaman" ucap Ibu.


" Keluarga ini adalah rumahku. Jadi semua yang ada di rumah ini yang membuatku kembali ke sini Bu. Dan, karena kedua orang tuaku yang utama" ucap Rayina penuh haru.


Entah karena sedih atau terharu ataukah karena hormon ibu hamil yang tidak menentu. Membuat Rayina sedikit cengeng. Menangis adalah hal yang sering terjadi padanya. Padahal dulu tidaklah begitu mudah untuk mengeluarkan air matanya.


Ibu dan Bapak menyambut ramah keluarga kecil ini. Anak - anak yang ikutpun merasa sangat bahagia dan nyaman.


" Ibu.. Ibu tidak dibantu sama orang lain untuk membersihkan rumah atau masak atau nyuci gitu bu?" tanya Rayina.


" Cah ayu, suamimu sudah mencukupi segala kebutuhan Ibu dan Bapakmu. Ndak perlu takut akan hal itu. Semua sudah dilakukan suamimu yang terbaik" jawab Ibu.


"Rayi nggak tahu maksudnya Bu" ucap Rayina yang sedikit lemot.


" Ada mbak yang membantu membersihkan rumah, mencuci dan masak setiap harinya. Supir untuk ke kebun saja juga ada. Fasilitas disini juga lengkap karena suamimu yang melakukannya" terang Ibu.


" Bersyukur kamu nduk, dapat suami yang begitu. Kamu jadi wanita harus bakti sama suamimu. Jangan pernah mengecewakannya. Jadilah istri yang selalu istiqomah" ceramah Ibu.


" InsyaAllah Bu, minta doanya. Alhamdulillah kalau Ibu bahagia, nyaman dan aman selama ini" ucap Rayina yang tidak mampu berkata apapun lagi.


Sementara Bapak dan Ayden tengah duduk di serambi teras. Menikmati secangkir kopi desa buatan dari pabrik lokal.

__ADS_1


Anak- anak tengah sibuk bermain di halaman depan rumah. Karena Ayden juga sudah menyiapkan arena bermain untuk anaknya selama menginap di rumah ini.


" Hmm... bagaimana rasanya nak?" tanya Bapak tiba - tiba.


" Rasa??" Ayden sedikit bingung.


" Ya, kopinya??" jawab Bapak heran.


" Ini sangat enak. Original ya pak? " ucap Ayden.


" Hm... alhamdulillah. Bagaimana dengan bisnismu di sana? Dan bagaimana dengan pekerjaanmu saat ini?" tanya Bapak selanjutnya.


" Alhamdulillah Pak. Semua berjalan dengan lancar. Mohon doa selalu dari Bapak dan Ibu untuk kami" jawab Ayden.


" Selalu kalau itu. Mulailah terbuka dengan istrimu. Sepertinya Bapak lihat tadi, kamu tidak mengatakan apapun tentang kami disini. Bahkan kamu tiap hari menelpon bagaimana kabar kami. Rayina saja menelpon tidak setiap hari" ucap Bapak.


" Hehe... Untuk itu, saya ingin dia mengetahui sendiri apa yang saya lakukan. Mengulurkan tangan kanan, lebih baik lagi jika tangan kiri tidak mengetahuinya Pak" jawab Ayden dengan senyuman.


Bapak hanya tersenyum dan memandang menantunya itu dengan penuh kekaguman.


" Gadis kecil itu... memang patut diandalkan!!" celetuk Bapak.


" Istrimu!!" jawab Bapak.


" Ohh... memang kenapa dengannya Pak?" tanya Ayden penasaran.


" Huuuuffff" hembusan nafas Bapak begitu berat.


" Gadis itu selalu dengan mantap menentukan pilihan untuk dirinya sendiri. Dia membuktikan itu semua bahkan di titik terendah dalam hidupnya. Dia mampu berdiri tanpa meminta bantuan kepada kedua orang tuanya. Jikapun dia meminta pasti kami akan mengulurkan tangan, bahkan memeluk erat dengan segala kemampuan yang kami punya" Bapak bercerita panjang lebar.


" Dari menentukan pendidikannya, karirnya hingga jodohnya. Kami tidak mau mencampuri dalam hal ini. Bahkan jodoh yang dia pilih semuanya sangat tepat" ucap Bapak.


" Semua?" tanya Ayden heran.


" Ya, tentu saja kamu dan almarhum ayahnya Ganesh!!" ucap Bapak.


" Ayahnya Ganesh juga sama sepertimu. Bedanya, Ayahnya Ganesh tidak tahu asal usulnya. Dia diangkat anak oleh mantan mertua Rayina. Dia bukan anak kandung orang itu" cerita Bapak.


" Oh..." jawab Ayden singkat.

__ADS_1


" Kebun itu, separuh dari tanah di puncak ini adalah milik Ayahnya Ganesh" ucap Bapak dengan menunjuk salah satu bukit terluas.


" Embb.. Bukankah dia dulu seorang prajurit? Tapi... kenapa??" tanya Ayden penasaran.


" Awalnya begitu. Tapi dia juga berbisnis. Hingga dia di tipu rekan bisnisnya akhirnya bangkrut. Hingga semua aset yang dikota telah dijualnya sampai habis. Dan hanya sisa itu !!" ucap Bapak.


" Lalu... rumah yang dulu di tempati Rayi??" tanya Ayden.


" Itu murni hasil kerja keras anakku. Saat Ayahnya Ganesh sudah tidak mempunyai apapun kemudian disusul dengan almarhum terkena serangan jantung, hingga akhirnya meninggal dunia. Rayina yang bekerja dan mengupayakan seluruh biayanya" terang Bapak.


" Iya.. benar. Dia akan melakukan apapun semampu dia untuk keluarganya. Bahkan kebahagiaannya dia kesampingkan" ucap Ayden.


" Huf... semoga Almarhum diterima amal ibadahnya Pak" ucap Ayden kemudian.


" Amin... Baiklah kapan kita akan ke puncak?? Nanti sekalian mampir ke suatu tempat" tanya Bapak.


" Entahlah Pak. Saya ngikut kemauan Rayi saja. Saya hanya ingin dia bahagia tanpa ada tekanan yang membuatnya kembali jatuh sakit" ucal Ayden sedih.


" Wes... tak apa. Berdoa saja. Semoga diberikan kesehatan, keselamatan, dan kelancaran sampai lahiran. Ibu dan bayi juga dalam keadaan sehat dan selamat" ucap Bapak bijak.


" Amin" jawab Ayden.


" Pak... Kopi ini apakah dari pabrik lokal di daerah sini?" tanya Ayden penasaran.


" Ya... tentu saja!! Kenapa?" tanya Bapak menyelidik.


" Embb.. ada tanah kosong yang dijual tidak Pak? Lokasinya kira - kira dapat dijangkau dengan mudah. Dan bisa menarik wisatawan lokal maupun non lokal. Bisa juga untuk muda mudi yang ingin berkumpul dengan teman - temannya alias kongkow" tanya Ayden.


" Embb.. untuk itu... Bapak belum ada info. Kalau ada untuk apa?"tanya Bapak penasaran.


" Begini, kita bisa kerja sama dengan pabrik kopi ini. Nanti saya akan mendatangkam kopi luar yang juga berpotensi. Intinya buat kedai atau kofee shop" terang Ayden.


" Owalah.. Kafe gitu??" jelas Bapak.


" Bisa seperti itu Pak" jawab Ayden.


" Embb... nanti coba kamu diskusi dulu dengan istrimu. Idemu diterima atau tidak. Sebab yang akan mengelola siapa nantinya?" terang Bapak.


" Embb... benar juga!!" jawab Ayden membenarkan.

__ADS_1


" Ya wes, dihabiskan kopinya. Boy !! Ayo kita masuk, Bunda kalian pasti sudah masak enak ini. Baunya sudah sampai hidung akung" teriak Bapak memanggil dua jagoan kecilnya.


__ADS_2