
Mereka segera masuk ke dalam rumah. Tak sabar mereka menuju meja makan yang sudah banyak terisi dengan beberapa menu makanan.
" Eiiiitttsss!!" ucap Rayina.
" Cuci tangan dulu mas, dan jangan lupa tolong bersihkan badan anak - anak dulu" ucap Rayina lembut.
" Okay sayang" jawab Ayden riang kemudian menoel hidung mungil Rayina.
Bapak dan Ibu yang melihat interaksi antara anak dan menantunya merasa sangat bahagia. Mereka tersenyum dan saling pandang.
" Bapak sudah cuci tangan nduk" ucap Bapak yang sudah mendapat tatapan tajam anak perempuannya.
" Okay cintaku" jawab Rayina riang.
" Bapak duduklah dulu. Rayi mau selesaikan semuanya dulu. Dan kita makan bersama" ucap Rayina lembut.
" Mbak, tolong semua di bawa keluar. Cuci piringnya nanti setelah semuanya makan kita cuci bersama" ucap Rayina kemudian.
" Baiklah Bu" jawab Mbak.
" Bu, apakah yang membantu membersihkan rumah ini tidak datang hari ini?" tanya Rayina.
" Oh.. tidak. Ibu sudah bilang. Akan zda anak Ibu yang datang dari London. Dan kami akan ke rumah puncak. Jadi dia tidak datang hari ini" jawab Ibu.
" Kenapa?" tanya Ibu kembali.
" Ah.. tidak. Rayi hanya ingin berkenalan saja" jawab Rayina.
" Kamu sudah kenal " jawab Ibu santai dan keluar menuju meja makan.
Semua orang tengah riang menuju meja makan yang lumayan cukup besar. Muat untuk sepuluh orang. Ayden melihat bapak mertuanya duduk di samping kanan kursi kepala meja.
" Pak, duduklah disini" ucap Ayden lembut sembari menarik kursi kepala.
" Tidak. Kamu saja yang duduk. Bapak tak duduk disini saja" jawab Bapak yang tak kalah alot.
" Ini rumah bapak. Kami disini hanyalah tamu. Bapak yang menjadi kepala keluarga disini. Jadi duduklah disini" ucap Ayden lembut.
" Duduk saja pak" ucap Rayina menimpali.
" Ah... baiklah. Perkara duduk saja harus begini" gerutu Bapak.
" Ya, kalau di luar negeri kami memang bebas duduk di mana saja. Bahkan Papa dan Mama juga bebas duduk dimana saja yang mereka suka. Tapi, suamiku ini selalu meminta Papanya duduk di kursi kepala. Walaupun itu adalah rumah kami. Kami masih tahu adab dan kesopanan dari negara kami. Walaupun kita merantau di negeri orang" terang Rayina.
__ADS_1
Ibu dan Bapak hanya tersenyum mendengar ucapan anak perempuannya itu. Mereka kemudian mengambil masing - masing tempat duduk.
" Loh, mbak mana sayang? Kok nggak ada?" tanya Ayden.
" Mbak... mbak" teriak Rayina.
" Jangan teriak, sudah Mas cari saja. Sayang duduklah, kasian nanti kecapekan" ucap Ayden.
" Baiklah. Thank you mas" ucap Rayina dengan tersenyum manis.
" Mas, nggak kuat sayang lihat senyum manis ini" gombal Ayden.
" Ohhhh.... " ucap kedua bocah kecil itu.
" Abang, Ayah lebay!!" ucap Ganeshq.
" Yesss !!! right!!" jawab Ben dengan membenarkan.
" Perayu ulung bukan Ganesh?" tanya Ben balik.
" Yaaa... right abang!!" jawab Ganesha cuek.
" Hahaha"
" Hahaha"
" Nduk.. apa kami bahagia?" tanya Bapak tiba - tiba.
" Alhamdulillah... Pak, Bu. Tidak perlu khawatir. Anakmu ini sangat - sangat bahagia. Bahkan berlimpah kebahagiaan. Bapak dan Ibu bisa menilai dan melihatnya sendiri. Kami tidak sedang bersandiwara akan hal kebahagiaan " ucap Rayina panjang lebar.
" Rayi tahu, Bapak dan Ibu khawatir akan hal itu. Itu adalah hal yang wajar. Itu salah satu bentuk kasih sayang orang tua kepada anaknya. Suamiku orang baik, dia memuliakan ibunya dengan sangat baik. Dan aku yakin dia akan mencintaiku dengan segala kekuranganku" celoteh Rayina.
" Jangan ragukan dengan mertuaku. Beliau orang - orang baik. Bahkan orang tua yang sangat baik kepada anaknya. Dan jika Bapak tahu, Papa dan Mama memberikan kasih sayang berlimpah kepadaku. Bahkan terkadang suamiku menjadi nomor dua. Hihihi" ucap Rayina dengan rona merah.
Ayden yang sudah akan kembali ke meja makan mendengar percakapan istri dan mertuanya itu. Dia kemudian memberi kode kepada mbak untuk tetap tinggal diam dan mendengarkan percakapan itu.
" Alhamdulillah... Bapak lega mendengarnya. Semoga kebahagiaan selalu menyertai keluarga kalian nduk" ucap Bapak.
" Aminnn" jawab Rayina dan Ayden yang jalan mendekati meja makan.
" Lohhh... Mas !!" ucap Rayina kaget.
" Hehehe... Maaf. Mengagetkan dan mengganggu percakapannya" ucap Ayden.
__ADS_1
" Dengar juga tak apa Mas. Memang kenyataannya begitu" ucap Rayina.
" Kenyataan?" pancing Ayden.
" Wes... sudah.. ayo kita makan. Abang... pimpin doanya " perintah Bapak kepada Ben.
" Siap kung" jawab Ben mantap.
"Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannar"
"Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka"
" Amiiin" jawab serentak.
Dimulai dari Ibu yang menuangkan nasi untuk Bapak. Dilanjutkan dengan Rayina menuang nasi untuk suaminya. Selanjutnya untuk anak - anaknya.
" Bu, biarkan saya saja. Ibu ambil saja untuk Ibu. Anak - anak tanggung jawab saya" ucap Mbak.
" Baiklah... Sayang, sama mbak ya?" tanya Rayina kepada kedua jagoannya.
" Sama siapa saja okey !!" jawab Ben.
" Good boy !!" ucap Ayden dengan mengacungkan jempol.
" Okay.. okay... sekarang tolong mbak cepatlah sedikit. Kami tidak sabar, terlalu lama menahan lapar ini " rengek Ganesha yang sangat menggemaskan.
" Baiklah.. baiklah... Bos - bos kecilku. Mbak akan ambilkan dengan cepat. Tolong, apa saja yang akan kalian ambil.Maka semua juga akan cepat masuk kemulut kalian bukan?" ucap Mbak menjawab.
" Right !!" jawab Ganesha dan Ben serentak.
" Mbak.. I want ... ini.. itu.. itu.." suara riuh kedua jagoan itu.
Bapak dan Ibu hanya tersenyum dan menikmati makanan itu dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata - kata.
Sedangkan Ayden hanya tertawa dan menggeleng dengan tingkah kedua jagoannya. Setiap hari mendengar celotehannya dan bahkan terkadang perselisihannya yang membuat suasana menjadi riuh dan hangat.
" Mbak... makanlah. Terimakasih sudah menhambilkan makanan untu kami " ucap Ben.
" Sama - sama sayang. Makanlah yang banyak dan ingat pelan - pelan, janhan terburu - buru. Tidak akan ada yang mengambil makanan kalian" pesan Mbak.
Tak kuasa mata tua itu sedikit berembun. Melihat apa yang dilihatnya sendiri. Tanpa ada cerita dari siapapun. Anak dan menantunya sangat bahagia. Kehidupannya sangat berwarna. Nikmat mana lagi yang Tuhan dustakan.
Doa - doanya dikabulkan sang Khaliq untuk kebahagiaan putrinya itu. Bahkan mendidik anak- anaknya dengan sangat baik. Mereka juga mengajarkan sopan santun kepada yang lebih tua. Bahkan kepada pekerja mereka juga memperlakukan dengan baik.
__ADS_1
Seorang lelaki sukses dengan pekerjaannya yang mentereng. Memiliki kekayaan yang tidak dapat disebutkan. Di dampingi seorang istri cantik nan soleha. Dilengkapi dengan dua jagoan kecilnya yang membanggakan. Apa lagi yang didustakan dariNya.
Bahkan materi yang tiada hentinya mengalir deras. Dibalik semua itu ada doa kedua orang tua yang selalu mendoakan tanpa pamrih dan selalu tulus. Dan seorang anak yang selalu memberikan kebahagiaan untuk orang tuanya.