
Heyna adalah seekor Singa yang ukurannya sangat besar. Dengan taring runcing yang sangat menyeramkan. Heyna juga bukan binatang penurut kepada siapapun walaupun dipelihara oleh Ayden dari kecil.
Hewan buas yang selama ini dipelihara Ayden tengah dikeluarkan dari kandangnya. Irfan yang baru saja tiba di ruangan tersebut terhenyak kaget saat mendapati pemandangan didepannya.
Vero dan Mama pun ikut tercengang. Sementara si Heyna menatap penguntit dengan tatapan membunuh. Eraman binatang itu bak penuh kemarahan dan kelaparan.
" Aarrrrrrrgggģhhhhh" eraman Heyna.
" Mas..." ucap Rayina lirih.
" Kamu akan mengetahui segalanya tentangku sedikit demi sedikit. Tak terkecuali!!" ucap Ayden santai.
" Farhan !!! Mulai !!" teriaknya di luar ruangan.
Farhan hanya mengangguk. Segera Heyna dia letakkan di depan si penguntit. Heyna hanya mematuhi dua orang saja, Ayden dan Farhan.
Dengan begitu mudah Farhan memerintahkan Heyna untuk mencabik bagian mana saja yang diinginkan.
" Mulailah dari bawah. Dan korek semua informasinya tanpa terkecuali" ucap Ayden.
Farhan hanya mengangguk menjawab semua yang di perintahkan Bosnya. Dia kemudian melancarkan aksinya bersama Heyna.
Ayden dengan santainya duduk dan menikmati tontonan di depan matanya. Sementara Rayina mulai merasa mual karena melihat darah yang mulai mengucur.
Bau amis yang menyeruak mulai tercium. Perut Rayina terasa diaduk - aduk. Rasanya ingin segera mengeluarkan seluruh isi perutnya.
" Mas.. hmmmkkk... hmmkk" panggil Rayina.
Mual mulai melanda. Dokter Vero dan Mama yang tanggap segera membawa Rayina keluar dari ruangan.
" Mama... aku sudah tidak tahan" ucap Rayina dengan tersendat.
Dokter Vero yang melihat ada sebuah baskom yang berada tak jauh dari tempat itu segera diraihnya dan ditempatkannya di depan perut Rayina.
" Keluarkanlah baby" ucap Vero dengan cepat.
Rayina yang sedari tadi menahan muntahan itu dan menutup mulutnya dengan tangan kini mengeluarkan seluruh isi perutnya.
" Ah... Alhamdulillah... " ucapnya kemudian.
Rayina kemudian menelpon mbak yang berada di sekitar ruangan tersebut. Dan segera untuk ke kamar mandi ruangan tersebut. Untuk membersihkan muntahan Rayina.
" Mbak.. Maaf ya merepotkan. Buang sekalian dengan tempatnya mbak!!" ucap Rayina merasa bersalah.
" Sudah menjadi tugas saya nyonya. Tidak mengapa" jawab Mbak tulus.
" Mi, letakkan saja di kamar mandi. Maaf Mi merepotkan Mami dan Mama" ucap Rayina kemudian.
__ADS_1
" Sudahlah baby. Di rumah sakit malah lebih parah dari kamu. Mami melakukan semua sendiri. It' s okay baby. Ya kan Mbak?" ucap Vero sembari bertanya dengan Mama.
" Ya, sayang. Itu wajar. Ya sudah kita ke kamar saja. Serahkan semua kepada suamimu. Kita memantau dari kamar saja. Okay?" pinta Mama.
" Baiklah Ma" jawab Rayina.
" Tunggu Ma. Antarkan aku ke tempat Aruni. Bolehkah?" pinta Rayina.
" Oh...sayang. Maaf, untuk itu Mama belum mengatakan kepadamu. Aruni di bawa ke rumah Rony. Disana juga sudah ada dokter dan perawat khusus. Semua sudah di handel dengan baik" terang Mama.
" Benar sayang. Mami yang merekomendasikan dokter terbaik di negara ini untuk kesembuhan Aruni. Dan sepertinya juga Rony yang membiayayi semuanya" ucap Vero menimpali.
" Alhamdulillah kalau Papa Rony demikian. Papa menepati janjinya. Semoga Aruni cepat pulih. Apakah disana dia baik - baik saja Mi?" tanya Rayina.
Tak terasa sudah berada di kamar Rayina. Karena diselingi dengan obrolan singkat yang membuat ketiga wanita itu tak menyadari sudah sampai dengan cepat.
" Berbaringlah sayang" pinta Mama lembut.
Mama mendekat ke telepon rumah dan mendial telepon dapur.
" Hallo.. Mbak, saya minta tolong buatkan jus mangga tiga ya. Tolong antarkan ke kamar Rayina. Terimakasih ya Mbak" ucap Mama di telpon.
" Ma...sekalian bakso.. boleh?" pinta Rayina dengan meringis memperlihatkan giginya yang rapi.
" Baiklah.. kali ini Mama yang akan buatkan untukmu. Tunggulah. Tidak akan lama" ucap Mama.
" Baiklah.." jawab Mama mengalah.
Mama kemudian menelpon mbak bagian dapur untuk sekalian membuatkan bakso untuk Rayina. Tentu saja tidak satu mangkok bakso. Tapi tiga mangkok bakso.
Ya, karena ada tiga orang di dalam ruangan itu.
Rayina seger mencari remot untuk menyalakan layar monitor dan cctv di ruangan introgasi. Dilihatnya masih sama dengan tadi. Rayina mengalihkan pandangan dan hanya mendengarkan percakapan itu dengan seksama.
Rayina terhenyak, dia teringay dengan alat penyadap itu. Apakah sudah dihqncurkan atau belum.
☎️ Hubby
*Mas.. alat penyadap dihancurkan dulu. Takut terdeteksi tempat kita. Dan sana akan mendengar semua pembicaraan kita.
☎️ Wifey
Sudahlah sayang. Tenang saja. Istirahatlah. Nikmati bakso yang kamu inginkan. Dan jaga twins untukku. Ini sudah menjadi urusanku*.
Tuttttt
Telepon dimatikan sepihak oleh Ayden. Rayina menjadi kesal. Dilihatnya di monitor Ayden memberikan kiss bay untuk Rayina. Dan Rayina hajya tersenyum senang.
__ADS_1
" Haduh.. Mbak.. aku disini dua hari bisa ikutan jadi muda kembali" celetuk dokter Vero.
" Hahaha... itu hanya sebagian kecil yang kamu ketahui. Lebih dari inipun Aku dan Papa sering memergoki mereka tengah bermesraan" ucap Mama.
" Apakah Mas dulu juga begini dengan istrinya Ma?" tanya Rayina kemudian.
" Setahu Mama... Never.." jawab Mama singkat.
" Selama Papamu mengintai mereka dan Farhan juga mematai mereka, tidak pernah sedikitpun ada kemesraan diantara keduanya. Ibunya Ben dulu hanya suka hartanya Ayden. Kamu tahu sendiri bukan ceritanya?" tanya Mama.
" Hmm... Iya Ma. Mas orang yang bertanggung jawab. Aku hanya heran, apakah dia dulu dengan kekasihnya juga sama yang dilakukan terhadapku?" ucap Rayina.
" Tidak juga. Hanya denganmu dia begitu. Kalau kata anak muda di negaramu, Bucin" ucap Mama santai.
" Hihihi... " kikik Rayina.
Tok... Tok... Tok...
Mama segera membuka pintu kamar. Ternyata Mbak yang mengetuk pintu membawa nampan berisi makanan penuh.
" Loh Mbak... kenapa jadi penuh begini??" tanya Mama heran.
" Dan.. kenapa ada lima mangkok bakso? Dan ini semua.. makanan??" tanya Mama heran.
" Kenapa Ma? " tanya Rayina yang mendengar.
" Ini, makanan banyak sekali dibawa ke sini semua. Apakah kamu yang meminta tambahan sayang?" tanya Mama.
" Tidak !! Paling anak Mama tuh yang minta" jawab Rayina santai.
" Benar Nyonya. Pak Bos yang minta. Beliau minta bakso, sambel, acar, kerupuk dan beberapa camilan lainnya. Kata beliau sebentar lagi ke sini" jawab Mbak runtut.
" Ah.. baiklah. Tolong bantu letakkan di meja Mbak. Ah.. anak itu, selalu saja.." ucap Mama.
" Selalu memberikan kejutan kan Ma?" ucap Rayina menegaskan.
" Ya.. seperti itu sayang. Kapan akan makan? Apa nunggu suamimu?" tanya Mama.
" Sebentar lagi juga kesini Ma. Dia sudah masuk lift" ucap Rayina.
" Dari mana..." tanya Mama menggantung.
Sebelum Mama bertanya komplit Rayina sudah mematahkan pertanyaannya.
" Itu..." Jawab Rayina menunjuk monitor.
" Hmmm.. Vero, makanlah dulu. Selagi panas. Enak Ver.." perintah Mama.
__ADS_1
" Tunggu mereka sekalian Mbak" jawab Vero.