Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
182.


__ADS_3

Rayina dan Bude kembali masuk ke dalam rumah. Mata cantik itu berbinar melihat hasil panen yang sangat segar. Ide uniknya kembali muncul.


" Embbb... salad enak juga ini" ucapnya.


" Bude, bisa buat asinan buah?" tanya Rayina.


" Ndak begitu paham bumbunya nyah" jawab Bude.


" Hiss... kenapa jadi balik panggil itu lagi..." gerutu Rayina.


" Ndak apa nyah. Saya nyaman dengan panggilan itu. Dan itu malah saya ndak ada rasa sungkan. Saya jadi bisa memposisikan diri" jawab Bude.


" Halahhh... yo sudah...terserqh Bude saja. Mana yang nyaman. Bumbunua, cuma cabai merah besar, cabai rawit, terasi, gula merah, sama garam" ucqp Rayina.


" Nanti di blender saja bude, biar ndak capek. Nantinya juga bumbunya bakal direbus" ucap Rayina kemudian.


" Ya sudah, bagaimana kalau nyonya yang bikin bumbunya saja. Saya tak kupas- kupas buahnya saja" ucap Bude.


" Ahhhsiiiaaapp" jawab Rayina banyol.


" Haha, Nyonya lucu. Saya kira dulu bakalan seperti nyonya rumah yang angker" celetuk Bude.


" Hiss... masak si Bude?" tanya Rayina.


Sementara mereka bercerita, Rayina membuat bumbu dan membersihkan berbagai macam sayuran untuk dibuat salad.


Setelah selesai semuanya, berbagai macam kreasi makanan dari kebun sendiri terhidang sudah. Tidak menunggu waktu yang lama untuk itu.


Menu makan malam sudah siap sedia, Rayina kini tengah duduk di halaman belakang dengan membawa asinan yang sudah siap makan dan beberapa camilan serta jus jeruk.


Karena setelah berkebun, kedua jagoannya langsung berenang. Dan tak lama pula kedua jagoannya menyantap puding dan makanan lainnya yang Rayina siapkan.


" Setelah ini mandi berbilas, siap - siap sebentar lagi maghrib masuk waktunya" ucap Rayina.


" Makan malam akan menanti kalian. Dan, setelah itu hukuman buat kalian akan bunda siapkan" ucap Rayina sembari bangun dari duduknya.


" Oh my God!! Abang!!" ucap Ganesha kaget.


" Ya, kita harus bersiap. Tapi bunda selama ini nggak jahat sama kita boy!" ucap Ben.


" Semoga saja bang"jawab Ganesha datar.


Rayina kembali ke kamarnya dan bersiap untuk melaksanakan kewajibannya. Sementara suaminya masih bersiap diri untuk hal yang sama.


Setelah semua sudah melaksanakan ibadah wajibnya. Mereka segera ke meja makan. Berbagai makanan sudah siap di meja makan dengan menggugah selera.


" Mas, Papa sama Mama belum pulang?" tanya Rayina.


" Embb.. tadi telepon masih di jalan. Entah sudah sampai mana. Kita makan dulu saja, tak apa" ucap Ayden.


" Assalamualaikum " ucap seseorang dari pintu.

__ADS_1


" Waalaikumsalam " jawab serempak.


Mereka kemudian menyalami dengan penuh hikmad. Ya, siapa lagi kalau bukan Irfan dan Rosaline, Mama dan Papanya Ayden.


" Sampai malam Ma, Pa?" tanya Rayina.


" Iya, sayang. Ternyata banyak sekali problemnya!" ucap Mama.


" Ya sudah lah, nanti kita bahas. Baunya harum ini masakan. Emmmm... jadi lapar nih Atuk" ucap Irfan yang mendekati kedua cucunya.


" Ayo Atuk.. duduk sini. Ini semua bunda sama bude yang masak. Terus sayurnya kita metik di belakang rumah. Pak Darso yang nanam. Dan semua ini sayuran sehat. Terbukti bukan, bunda yang masak bikin kita kelaparan?" ucap Ben menjelaskan.


" Ohhh yaa... are you really Boy?" tanya Irfan heboh.


" Of course atuk" jawab kedua anak itu yakin.


" Hahaha" gelak tawa semua orang yang mendengarkan kedua jagoan itu.


Makan malam berlanjut hangat, diiringi gelak tawa dan canda dalam ruangan itu. Semua bercengkrama tanpa jarak.


" Embb.. Pa, bagaimana? Apakah lancar hari ini?" Ayden memulai dengan serius.


" Hmmm... sepertinya memang kita butuh pengawasan ekstra boy!" jawab Irfan.


" Kenapa Pa? Ada masalah?" tanya Rayina.


" Boy, sepertinya princess kita di negaranya kembali terang benderang. Tak mendung lagi boy" gelak Irfan.


" Hahaha... seperti dapat ilham rupanya" jawab Ayden menimpali.


" Okay... okay!! Keuntungan perusahaan memang meningkat. Ada peningkatan walaupun hanya sedikit. Dan sebenarnya jika dalam pantauan dan pengawasan ekstra kita bisa dapat keuntungan itu enam kali lipat lebih banyak!" tutur Irfan.


" Mas... ada pengerat atau tikus kecil yang menggerogoti rupanya!" ketus Rayina.


" Ya... tentu saja. Jika penjelasan Papa demikian adanya. So, apa yang akan kamu lakukan sayang?" tanya Ayden menanyakan ide.


Sebenarnya Ayden sudah punyq rencana sendiri. Tetapi alangkah lebih baik bertanya juga langkah apa yang diambil oleh istrinya. Jika relevan dengan rencananya maka dia akan menerapkannya.


" Pantauan intens lebih baik. Karenq kita tidak menetap di sini. Cari orang kepercayaan yang tepat. Mr. Ahmer sudah waktunya pensiun Pa" ucap Rayina.


" Cocok!!" jawab Ayden.


" Akan Papa perhitungkan. Ahmed kurang teliti atau termasuk golongan tikus itu. Masih Papa selidiki" ucap Irfan.


" Sepertinya Papa kurang jelas penjelasanku, Mas" ucap Rayina santai.


Irfan hanya diam dan mengernyit memikirkan perkataan menantunya itu.


" Maksud kamu apa sayang?" tanya Irfan.


" Mas, jelaskan!!" pinta Rayina.

__ADS_1


" Ganti orang yang tepat. Pak Ahmed sudah tua, waktunya pensiun! itu sindiran yang meruncing menjadi masalah Pa!" terang Ayden.


" Haaa!!! Benarkah?? Begitu teganya?" ucap Irfan.


" Jika harta dan kekuasaan membuatnya haus dan tamak, tentu saja pertemanan tidak dianggapnya" terang Rosaline.


" That's right Ma. I Love you Ma..." ucap Rayina senang dengan pernyataan Mama mertuanya.


" Bagaimana Pa?" tanya Ayden.


" Ada masukan?" tanya Irfan.


" Mas, Rizky bisa di percaya. Apalagi dia pernah punya perusahaan. Untuk kejujuran aku bisa pastikan itu!" ucap Rayina.


" Hmmm boleh. Nanti kita hubungi" jawab Ayden santai.


" Sayang... tolong ambilkan sambal terasinya. Sayur kangkungnya enak sekali sayang" pinta Ayden.


" Pa.. lebih cepat lebih baik. Akses data sudah aku lock. Tidak ada yang bisa mengolah data karena aku pasword. Dan bagian keuangan, aku bisa rekomendasi?" Rayina memberi pendapat.


" Siapa sayang?" tanya Irfan.


" Siti" jawab Rayina santai.


" Siti?? Siti kita?? Siti yang di London?" tanya Ayden heran.


" Hmm.. dia lulusan managemen juga Mas" jawab Rayina santai.


" Hmmm ini enak sekali Ma, cobalah. Asinan" ucap Rayina.


" Kenapa dia jadi..." ucap Ayden terpotong.


" Jadi pembantu gitu maksud mas?" ucap Rayina meneruskan.


" Tanya saja Papa!!" jawab Rayina mencebik.


" Hehe.. itu.." jawab Papa dengan menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal.


" Why Pa?" tanya Ayden penasaran.


" Untuk menjadi mata - matamu!!" jawab Mama sarkas.


" Pa??? jelaskan!!" ucap Ayden tegas.


" Benar, untuk mata - mata kamu dan Aleena" jawab Irfan santai.


" Pantas, semua masalahku Papa dan Mama tau persis!!" jawab Ayden..


" Oke sayang, Papa setuju jika Siti yang menjadi rekomendasimu" ucap Irfan kemudian.


" Hmm.. sayang juga Pa, kalau ilmunya tidak di salurkan. Sedangkan dia mempunya kemampuan yang mumpuni di bidangnya. Kejujuran tidak diragukan lagi bukan? Pendidikan juga menjamin. Dulu bahkan menjadi sekretaris Papa lohhj" selidik Rayina menggoda.

__ADS_1


" Pa???" ucap Mama dengan tatapan tajam..


" Hehe... menantumu racun Ma... " ucap Irfan kikuk


__ADS_2