
Rayina segera masuk ruangan yang bertuliskan VIP di pintunya. Ternyata Rizky sudah menunggu Rayina lumayan lama. Rizky tertegun melihat Rayina dengan pakaian casualnya. Sangat jauh berbeda dengan pikirannya. Rizky makin terpesona dengan sisi lain Rayina.
Rayina yang sadar dengan tatapan Rizky makin yakin kalau Rizky sudah berpikiran jelek dan beralih rasa. Tetapi feeling Rayina salah. Rizky malah makin terpesona dengan Rayina.
Rayina :" Maaf, menunggu lama".
Rizky :" It's okay. Duduk Rayi".
Rayina :" Makasih mas".
Rizky :" Mau minum apa?"
Rayina :" Tidak usah mas, makasih. Saya juga tidak akan lama. Saya meninggalkan anak dirumah. Langsung saja ke pokok masalahnya mas".
Rizky langsung memotong pembicaraan Rayina dengan menangkupkan telunjuk ke mulutnya.
Rizky :" Setidaknya pesan minuman dulu Rayi. Setelah itu aku akan siap mendengarkan apapun yang kamu katakan".
Rayina :" Okey".
Rizky :" Mau minum apa?".
Rayina :" Hot cocholate".
Rizky langsung memencet telpon sambungan ke waitress untuk memesan makanan.
Rizky :" Mbak hot coklat 1, capoucino 1 dan roti bakar".
waitress :" Oke pak. ditunggu".
Rizky :" Okay. Thank's".
Kemudian Rayina segera akan melanjutkan percakapannya tetapi Rizky menolak sebelum minumannya datang. Tak lama kemudian pesanan datang. Segera waitress menyajikan kepada mereka.
Rayina :" Oke mas, sudah tidak ada lagi yang akan menjadi kendala bukan? Saya sebenarnya kesini bukan untuk basa- basi ataupun kencan dengan mas"
Rayina kemudian menarik nafas dalam - dalam karena Rizky menatapnya dengan sangat dalam. Membuat Rayina semakin kikuk dibuatnya.
__ADS_1
'Ini orang kenapa si? Bukannya ilfeel sama aku tapi malah semakin menatapku intens' batin Rayina.
"Hufffff" buangan nafas Rayina.
Rayina :" Mas, maaf kemarin saya langsung pergi meninggalkan mansion tanpa menunggu mas dulu untuk pamitan. Maaf juga mas saya tidak sopan sebagai tamu bersikap begitu. Saya tahu saya salah. Saya berbuat demikian karena...."
Rizky :" Karena apa hmm?"
Rayina :" Karena.. saya tidak mau merepotkan mas. Mas nantinya akan mengantar saya pulang. Mas juga harus bekerja bukan?".
Rizky :" Kenyataannya? Aku bahkan minta cuti bukan? Bahkan aku tidak bekerja untuk hanya menemuimu meminta jawaban darimu Rayi? Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu terburu- buru? Adakah yang tidak berkenan dihatimu?".
Rayina :" Ada mas, maaf sebenarnya saya sydah memutuskan. Sebaiknya kita hanya sebagai teman saja. Saya tidak bisa lebih jauh lagi membuka hati saya untuk mas. Mas bisa mencari wanita lain yang bisa mencintai mas dengan tulus. Maaf mas.. hanya itu yang akan saya katakan".
Rizky :" Kamu sudah mencintainya bukan Rayi".
Rayina :" Iya mas. Maaf".
Rayina hanya menunduk. Setidaknya dia bisa jujur untuk mengungkapkan perasaannya itu. Dan dia sudah merasa sangat lega. Hatinya yang sesak sudah lebih lega.
Rizky :" Sejak kapan Rayi?".
Rayina kemudian menangkupkan tangannya tanda dia pamit dan mengucapkan salam. Sebelum Rayina membuka pintu ruangan Rizky berkata kepada Rayina.
Rizky :" Jika kamu disakiti oleh dia, kembalilah kepadaku Rayi. Aku berjanji, aku akan menunggumu".
Rayina :" Jangan pernah berjanji ataupun menungguku mas. Itu hanya sia - sia. Carilah pendamping hidupmu. Maaf"
Rayina menunduk dan segera pergi meninggalkan cafe. Rayina ke parkiran dan segera melajukan kendarannya untuk pulang kerumah.
Sepanjang perjalanan, dia merasa sangat senang. Akhirnya ganjalan hatinya yang selalu dia pendam sudah di buang. Dia memang tahu Rizky akan sangat tersakiti. Tapi lebih sakit lagi jika dia memberikan harapan palsu kepada Rizky.
Tapi Rayina masih berpikir dengan Ayden. Sedari pagi Ayden marah kepadanya. Karena chatnya lambat di balas oleh Rayina. Rayina makin galauk dan tidak enak hati.
Beberapa kali Rayina berusaha memberikan pesan untuk meminta maaf kepada Ayden. Tetapi pesan hanya dibaca oleh si empunya. Rayina makin gundah gulana memikirkan hal tersebut.
Semakin Rayina larut dengan pikirannya tak terasa dia sudah sampai dirumah dengan selamat. Rayina kemudian segera masuk dan memebersihkan diri.
__ADS_1
Rayina kemudian melaksanakan kewajibannya karena dia sudah mendengar adzan isya tadi. Dia segera bersujud kepada Sang Khaliq agar diberikan jawaban yang terbaik dari Nya.
Setalh melaksanakan kewajibannya sebagai muslim, dia kemudian menghampiri mbaknya.
Rayina :" Mbak, Ganesh bangun tidak tadi ?"
Mbak :" Tidak bu, Ibu sudah selesai semua? Kalau sudah saya minta ijin bu. Saya juga mau sholat".
Rayina :" Iya mbak. Makasih ya. Selamat malam. selamat istirahat".
Rayina segera masuk kamar, memandangi anak lelakinya yang sangat nyaman tidur dalam mimpinya. Ingin rasanya dia kembalibke masa kecil, dimana tidak ada rasa sakit, galau, sedih, semua jadi satu. Penyakit hati orang dewasa yang selalu menggerogoti.
Rayina merebahkan badannya yang sudah sangat penat. Kemudian dia membuka ponselnya. Mengotak atik apa yang ada di dalamnya. Berselancar di sosmed. Dan mengintip sosmed ataupun story Ayden. Rayina merasa sangat bingung. Tidak ada kabar sama sekali tentang Ayden.
'Kenapa tiba - tiba dia begitu ya? Apakah semarah itu dengan sikapku? Ah.. ternyata dia baper' gumam Rayina.
Sementara jauh di negara orang.
"Sayang, I missed you so much. Nothing chat with you. Just Be patient Ayden" gumam lirih Ayden.
Ayden pun tak luput berselancar di sosmed dan selalu memantau kegiatan Rayina. Semua sosmed Rayina, Ayden tahu. Seperti penguntit jarak jauh, ya begitulah Ayden. Apa daya karena jarak yang memisahkan mereka berdua.
Mama Ayden :" Assalamualaikum sayang... How are you?"
Ayden :" Waalaikumsalaam Ma, I'm fine too. And you? Ma... tomorrow I will arrive in Malaysia, I will pick up Ben to meet Rayina in Indonesia. what gift do you want me to bring?".
Mama Ayden:" no love. The most important thing is that you survive until that goal is more than enough. And don't forget to be careful".
Ayden :" Okay ma. Ma.. thank's for a lot of ya".
Mama Ayden:" It's okay sayang".
Ayden :" I love you so much Ma".
Mama Ayden:" I love you more sayang".
Setiap kali Ayden berkirim pesan kepada Mamanya selalu dia menceritakan apapun tentang Rayina. Bahkan Mamanya merasa sangat berpikir dan membandingkan dengan Ibu Ben dulu. Ayden dulu tidak seantusias seperti sekarang. Bahkan dulu apapun yang lebih antusias adalah Ibu Ben. Mama Ayden hanya bisa menangkap setiap keluh kesah anaknya itu berbeda saat dengab Rayina.
__ADS_1
Terasa penuh warna. Bahagia.. tentu saja. Bahkan sangat bahagia. Ayden sudah menemukan calon Ibu untuk anak - anaknya. Mamanya pun sangat mendukung keputusan Ayden dengan pilihannya. Rayina seorang wanita mandiri dan keibuan. Sedangkan Ayden seorang yang butuh sosok itu.