
" Mas,, ternyata itu adalah pesan dari Aleesha yang dia tuliskan sebelum dia meninggal, Bagaimana keputusan mas kali ini ?" terang Rayina.
" Ya.. sudah kuduga. Tebakanku benar. Right??" ucap Ayden.
" Dia menyelipkan foto Ibu Ben dan dia juga menuliskan sesuatu di sini Mas" ucap Rayina kembali.
"Aleena, my son is yours. Whatever happens, please take care and raise my child like your own. Take care of him and give him complete affection ( Aleena, anakku adalah anakmu. Apapun yang terjadi, tolong rawat dan besarkan anakku seperti anakmu sendiri. Jaga dia dan berikan kasih sayang seutuhnya)"
" Foto ini??" ucap Ayden menggantung.
Rayina tidak bertanya apapun. Dia hanya menunggu penjelasan Ayden. Penjelasan yang akan membuatnya semakin penasaran dengan kejadian yang belum diketahuinya.
Rayina hanya mengernyitkan dahinya. Terasa berpikir keras dengan apa yang akan di bicarakan suaminya itu.
" Foto ini sepertinya sebelum Ben lahir. Ini di London. Dan dia bertemu di taman di dekat appartemen yang kami tinggali dulu" papar Ayden.
" Kenapa aku tidak tahu dia menemuinya? Dia selalu tidak pernah ijin kepadaku. Keluar rumah hanya sebentar pun tidak meminta ijinku. Bahkan aku sedang ada dirumah, dia selalu begitu" terang Ayden kembali.
" Mas, sudahlah.. itu masa lalu. Aleesha juga sudah tenang di alamnya mas. Sekarang kita selidiki tujuan selanjutnya dari Aleena. Emb.. bagaimana kalau kita pancing saja. Biarkan saja dia menemui Ben. Tinggal aku yang menambah pemutakhiran alat buatanku" ucap Rayina.
" Good idea sayang, okay.. we go home now. Right?" tanya Ayden.
" Huum mas.. " jawab Rayina.
Selama perjalanan Rayina memikirkan dan mengotak- atik semua rekaman yang ditangkap jam tangan Ben. Kemudian dia segera mencerna dan memikirkan langkah selanjutnya yang akan dia lakukan.
Sementara Ayden masih mengemudi dengan serius. Ayden pun masih berpikiran tentang surat dan tujuan kedatangan Aleena.
'Kenapa setelah 8 tahun baru muncul kembali? Apa ada maksud lainnya? Sepertinya ada yang tidak beres' batin Ayden.
Setelah sampai mansion, semua kalut dalam pikiran masing - masing. Sedangkan Ben sudah mempunyai jawaban atas masalah yang akan terjadi.
Tentu saja Ben sudah tahu langkah apa yang akan dia lakukan. Tetapi sesuai dengan arahan dari orang tuanya.
Mama dan Papa sudah menunggu kabar yang akan disampaikan. Apa yang terjadi dengan cucunya. Semua deretan pertanyaan sudah ada di ujung mulutnya. Tetapi melihat dua orang dewasa dalam diam dan nampak berpikir sesuatu, maka Irfan mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Sedangkan makhluk kecil yang dari tadi memeperhatikan gerakannya seolah tahu apa yang akan di tanyakan orang tua itu. Tentu saja tahu, karena Ben sudah lama dibesarkan dan diasuh oleh dua orang tua ini.
" It's okay Atuk. Don't worry lah..." ucap Ben kepada Irfan untuk menenangkannya.
__ADS_1
" Are you really son?" tanya Irfan kepada Ben.
" Yes, of course. Will be okay" jawab Ben kembali.
" Okay, go to your room now and let's go eat then" perintah Opah kepada Ben.
" Okay opah. Thank you so much. And I love you " ucap Ben begitu manisnya kepada Opahnya.
" Ahh... anak ini selalu membuatku hangat.. I love you too.. and the moon and the back" jawab Opah.
Rayina segera masuk ke kamarnya, diikuti oleh suaminya yang berjalan mengekorinya. Rayina segera masuk ke kamar mandi dan dia segera mandi. Setelah ritual mandinya itu dia segera ambil air wudhlu.
Setelah itu dia segera menjalankan sholat sunahnya. Hanya ingin mendapatkan ketenangan hati dan ingin mengaduh dengan segala keluh kesahnya.
Dihatinya saat ini hanya tersimpan berbagai pertanyaan dan berbagai keluhan. Dia menyimpan serapat mungkin rasa yang entah apa itu namanya terhadap suaminya itu.
Dia berharap denga berserah diri kepada Sang Khaliq akan mendapatkan ketenangan hatinya.
Setelah dia melaksanakan ibadahnya itu, hatinya terasa sejuk kembali. Tidak segusar sebelumnya. Bahkan untuk berpikiran negatif terhadap suaminya itu sudah tidak seperti tadi sebelum bersujud kepadaNya.
" Astaghfirullahhaladzim" ucapnya terperangah.
" Why sayang?" What happen?" tanya Ayden.
" Oh.. Mas.. Papa sama Mama kok kita cuekin sih? Aku merasa melupakan mereka berada di rumah ini" ucap Rayina.
" It's okay sayang. Don't worry. Mereka pasti sudah tahu keadaan kita dan mengerti situasi yang terjadi saat ini. Bos kecilnya pasti sudah mengadu kepadanya" terang Ayden kepada Rayina.
" Bos kecil?" tanya Rayina tidak paham.
" Hm.. you know lah.. Kelinci kecilmu itu.. Siapa lagi" jawab Ayden santai seraya memilih pakaian.
" Mas, ini sudah aku siapkan. Go away, Sholat first. Biar hatinya tenang dan kita bisa memecahkan masalah ini bersama - sama" terang Rayina yang menenangkan hati Ayden.
" Baiklah sayang. Terimakasih sudah menjadi wanita yang sabar kepadaku" puji Ayden.
" Sama - sama mas, saya juga masih belajar dan terus belajar" jawab Rayina.
" Mas, saya keluar dulu. Saya akan menjelaskan kepada Papa dan Mama. semoga beliau tidak khawatir kepada kita" ijin Rayina.
__ADS_1
" Okay lah. Aku akan segera menyusul" jawab ayden.
Setelah itu Ayden segera memposisikan dirinya untuk menghadap Sang Pencipta, sedangkan Rayina segera keluar kamar.
Dia mencari sosok lelaki tua dan wanita yang sangat dia hormati. Dia berharap kedua orang tua itu tidak khawatir terhadap keadaan ini. Dan tentu saja meminta pendapat dan persetujuan beliau.
Rayina mendatangi sebuah kamar yang tak lain adalah kamar mertuanya yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Dia kemudian memberanikan diri untuk mengetuk pintu itu.
Ketika akan mengetuk pintu itu sesosok wanita paruh baya datang dan menegurnya.
" Sayang, what happen. Can I help you?" tanya Mama.
" Oh, Mama. Emb.. Where is Papa now? And We can go to working room my hubby Ma?" pinta Rayina Ragu.
" Ya, tentu saja sayang. Sebentar Mama panggilkan dan kita akan bertemu di ruang kerja suamimu" jawab Mama.
" Thank you mama. And I love you so much" ucap Rayina dan segera memeluk dan mencium sang mertua.
Mama mertuanya begitu bahagia mendapatkan perlakuan manis dan kesopanan menantunya itu. Karena dia tidak pernah mendapatkan hal semanis itu dari menantu yang sebelumnya. Dia hanya menginginkan kebahagiaan anaknya untuk memilih pilihan hidupnya. Yaitu menikah dengan wanita pilihannya.
Ya, tentu saja hanya desahan kecil dan senyuman yang terukir manis di sudut bibirnya. Sehingga ketika dia masuk kedalam kamar dan dijumapi suaminya sedang memandanginya. Dia akan mengatakan apa yang terjadi, tetapi ...
" Aku sudah tahu perlakuan apa yang menantumu berikan untukmu Ma" ucap Irfan kepada istri tersayangnya itu.
" Ya, bahkan aku belum mengatakan apapun kamu sudah tahu bukan?" papar Mama.
" Ya, of course Ma. Kamu begitu bahagia saat diperlakukan demikian terhadap menantumu itu. Itulah sebabnya, aku memberikan ijin kepada bajingan kecil itu menikahinya. Dan lihatlah perubahan rumah ini. Bahkan sampai isian rumah ini " terang Irfan.
Hai... hai.. hai...
I'm come back again...
Maaf ya.. baru up lagi.. Banyak kesibukan yang terjadi dan baru recovery badan yang remuk redam.
Di masa ini jangan sampai readers melupakan kesehatan ya.. jaga kesehatannya dan jangan lupa jaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kegiatan. Jangan lupa handsanitizer selalu ada ya..
Jangan lupa like, vote dan comen nya ya...
Thank you my readers ...
__ADS_1
💕💕💕💕💕❤❤💗