
Pertanyaan Ben sangat mencekat lehernya. Bagaimana mungkin anak sekecil itu sudah bisa menerka hal yang sangat diluar kuasanya. Dan dia dengan entengngnya menanyakan hal itu. Irfan merasa terperanjat akan hal itu.
" No, sayang. Kamu adalah 100% keturunan kami. Selama kehamilanmu. Atuk menyuruh seorang dokter kandungan untuk memeriksa kehamilannya dengan mengambil sampel darah Ibumu untuk melakukan tes DNA. Dan dari empat Rumah sakit yang sangat terkenal dan ketat dengan kejujurannya. Hasilnya akurat kamu 100% anak dari Ayden, anak lelakiku Dan kamu cucu lelakiku" jelas Irfan.
" Apakah ucapanmu bida dipercaya?" selidik Ben.
" Of course sayang. Masih Atuk simpan semua buktinya" jawab Irfan tegas.
" Lanjut dengan Ibumu. Ibumu selalu dihantui rasa bersalah terus menerus. Dan dia berusaha menemui Aleena untuk membicarakan hal ini padanya dan tentangmu. Dia akan menitipkan kamu kepada Aleena, karena Aleenalah yang membuatnya menikah dengan Ayahmu. Ibumu melakukannya karena dia sudah merasa kesehatannya menurun. Dia hanya berusaha kuat agar kamu bisa terlahir kedunia. Aleesha menyadari posisinya. Karena suatu saat Aleena akan kembali dan meminta posisi Ibumu. Tentu saja sebagai istri Ayahmu" terang Irfan.
" Ibumu terus bertahan. Dan saat dia akan melahirkanmu dia meminta maaf kepada Atuk, Opah dan Ayahmu. Dia menceritakan penghianatannya dan semua tindak kejahatan yang dia perbuat kepada keluarga ini. Kami sungguh sudah memafkannya. Dia melahirkanmu karena pendarahan hebat seletah kamu lahir. Doa tidak terselamatkan. Saat itu Atuk masih belum bisa mengikhlaskan kelakuan Ibunu. Tetapi karena cinta Ayahmu kepadanya, Atuk kalah" cerita Irfan kepada Ben.
" Sebenarnya kesalahan Ibumu hanya menghianati Ayahmu dengan Thomas dan menggunakan uang Ayahmu untuk diberikan kepada Thomas. Tidak lebih. Hanya saja... " ucapan Irfan yang menggantung.
" Hanya saja apa Atuk?" tanya Ben penasaran.
" Kakekmu, Ayah dari Ibumu. Dia musuh bebuyutan Atuk di dalam dunia bisnis. Kakekmu selalu bermain kotor. Pernah dia mencelakai Ayahmu hanya untuk ambisinya. Yaitu membuat perusahaan Atuk hancur karena akan kehilangan anak lelaki satu - satunya. Pewaris tunggal perusahaan. Kemudian dia akan mengambil alih perusahaan Atuk. Tetapi lejahatannya sudah tercium pihak yang berwajib. Dia di tangkap karena banyak kasus. Bukan hanya bisnis saja, tetapi penjualan organ tubuh secara ilegal, obat terlarang, dan penjualan anak dibawah umur. Dia dijatuhi hukuman mati. Sedangkan nenekmu meninggal karena serangan jantung saat mengetahui kasus yang menimpa kakekmu. Semua aset dan kekayaannya disita negara.Sungguh tragis" terang Irfan.
" Apakah Ayah benar mencintai Ibuku?" tanya Ben kembali.
" Tentu saja baby, Ayahmu begitu mencintai Ibumu. Buktinua dia sangat lama tidak menikah setelah kepergian Ibumu. Bahkan kamu sendiri yang memintanya bukan?" jawab Irfan kembali mengenang permintaan Ben.
" Ahh.. tentu saja. Apakah kalian semua sudah memaafkan Ibuku?" tanya Ben kembali.
" Tentu saja boy. Atuk sudah tidak mau ada dendam lagi. semua karena Aleena. Dia dalang dari semua ini" ucap Irfan.
" Ya, aku sudah mengira. Thomas dan Aleena sekongkol. So, kita akan bermain apa Atuk? Karrna tadi Atuk mengatakan aku akan terlibat dalam hal ini" tanya Ben menohok.
" Ah.. memang kecerdasaanku menurun kepadamu. Untuk itu kita tunggu Ayahmu sebagai pelaksana acara. Hahaa.. "jawab Irfan bercanda.
__ADS_1
" Ah.. pasti ceroboh lagi dia" jawab Ben datar.
" Hahaha... Kamu begitu sama persisnya denganku. Selalu tidak percaya dengan Ayahmu" canda Irfan.
" Bagaimana tidak? Dia memang begitu. Lebih baik bekerja sama dengan Bunda. Bunda selalu berpikir dalam bertindak. Tidak seceroboh Ayah" terang Ben.
" Cocok!" jawab Irfan dengan tertawa terbahak.
Dua pasang mata didapur tengah menyaksikan interaksi kedua makhluk berbeda usia itu. Gelak tawa mereka berdua menimbulkan banyak pertanyaan. Tak lebih dengan netra tua sang Opahnya.
Begitu bahagia tampilan di pelupuk matanya. Selalu berdiskusi dengan kepala dingin. Tidak sama dengan anak lelakinya. Cucunya mampu meluruhkan keangkuhannya melawan dunia dan orang yang menjahati keluarganya.
" Hay sayang.. Mama bantu apa nih?" tanya Mama.
" Tidak perlu Ma, Mama duduk cantik. Nikmati teh ini dan cemilan ini. Mama nanti mencicipi saja masakanku. Mama jadi juri saja. Okay?" jawab Rayina.
" Ah.. kamu selalu begitu. Mamamu ini selalu kamu manjakan begini. Pulang dari sini pasti aku menggendut bersama Papamu. Setiap hari kamu berikan makanan yang sangat enak. Mama proud of you. Okay?" ucap Mama.
" Tentu saja sayang, apa yang tidak untukmu" jawab Mama.
Percakapan itu terjadi hampir berbarengan dengan percakapan Irfan dan Ben. Kemudian Mama duduk dengan menikmati secangkir teh dan camilan buatan menantu kesayangannya itu.
Tidak sengaja netra tuanya melihat pemandangan yang sangat luar biasa. Alat canggih nan imutnya dia keluarkan untuk mengabadikan sebuag momen yang tentunya belum pasti akan sama kelihatannya.
1 " cekrek"
2 " cekrek"
" Ah.. cukup. Aku akan menyimpannya" gumam Mama.
__ADS_1
" Apa Ma?" tanya Rayina.
" Lihatlah, singa tua dengan kelinci kecil sedang diskusi" ucap mama dengan mengacungkan jarinya kearah yang dia maksud.
" Ohh waow.. Ben like Ayahnya. But not same with his." ucap Rayina.
" Iya. Ben jauh berbeda dengan Ayahnya. Ayahnya selalu terburu - buru dalam bertindak dan mengerjakan sesuatu. Sukit rasanya Papa dan Mamamu ini tidak menjulukinua si ceroboh. Beda dengan Ben. Ben like you sayang" ucap Mama.
" Haa?? Are you seriously Ma?" tanya Rayina heran.
" Ya, dia selalu berpikir dengan cermat dan tepat sasaran baru bertindak. Seperti kamu. Seperti Atuknya juga. Dia seperti kekinci kecil yang lucu menggemaskan tapi banyak akalnya. Smart boy" terang Mama.
" Ah.. of course Ma.. smart boy. I agree with you " jawab Rayina cepat.
" Ahh.. tinggal tunggu matang semua, langsung plating deh.. Mama cobalah cicipi. Bagaimana menurut Mama rasany?" pinta Rayina.
" Bakso, rendang, sate, kari, roti jala, masala, and then salad buah. Komplit!! perfect sayang. Apakah akan ada tamu? embb Mama mulai dari mana ini?" tanya Mama.
" Semua boleh Mama icip. Beri tahu akau bagaimana rasanya. Iya ma, akan ada tamu. Jadi Mas memintaku memasak makan malam ini agak banyak. Dan berhubung tadi membuat tegang semua tubuhku dengan masalah tadi, rasanya sangat pas untuk mencurahkan semuanya ke masakan. Alhamdulillah perasaanku sudah mulai lega" jawab Rayina.
" Alhamdulillah, syukurlah. Tidak perlu terlalu dipikirkan sayang. Santai saja. Nikmati permainannya." perintah Mama.
" Ahh.. baiklah.. Silahkan mulai Ma. Ini sendoknya dan piringnya" ucap Rayina.
Mama kemudian berjalan menyusuri meja yang sudah terhidang makanan diatasnya. Dia kemudian mencicipi satu persatu masakab yang sudah Rayina buat.
Semua tampilannya sangat menarik, membuat orang yang melihatnya merasa lapar dan ingin segera menyantap makanan ini.
" Bagaimana Ma?" tanya Rayina dengan penuh harap.
__ADS_1
Bahwa masakannya tidak ada yang kurang dan tidak ada yang lebih. Mama mertuanya masih mencerna dan mengecap. Indra pengecapnya masih melakukan briefing ke otaknya.