
Mereka berda hanya salig menatap tanpa ada pembicaraan selanjutnya.
" Mass... " ucap Rayina membuyarkan pandangan.
" Ahhhh... iyaa sayang " jawab Ayden gelagapan.
" Kapan Mama dan Papa menemui Om Rony? " tanya Rayina kembali.
" Saat kamu menyuruh mereka liuran ke hotel. Sebelum berangkat ke hotel mereka menemui Om Rony. Sekaligus melamar putrinya secara langsung untuk mantan cassanova kita. Dan untuk peresmiannya mereka juga sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tetapi karena bumilku ini antusias memberikan surprise untuk mereka, so... jadilah mereka melimpahan semua kepadaku" terang Ayden.
" Begitu ya mas. Baiklah kalau begitu mari kita siapkan semuanya" ajak Rayina.
" Emmm.... emmmm...emmm. Bumil tenang saja semua sudah beres. Persiapkan unu dirimu sayang. Karena akan ada kejutann yang sudah aku persipkan untuk dirimu. Berdandanlah yang cantik untuk malam ini " ucap Ayden santai.
" Malam ini?? Maksud mas?? Acara pertunangan itu malam ini??" pekik Rayina seraya bertanya kejelasan kepada suaminya.
" Ya sayang, to night !! Pesta itu akan diadakan malam ini " jawab Ayden jelas.
" Ohhh God !! Mas, kenapa mas tidak mediskusikan dulu semua ini kepadaku?? Mas kan jadi kerepotan. Padahal semua ini ideku, tetapi kenapa malah menjadikan in semua kejutan untukku!!! Hufff " ucap Rayina bersedih.
" Ooh sayang, sorry. Tapi mas tidak mau melihatmu lelah. Dan mas juga hanya meminta semua pihak yang sudah aku tunjuk untuk menyiapkan semua ini. Dan lihatlah semua vendor sudah datang untuk melihat dan langsung mengerjakan " terang Ayden.
Rayina hanya diam mendengarkan penjelasan suaminya. Apa yang dikatakan suaminya memanglah benar adanya. Semua juga akan memakan waktu dan tenaga jika dikerjakan sendiri. Apalagi dengan keadaannya yang berbadan dua. Eh... ralat berbadan tiga.
" Oohhh sayang... Are you sadness?" yanya Ayden dengan penuh cinta.
" Sorry sayang, baiklah mas salah dalam masalah ini. Tapi mas tidak bisa melibatkan kamu untuk hal ini. Mas juga tidak mengerjakan sendiri. Mas meminta beberapa pihak WO dan banyak orang yang mas percaya untuk terlibat dalam acara ini. Mas hanya memantau dan menggerakkan mereka jika ada sesuatu yang kurang ataupun di butuhkan" terang Ayden kemudian.
Ayden hanya mengamati wajah istri cantiknya yang murung dengan semua ini. Ayden paham, mungkin karena faktor kehamilannya yang membuat mood nya naik turun dan tidak bisa dikendalikan.
" Sayang... " ucap Ayden lembut.
__ADS_1
Di tarik dan direngkuhnya badan yang muali sedikit berisi itu kedalam pelukannya. Dikecupnya ujung kepalanya dengan penuh kasih.
" Sayang, mas minta maaf. Mama yang menyuruh mas, agar kamu tidak repot - repot mengurus semua ini. Dan Papa tidak mengijinkan kamu untuk membantu menyiapkan ini. Papa hanya memintamu pendapat apa yang kurang dan apakah sudah baik dan cantik. Semua juga untuk kebaikanmu. Dan... anak kita. Untuk acara kenapa malam ini, Om Rony dan Papa sudah menyiapkam beberapa surprise sebelumnya untuk mereka sebelum sampai dirumah. Kita hanya menjadi penonton" ucap Ayden.
" Hiksss" isak tangis bumil mulai membuncah.
" It's okay sayang. Menangislah jika membuatmu merasa lega. Okay?" ucap Ayden dengan mengelus kepala dhingga punggung istrinya.
" Maaf mas, aku mengira. Aku tidaklah penting untuk kalian. Pendapatky tidak lah penting untuk acara ini. Jadi aku merasa aku tidak dibutuhkan. Aku akan menjadi tamu undangan untuk acara ini " keluh kesah Rayina.
" Bagaimana mungkin ide dari dirimu tetapi kamu tidak dibutuhkan. It's a bullshit !! So, kamu disini adalah jurinya. Jadi semua keputusan ada padamu. Biarkan mereka semua bekerja. Jangan persulit mereka. Dan kita nikmati hari ini di kamar okay?" ajak Ayden lembut.
" Mas.. anak - anak?" tanya Rayina.
" Haduhhh !!! Bagaimana mungkin istriku lupa dengan mereka? Bukankah tadi sudah sarapan bersama dan mereka segera berangkat sekolah?" ucap Ayden.
Ya, tadi saat Ayden menjelaskan dan menerangkan, anak - anak sudah berada pada kursinya dan segera mengambil sarapan. Tetapi karena Rayina sangat berpikir untuk hal ini jadi dia tidak fokus dengan gerakan badan dan pikirannya.
Anak - anak yang sudah menghabiskan sarapannya segera berangkat sekolah. Untuk Ganesha setiap pagi selalu mengantarkan abangnya berangkat. Sehingga mereka selalu bersama. Saat mereka berpamitan Rayina seperti melayang dengan pikirannya sendiri dan tidak menyadari akan sekililingnya.
" Hehe.. tadi mungkin waktu aku melamun ya mas? Jadi aku tidak merespon segala yang ada di sekitarku. Kenapa aku jadi sensitif begini ya mas? " tanya Rayina.
" Ya sudah lah sayang. Mungkin karena hormon kehamilanmu yang membuat mood kamu berantakan. Aku memakluminya. Dan... terimakasih sudah mau mengandung anakku " ucap Ayden dengan mengecup kening Rayina.
" Terimakasih juga sudah menjadi suami siaga untukku dan anak - anak kita" jawab Rayina dengan segera menenggelamkan kepalanya di dada bidan sang suami.
" Sayang, bolehkah aku menjenguk twin?" pinta Ayden.
" Ihh.. mas, ini amsih jam berapa? Bukankah sudah?" tanya Rayina.
" Emmmbbb boleh ya? " rayu Ayden.
__ADS_1
" Masss !!!" ucap Rayina tegas.
" Baiklah jika kamu tidak mengijinkan. Ayo kita kembali ke kamar. Istirahat saja kalau begitu. Persiapkan dirimu juga untuk nanti malam. Mas takut akan menyita seluruh tenagamu" ajak Ayden.
" Lihatlah, badanmu sungguh ringkih. Perutmu sudah mulai menonjol sekarang. Mas takut jika akan menyita seluruh tenagamu jika berlama - lama dalam kegiatan" ucap Ayden kembali.
Entah kenapa, Rayina merasakan bahwa suaminya yang pendiam dan tidak banyak bicara kini menjadi lelaki yang sangat cerewet menurutnya. Semua yang akan dilakukan Rayina harus sudah ada ijin dari suaminya itu.
Walaupun Rayina tidak merasa risih dengan perlakuan suaminya itu, tapi dia merasa ada yang berbeda. Suami yang dulunya introvert kini menjadi bawel dan bahkan sangat cerewet seperti Ibunya. Rayina hanya tersenyum melihat kecerewetan suaminya itu.
" Kenapa hanya tersenyum?" tanya Ayden penasaran.
" Sedari tadi mas bicara panjang lebar. Kamu hanya mrnjawab dengan senyuman saja. Apakah mas lucu?" tanya Ayden.
" Ah... jadi kangen dengan Ibu" celetuk Rayina.
" Ibu??" pekik Ayden.
" Hmm" jawab Rayina singkat.
Segera Rayina melangkahkan kakinya dan ngeloyor begitu saja melewati suaminya. Ayden merasa heran dengan bumil satu ini.
" Istriku kenapa ya? Moodnya sangat berantakan!! membuatku bingung saja !! apakah semua ibu hamil akan seperti ini?? Arrghhh" teriak Ayden dalam hati.
Ayden segera mengikuti langkah kaki istrinya yang pendek itu. Dia dengan mudah menjangkau langkah kaki istrinya.
Segera dia menggendong Rayina dan membawaya kedalam kamar. Rayina hanya tersipu malu dengan perlakuan Ayden. Karena seluruh orang rumah sudah menyaksikan drama adegan ini.
" *Ihhh bapak sama ibu memang oasangan yang ideal ya " bisik salah satu mbak.
" Iya.. iya.. aku juga pinginn ihh seperti itu" jawab mbak lainnya.
__ADS_1
" Ahhh so sweet lah. Kek macam drakor tu. Nak lah kek begitu " bisik mbak yang lain lagi*.
Kasak - kusuk itu masih terdengar jelas sampai ketelinga Rayina. Bukan karena dia berusaha menguping. Tapi seluruh mata yang ada dirumah itu menyaksikan drama adengan itu dengan antusias. Bukan berbisik tapi lebih berteriak tepatnya, mereka membicarakan tuan dan nyonyanya.