Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
192.


__ADS_3

" Bodoh !!! Begitu saja tidak mampu !! Keluar semua !!" teriak lelaki itu penuh dengan kemurkaan.


" Boss" ucap lelaki yang baru saja akan masuk sebelum pintu tertutup rapat.


" Apa?" tanya lelaki itu dingin.


" Jakarta " ucap bawahan lelaki itu.


" Persiapkan semuanya. Cari tahu lebih detil lagi. aku tidak mau ada kesalahan sedikitpun. Paham!!!" perintah tegas lelaki itu.


Sementara di puncak villa, menghampar luas kebun teh yang sangat asri dengan cuaca yang sangat sejuk dilengkapi dengan keluarga yang terlihat sangat bahagia.


Netra wanita yang berbadan dua itu melirik sekilas ke arah lelakinya. Dilihat dengan seksama saat suaminya masih berkutat dengan ponselnya. Dan tawa lirih alias cekikikan kini terdengar hingga gendang telinganya.


" Apa yang dilihat Mas Ayden. Sampai cekikikan begitu !! Apakah ada yang lucu?" batin Rayina.


" Mas ..." sapa Rayina yang kemudian menghampiri suaminya.


" Ya??" jawab Ayden mendongak santai.


" Kenapa?" tanya Rayina ingin tahu.


" Kenapa apanya??" tanya Ayden dengan menautkan alisnya.


" Itu... cekikikan. Lihat apa??" tanya Rayina kembali.


" Lihatlah..." jawab Ayden dengan menyodorkan ponselnya.


" Whatttt???? Mas... kamu keterlaluan!!" ucap Rayina.


" Dimana ini mas??" tanya Rayina kembali.


" Hahahaaa" tawa pecah seketika membuyarkan seluruh penghuni rumah.


" Ada apa nduk?" tanya Bapak yang tak kalah keponya.


" Mas Ayden keterlaluan!! Adik sendiri dikerjain!!" ucap Rayina dengan sedikit kesal.


" Tapi kalau dipikir - pikir lucu juga. Hihihi" ucap Rayina sembari berlalu duduk.


" Kamu kerjain apa Cah bagus?" kini giliran Ibu uang bersuara.


" Ibu tahu... Jika akan ke villa ini bisa pakai mobil bukan? Mas Ayden mengatakan tidak ada kendaraan yang sampai Villa. Dan... Mas Ayden menyuruh mereka naik kuda. Sedangkan Dave trauma dengan kuda !!" ucap Rayina menjelaskan.

__ADS_1


" See ... istriku sudah menjelaskan!!" jawab Ayden santai.


" Siap boss !!" jawab bawahan dengan yakin.


Sementara di sebuah ruangan yang sangat luas. Sepasang suami istri tengah bersiap untuk menuju ke ruang makan. Cacing di perut keduanya sudah sangat berdemo dengan brutal. Apalagi dengan keadaan wanita itu yang tengah berbadan dua, eh ralat tiga.


" Sudah ayo makan dulu!! Nanti biar supir jemput Dev" pinta Bapak.


Mereka segera melanjutkan sesi sarapannya. Rayina segera menuangkan menj yang sudah tersedia. Sedangkan anak - anak kini sudah mulai mandiri untuk mengambil makanan yang mereka suka. Diajarkan sejak dini untuk mandiri adalah salah satu didikan Rayina.


Selesai sesi sarapan segera mereka melanjutkan rutinitas yang mereka inginkan. Ibu membuat kue dan beberapa cemilan. Karena dia sering emndengar curhatan anak perempuannya bahwa cucunya jarang sekali jajan. Karena anaknya sering membuatkan cemilan atau makanan lainnya.


Rayina menuju ke kebun belakang rumah. Disana sudah ada Bapak dan seorang pekerja yang di boyong untuk sementara waktu bekerja di sini. Ya, Bapak yang melakukan semua itu. Agar anak, menantu serta cucu - cucunya tidak kerepotan saat dirumah ini


" Mas, lah itu Devran gimana? Kok bisa - bisanya mau kesini? Kata genduk kan masih honemun" terang Bapak.


" Mas? Genduk? Maksudnya?" tanya Ayden yang kebingungan.


" Untuk Devran... memang dia selalu begitu. Nempel terus sama tuuhhhh anak bapak" ucap Ayden yang dekit sebel.


" Ya, biar hampang saja. Bapak manggil kamu Mas. Sama seperti anak bapak manggil kamu. Genduk itu kepanjangan dari Nduk. Panggilan untuk anak perempuan Bapak yang itu" jawab Bapak dengan menunjuk Rayina.


" Hiiihii okelah bapak mertua" kikik Ayden.


" Tenang saja Pak. Bapak tak perlu sekhawatir itu. Lagian kenapa masih ngrecokin kita aja. Dia sudah saya kasih tiket Honeymoon juga. Masih mau nyusulin kami disini!!" jengkel Ayden.


Ayden bangkit dari duduknya dan segera membatu istrinya yanv membawa beberapa bunga yang sudah dipetiknya dari kebun.


" Bisa sayang?" tanya Ayden yang sedikit khawatir karena besar perut istrinya sudah membuat kepayahan.


" I'm Okay sayang. Jangan khawatir. I' m also happy" ucap Rayina antusias.


" Bu... Bune.. tolong ambilkan vas yang kosong!!" teriak Bapak.


" Husss.. Pak. Ndak usah teriak - teriak. Ibu masih di dapur bikin kue. Aku saja yang cari vas sendiri. Kalian bapack - bapack silahkan bercengkrama santai" ucap Rayina.


" Hehh... ini yang nemenin simbok kok yo gak kemari. Tak telpon dulu wes" ucap Bapak menggerutu.


" Pak.. yang sabar. Sudah sepuh loh. Aku saja santai kok" ucap Rayina.


" Ya.. Sudah sampe mana? Hmmm yo wes.. bantuin. . bantuin... tolong ya.. segera" ucap Bapak terdengar begitu.


Rayina yang sudah mendapatkan vas besar yang sesuai keinannya segera dia mengayunkan kakinya menuju bunga yang sudah dipetiknya.

__ADS_1


Ayden yang dari tadi diam menyimak pembicaranpun tak hanya diam. Dia bergerak dan mencari keran air untuk mencuci bunga - bunga dan beberapa daun yang dipetik istrinya. Agar istrinya tak payah untuk mencuci dan segera merangkai.


Rayina duduk di lantai dengan santainya. Sementara Ayden melihat itupun sangat menyenangkan. Ayden kemudian masuk kedalam dan meminta tikar untuk duduk. Tak lama Ayden segera menggelar tikar itu.


" Kemarilah sayang. Nyaman bukan duduk dibawah? Tapi Mas rasa ini sangat dingin lantainya. Silahkan tuan ratu duduk di tikar ini. Hamba sudah menyiapkannya" ucap Ayden dengan sedikit dramastis.


" Hilihhh... thank you my king" jawab Rayina dengan terkikik geli.


" Telpon siapa Pak?" tanya Rayina.


" Lah itu buat mbantuin simbok. Tak boyong dua pekerja kebun sementara. Lah malah ketemu dua orang kota yang naik kuda" ucap Bapak dengan melirik Ayden.


" Hahaha.. Devran!!" ucap Ayden yakin.


" Lah katanya gimana Pak?" tanya Rayina penasaran.


" Lah katanya sik cewek seneng kuda. Sik lanang ( cowok) keweden ( ketakutan). Lah tak suruh mboncengin mereka saja. Ndak usah naik kuda sampe sini. Biar cepet. Kasian. Capek juga pasti" ucap Bapak.


" Mas, keterlaluan ihhh... Dev pasti pucat. Mobilnya taruh mana itu bocah?" tanya rayina.


" Entahlah sayang. Biarkan saja. Tunggu mereka sampai sini!!" ucap Ayden.


" Lah kalau mereka nyusuk kesini, Mama sama Papa sendirian dong. Urusan kantor bagaimana?" tanya Rayina menyelidik.


" Tenang, Mas pantau terus dari sini" ucap Ayden yakin dengan menunjukkan ponsel canggihnya.


Tak berapa lama terdengar suara motor masuk halaman rumah itu. Dua pekerja perempuan segera mengajak masuk.


" Silahkan tuan, nona" ucap salah satu pekerja.


" Assalamualaikum " salam menggema ke seluruh rumah.


" Waalaikumsalam " jawab bebarengan.


Simbok keluar dari persembunyiannya masih lengkap dengan apron kebanggaannya. Menyambut salam serta sapa yang menggema.


" Weehhh Sur ini sopo?" tanya Simbok.


" Ini tamu dari kota Mbok. Kata Juragan besar suruh dibawa ke vila bareng kami" jawab Surti.


" Hahaha... " tawa menggema di seluruh ruangan.


Seketika bola mata membelalak mencari sumber suara. Tubuh atletis itu segera berlari dan ingin menikamnya.

__ADS_1


" haaaaaaaaaaa"


__ADS_2