
" Tapi kenapa sayang?" tanya Ayden.
" Kemungkinan dia akan lumpuh" ucap Rayina lirih.
Semua pandangan mata menuju ke Rayina. Seakan tidak percaya dengan pernyataan Rayina. Rayina paham dengab ketidak percayaan semua orang yang ada di ruangan ini.
" Kita tunggu Kevin kemari. Apakah dia akan menyatakan hal yang sama atau tidak" ucap Rayina.
Tringgg
Suara pintu lift terbuka. Muncullah Kevin dan Farhan dari balik pintu. Segera dia mendekat kearah Rayina.
" Kevin periksalah dia" perintah Rayina.
" Okey" jawab Kevin.
" Siapa sebenarnya gadia cantik ini kakak? Dia begitu lemah. Kasihan sekali tikus kecil" cerocos Kevin.
Ayden mendekat ke arah Kevin dengan membawa pistol dan ditodongka ke arah Kevin. Seketika Kevin terkaget - kaget. Sifat kedua saudara itu memang sangat bar - bar. Dan terkenal dingin diantara saudara yang lainnya.
" Kerjakan! sepatah kata keluar dari mulutmu. Aku pastikan peluru masuk otakmu!" ancam Adyen.
Devran hanya tersenyum kecil melihat ketakutan Kevin terhadap Kakaknya.
" Dasar singa" gerutu Kevin.
Cettttttaaakkkk
" Auuuchhhh sakit abang" teriak Kevin kesakitan.
" Berani sama aku? Cepat kerjakan!" hardik Ayden.
Rayina hanya melihat pemandangan itu hanya bisa tersenyum. Ternyata duaminya itu bisa terlihat garang. Dan semua saudaranya segan dengannya.
" Bagaimana Kevin?" tanya Rayina.
" Kakak, kali ini aku akan menerangkan dengan sangat serius. Tapi aku mau tanya tentang satu hal" tanya Kevin.
" Apa?" tanya Rayina.
" Kak, kenapa ada sesuatu yang membahayakan pada tubuh wanita ini? Sesuatu itu akan menyebabkan kelumpuhan. Kakak apakita tidak segera mengangkatnya saja. Benda asing itu dengan cepat menyebar ke seleruh tubuh" terang Kevin.
" Kamu sudah tahu bukan? Benda asingbitu cepat atau lambat akam menyebarkan racun keseluruh tubuhnya yang akan menyebabkan kematian. Jika kita angkat itu maka kemungkinan dia akan lumpuh pada bagian tubuhnya" ucap Rayina.
" Thats right kakak ipar. Jenius!" teriak Kevin.
" So... apa lagi yang kita tunggu?" ucap Rayina.
__ADS_1
" Aruni.. bagaimana?" tanya Devran lirih.
" Biarlah aku mati secara perlahan. Aku sudah siap. Mungkin dengan ini aku bisa mati dengan tenang. Devran, Ayden.. Aku minta maaf kepada kalian. Dan untukmu wanita cantik... Terimakasih sudah menjadi yang terbaik untuk Ayden" ucap Aruni.
" Aruni, jangan berkata demikian. Kamu masih ada kesempatan untuk meminta maaf kepada siapun Aruni. Buatlah hidupmu berharga lagi" ucap Rayina.
" No, Aku sudah tidak mempunyai siapa- siapa lagi. Jika aku lumpuh tidak ada yang membantuku untuk apapun. Karena aku juga pasti akan merepotkan. Ini sudah konsekuensi yang harus aku ambil" ucap Aruni.
" Aku akan mengurusmu" ucap Farhan dengan lantang.
" Farhan..." lirih semua orang.
" Kenapa kamu Farhan? Sudahlah. Biarkan aku pergi" ucap Aruni.
" Bertahanlah demi aku" pinta Farhan.
Semua orang binging dengan percakapan kedua insan ini. Apakah Farhan terlibat? Semua yang ada di sana sangat terkejut. Hanya Rayina yang berpikiran positif.
" Farhan, jelaskan" pinta Rayina.
" Aruni, gadis kecil itu adalah cinta pertamaku. Saat aku akan mengungkapkan perasaanku. Ternyata Aruni mencintai Pak Bos. Aku mundur. Karena aku bukanlah siapa- siapa. Hanya ajudan bos besar. Aku tidak pantas bersaing dengan Pak Bos. Tapi... "ucap Farhan menggantung.
" Tapi apa Farhan?" tanya Ayden.
" Tapi setelah mendehgar semua yang sudah dikatakannya dan semua yang Pak Bos ucapkan, saya yakin dia amsih gadis kecilku yang dulu pak. Dia hanya salah jalan dan salah langkah" terang Farhan.
" Tidak Farhan. Kamu terlalu baik untukku" ucap Aruni.
" Setidaknya menjadi adikku, Aruni" ucap Farhan.
" Aruni, terimalah. Kami disini juga bisa kau anggap menjadi keluargamu. Aku yakin semuanya tidak keberatan" ucap Rayina.
" Jika kau tidak mau menerima tawaran Farhan, Kakak bisa tinggal bersamaku. Aku tidak mempunyai saudara, kakak bisa jadi kakakku" ucap Liona.
" Lihatlah Aruni. Banyak orang yang masih sayang denganmu. Dan jika kamu masih keras kepala. Aku meminta pertanggung jawabanmu atas semua kekacauan yang kamu buat hari ini" Ucap Rayina mengeras.
Ayden segera menghampiri istrinya agar tidak tersulut emosi. Dia mengusap bahu kecil tempat ternyamannya untuk bersandar.
" Aku akan pertanggung jawabkan itu semua" ucap Aruni lirih.
" Bagus! Kevin segera lakukan tindakan operasi" perintah Rayina.
" Tapi.. kakak.. aku bukan dokter bedah.. aku dokter umum.. aku tidak bisa kakak. Itu menyalahi aturan kedokteran" ucap Kevin.
" Ahhhh.... shitt... " ucap Ayden.
" Farhan, siapkan peralatannya. Devran tidurkan Aruni ditempat yang nyaman. Beri dia minum hangat. Liona tolong ambilkan minum untuk Aruni dan bawa air hangat dan baskom bersih" perintah Rayina.
__ADS_1
" Mas, tolong ambilkan kotak obat kita yang ada di kamar" pinta Rayina.
" Cepat... cepat..." teriak Rayina.
Sementara Papa dan Mama menunggu hasil dengan cemas. Semua berharap akan baik - baik saja. Farhan dengan cepat segera memenuhi permintaan nyonya bosnya.
Liona tergopoh - gopoh membawa semua yang diperlukan. Sementara Ayden belum kembali. Rayina akan mendial nomor suaminya. Tetapi tiba - tiba deringa pintu lift berbunyi. Rayina segera menyambar obatnya.
" Devran, menyingkirlah..." perintah Rayina.
" Sayang apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ayden cemas.
" Aruni, kamu siap? Kamu percaya denganku?" tanya Rayina.
Sementara beberapa jantung berpacu dengan semua yang akan terjadi. Jika operasi ini gagal, maka Rayina akan mendapatkan masalah. Yaitu sengaja melakukan praktik ilegal. Dan dia bisa terjerat kasus hukum, karena sengaja menghilangkan nyawa seseorang.
" Farhan, sudah siap? Cuci semua peralatannya" perintah Rayina.
" Kau Kevin, dokter cemen... pasang infusnya!" perintah Rayina meremehkan.
" Bisa tidak?" tanya Rayina lagi.
" Ii... ii..yaa.. bisa kak" jawab Kevin.
" Kelinci kecil, kemarilah. Farhan kau sebelah sana. Liona sebelah kakak" peritnah Rayina.
" Okey kakak.. siap nyonya" jawab Farhan dan Liona bareng.
" Farhan, sarung tangan" perintah Rayina.
" Liona ambil ampul obat bius. Suntikkan di area yang akan kita bedah. Kamu yang tahu dimana chips itu ditanam" perintah Rayina.
Liona gugup, keringat dingin mengucur membasahi dahinya. Rayina tahu, ini adalah pengalamannya. Sedangkan Rayina hanya tersenyum dan menggunakan seragam perlengkapan operasi.
" Kelinci kecilku, jangan gugup. Lihatlah kakak. Kamu percaya bukan dengan kakak?" ucap Rayina meyakinkan.
Sementara hati Rayina sendiri seolah inhin melompat, Rasanya tak kuasa akan menahannya. Rayina hanya beberapa kali mengambil nafas dalam - dalam dan membuangnya pelan- pelan.
Liona dengan hati - hati, mengambil obat itu dengan suntikan dan segera akan menyuntikkan di daerah dadanya. Liona sangat gugup. Tangannya gemetar tidak karuan.
" Ambil nafas panjang Liona... dan buang pelan- pelan. Lihatlah Aruni, dia menunggu kita" ucap Rayina.
Liona segera mengambil nafas dan denfan keyakinannya dia kemudian menyuntikkan obat bius dengan sangat hati - hati. Rayina melihai itu dengan senyum lebar.
" Farhan.. tandai " perintah Rayina.
Farhan dengan cepat menandai setelah Liona memberikan suntikan itu. Ayden dan Devran sangat cemas dengan apa yang akan dikerjakan Rayina.
__ADS_1