Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
65.


__ADS_3

" Perfect" jawaban Mama.


" Are you really Ma?" tanya Rayina penasaran.


" Of course cantik. Semuanya perfect. sesuai lidah Mama" puji Mama.


" Thanks Ma" ucap Rayina.


" Baiklah, sudah siap semua. Mari kita bersiap - siap. Nampaknya matahari juga mulai malu bertengger Ma" ucap Rayina.


" Ah, baiklah" ucap Mama.


Mereka kemudian bersiap diri untuk menunggu malam tiba. Waktu untuk bersujud dan menenengadahkan tangan kepada sang pencipta.


Nampak seluruh penghuni rumah bergegas bersiap diri untuk beribadah. Rayina segera menyiapkan pakaian untuk suaminya. Tak lupa dia juga mempersiapkan keperluan anak - anaknya. Walaupun sudah ada mbak yang bertugas untuk itu, Rayina tetap memberikan waktunya untuk itu.


" Sayang... honey... baby.." teriak Ayden.


Tidak ada jawaban bahkan hembusan ataupun tanda - tanda kehidupan orang di dalam kamar mereka.


Tetapi Ayden sudah melihat seonggok pakaian yang sudah istri cantiknya persiapkan untuknya


" Sayang... where are you?" teriak Ayden kembali.


" Bu, sepertinya Mr. Ay memanggil anda" ucap Mbak.


" Ah, benarkah? pasti dia membutuhkan sesuatu. Baiklah aku ke kamar. Tolong bantu dan perhatikan anak - anak mbak. Baju sudah saya siapkan. Thank you mbak" cerocos Rayina.


" Iya bu, sudah menjadi tugasku juga" jawab Mbak tulus.


Mbak kemudian membantu menyiapkan anak - anak. Dengan tulus ikhlas mbak selalu meladeni bos kecilnya yang sudah sangat aktif. Sedangkan bos tampannya sudah sangat pandai melakukan apapun sendiri.


Rayina sudah diambang pintu kamarnya. Tangan imutnya sudah menyentuh gagang pintunya.


" Sayang... sayang.." teriakan Ayden.


"Teriakannya sungguh.... " batin Rayina.


Rayina kemudian masuk dan segera menghampiri sang empunya suara.


" Ya... sayang... Kenapa? Kenapa harus teriak - teriak sih? What happend? Ada yang mas butuhkan?" tanya Rayina dengan lembut.


" Sayang.. dari mana? Kenapa tidak ada di kamar?" ucapnya penuh dengan kelembutan.


" Apa mas tidak ingat ada dua anak kita? Aku juga harus memperhatikan dia juga kan?" jawab Rayina dengan lembut juga.


" Oh.. okay baiklah.. dua pangeranku merebut my queen. hufftt" keluh Ayden.


" Mas cemburu? Mas cemburu dengan kedua bos kecil kita?" tanya Rayina mengejek.


" Just a little" jawab Ayden dengan menyatukan jari telunjuk dengan ibu jarinya.


" Oh... sayang.. don't jealouse again ya? mereka juga butuh aku. Walaupun hanya sebentar aku mau waktu sedikit untuk mereka harus dapat. Bahkan perhatian kita jangan berkurang. Aku tahu mas, mas masih ingin selalu dekat denganku. Bisakah dan bolehkan aku tetap memeperhatikan kedua bos kecil kita?" terang Rayina.

__ADS_1


" Of course sayang... mereka juga penting untuk kita. Aku hanya bercanda sayang. Aku sangat bahagia mempunyai dirimu. Sungguh sangat beruntung. Kamu tahu itu " sanggah Ayden.


" Terima kasih mas. Okay sekarang ada yang bisa aki bantu? Mas membutuhkan sesuatu?" tanya Rayina.


" Embb... apakah kamu sudah mandi?" tanya Ayden.


" Belum, tadi aku menyiapkan baju mas dan anak - anak dulu. Bukankah kita akan kedatangan tamu spesial?" ucap Rayina.


" Baiklah, mandilah kemudian kita akan sholat berjamaah. Sepertinya Papa juga sidah bersiap. Waktu maghrib sudah akan tiba" perintah Ayden.


" Baiklah mas... "jawab patuh Rayina.


Mereka kemudian bersiap mandi dan segera memakai pakaian yang sudah Rayina siapkan.


Sementara sepasang manusia senja tengah bersiap menunggu maghrib tiba. Mereka berada di ruang keluarga.


" Sepertinya semua masih bersiap Ma, baiklah kita tunggu dulu disini" pinta Papa.


" Baiklah" jawab Mama.


Sambil berbincang panjang lebar mereka sesekali saling pandang dan saling tertawa. Seolah waktu muda berputar kembali.


Mereka masih merasakan perbincangan intens seperti ini baru saat ini. Tanpa ada kesibukan satu sama lainnya. Terasa hangat dan sangat merindu waktu dimana bersama.


Sepasang mata belok melihat pemandangan yang sangat membahagiaan. Menyaksikan kedua orang tua yang saling bercengkrama penuh kehangatan. Tanpa berkurang sedikitpun rasa cintanya. Hal itu nampak dari kedua tatapan matanya satu sama lain.


Ayden yang akan keluar kamar merasa ada yang aneh. Istriny tidak langsung berjalan. Tetapi malah terpaku di depan pintu. Ayden penasaran apa yang dilihat wanita tersayangnya itu.


"Ad...aa .. appa ... say.. anngg.." tanya Ayden terbata ketika ikut melihat arah pandang netra istrinya.


1 cekrek...


2 cekrekk....


3 cekrek...


" Kurasa cukup" gumam Ayden dengan diikuti senyum manisnya.


" Ayo sayang.. sudah ambil wudhlu kan?" tanya Ayden.


Saat pertanyaan suaminya terlontar, Rayina terperanjat kaget. Ternyata suaminya juga sudah berada di sampingnya. Sepertinya dia juga sudah menyaksikan pemandangan senja ini.


" Sudah, baiklah.. ayo mas" jawab Rayina.


" Ayo" jawab ayden.


Mereka kemudian menghampiri sepasang merpati cinta yang tengah mengembalikan masa mudanya.


" Ma, Pa.. ayo.. jamaah" ajak Ayden.


" Ya boy, Papa sudah menunggumu daru tadi. Mana dua bos kecil kita?" tanya Irfan.


" I'm here Atuk... " teriak Ben yang di iikuti Ganesha.

__ADS_1


" Oh... my boy" Irfan mengusap kepala Ben dan kemudian menggendong Ganesha.


" Atuk! don't touch again. Okay?" ucap Ben dengan bersungut.


" Ah... baiklah.. hahaha" canda Irfan.


" Ayo, Ayah gendong mau?" tawar Ayden kepada Ben.


" No Ayah, aku bisa sendiri?" jawab Ben.


" Oh... waoww.. surprise... siapa yang mengajarimu bahasa Indonesia?" tanya Ayden terkejut.


" Tentu saja wanitaku Ayah.." jawab Ben dengan melirik Rayina.


" Hey... dia wanitaku. Kamu jangan pernah merebutnya dariku!" teriak Ayden.


" Hahaha.. Kau seperti anak kecil Ayah. Aku tetap prioritasnya" sergah Ben.


" Kauuu!!!" jawab Ayden jengkel.


" Sudahlah.. Ayah, Ben, Ganesh adalah prioritas Bunda. Right? Kalian adalah kesayanganku. Daaannn kalian adalah lelaki bunda yang paling bunda sayang. Okay?" Rayina menengahi.


" Ah.. kamu selalu membelanya sayang" jawab Ayden malas.


" Come on sayang your boy! ayolah.. waktu maghrib sudah tiba. Mari kita berjamaah" ajak Rayina.


" Ayo lah" jawab Mama, Papa dan yang lainnya sermpak.


Rayina terkaget dengan kekompakan mereka menjawabnya. Dan kekehan dari semua mulut terlontar. Seperti janjin saja tertawa.


Mereka semua menuju musholla yang ada di dalam mansion. Ayden memang menyediakan musholla di dalam rumahnya agar semua penghuni rumah bisa berjamaah saat tiba waktya sholat. Smeua sudah menempatkan posisinya.


" Kamu yang pimpin boy" pinta Irfan.


" Baiklah Pa. Rapikah shafnya" perintah Ayden.


Ayden segera memulai dengan takbirnya. Semua khusyuk menjalankan ibadahnya.


Selesai beribadah mereka segera saling berjabat tangan dan menengadahkan tangannya. Sujud syukur kepada sang Khaliq yang sudah memberikan kenikmatan apapun itu wujudnya, rupanya, bentuknya dan laon sebagainya.


Selesai sholat mereka semua segera membereskan tempat ibadanya. Rayina segera ke dapur untuk menyiapkan makanan yang akan di hidangkan. Dibatu oleh Mbak² dan tentunya Mama.


Mama memang tidak bisa berdiam diri ketika semuanya sibuk. Rayina sudah meminta untuk menemani suami dan cucu - cucunya. Tetapi dia tetap bersikeras membantu.


" Beres.. alhamdulillah" jawab Rayina.


" Ya.. sudah sayang.. mari kita makan. Rayina sudah menyiapkan semua ini. Pa, Ma silahkan di nikmati masakan menantumu ini" pinta Ayden.


" Mas, mana si brengsek itu" bisik Rayina ke telinga Ayden.


" Upss maaf, kalian tidak memberi tahu aku namanya" jawab Rayina berbisik.


Telinga Irfan masih samar mendengar bisik - bisiknya.

__ADS_1


" Apa yang kalian bicarakan??" tanya Irfan membuyarkan semua mata yang ada di meja makan.


__ADS_2