
" Hiks.. Hiks" tangis Liona.
Walaupun masih dalam terisak, tidak sehisteris saat berada di mobil. Liona sangat sedih mendapatkan berita kematian Papanya.
" Dev, Papa meninggal. Hiks.. Hiks.. sudah tidak ada lagi keluargaku Dev. Aku anak yatim piatu Dev. Dan kita belum mengutarakan keinginan kita kepada Papaku" ucap Liona dalan sesenggukan.
" Sssttt... lalu, kamu pikir aku siapa kamu? Papa, Mama, Abang, Kakak ipar itu swmua siapa kamu? Liona, kami akan selalu ada untukmu. Bersabarlah, InsyaAllah... Papa mendapatkan tempat yang terindah disisiNya. Kamu yang sabar, yang kuat. Okay?" ucap Devran.
" Masih ada aku yang akan selalu ada untukmu" ucap Devran kembali menegaskan.
" Dev, bagaimana urusan administrasi Papa? Dan yang dirumah belum ada. Aku akan menghubungi Pak Mun" ucap Liona gelagapan.
" Sudahlah, tidak perlu memikirkan apapun. Jenazah akan segera sampai dirumah. Sebaiknya kita pulang. Abang yang akan mengurus semuanya. Ayo kita pulang dulu" pinta Devran.
" Abang?? Bagaimana dengan Kakak ipar. Dev, kakak masih mengandung. Takut terlalu capek. Bukankah begitu?" tanya Liona.
" Tenanglah, Kakak ipar sudah dirumah. Abang yang akan menghandle semuanya. Papa dan Mama juga sudah dirumah. Mari Liona" ajak Devran.
Mereka segera pergi dari rumah sakit. Tetapi sesampainya di depan rumah sakit mereka menjumpai abang dan kakak iparnya.
" Lihatlah !! abang sudah sampai. So, jangan pernah merasa sendiri okay?" ucap Devran menenangkan.
Air mata itu tidak ada malunya untuk berhenti. Terus saja mengucur walau hati ingin membendung.
" Bang, tolong bantu Liona" ucap Devrab ketika berpapasan dengan Ayden.
" Ya, jangan khawatirkan semua ini. Aku akan mengurusnya. Jaga Liona dengan baik Dev. Dan kamu tidak perlu membawa mobilmu sendiri. Ada Farhan di depan. Dia akan membawa kalian dan kakak iparmu. Jadi tugasmu menjaga mereka" pinta Ayden.
" Baiklah kak" jawab Devran.
" Singa kecil, semua akan baik - baik saja okay? Stay strong, okay? Kami akan selalu ada untukmu. Ikhlaskan, dan bersabarlah" ucap Ayden menyemangati.
Liona tak dapat berkata apapun. Hanya derai air mata membasahi pipi mulusnya. Segera dia membaur ke pelukan Ayden dan terus terisak.
" Semua akan baik - baik saja okay? Semua sayang kamu singa kecil" ucap Ayden.
" Hm.. thank's bang" ucap Liona.
" Dev, segera pulang. Mama dan Papa menunggu kalian" perintah Ayden.
" Baiklah. Kami pulang bang" pamit Devran.
" Jaga diri kalian baik - baik. Dan tetap waspada. Okay?" pesan Ayden kembali.
__ADS_1
Devran segera memasuki mobil mewah milik abangnya itu. Rayina sudah menunggu diambang pintu mobil. Tak tega melihat wajah Liona yang begitu sedih.
" Liona, semua akan baik - baik saja okay. Bersabarlah gadia kecilku" Rayina menenangkan.
Dipeluknya gadis kecil itu kedalam pelukan terhangatnya. Rayina tidak tega melihat gadis kecilnya yang selalu riang kini berubah menjadi mendung kelabu.
Wajar saja, berita kematian papanya yang sangat mendadak membuatnya sangat beesedih. Bahkan untuk membayangkan bagaimana nantinya dia tidak sanggup.
Liona sudah ditinggalkan Ibu kandungnya dulu. Bahkan, dia tidak mengetahui Ibunya seperti apa. Yang dua tahu hanya melalui foto yang selalu ditunjukkan Papanya.
" Dev, kamu didepan. Temani Farhan. Aku akan dibelakang bersama Liona" ponta Rayina.
Mereka segera menempati posisi sesuai perintah awal dari sang empunya mobil. Dan tanpa membantah Devran segera memposisikan diri.
Didalam mobil Rayina terus menenangkan Liona dengan sabar. Dan dia bahkan sangat paham dan sangat hati- hati dalam berkata. Karena Rayina pernah berada di posisi Liona.
Mobil segera melaju dengan hati - hati. Sesuai dengan arahan sang pemilik. Karena keselamatan bersama adalah yang terpenting.
Rayina segera mengirimkan pesan kepada Ayden. Semua sudah sesuai dengab perintahnya.
Sesampainya di rumah.
" Kak, kenapa dirumah kakak?" tanya Liona yang baru saja menyadari.
Tanpa banyak berkata apapun Devran segera melaksankan perintah kakak iparnya itu. Karena sudah menyaksikan banyak sekali sanak saudara yang hadir dan didepan pintu sudah terparkir mobil ambulans.
"Apakah Om Rony dibawa kerumah ini ya jenazahnya? Entahlah. Tapi banyak sanak saudara yang datang kerumah ini. Mungkin ini perintah Papa!" batin Devran.
Semua orang yang ada di rumah itu berdiri menyambut Liona. Mereka mengycapkan kalimat untuk menenangkan Liona dan bersabar. Liona hanya mengangguk tanpa menjawab sedikitpun. Mulutnyaterasa beku untuk berucap. Badannya seperti lemas tanpa penyangga.
" Liona, semua akan baik - baik saja. Kami akan selalu ada untukmu" ucap Mama.
" Sayang, bawa Liona ke kamar dulu. Lewat pintu samping saja" pinta Mama.
" Papa... " ucap Liona lemah.
" Ya, Mama tahu. Gantilah pakaianmu dulu. Nanti ikut kebawah melihat Papamu. Okay?" pinta Mama.
Liona hanya mengangguk. Mungkin pakaiannya saat ini sudah tidak pantas berada disana. Mengingat dari drama penculikan yang menguras tenaga dan keringat.
Otomatis pakaian itu kotor. Dia segera melangkah gontai dengan di papah Rayina. Dan beberapa mbak yang sudah diberikan mandat tuannya.
Sedangkan Devran menghadap Mamanya untuk menanyakan sesuatu.
__ADS_1
" Ma, apa jenazah Om Rony dibawa kesini? Itu kenapa ambulance sudah sampai sini?" tanya Devran.
" Ambulance memang disediakan disini jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dan kamu ganti pakaianmu. Pergi ke kamarmu !! Kamu masih ada hutang penjelasan sama Mama! Dasar anak nakal" ucap Mama dengan tegas.
" Sorry Ma, baiklah Ma, Dev akan ganti pakaian" ucap Devran.
Devran segera berlalu tanpa ada rasa curiga sedikitpun Devran memasuki rumah dan segera menuju kamarnya. Tapi menurutnya ada yang aneh.
" Kenapa hanya sanak saudara yang menghadiri ya? Tetangga tidak hadir. Padahal Om Rony kan masih satu komplek mansionnya dengan Abang. Hmm, mungkin belum mendengarnya" gumam Devran dalam hatinya.
Devran segera masuk kedalam kamar. Dia segera mandi karena badannya sudah sangat lengket.
Sedangkan Ayden sudah sampai dirumahnya. Dia segera menanyakan keberadaan dua insan yang sedang dilanda kesedihan itu.
Setelah mendapatkan keberadaan keduanya Ayden segera menemui mereka berdua.
" Dev... Dev..." teriak Ayden.
" Abang?? Apakah abang diluar?" teeiak Devran dari kamar mandi.
" Ya. Sudah selesai belum? Abang mau berbicara serius" ucap Ayden.
" Ya bang.. segera. Aku tinggal pakai handuk" ucap Devran dari dalam kamar mandi.
Tak begitu lama pintu terbuka.
Ceklek
" Ya bang. Kenapa? Kenapa wajah abang begitu gusar?" tanya Devran.
Terlihat kegundahan di wajah Ayden saat akan membicarakan sesuatu kepada Devran.
" Dev, kata Papa.." ucap Ayden menggantung.
" Ya bang. Kata Papa kenapa?" tanya Devran penasaran.
" Emb... Begini. Sebelum peristiwa itu terjadi, Om Rony pernah berpesan kepada Papa. Jika saat dia sudah tidak ada, dia ingin anaknya menikah di depannya" ucap Ayden yang bingung menjelaskan.
" Maksud abang... nikah jenazah?" tanya Devran langsung.
" Ya, begitu. Kamu bersediakah?"tanya Ayden langsung.
" Insyaallah Bang. Tapi bagaimana dengan Liona?" tanya Devran yang seperti tidak yakin.
__ADS_1