
Mereka semua diam dan mencerna perkataan Rayina. Berfikir tentang sesuatu yang buruk terjadi, itu adalah hal yang wajar.
" Mas, apakah Aleena aman? Coba periksa, dan pastikan dalam keadaan baik - baik saja. Aku curiga ada pergerakan yang tidak kita ketahui karena kita disibukkan dengan acara kemarin dan juga kondisiku" pinta Rayina.
" Tenang.. tenang sayang. Sudah aku periksa. Farhan juga sudah ke sana memastikan semuanya. Dan kita menunggu laporan dari Farhan" terang Ayden.
" Aku rasa, penguntit akan menghabisi Aleena. Karena Aleena adalah tombak Xano bukan?" terka Ayden.
" Ya, aku juga berpikir seperti itu. Pa, apakah semua dalam kendali? Perusahaan di Malaysia bagaimana? : tanya Rayina kemudian.
" Aku takut, peralihan masalah akan terjadi. Dan semua tidak terkendali lagi" terang Rayina kemudian.
☎️ Farhan calling....
" Farhan" ucap Ayden menerangkan.
" *Ya Farhan?? Bagaimana? ...."
" Hmm.. Ya.. baiklah..."
" Tunggu aku akan kesana" begitu sekiranya percakapan keduanya di telepon*.
" Sayang, jangan kemana - mana. Jika capek istirahatlah. Dan jangan berbuat yang aneh - aneh. Aku akan segera kembali. Farhan membutuhkanku. Okay?" ucap Ayden cepat.
Semua orang melongo mendengar apa yang diucapkan Ayden. Entah apa yang terjadi sebenarnya. Ayden begitu terburu - buru menemui Farhan.
Rayina tidak tinggal diam. Segera dia melihat monitor cctv yang terhubung diruangan keberadaan Farhan. Dan benar seperti dugaan Rayina. Farhan berada di ruangan Aleena ditahan.
" Ada apa sayang?" tanya Irfan.
" Look at this Papa" ucap Rayina.
Mereka semua mendekat dan melihat monitor. Sementara baru saja seseorang telah sampai diruangan tersebut. Ayden baru saja sampai. Sepertinya Farhan sedang menjelaskan sesuatu.
Terlihat Aleena dalam kondisi yang tidak baik. Dan seperti mengeluarkan darah dari dalam hidung dan mulutnya.
" Astaghfirullahhaladzim " ucap semuanya.
Rayina kaget saat melihat itu, segera dengan cepat dia menguasai keadaannya. Mencerna dan menelaah apa yang terjadi.
" Sayang, bisa kita dengarkan suara di ruangan tersebut?" tanya Irfan.
" Ya" jawab Rayina singkat.
__ADS_1
Di tambahkannya volume monitor itu. Sedikit tidak jelas namun samar terdengar. Bahwa ada benda yang ditanam di kepala Aleena tanpa sepengetahuannya.
Rayina melihat darah yang keluar dari mulut Aleena seketika rasanya mual melanda. Perutnya terasa diaduk - aduk tidak karuan. Keringat dingin mulai menetes.
Rayina segera bangkit dan mendorong infus yang melekat di tangannya. Masuk ke kamar mandi dengan cepat tanpa menghiraukan banyak orang di ruangan itu.
" Ya, Allah sayang..." ucap Mama khawatir.
Mama kemudian masuh dan mengurut lembut punggung Rayina dengan penuh kasih.
" Mama keluar saja, jangan kesini. Ini jijik Ma" ucap Rayina.
" Tidak sayang. Tidak masalah. Mama dulu juga begitu. Dan janganlah risih jika Mama bantu. Okay??" ucapnya.
Rayina masih mengeluarkan semua isi perutnya. Dia tidak menyangka kandungan masuk trimester kedua justru malah merasakan mual dan lelah luar biasa. Padahal awal kehamilan sangat santai. Ya, karena suaminya yang merasakan itu semua.
" Sudah?" tanya Mama lembut.
" Hmm" jawab Rayina yang sudah lemas dan pucat.
Mama segera membersihkan muntahan itu dan segera memapah Rayina untuk kembali berbaring. Dan memberikan air putih hangat agar lebih relax.
" Pa, sepertinya putri kita jijik melihat darah. Sudah matikan saja. Biar kita nanti tahu melalui Ayden" pinta Mama.
" Are you okay sayang? Bagaimana rasanya? Apa ada yang kamu inginkan?" tanya Irfan.
" No thank's Pa. It's okay. Dulu aku hamil Ganesh tidak separah ini" ucap Rayina.
" Ya, Mamamu dulu juga sama. Dia tidak mengalami mual yang berlebih. Hanya pagi saat bangun tidur saja. Selebihnya dia sangat sehat. Bahkan makan apapun dia mau" terang Papa.
" Abang, Ibu hamil itu berbeda - beda. Jangan samakan. Hormon yang ada dalam tubuh masing - masing ibu juha berbeda. Hal yang wajar jika mengalami itu baby. Kalau tidak mengalami itu tentu perlu diperiksakan. Karena takutnya berpengaruh pada janinnya" terang Vero.
" Mi, tolong hubungi Papa Rony. Pastikan dia dalam keadaan baik-baik saja. Dan Pa, tolong telepon Devran dan Liona. Segera suruh pulang. Perasaanku tidak enak" terang Rayina yang mulai gelisah.
Irfan yang mengerti segera melakukan apa yang diminta menantu kesayangannya. Dia kemudian menghubungi Devran agar segera kerumah. Ada hal hal yang penting dan mendesak yang perlu bantuannya.
Sedangkan Vero hanya diam terpaku. Karena bingung bagaimana caranya dia melakukan hal tersebut. Mulai dari mana dia berbicara saja sudah membuatnya semakin bingung.
" Ah..." ide Vero tiba - tiba muncul.
☎️ Rony
" Hello Rony... Bagaimana hari ini? Kamu sehat? "
__ADS_1
" Aku ingin bertemu, segera ke rumah Abang Irfan. Aku ingin berbicara serius denganmu. Segera sekarang" ucap Vero.
Sementara di sebuah gedung pencakar langit.
" Apa yang akan Vero katakan? Aku tidak ada masalah dengannya? Apakah menyangkut Rayina? Tapi di rumah itu bukannya ada suami dan mertuanya? Untuk apa aku kesana? Apa sebenarnya yang terjadi?" gumam Rony.
" Ahh... sudahlah. Mungkin penting" ucapnya kemudian.
Rony segera meminta sekretarisnya mengatur jadwal ulang pekerjaanya. Dia segera meninggalkan pekerjaan dan juga kantornya. Dia kemudian melajukan mobilnya dengan santai menuju ke rumah Ayden.
Tepat di tengah jalan, tiba - tiba ada sebuah mobil mencurigaka yang mengikutinya. Dia memperhatikan mobil itu dan paham dengan hal yang akan mengancam dirinya.
" Dino, mode NOS" ucapnya ke asisten pribadinya.
" Bos, ini tapi.." ucapnya menggantung.
" Ada kecoa kecil yang mulai nakal!!" terang Rony.
Dino kemudian melihat spion mobil itu dan benar saja, ada seseorang yang membuntutinya.
Dino segera menekan tombol NOS. Dengan cepat mobil itu bergerak. Bahkan mobil yang mengikuti terasa dipaksa untuk cepat.
Setelah mode NOS dinyalakan, Dino kemudian memencet tombol kendali supir. Jadi, dalam kecepatan itu mobil masih mempunyai sistem kendali penyelamat.
Jadi kemungkinan kecil akan menabrak hal yang tidak terduga.
" Sepertinya sudah tidak nampak Dino. Kita ke mansion Abang Irfan. Dan jangan melalui jalan yang biasanya. Lalui jalan tikus. Aku akan menghubungi Ayden" terang Rony.
Dan benar saja, Ayden segera memberikan Map jalan itu. Dengan santainya mobil segera melaju ke tempat yang dituju. Setelah sampai, Rony disambut Farhan.
" Hmmm... keren !! Tak perlu diragukan lagi otak bocah itu. Dan kau Farhan, tepat berada di sisinya" ucap Rony memuji keponakannya.
" Terimakasih Bos. Bos sudah ditunggu nyonya" ucap Farhan.
" Loh.. bukannya Vero yang memintaku? Kenapa jadi putriku?" tanya Rony heran.
" Maaf Bos, itu saya tidak tahu. Silahkan lewat sini. Mari Pak Dino" ucap Farhan sopan.
" Farhan" panggil Rony.
" Ya Bos!!" jawab Farhan.
" Dino lebih muda darimu. Panggil saja namanya. Dan kau Dino, mulai belajar darinya. Ilmunya banyak, tuannya sangat pintar. Walaupun kalau sama istrinyanjadi kucing peliharaan" ucap Rony.
__ADS_1
" Hmm" jawab Farhan diselingi dengan senyuman membenarkan akan hal tersebut.