Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
176.


__ADS_3

Dinegara entah bagian mana, nampak sepasang mata tengah memandang jauk cakrawala. Membelah lazuardi yang kian megah.


Kini nampak sayu dan tiba - tiba sedikit berembun. Mengingat masa lalu dengan sedikit kepahitan yang ada. Tidaklah sedikit, bahkan sampai saat ini masih menikmati kepahitan itu.


Xano bukanlah anak dari pemilik X - corp. Dia hanyalah anak penggantinya saja. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa?


Ya, dia adalah anaknyang ditukar oleh Maria selama ini. Maria membodohi suaminya yang notabennya adalah mafia kelas kakap.


Dia tidak mau mengorbankan anaknya untuk menuruni jejak kemafiaan dari suaminya itu. Untuk itu Maria menukar Xano dengan anaknya sendiri. Walau bagaimanapun Maria juga begitu menyayangi Xano tanpa terkecuali.


" Bagiamana? Apa sudah kamu temukan?" tanya Xano kepada anak buahnya.


" Sudah tuan, terakhir kami hanya mendapatkan informasi bahwa dia berada di Indonesia" jawab anak buahnya.


" Kita berangkat sekarang. Aku tidak mau menunggu waktu lebih lama lagi!!" ucap Xano.


" Kenapa bos sangat terburu - buru untuk mendapatkan orang itu ya? Siapa dia sebenarnya?" batin anak buah Xano.


" Siapkan jet pribadi. Kita akan berangkat sekarang juga !!" titah Xano.


" Baik boss!!" jawab anak buahnya.


Xano segera bergegas menuju bandara dan segera berangkat ke Indonesia untuk mendapatkan orang itu.


Sementara dua pasang manusia yang tengah dalam mabuk asmara, kini sedang bersandar lemah dan hanya diam mengerjap.


" Mas... ini dimana?" tanya Rayina yang kini sudah menyadari keberadaannya.


" Lihatlah..." ucap Ayden tanpa menjawab keberadaan yang sebenarnya.


Diedarkannya mata bulat dengan bulu mata nan lentik itu ke seleuruh ruangan. Terasa asing tapu juga sedikit mengenalinya.


" Wait.... Mas... apakah... apakah???" ucap Rayina yang sudah mulai berbinar.


" Hmmm" jawab Ayden dengan menganggukkan kepalanya.


"Waooowww" teriak Rayina heboh.


Rayina segera duduk disamping Ayden karena tadi masih dalam posisi rebahan dengan memeluk kaki Ayden yang selonjoran.


" Indonesia??? Jakarta??" ucap Rayina lagi.


" Hmm... hmm" jawab Ayden dengan mengangguk kembali.


" Ohh... mas... thank you so much" ucap Rayina dengan mengecup pipi suaminya dan segera menyambar bibir sensual milik suaminya sekilas.


Dia langsung berdiri menuju balkon kamarnya. Seketika Ayden teriak.


" Mau kemana???" tanya Ayden dengan sangat keras.

__ADS_1


" Balkon Mas, aku hanya ingin memastikan keberadaan kita" jawab Rayina enteng.


" Dengan kamu seperti itu??" tanya Ayden dengan menunjuk seluruh tubuh Rayina.


" Astaghfirullahhaladzim " pekik Rayina.


Reflek Rayina menutupi dua bukiy kembarnya dan danau yang sedikit di tumbuhi rumput liar.


" Kamu menggodaku lagi sayang?" ucap Ayden menyeringai licik.


" Nooo!!" teriak Rayina dan segera ke ruang ganti untuk mengambil baju tidurnya.


Rayina mencari baju tidur yang layak pakai. Bukan seperti kain tipis yang hanya membentengi badannya saja.


" Mas, kenapa baju tidurku seperti ini semua?" protes Rayina.


" Hihihi" kikik Ayden.


" Pakailah saja sayang, Mas juga suka" jawab Ayden menggoda.


" Masss" rengek Rayina mendekat.


" Kecup dulu... kemarilah" pinta Ayden manja.


Rayina tanpa menolak mendekat dan mengecup bibir sekilas.


" No... itu" jawab Ayden dengan menunjuk sumber pengidupannya.


Melihat wajah istrinya yang memelas membuat Ayden tidak tega. Dia kemudian mengambilkan bathrobe untuk istrinya.


" Tapi... setelah ini, aku mau susu hangat pagi hari" pinta Ayden bernegosiasi.


" Iya.. sayang" jawab Rayina lembut.


Dipakailah bathrobe itu dan segera menyibakkan horden yang menutupi pintu balkon. Pintu segera dibuka, terlihat pemandangan danau dan taman di komplek mansion.


" Bagaimana? Percaya??" tanya Ayden yang sudah di belakangnya dengan memeluk dari belakang.


" Hmm.. Thank you so much mas" ucap Rayina tulus.


" Sebentar lagi akan ada Bu Darso yang akan mengantar makanan. Dan juga aku punya usul menambah satu lagi pekerja untuk membantu Bu Darso. Menurutmu bagaimana sayang?" tanya Ayden.


" Emmbbb... tapi mas..." ucap Rayina sedikit berpikir.


" Terserah pendapat kamu. Mas akan wujudkan semuanya" ucap Ayden yang tidak mau membuat istrinya bersedih lagi.


" Yakin?" tanya Rayina menyelidik.


" Ya. Of course!!" jawab Ayden yakin.

__ADS_1


" Emmmbb baiklah. Mas tidak perlu menambahkan pekerja lagi. Setelah ini aku mau pulang ke kampung halaman orang tuaku di desa. Okay??" pinta Rayina.


" Please... Mas tadi sudah berjanji kepadaku" ucap Rayina kemudian melemas.


" Hmmm... Mas akan pertimbangkan" ucap Ayden sedikit berpikir.


" Sayang.. Apakah, rumah orang tuamu berada di desa sangat terpencil? " tanya Ayden.


" Tidak juga. Mereka berada di sebuah kampung. Dan bukankah Mas sudah tahu keadaannya? Bukankah Mas membelikan tanah dan sebagainya untuk kedua orang tuaku?" tanya Rayina menyelidik.


" Embbb maksudku, bagaimana dengan cuacanya? Panas, biasa atau dingin?" tanya Ayden memastikan.


" Mas, mau di puncak?" tanya Rayina.


" Puncak? Maksudnya?" tanya Ayden bingung.


" Aku pernah cerita bukan, Ganesh punya peninggalan dari Ayahnya. Aset tanah dan perkebunan? Lokasinya itu ada di puncak. Disana suasana cukup dingin tapi udara segar. Karena jauh dari polusi. Bagaimana? Sudah ingat?" tanya Rayina kemudian.


" Ahhh... I See" jawab Ayden.


" Baiklah, setelah dari orang tuamu. Kita ke puncak. Disana adakan rumah yang di sewakan?" tanya Ayden.


" Ada mas, tenang saja. Jadi, menurutku keputusanku tidak menambah pekerja. Biarkan Pak Darso dan Bu Darso tinggal di rumah ini" ucap Rayina kemudian.


" Baiklah, lagipun Papa dan Mama disini juga. Kemungkinan Papa akan meninjau perusahaanku yang disini. Kita liburan saja. Dan dua sejoli berangkat hari ini ke bali" ucap Ayden.


Tok


Tok


Tok


Terdengar pintu diketuk dari luar. Nampaklah seorang Ibu - Ibu paruh baya membawa sebuah nampan berisi beberapa makanan, buah, jus dan susu hamil sesuai permintaan tuan rumahnya.


" Permisi tuan, ini saya mengantarkan sarapannya. Dan perkenalkan saya Bu Darso" ucap Bu Darso.


" Ya Bu, kita pernah bertemu bukan dulu. Dan perkenalkan ini istriku. Rayina. Dan, untuk tambahan pekerja tidak perlu saja. Tapi... Bu Darso tinggallah disini dengan Pak Darso. Karena hanya Mama dan Papa yang akan disini. Saya dan istri saya akan babymoon dengan anak - anak juga" terang Ayden panjang lebar.


" Baik tuan" jawab Bu Darso.


" Embbb, Bu Darso jangan panggil saya tuan. Panggil saja Pak seperti yang lainnya saja. Ikuti yang lainnya" pinta Ayden.


" Iya Pak. Saya permisi" ucap Bu Darso.


Ayden segera masuk ke dalam kamarnya. Mereka duduk di balkon kamarnya. Dengan menikmati udara pagi yang menyapa. Dan ada kicauan burung yang membuat sedikit merdu mendengar suaranya.


Rayina mencoba masakan Bu Darso. Sepertinya wanginya menggoda iman. Dia seperti bau akan wanginya masakan Ibu di kampung.


" Hmmm dari baunya saja menggods mas. Ayo kita coba. Bagaimana rasanya!" ucap Rayina bersemangat.

__ADS_1


" Hmmm enak mas.. recomended deh!!" ucap Rayina.


Jika istrinya berkata demikian adanya berarti memang rasanya benar. Karena istrinya cukup jeli dalam pemilihan makanan.


__ADS_2