Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
124.


__ADS_3

" Issshhhh..."desis Rayina.


" Waow... kakak.... singa kecil penggemar beratku!" teriak Devran kegirangan.


" Hmmm..." jawab Rayina datar.


" Kakak sudah mengetahui hal ini?" tanya Devran penasaran dengan ekspresi yang ditunjukkan Rayina.


" Hm.." jawab Rayina singkat.


" Dan kamu singa kecil, kamu menyimpan fotoku?" tanya Devran antusias.


" Kepo!!" jawab Liona yang sebisa mungjib menahan malunya.


" Ishh..jadi... kamu..." ucap Devran menerka.


" Kepo !!" jawab Liona.


Dua insan yang sudah bisa meraba adanya detak cinta kini saling menolak. Bukan karena tidak mau tapi menutupi rasa malu dan rasa canggungnya untuk menjawab kebenaran itu. Devran dan Liona sebenarnya mereka sudah menaruh hati. Tapi keduanya saling jaga image masing - masing. Tidak ada yang mau terbuka dengan perasaannya masing - masing.


Untuk terbuka saja mereka tidak bisa apalagi untuk mengungkapkannya. Ya, walaupun ungkapan persetujuan itu terlontar begitu saja tidak ada romantisnya. Tetapi menurut Rayina itu bukan hal terpenting.


Justru dengan ungkapan yang berbeda itu mempunyai kesan tersendiri dihati sang pemilik cinta. Deru dan nafas cinta akan terasa berbeda. Tidak seperti menyiapkan kejutan romantis yang sudah banyak ditebak oleh khalayal ramai.


Tentu saja, ini membuat Rayina memounyai ide tersendiri untuk keduanya. Ya, Dia tahu tentang masing - masing perasaan keduanya.


" Ya, siapkan semuanya. Tolong dengan segera. Aku akan segera pulang" jawab Rayina melalui ponselnya.


Sedangkan dua insan itu masih berselorog saling menggoda dan tak acuh. Mereka tidak menghiraukan apa yang akan dilakukan oleh Rayina.


Rayina sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia akan segera pulang. Tidak perduli dengan dua insn yang saling gontok meelaskan keadaan hati yang sebenarnya. Rayina membereskan meja kerjanya sembari marapikan meja kerja.


Dia berencana meninggalkan Liona yang masih asyik berdebat dengan sang cassanova gadungan itu. Rayina dengan perlahan keluar dari ruangan itu tal lupa untuk memantau pergerakan Liona dan Devran.


Rayina kini melajukan mobil sport miliknya ke rumah. Dia juga lupa untuk memberitahukan kepada suaminya perihal penggunaan mobil yang dipakainya.


" Astaghfirullahhaladzim... Bodohnya aku, kenapa aku melupakan hal ini? Bagaimana kalau mas tahu dari orang lain. Ya Allah... semoga mas memaafkan aku" gerutu Rayina.


Didalam pikirannya kini hanya melajukan kendaraan itu secepat kilat agar sampai dirumah.Dan segera meminta maaf kepada suaminya. Dia juga menyadari walaupun sepenuhnya ini bukan kesalahannya. Tapi dia tetap merasa bersalah akan hal ini.


Ketika dijalanan, sebuah mobil yang tidak asing dimata Ayden melesat dengan begitu kencangnya. Benar saja, jalanan sore ini belum terlalu padat, karena jam kantor belum usai.


Ayden memandangi jam tangannya. Benar saja, sesuai dugaannya. Jam pulang kantor belum usai. Tetapi memang Rayina diizinkan bekerja hanya sampai sore. Tidak serta merta sampai seluruh karyawannya pulang.


" Hm...wanita nakal !" seru Ayden dengan tersenyum.

__ADS_1


Ayden dengan santai mengendarai mobilnya. Dia kemudian mampir ke gerai pastry kesukaan Rayina. Dia seperti ingin makan red velvet. Dia kemudian membelinya dan beberapa pastry yang lain.


Setelah selesai membeli dia kemudian melajukan mobilnya kerumah. Sengaja memeperlambat kepulangannya. Agar istrinya merasa aman saat berkendara. Tidak terburu - buru sampai rumah. Dikarenakan takut ketahuan olehnya.


" Akan aku pikirkan hukuman itu sayang" gumam Ayden dengan tersenyum jahat.


Rayina sudah masuk ke area mansion, tak lupa menelpon Farhan untuk segera menunggunya basement parkirnya. Dia akan mengembalikan mobil itu tanpa ada perubahannya.


Farhan sudah tahu apa yang dimaksud nyonyanya. Dia sudah menunggu dan segera membantunya. Rayina segera melesat keluar dan menuju kamar untuk membersihkan diri.


Setelah selesai membersihkan diri, seperti biasa dia selalu menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim.


Setelah dirasa semua telah dilakukannya, dia segera menuju sofa diujung jendel kamarnya. Membuka laptopnya dan melihat semua laporan yang masuk. Memeriksa email yang sudah dia minta sebelumnya.


Tak lupa dia melihat cctv ruangan kantor yang dia tinggalkan. Ada dua makhluk yang masih dalam perdebatan atau tidaknya. Dia juga mereview semua rekaman video.


" Hmmm baguslah, cassanova gadungan itu tidak melakukan hal yang aneh - aneh kepada Liona" gumam Rayina.


" Oh.. ya.. bagaimana persiapan surprise untuk besok ya?" gumam Rayina lirih.


Dia segera beranjak keluar menanyakan orang kepercayaannya yang sudah dia minta. Dan tentu saja Mama dan Papa ikut andil dalam urusan ini.


" Mbak..." panggil Rayina.


" Anak - anak apakah sudah siap semua?" tanya Rayina.


" Siap?" tanya Mbak balik.


" Embb.. maksud saya, apakah sudah selesai semua melakukan kewajibannya? " tanya Rayina menjelaskan.


" Saat ini anak - anak masih dikamarnya nyonya. Masih ngaji dengan Miss. Fatimah" ucap Mbak.


" Miss Fatimah? Who is she?"tanya Rayina.


" Miss Fatimah, beliau orang Malaysia yang bekerja di yayasan Islam disini. Beliau pendiri masjid besar yang ada di taman nyonya. Dan kata nyonya besar, beliau sahabat nyonya besar" terang Mbak.


" Ooo.. baiklah.. nanti saya akan berkenalan dengan beliau" ucap Rayina.


" Dimana Farhan?" tanya Rayina.


Rayina kemudian mendial nomor Farhan. Dan menanyakan semua yang dia perlukan tadi. Tak lama Papa muncul dan meanyakan persiapan itu.


" Bagaimana sayang? Ready?" tanya Papa.


" Ready Pa.. Oh.. ya.. Papa juga sudah ready?" tany Rayina kembali.

__ADS_1


"Ready sayang, Mama juga ready.Bahkan Mamamu yang sangat antusias" terang Irfan.


Tak...


Tak...


Tak...


Suara sepatu terdengar menggema. Tak lama muncul seorang ellaki berbadan tegap dengan wajah putih yang sedikit pucat, karena keadaannya yang menuntutnya.


Disusulnya ucapan salam mengalun dengan sangat lembut. Membuat semua mata menuju kearah sumber suara. Rayina segera berlari mendekati suaminya dan menyalami tangan suaminya penuh hikmad.


Dia kemudian membantu membawakan kantong belanjaan suaminya itu. Merengkuhnya dalam pelukannya dan mengecup mesra pipi yang sedikit tirus itu.


" Mas... capek? Mau dibuatkan minuman jahe?" tawar Rayina.


" Boleh.. bawa ke kamar. Aku menunggu di kamar. Dan... aku mau berbicara serius denganmu" ucap Ayden dengan memasang wajah menyeramkan.


Wajah yang itu seakan membunuh dan mencabik- cabik hingga tidak tersisa. Rayina merasa ciut hatinya. Dia tahu akan kesalahannya ini. Dan dia juga sudah menyiapkan amunisi jika suaminya akan memarahinya.


Rayina ragu - ragu untuk menuju ke kamarnya. Setelah membuatkan minuman jahe, dan membawa kantong belanjaan suaminya itu, dengan perlahan mengetuk pintu dan tidak ada jawaban dari dalam.


Rayina melongokkan kepalanya masuk ke kamar dan melihat keadaan. Dia kemudian masuk, karena dirasa tidak nampak suaminya. Terdengar gemericik air yang sepertinya ada orang mandi.


" Ya Allah.. aku melupakan air mandinya juga. Ya Allah.. kenapa semenjak bekerja aku malah melalaikan tugasku sebagai seorang istri... Astaghfirullahhaladzim "gumamnya lirih menyesali.


" Aku janji, setelah kasus ini selesai.. aku akan menjadi istri yang baik. Aku akan mengurusi suami dan anak - anak saja. Kasihan mereka tidak mendapatkan perhatian dan belaianku secara intensif" gumam Rayina kembali.


Cekleeek...


Suara daun pintu terbuka, hati Rayina semakin berdegup kencang. Lebih kencang dari larinya marathon sepertinya. Suaminya yang biasanya lembut berubah menjadi dingin...


Apa yang akan terjadi selanjutnya...


Tunggu ya... author akan kembali lagi...


Jangan kemana - mana ya...


Jangan lupa like, komen dan votenya ya...


Thank you...


Happy reading ya...


💕💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2