
" Emmmbbb... Terus Pa, dimana itu bapaknya Xano?" celetuk Rayina.
Rayina tahu, kalau obrolan itu dilanjutkan akan membuat suasana hati kedua mertuanya berubah. Ya, walaupun kenyataannya mereka sudah bisa menerima yang telah berlalu.
Dan apa yang dikatakan suaminya ada benarnya juga. Toh sudah berlalu. Bukan hari kemarin tapi sudah berpuluh tahun lamanya.
" Terakhir Exel bekerja sama dengan Papa, di bidang Alat kesehatan. Tetapi karena jalan yang di tempuh Exel tidak semestinya. Papa kemudian mengundurkan diri. Saham yang sudah ditanamkan Papa tarik. Ya, walupun hanya 20 %. Tetapi itu cukup membuat agak goncang" cerita Papa.
" Selanjutnya diikuti saham milik om Rony yang ditarik sebanyak 25%. Jadi semakin linglung bukan?" tanya Papa.
" 45 % saham ditarik, berarti itu membuat goncangan di perusahaan itu Pa?" tanya Ayden.
" Sebentar Pa. Om Rony? Papanya si Liona?" tanya Rayina penasaran.
" Ya, tentu saja. Siapa lagi sayang? Papa Liona mempunyai kekayaan yang tidak banyak orang tahu. Dia juga mempunyai pulai pribadi. Bisnis yang dia bangun juga super power. Liona pewaris tunggal kekayaan Rony" terang Papa.
" Ooo.. begitu" jawab singkat Rayina.
" Singa kecil bisa digunakan untuk senjata di dunia bisnis atau teknologi. Ini sangat menguntungkan. Dan anak itu cukup baik. Devran... Devran.. bodohnya dirimu.. Ada gadis baik menantimu" batin Rayina dengan melirik Devran.
Devran yang kala itu memperhatikan tingkah kakak iparnya menjadi takut. Dia jadi dalah tingkah. Kemudian mengusap tengkuk kepalanya yang tidak gatal.
" Kakak ipar kenapa memandangku begitu?" ucap Devran.
" Ge er kamu!!" ketus Rayina.
" Hahahaha" tawa kencang semua ornag yang ada di situ.
" Sebenarnya, secara garis besar bukan kesalahan Devran juga Pa. Kalau tidak karena dia juga kita tidak bisa mengungkap siapa X-one. Karena menurutku semua ini saling berkaitan. Tetapi kita kurang jeli dalam menyikapi dan berfikir" terang Rayina.
" Ya, tikus kecil itu Aruni. Papa pasti sudah tahu Aruni bukan? Dia bergabung dengan kelompok mafia di negara ini. Saat ini kondisinya masih belum sadar setelah tadi melakukan pembedahan. Pengambilan alat pelacak yang ada di dalam tubuhnya. Jadi setiap anggota mafia itu pasti dipasang alat itu. Alat itu namanya chips" terang Rayina.
" Wait.. wait.. wait... Pembedahan??? Operasi?" tanya Papa kaget.
" Ya" jawab Ayden singkat.
" Pantas saja Kevin kamu ajak bekerja sama" terang Papa.
" No, Pa. Bukan Kevin yang melakukan operasi itu. Tetapi menantu kesayangan Papa" terang Ayden.
" What??? " pekik Mama dan Papa.
" Sebenarnya siapa kamu? Apapun bisa kamu lakukan. Apa kamu agen FBI?" tanya Papa bercanda.
" Papa..." Rayina merajuk.
" Dia memang istimewa Pa. Banyak sekali skill dan ilmu yang dia punya. Itu juga berkat dia belajar dari mendiang suaminya dulu saat menjadi seorang Prajurit" terang Ayden.
__ADS_1
" Really??" tanya Papa terkejut.
" Ah.. pantas saja dia wanita yang mandiri. Dan apapun bisa dia lakukan" ucap Mama.
" Pa, Xano adalah ketua mafia itu. Dan aku curiga kalau Aleena bergabung dengan mafia itu. Karena aku pernah melihat Thomas juga mempunyai tatto yang dama dengan Aruni. Kemungkinan Aleena bergabung" terang Rayina.
" Devran!! " teriak Papa.
" Mulai besok jalankan perusahaan Papa. Papa akan bantu dari belakang" ucap Irfan.
" Ingat !! jangan sampai kecolongan lagi" Irfan memperingatkan.
" Besok Pa? Apa tidak terlalu cepat? Aku harus ke Malaysia begitu Pa?" tanya Devran.
" Tentu saja. Perusahaanmu bukan di kendalika oleh sekretarismu itu? Kamu jarang ke kantor. Kamu juga hanya menerima laporan tiap bulannya. Sedangkan kamu malah bersenang - senang" terang Papa.
" Devran!!" geram Ayden.
" No, abang. Perusahaanmu aku handle sendiri. Tidak ada perwakilan. Setiap inci aku yang menanganinya sendiri" terang Devran sebelum terkena amukan Ayden.
" Besok, perusahaan Ayden. Biar Rayina yang menangani. Ayden bekerja sesuai jalurnya. Sebelum dia sendiri yang akan memutuskan untuk tetap di perusahaannya" ucap Irfan.
" Baiklah Pa. Aku percaya dengan istriku. Mungkin dia belum berpengalaman. Tetapi aku akan mendukungnya dari belakang" terang Ayden.
" Tapi ingat, jangab terlalu lelah. Okay sayang?" Mama memperingatkan.
" Nah... itu yang dari tadi Papa tunggu. Tetapi anak bodoh itu belum menyadari. Dia terlalu gengsi mendatangi Omnya. Karena Liona sudah ada hati dengannya" ledek Papa.
" Dan sebaliknya Pa. Dia menyewa wanuta itu hanya menutupi gengsinya yang bak tinggi menara eifel" ledek Ayden kembali
" Sebenarnya, Liona sudah ada yang menyukainya bang. Rizky, temanku menyukainya. Aku berkenalan dengan Rizky saat mengunjungi perusahaan di Indonesia" terang Devran.
" Mas..." pekik Rayina.
" Pengusaha makanan? Dia dulu bekerja di perusahaan kereta apu milik pemerintah di Indonesia?" tanya Ayden.
" Abang kenal?" tanya Devran.
" Haha... Dulu dia bersaing denganku untuk mendapatkan Kakak iparmu. Sekarang giliranmu, bersaing dengannya" terang Ayden santai.
" Berati aku tidak perlu waspada dengan Rizky lagi dong sayang. Kan dua sudah move on dari kamu" ucap Ayden lega.
" Sepertinya begitu mas, dia menyukai Liona karena menurutku Liona seperti waktu aku remaja" terang Rayina santai.
" Ya, akupun begitu. Cuma Liona leboh cerewet dan dia begitu bawel" ucap Ayden.
" Berati Liona pernah bertemu dengan Rizky?" tanya Rayina.
__ADS_1
" Iya kak, waktu dia kesini mencari cinta sejatinya. Katanya begitu. Tetapi dia malah jatuh cinta dengan Liona" terang Devran.
" Lalu, cinta sejatinya kemana?" tanya Ayden.
" Sudah menikah, dan hidup bahagia. Katanya, dia tidak akan mengganggu lagi" terang Devran datar.
Devran masih mencerna ungkapan ayden. Memperebutkan Rayina dahulu kala.
" Berarti? Kakak ipar cinta sejatinya dulu?" tanya Devran seru.
" Maybe" jawab Rayina dengan mencebik.
" Oh ya Pa... Apakah Exel masih hidup?" tanya Rayina dengan tiba - tiba.
" Dia sudah meninggal. Karena apa kita tidak tahu. Semua media dan berita dibungkam. Tidak ada yang tahu krmatian yang sebenarnya. Rumor yang beredar karena sakit jantung" terang Papa.
" Oh.. begitu. Dan bagaimana dengan Ibunya Xano, Rihana?" tanya Rayina.
" Terakhir kali dia bertemu dengan Mama saat berada di pertemuan perusahaan. Dia sepertinya akan melahirkan. Karena waktu itu dia hamil besar. Dan dia meninggal setelah pendarahan hebat" terang Mama.
" Ohh.. sadness. Jadi tujuan Xano sebenarnya apa?" lirih Rayina.
" Sayang, kemungkinan juga karena dendan Papanya kepada Papa. Terus Papanya juga tidak mendapatkan Mama. Right?" terka Ayden.
" Pasti ada kekeliruan mas. Kalau tidak ada perkataan yang dapat memicu amarah. Pasti tidak akan terjadi sedemikian rupa" ucap Rayina.
" Boy, ada benarnya juga istrimu. Bagaimana langkah kita selanjutnya?" tanya Papa.
Ketika mereka berdiskusi secara serius. Tiba - tiba ada suara ketukan pintu dari luar. Terdengar berkali- kali. Bahkan terdengar sangat buru - buru. Ayden segera membuka pintu. Dari balik pintu ada seseorang.
" Aruni..." teriak orang itu.
Panik? Tentu saja. Sebenarnya apa yang terjadi?
Jangan kemana - mana ya....
Jangan lupa komen, like dan votenya ya...
Author bakal kembali....
Untuk komentar dari para readers sangat penting untuk kemajuan penulisan Author. Jadi Terimakasih yang sudah berkomentar ya..
Author akan kembali... bye.. bye..
Happy reading...
💕💕💕💕💕🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1