Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
160.


__ADS_3

Setelah acara sesi ungkapan hati, semua tamu undangan tengah menikmati hidangan yang sudah disediakan. Ada banyak acara yang sudah disiapkan oleh WO sesuai keinginan Rayina.


Rayina hanya bisa melihat dan menyaksikan dari kamarnya. Karena dia benar - benar harus istirahat total. Sementara Ayden mulai berpikir untuk melangakah kedepan demi keluarganya nanti.


"Setelah ini, akan banyak lagi yang datang menghadang. Tentu aku tidak akan melewatkan sedetikpun pengawasanku untuk keluarga ini. Bagaimana kalau aku resign kerja saja. Dan memualai bergelut langsung di dunia bisnis? Kasihan juga istriku menangani perusahaan ini sendirian" batin Ayden.


" Aku tidak tega melihatnya, dia menopang dua nyawa di dalam rahimnya, anakku. Aku akan coba diakusikan dengan istriku" batin Ayden kembali".


" Mas... Mas.." panggil Rayina membuyarkan lamunan Ayden.


" What happend? Apa yang terjadi? Ada masalah yang serius?" tanya Rayina mengernyit.


Rayina sudah memperhatikan suaminya dari tadi. Suaminya seperti menyimpan beberapa masalah darinya. Atau ada pikiran yang mengganggunya saat ini. Tapi dia tidak pernah mau memaksa suaminya untuk mengatakan apa yang terjadi.


" Tidak apa sayang, jangan khawatir. Mas hanya berpikir kita kapan bisa liburan bersama" ucap Ayden asal.


" Ah... itu dia.. Aku tadi akan membahasnya. Tapi terjeda" jawab Rayina menimpali.


" Ah.. benar. Apa yang akan kamu katakan tadi?" tanya Ayden.


" Mas.. Bolehkah aku pulang ke negaraku? Aku rindu dengan orang tuaku" ucap Rayina sendu.


" Hmmm ide yang tidak buruk. Akan aku pikirkan. Yang terpenting kamu sehat dulu. Supaya liburannya berjalan lancar. Okay?" jawab Ayden.


" Baiklah Mas..." Rayina menjawab dengan lesu.


" Jika kamu begitu, mana bisa aku menolaknya sayang? Tapi aku harus bisa mendapatkan ijin dari kantor. Kalau tidak bagaimana mungkin bisa tenang saat liburan" batin Ayden.


Rayina masih diam seribu bahasa. Entah karena faktor kehamilannya yang menyebabkan hatinya menjadi gundah atau karena memang saat ini dia ingin berkeluh kesah kepada kedua orang tuanya.


Ya, kemarin sempat Rayina memberikan kabar bahwa keadaanya dalam baik- baik saja. Dan kedua orang tuanya merasa lega. Mereka juga menanyakan kedua cucu lelakinya yang snagat dirindukannya.


Karena sudah pensiun dari pekerjaannya, Ayah Rayina kini hanya mengurusi beberapa Koperasi unit desa yang dirintis oleh ayahnya. Berbekal dari tanah dan lahan yang sudah diberikan oleh Ayden kepadanya.


Ayah Rayina mengolahnya dengan memperkerjakan orang desa yang biasa bekerja di ladang. Dan hasilnya sangat memuaskan. Untuk itu Ayah Rayina berusaha membuat koperasi desa yang tidak hanya sebagai lumbung padi. Tetapi banyak sekali yang diayomi di koperasi tersebut.

__ADS_1


Rayina kini sudah membayangkan bagaimana keadaan desanya saat ini. Karena semenjak menikah dengan almarhum suaminya dulu dia belum pernah kembali ke desanya.


Dan kini dia harus pergi dari desanya sejauh mungkin bahkan sampai luar negri. Hal ini membuat Rayina semakin berat menahan rindu dengan kampung halamannya.


" Mas..." panggil Rayina.


" Ya... sayang" jawab Ayden lembut.


Ayden menatap istrinya dengan penuh kelembutan. Dilihatnya manik mata yang teduh itu. Diterawangnya lebih dalam lagi, terlihat gurat sedih di manik mata itu.


Ya, sendu sedang menderanya. Kini Ayden tak tahan lagi melihat istrinya yang dirundung kesedihan karena kerinduannya kepada kedua orang tuanya.


" Apakah harus?" tanya Ayden.


Seolah pertanyaan yang hanya mereka berdua pahami. Tidak ada orang lain yang memahami percakapan keduanya. Hanya kedua bola mata yang saling pandang dan saling menyelami pemikiran satu sama lain.


" Aku sangat merindukan mereka dan juga desa tempat tinggalku dulu" ucap Rayina.


" Haaahhhh.... baiklah. Aku tidak berjanji untuk memberikan ijin lebih sayang. Tapi setidaknya aku akan berusaha meminta cuti kepada atasanku" ucap Ayden mengalah.


Ayden kini sedang mengotak atik ponselnya. Dilihatnya jawdal keberangkatan tugasnya. Dan dikihqtnya juga jadwal dia harus ikut serta perjalanan ke luar negara. Dia harus bisa menghandle dan bertanggung jawab atas pekerjaannya itu.


" Ahhhh haaaaa" celetuk Rayina.


Tiba - tiba Rayina membuka ponselnya dan segera menscrool ponselnya. Dicarinya kontak nama yang sudah dia simpan sebelumnya.


" Assalamualaikum Antony"


" Waalaikumsalam. Benarkah Rayina disana?"


" Ya, right. Ini aku, Rayina. Embb bolehkah aku meminta bantuanmu lagi?"


" Baiklah, katakanlah"


" Maaf jika aku menggunakan hak spesialku darimu?"

__ADS_1


" Iya, tenang saja. Bagaimana? Apakah ada masalah lagi?"


" Begini, sebenarnya aku ingin pulang ke Indonesia. Tetapi apakah suamiku bisa ikut dengan kami? Ya, setidaknya dia menggunakan cuti nikahnya bukan? Bahkan dia tidak mengambilnya bukan? Bisakah Antony?" pinta Rayina memelas.


" Of course Rayi. Itu adalah hak setiap pekerja di sini. Semua mendapatkan cuti nikah, cuti lahiran dan cuti bulanan. Dan, sepertinya aku lihat. Suamimu bahkan jarang sekali menggunakan cuti bekerjanya itu. Bahkan menikahpun dia tidak memberikan kabar dan pesta juga ditiadakan. Hanya dia mengunggah beberapa identitas di berkasnya"


" Benarkah? Lalu kapan bisa diambil cutinya?" tanya Rayina langsung.


" Semau suamimu mengajukannya Rayi. Tenanglah, aku spesialkan suamimu mengajukan cutinya. Dia juga salah satu orang terhebat di maskapai kita. Dia orang terpenting di sini"


" Alhamdulillah. Baiklah Antony, maaf mengganggu waktu istirahatmu. Dan nanti akan aku katakan kepada suamiku untuk segera menghadapmu"


" Tentu Rayi. Akan aku tunggu"


" Thank you Antony"


" It's okay Rayi"


Begitulah sekiranya percakapan yang dimaksud. Rayina mennggunakan kesempatan itu untuk menghubungi Antony. Karena dia sangat ingin pulang ke kampung halamannya. Dan dia berusaha mendapatkan beberapa cara dan trik itu.


" See.. Mas.. Mas besok pagi juga sudah bisa mengajukan cuti. Jadi tidak perlu berpikir lagi dan mengatur jadwal Mas. Pasti sudah ada yang menghandle. Dan apa gunanya anak buah Mas yang sudah Mas berikan ilmu itu?" cerocos Rayina.


Didalam hati Ayden hanya bisa mengelus dadanya. Dia hanya bisa berharap bisa sabar menghadapi moody seorang ibu hamil.


" Sayang, kemarilah" pintanya dengan lembut.


" Sayang, boleh kita menggunakan hak spesial kita untuk mendapatkan apa yang kita mau, jika itu untuk kepentingan bersama dan untuk kebaikan bersama"


" Tetapi, apa yang barusan kamu lakukan sebenarnya Mas tidak setuju. Karena, itu sama saja membuat citra mas di mata anak buah dan atasan terlihat tidak bertanggung jawab dengan pekerjaan"


" Walaupun mereka mengatakan aku salah satu orang penting di maskapai itu. Dan aku juga belum mengambil cutiku bukan?"


" Terimakasih sudah berbaik hati menelpon langsung atasan mas. Tapi, jangan diulangi lagi. Itu akan membuat mas merasa menjadi orang yang tidak bertanggung jawab. Mengerti?" ucap Ayden panjang lebar menjelaskan dengan lembut.


Tidak ada sedikitpun kata atau kaliamat keras di dalamnya. Ayden juga berkata dengan penuh kelembutan. Agar si bumil tidak terbawa emosi.

__ADS_1


__ADS_2