
Hai - hai readers jangan lupa like, komen, dan vote nya yah please....
Happy reading ya..
love you all β€β€β€πππππππ
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
" What happend Liona? Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Devran memberondong.
" Papa... Papa dev.." jawab Liona yang tidak mampu menjelaskan apapun saat ini.
" Iya, Papa. Papa kenapa?" tanya Devran kembali.
" Papa Dev... hiks... hikss" jawab Rayina dengan isakan tangis.
Devran kemudian menepikan mobilnya. Dia tidak tega melihat Liona yang menangis. Baru kali ini dia melihat sang singa kecilnya menangis sedih.
Biasanya bak singa lapar yang selalu garang dimata orang. Tapi kini Lionanya sangat memelas parasnya.
" Apa yang terjadi Liona? Jelaskan perlahan. Tenanglah. Aku akan selalu ada untukmu. Okay?" ucap Devran lembut.
" Huaaaaaa" tangis Liona makin kencang hingga tak sedikit orang melihat ke arahnya.
" Sstttttt... Liona... Sstttt... cup.. cup" tenang Devran.
" Sayang..." ucap Devran kembali.
" Hiks... Hiks..." suara tangis Liona kian rendah.
" Tenang.. okay... good.. Sekarang jelaskan perlahan. Tarik nafas dan buang secara perlahan" pinta Devran menenangkan.
" Huuuuuuuffff.... aaaahhhhh..." tarikan nafas Liona.
" Dev, thank you ya. Andai saja dari dulu kamu bisa selembut ini sikapnya. Aku bahkan akan memberikan cintaku lebih banyak" ucap Liona dengan sesenggukan.
" Ishhhh kamu. Kamu malah begitu. Apakah itu yang harus aku dengar??? Kenapa dengan Papa Liona?" tanya Devran kembali.
" Wait !!! Papa?? Papa siapa??" tanya Liona.
" What !!! Tentu saja Papamu bukan? Papa Rony?" ucap Devran keheranan.
" Tumben kamu manggil Papaku dengan sebutan Papa. Biasanya Om Rony" sergah Liona.
__ADS_1
" Hmm... bukankah sebentar lagi aku akan merebut anaknya? Otomatis mau tidak mau dia jadi Papaku bukan?" tanya Devran membalikkan.
" Hmm... benar juga. Dev, Papa saat ini di rumah sakit. Beliau mengalami cidera saat akan turun tangga. Kata mbak yang bekerja. Papa terpleset kakinya patah dan kepala terbentur tangga. Aku sedih sekali Dev" terang Liona.
" Baiklah. Sekarang bagaimana keadaan Papa? Dan dimana Papa dirawat?" tanya Devran.
" Di Internasional Hospital. Dan kata pihak rumah sakit Papa masih ditangani di ICU" terang Liona.
" Baiklah. Kita kesana sekarang. Kamu jangan histeris seperti tadi lagi ya? Karena akan memancing banyak orang. Aku tidak mau orang yang melihatnya berpikir yang tidak baik terhadapku. Menegerti singa kecil?" ucap Devran.
" Huum" jawab Liona mengangguk.
" Berdoalah, semoga Papa dilindungi Allah. Dan semoga keadaannya tidak seburuk yang kita bayangkan. Okay? Jangan menangis lagi ya sayang" ucap Devran seraya menggoda.
Pipi mulus selicin prosotan itu kini bersemu merah. Bak perona yang menghiasi wajah cantik itu. Devran yang melihatnya ikut tersenyum.
Sedikit malu, bahkan Devran merasa deg - degan saat mengucapkannya. Tak ada satupun kalimat yang terucap kembali dari dua insan yang saling bertaut hati.
Hanya senyum yang menghiasi masing - masing pemilik hati. Devran selalu mengembangkan senyum termanisnya kla melihat kembali wajah ayu yang menjadi pujaan hatinya kini.
Sedangkan sang pemilik rona ayu itu kini semakin malu dibuat mantan cassanova yang kini menjadi calon bucin akut.
" Dulu saja saat aku menggoda banyak wanita, mulut ini selalu dengan lantangnya mengucap. Dulu saja saat aku akan berkata dusta untuk mereguk nikmatnya wanita itu dengan gampangnya terucap Kenapa kali ini membuat jantungku makin tak karuan. Rasa ini sangat tidak biasa Tapi dalam relungku mengandung banyak ruang hangat dan rasa yang menyeruak tak terkira. Aku sangat bahagia Tuhan" batin Devran.
Sebelumnya Devran memastikan dulu ke resepsionis. Apakah benar Om Rony berada dirumah sakit tersebut? Dan ternyata ada dan benar.
"Ayo !! Segera kita ke ICU" pinta Liona.
" Ya sayang. Marilah" jawab Devran kembali menggoda.
Liona hanya mrnjawab dengan anggukan dan senyuman termanisnya. Mukanya kini sangat malu. Mungkin sudah semerah tomat ataupun udang rebus.
" Aih... aih... senyumanmu menusuk jantungku. Tepat !! bahkan hujaman itu sangat menancap pasti. Liona... semoga dan tersemogakan. Amin" batin Devran kembali.
Setibanya di ICU.
" Dev.. kenapa perasaanku tiba - tiba tidak enak ya? Rasanya ada yang hilang" uvap Liona melemah.
" Sttt Liona. Jangan begitu. Berdoalah. Semoga baik - baik saja" ucap Devran menenangkan.
" Sebentar aku akan mengirimkan pesan kepada Abang dan kakak ipar agar ke sini dan bisa membatu kita jika butuh sesuatu" ucap Devran.
" Baiklah" jawab Liona.
__ADS_1
Devran kini sibuk dengan ponselnya untuk memberikan kabar kepada keluarganya. Tak luput Papanya sendiri. Dia sangat sibuk dan khawatir. Gadis yang dicintainya kini tak lagi ceria. Bahkan wajah itu menjadi sendu.
" Dokter bagaimana Papa saya?" tanya Liona yang melihat dokter keluar dari ruangan ICU.
" Emmm... sorry. Siapa anda?" tanya dokter.
" Apakah benar pasien ICU ada yang bernama Rony ?" tanya Liona.
" Ahhh... singa kecil" ucap dokter lirih tapi liona mendengar.
" Singa kecil?? Maksud dokter?" tanya Liona kembali.
" Hmmm. Yang sabar nak. Om sudah berusaha semaksimal mungkin" ucap dokter.
" Maksud dokter?" tanya Liona kembali.
" Liona, Papamu sudah tidak ada. Kamu yang sabar. Dan ini ada pesan untukmu" ucap dokter.
" Maaf dokter. Dokter tahu namaku?" tanya Liona.
" Tentu saja!! bahkan sewaktu kamu di kandunganpun istriku yang menanganinya. Hingga menjadi gadis saat ini pun aku tahu. Walaupun sedikit lupa karena mata tuaku ini" terang dokter.
" Om... Om Radit?" tanya Liona mengernyit mengingat nama itu.
Ya, dokter Radit adalah teman Papanya sewaktu sekolah dulu. Mereka mengenyam bangku sekolah yang sama. Mereka akhrinya berpisah karena Radit memilih jurusan kedokteran di Amerika sedangkan Rony memilih bisnis di London.
Dan akhirnya dipertemukan lagi saat Rony sudah memiliki istri dan tengah hamil Liona dulu. Hingga saat ini mereka masih berhubungan baik. Bahkan Rony juga sering bertemu dengan Radit. Dan saat ini pula Radit yang menangani Rony dalam keaadaannya kini.
" Ya benar sayang. Yang sabar ya, Nanti Ayden akan kesini untuk mengurus beberapa prosedur. Semua sudah aku urus dan Ayden akan segera kemari" ucap dokter Radit.
" Hiks... Hiks" tangis Liona.
Mulut itu kini kelu, tak tahu harus mengucapkan apa. Hanya tangisan yang tak bisa keluar begitu saja. Hanya isakan kecil yang membuat dadanya kini sesak tak terkira.
Devran yang melihat gadisnya kini mendekat ke dokter Radit. Dia menanyakan apa yang terjadi. Dan dokter Radit sudah menjelaskan semua yang terjadi sangat detil. Bahkan yang dialami Ronypun dia ceritakan secara gamblang.
Kini Devran merasa sangat kasihan dengan gadisnya itu. Wajah cantik itu kini mendung dan sepertinya hujan akan turun diwajahnya.
Pelukan.. Ya pelukan Devran akan melakukannya. Walaupun Liona akan marah atau apapun itu. Hanya itu yang Devran bisa lakukan.
Tubuh mungil itu kini direngkuhnya. Kemudian disandarkan ke dada bidangnya. Diusapnya rambut panjang halus hitam nan wangi dengan penuh kasih.
" Keluarkan jika membuat hatimu lega. Jangan ditahan, itu membuat sakit sayang" ucap Devran.
__ADS_1