
Rayina kemudian kembali ke kamarnya dan mengambil kotak obat yang ada di kamarnya. Walaupun di luar juga ada kotak obat. Tetapi karena jarak antara kamar dan letak kotak obat lebih dekat di kamarnya.
" What happend sayang ( Apa yang terjadi sayang) ?" Ayden terbangun karena Rayina terburu - buru untuk mengambil kotak obat tersebut sehingga menimbulkan bunyi berisik.
" Papa jatuh dari kamar mandi mas" jawab Rayina dan segera berlalu.
Rayina sesegera mungkin mempercepat langkahnya. Papa mertuanya masih dengan wajah meringis menahan kesakitan. Sesekali mencoba berdiri agar dirasa hilang sakitnya. Tapi ternyata malah membuat yang memandang menjadi ngilu.
" Papa, stop it! Papa hati - hati. Kaki Papa terkilir. Jangan bergerak dulu. Takutnya makin menggeser ototnya" pinta Rayina.
" Sayang.. owchhhtt!!" teriak Papa dengan meringis.
Terdengar langkah kaki jenjang yang terdengar terburu - buru masuk ke kamar Papa.
" Papa!! what happend? dimana yang sakit Pa?" tanya Ayden khawatir.
" Mas, diamlah. Bantu Papa ke atas tempat tidur. Aku akan mencoba mengobatinya sendiri" ucap Rayina.
" Are you sure sayang? Ayo kerumah sakit saja Pa. Aku rasa kaki Papa harus di gips" pinta Ayden.
" No, boy. I try it " jawab Papa dengan menunjuk obat yang dibawa Rayina.
Rayina sudah menggenggam sebuah obat yang terbukti khasiatnya. Dia juga pernah mengalami hal yang sama ketika terkilir. Dan woo haaa ... hasilnya menakjubkan.
" Okay, slowly sayang. Pelan - pelan. Papa terlihat sangat sakit" ucap Ayden.
Sang Mama hanya bisa menangis melihat kesakitan suaminya yang terlihat menahan sakit itu. Air Matanya tak terbendung menyaksikan pemandangan itu. Lelaki yang dicintainya tidak pernah merasakan sakit seumur hidupnya, kini dia cidera.
Hati istri mana yang tega dengan kesakitan yang dirasakan suaminya. Ayden hanya bisa melihat betapa besar cinta Mama dan Papanya. Di saat sakit hanya saling menguatkan satu sama lain.
Ayden memahami jika Mamanya sangat sedih. Terlebih melihat Papanya yang kesakitan menahan rasa sakitnya.
" Are you ready Papa?" tanya Rayina.
Tanpa mengucap apapun Irfan hanya mengangguk tanda mengiyakan.
" Rayi akan memulai dengan pelan Pa" ucap Rayina.
" Bismillahhirrohmannirrohiim" doa yang diucapkan Rayina.
Rayina segera mengolesi salep anti slip otot ke kaki Papa mertuanya. Kemudian Rayina juga menurut bagian yang tidak sakit. Agar peredaran darah bisa lancar.
Setelah dirasa semua otot mengendur dan pusat sakit mulai berkurang dia mengoleskan lagi salep anti slip ototnya ke pusat sakit dan daerah bagian lainnya.
__ADS_1
Bagaimana rasa salep itu? Awalnya terasa sejuk seperti mint selanjutnya jangan ditanya bagaimana hot nya rasa salep itu.
Rayina terus mengurut kaki mertuanya dengan penuh kelembutan dan penuh kasih sayang. Dia melakukan dengan sangat hati - hati.
Irfan yang tadinya meringis menahan sakit, wajahnya kembali berubah agak relax. Rayina melihat perubahan mimik wajah itu
Irfan juga memperhatikan tindakan menantunya itu sesekali membuat trenyuh, sehingga tak sadar mata tuanya berembun dan mengeluarkan bukir bening.
Rayina melihat Papanya menangis dia langsung menghentikan kegiatannya. Kemungkinan Papanya emrasa kesakitan ketika diurut.
" Sorry Papa. Apakah sakit sekali?" tanya Rayina khawatir.
" Tidak. Lanjutkan sayang" jawab Irfan dengan mengusap pipi menantunya.
" Tapi Papa menangis, Rayi takut itu sangat sakit" jawab Rayina.
" Tidak sayang, itu membuat relax Papa. Tenanglah, dan lanjutkan jika belum kamu selesaikan" pinta Papa lembut.
" Baiklah Pa, tahan sedikit. Rasanya memang sangat sakit tetapi Insyaallah Papa akan bisa berjalan seperti sedia kala" ucap Rayina.
Rayina kemudian mengurut dari atas sampai bawah pangkal dan kemudian menarik pangkal esel kaki ke lain arah. Dan terjadi insiden...
" Kretakkkk" bunyi suara otot dan tulang yang bersamaan.
Bagaimana para penonton yang berada disitu. Mama dan Ayden tentunya. Terkejut? Sudah pasti, mereka sangat terkejut dengan sensasi bunyi yang ditimbulkan.
Ayden dan Mama pun merasa ngilu dan ikut merasakan sakitnya ketika mendengar teriakan Papa. Devran yang tengah berjalan akan masuk kekamarnya mendengar teriakan Papanya yang seperti kesakitan. Dia kemudian lari tunggang langgang menuju sumber suara.
" What happend?" tanya Devran.
Seketika Ayden dan Mama menjentikkan jari kedepan mulut masing - masing. Pertanda menyuruhnya untuk diam tanpa bersuara it's mean silent ( itu berarti diam).
" Auuuuchhhhhttt, sorry Pa... try it in the floor ( coba pijakkan kaki di lantai)" pinta Rayina.
" Oh... scarry sayang ( menakutkan sayang)" rintih Papa.
" Pelan - pelan Pa, Rayi bantu okay?" ucap Rayina lembut.
Hanya dengan anggukan Papa melakukan perintah Rayina.
" Uuuhhh... " lenguhan nyeri masih sedikit.
" Pelan Pa, jangan dipaksakan terlalu keras" perintah Rayina.
__ADS_1
" Are you okay? " tanya Rayina.
" Yeah.. mulai sedikit nyaman" jawab Papa dengan senyum mengembang.
" Okay, jalankan kaki Papa dengan sangat pelan dan hati - hati" pinta Rayina.
Irfan kemudian mencoba berjalan sesuai dengan arahan dukun pijit amatiran itu. Hihihi bagaimana tidak, tetiba ada tukang pijit dadakan. Tetapi sukses dalam pekerjaannya walaupun amatiran.
" Ohh.. sayang.. this like magic ( ini seperti sulap)" ucap Papa.
Semua yang melihatnya tersenyum merekah. Rasa khawatir hilang seketika. Ketika mulut sang pesakitan mengatakan hal demikian.
" Really Papa? okay Papa jalan pelan, aku akan melepaskan pegangan tanganku" ucap Rayina.
" Okay" jawab Irfan.
Irfan segera mencoba berjalan dengan sangat hati- hati. Dan... wooo haa.. alhasil rasa sakit yang teramat sakit sudah hilang. Tetapi nyeri sedikit masih ada. Maklum butuh proses dalam penyembuhan.
" Masih sedikit nyeri sayang" keluh Papa.
" Tidak apa - apa Pa, Papa istirahatlah. Hati - hati kalau belajar berjalan. Dan Papa bisa mengoleskan salep ini agar nyerinya memudar. Okay?" perintah Rayina seraya memapah Irfan menuju tempat tidurnya.
" Thank you sayang, bagaimana Papa berterima kasih kepadamu? Kamu selalu ada dan siap saat dibutuhkan. Apapun bisa kamu lakukan. Bahkan diluar dugaan kita semua. Papa makin kagum denganmu sayang. Ayden! jaga wanita lemited edition ini. Dia sangat langka. Hahaha" canda Irfan.
Semua yang ada diruangan tertawa terbahak - bahak.
" Papa aku akan mengoleskan obat luka ini. Sedikit perih tapi luka Papa akan segera sembuh" ucap Rayina.
Rayina selalu membawa obat merah dari china yang dia beli di Indonesia. Dia selalu membawa kemanapun dia pergi. Karena lecet atau tergores itu adalah hal umum yang akan terjadi ketika mengalami kecelakaan. So, dia menyiapkan itu semua.
" Waooowww" teriak Irfan.
" Perih sekali memang Pa. Tapi langsung kering luka Papa" Rayina dengan meniup - niup luka yang dia olesi obat merah tersebut.
" See, lihatlah Pa. Luka Papa sudah mengering" pinta Rayina.
" Waoww.. magic" jawab Irfan.
" Dimana kamu membeli semua obat itu sayang? Belilah lagi untuk persediaan dirumah ini" perintah Irfan.
" Sudah Pa, Papa tenang saja" jawab Rayina.
" Oh.. Ya.. Ma, nanti Papa harus minum paracetamol agar rasa nyerinya hilang dan Papa bisa beristirahat dengan nyaman. Ini obatnya" ucap Rayina.
__ADS_1
Semua orang saling pandang dan saling menatap. Rayina melihat hal itu sangat aneh. Kenapa saling tatap dan saling pandang. Apakah ada kesalahan? Atau adakah yang tidak cocok untuk semuanya? atau perkataan Rayina yang salah?