
Rayina tersenyum mendengar mertuanya bercerita dan tak kalah menariknya mereka mengomeli Ayden yang selalu membuatnya sebal.
Rayina sangat bersyukur mempunyai suami dan mertua yang sangat menyayanginya. Dia kemudian mengambil spot foto tamannya. Taman yang penuh dengan bunga dan itu sangat cantik.
Saat akan membidikkan kameranya, tertangkap seseorang sedang mengendap - endap. Dia tersadar tidak mengenalinya. Seluruh pekerja yang bekerja di rumahnya dia sangat hafal, bahkan sampai batang hidungnya dia mengenal satu persatu.
" Mas..." panggil Rayina.
Panggilan itu membuyarkan canda tawa semua yang ada di gasebo.
" Teruskan bercandanya, jangan pernah sedikitpun ada gerakan yang terlihat aneh. Ada orang asing yang sedang memata - matai kita!!" perintah Rayina.
" Mas... mendekatlah. Kita mainkan peran. Berlagak selfie, dan Mas aktifkan pengaman. Paham kan maksudku?" pinta Rayina.
" Okay sayang. Sesuai titah tuan putri. Mari kita berjalan ke taman sayang. Kita selfie dengan taman bungamu yang cantik ini" teriak Ayden agar si penguntit mendengarkan.
" Mas... kita videokan ya??" ucap Rayina.
" Of course sayang" jawab Ayden.
" Mas... dia masih ada. Ranjau sudah siap?" tanya Rayina.
" Ready sayang" jawab Ayden.
" Jangan terlalu besar tegangannya Mas. Kita bisa mendapatkan informasi darinya" ucap Rayina mengingatkan.
" Oke sayang!! Siap?? Mulai bidik!!" pinta Ayden yang bersandar di bahu istrinya dan berbisik di telinganya.
Sekilas, sambil menyelam minum air. Ayden mengecup telinga istrinya dengan sensual. Dan itu membuat Rayina geli. Sedangkan dia masih fokus dengan si penguntit.
" Aaaa...aaa..." teriak seseorang.
Semua pekerja yang berada di mansion segera mencari teriakan itu. Mereka sudah tahu apa yang terjadi. Sehingga tidak ada satupun orang yang berani mendekat.
" Tuan..." lapor salah satu Mbak.
" Iya Mbak. Saya sudah tahu. Nanti Farhan yang mengurusnya!!" jawab Ayden santai.
" Mas... cukup !! Dia sudah pingsan" ucap Rayina.
Ayden kemudian mendial nomor Farhan dan segera memerintahkan untuk ke taman kolam renang. Dan tak menunggu waktu yang lama. Farhan segera tiba di taman. Tanpa bertanya kepada tuannya dia langsung menelisik keseluruh penjuru.
" Buang ke bawah tanah !!" perintah Ayden bengis.
" Mas...!! Jangan Farhan. Ruang biasa. Introgasi" pinta Rayina membenarkan.
Artinya jika sudah berada di ruang bawah tanah. Berarti dia tidak akan mendapatkan ampunan. Dan tentu saja akan menghabisi orang tersebut.
" Farhan !!! Siapkan Heyna!!" perintah Ayden.
" Mas??" Ucap Rayina dengan mata meminta penjelasan.
" Kamu mau ikut atau mau menyaksikan dari layar?" tanya Ayden santai.
" Bolehkah aku ikut?" pinta Rayina.
" Tentu !! Akan aku kenalkan juga denganmu" ucap Ayden menjadi dingin.
__ADS_1
Rayina segera di dudukkan ke kursi roda. Ayden tidak mau mengambil resiko jika istrinya berjalan kaki. Irfan yang melihat langsung tidak heran jika anaknya berbuat demikian.
" Selamat datang pemimpin baru!! Inilah bisnis yang sebenarnya!" ucap Irfan diikuti senyuman.
" Pa..." ucap Mama takut.
" Doakan saja sayang. Semua berjalan dengan lancar dan baik - baik saja. Jangan ragukan anak - anak kita. Bahkan lihat sekarang disisinya. Ada wanita tanggung yang mendukungnya!" ucap Irfan.
"Ayo kita ikuti mereka! Vero, kau mau bergabung dengan kami atau kau masih akan menikmati tehmu?" tanya Irfan santai.
" Bolehkah aku bergabung saja?" pinta Vero.
" Of course nyonya Rony" jawab Irfan menggoda.
Blush
Pipi wanita cantik itu kini menjadi merah menahan malu. Ya, tentu saja yang menggodanya adalah kakak dari orang yang dimaksud.
" Kenapa pipimu merah Vero? Apakah matahari terlalu terik hari ini?" timpal Mama menggoda.
" Kakak..." ucap Vero sebal.
" Hahaha..." tawa Irfan dan istrinya.
Mereka segera bergegas ke ruangan yang di maksud. Ayden sengaja membawa masuk ke kamarnya. Karena dia akan melewati lift yang tidak terlalu lama menempuh waktunya.
Setibanya di ruangan itu. Rayina masih melihat bagaimana si penguntit terkulai lemas akibat sengatan listrik yang sudah dipasangnya.
Diamatinya wajah itu, Farhan terlebih dulu membuka penutup kepalanya yang menutupinya hingga sampai muka. Alias topeng kepala.
" Hmm... siapa? Bisnis atau??" tanya Ayden penasaran.
" Bisnis. Ya... bisnis. Dia pernah datang ke kantor!" ucap Rayina memastikan.
Rayina segera mengambil ponsel dari saku bajunya. Difotonya penguntit itu dan kemudian dia kirimkan kepada Liona.
Sang pengantin baru memang sengaja tidak mengambil cuti dan menyelesaikan semua pekerjaannya dengan cepat. Agar bisa honeymoon dengan tiket yang diberikan Ayden.
Di sebuah gedung pencakar langit. Ya, kantor megah nan mewah kini ada dua pasang sejoli yang sudah sah menjadi suami istri. Saat ini sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan masing - masing.
📩 Kakak ipar
Sebuah foto seseorang
Liona membuka ponselnya karena baru saja ada notifikasi yang masuk. Segera dibukanya.
" Kakak? Foto?" gumam Liona.
" Siapa?" tanya Devran yang mulai over protektif.
" Kakak ipar " jawabnya singkat.
" Mas.. sepertinya kita pernah melihatnya bukan?" tanya Liona tiba - tiba.
" Melihat siapa?" jawab Devran acuh.
Liona kemudian mengirimkan foto tersebut kepada Devran.
__ADS_1
" Lihatlah, sudah aku kirim" jawab Liona dengan sedang berpikir.
" Emmbbb.. tidak asing bukan sayang?" timpal Devran.
" Ya.. perlu kita bertanya pada Pak Jo, Mas?" ide Liona.
" Emmbb... tunggu sebentar. Dari yang aku amati..." jawab Devran mematung.
Devran seketika menelpon Kakak iparnya.
☎️ Devran
" Kakak, bisakah kakak fotokan di samping telinganya? "
☎️ Kakak Ipar
" Okay, tunggu. Tuuuutttt"
Ya, telpon itu segera dimatikan Rayina. Memang seperti itulah ketika dalam keadan genting. Selalu sepihak yang memutuskan dengan tiba - tiba.
Kluntingg
Sebuah notifikasi pesan telah masuk kedalam ponsel Liona dan Devran. Devran segera membukanya. Dan tak lama dia tersenyum smirk.
" Sudah ku duga !!" jawabnya penuh keyakinan.
📩 Devran
" Mata - mata Xano kak. Dia sudah dideteksi dan punya penyadap. Hati - hati!!"
Rayina tersenyum melihat pesna dari devran. Semua dugaan mengarah kepada Xano. Lelaki yang penuh misteri dan ambisius.
" Farhan, lucuti semua pakaiannya. Ganti dengan yang sudah ada !!" perintah Ayden.
Ayden ikut serta melihat dan membaca pesan dari Devran. Ayden segera tanggap akan hal itu.
" Sinar X !!" perintah Ayden dengan segera menyalakan sinar itu.
" Congkel lidahnya !!" perintah Ayden kejam.
" Mas... " ucap Rayina.
" Jangan melihat !! jika tidak pasti akan mudah dilacak" ucap Ayden geram.
Farhan dengan cepat segera menjalankan perintah tuannya. Farhan sudah mengikuti Irfan susah cukup lama. Cara kerjanya juga sudah tahu. Dan semua yang diperintahkan kepadanya dia harus sigap dan siap.
" Bos...ketemu. Rupanya seperti tindik di lidahnya!!" jawab farhan.
" Hancurkan!! dan segera panggil Heyna" titah Ayden dingi .
" Inikah suamiku yang penuh kelembutan?. Inikah sisi suamiku yang lain? Inikah suamiku yang aku kenal? Kenapa sedingin dan sebengis ini? Apakah dia dulu begini? Ataukah lebih kejam dari pada ini?" batin Rayina sedikit cemas.
" Jangan takut sayang. Aku masih sama. Aydenmu!!" ucap Ayden tersenyum hangat.
Di pegangnya tangan istrinya yang mulai dingin dan mengekuarkan keringat. Belum tenang dari keterkejutannya, kini terdengar geraman dari seekor mahkluk yang sangat mengerikan.
" Astaghfirullahhaladzim " ucap Rayina ketakutan
__ADS_1