Pilot Vs Teacher

Pilot Vs Teacher
66.


__ADS_3

" Hai... Assalamualaikum..." sapa seseorang yang sudah masuk nyelonong.


Semua pandangan tertuju ke arah sumber suara. Mata yang baru saja tertuju denga gelegaran suara. Kini beralih ke sumber suara baru yang terasa tak asing di telinga.


" Waalaikumsalam" jawab serentak.


Semua terkaget dengan kehadiran seorang lelaki nan gagah. Berbadan tinggi tegap, hidung mancung, dengan mata coklat yang sangat menawan. Penampilan bak artis luar negri yang sangat santai tetapi modis.


Pakaian casual dengan brand dunia yang tentu harganya sangat fantastis. Sepasang kaki melangkah menyambut sosok itu. Ya, tentu saja Ayden siapa lagi.


" Hai... brengsek.... "sapa Ayden mendekati


Ayden sedikit cepat berjalan menyapa saudaranya itu. Lebih tepatnya adiknya. Mereka kemudian saling berpelukan melepaskan kerinduan satu sama lain dan berguling- guling.


Mata tua nan sayu sudah terbanjiri bulir - bulir air dipelupuk netra senjanya.Ya, tentu saja Mama mertua. Siapa lagi?


Tak sadar kelakuan mereka di pamdanf oleh banyak mata. Kelakuannya seperti anak kecil yang membuat semua bibir tersenyum menyaksikannya.


Terlihat rindu dan kasih sayang mereka yang tak tertahankan dan tak terbendung. Mereka terkadang berbeda pendapat. Tetapi untuk melindungi satu sama lain sangatlab kompak.


" Stop bro... I miss you so much bang" ucap Devran.


" I miss you too adik kecilku" ucap Ayden dengan sedikit berembun di matanya.


" Baiklah, bidadarimu sudah menantimu" ucap Ayden kembali.


Devran kemudian menuju Mama. Memeluk, mencium kening dan selalu mengucapkan kata cinta. Itulah yang selalu Devran ucap ketika bertemu keluarganya.


" Mama, I miss you too my love.." ucap Devran dengan memeluk dan mencium kening Mama.


Tak terasa netra tuanya telah basah bak air mengalir. Tak kuasa membendung bulir air di pelupuk matanya dia menumpahkan semuanya.


" I miss you so much sayang. How are you?" tanya Mama.


" Fine Ma.. See.. bahkan aku sangat tampan bukan?" jawab nyleneh Devran.


" Hei.. lelaki tua. Kau jangan pernah cemburu jika aku dengan cintaku begini. Kau selalu begitu" ucap Devran mengejek Irfan


Seketika pikiran Rayina berpikir.


"Cemburu dengan anak? Ah... ternyata ayah dan anak sama saja. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. hihihi" batin Rayina.


" Papa, I miss you so much. Bagaimana kabar Papa? Bagaimana misi Papa?" pertanyaan dan pernyataan Devran memberondong.


" Ah... I miss you too boy. Kamu sehat? Nanti kita bahas. Boy, kenalkan istrimu!" pinta Papa kepada Ayden.

__ADS_1


" Oh.. okay.. Dev, ini kakak iparmu. Rayina" ucap Ayden mengenalkan.


" Ah.. Kakak ipar.. sangat cantik. Kenalkan aku Devran, pangeran Irfann yang sangat tampan" ucap Devran sambil berjalan dan menengadahkan tangan seolah akan memeluk Rayina.


" Stop it brengsek!!!" teriak Ayden.


" Ah.. si ceroboh marah Kakak ipar. Jinakkanlah, telingaku sampai sakit mendengar umpatannya" ejek Devran.


" Oh... wait.. siapa ini?" tanya Devran mendekati dua makhluk kecil yang aangat tampan.


" Kamu lupa sama uncle?" tanya Devran pada Ben.


" Uncle?" tanya Ben kembali.


Semua orang tertawa mendengar pertanyaan balik Ben.


" Rasakan. Tidak pernah pulang dan menampakkan batang hidungmu. Hingga keponakanmu lupa denganmu" ucap Mama.


" Oh.. Mama.. come on.. Ben.. are you seriouse? do you not remember me? " tanya Devran meyakinkan.


Ben hanya menjawab dengan gelengan saja. Merasa belum pernah bertemu dengan Devran, Ben agak diam dan hanya mengamati. Untuk dipaksakan ingatpun sia- sia.


Pertemuannya dengan Devran sudah sangat lama. Mungkin ketika Ben berumur dua tahun. Sedangkan sekarang usianya 8 tahun. So, dia pasti tidak mengingatnya.


" Wait... Irfan mempunyai 2 pangeran lagi.. waow.. amazing.. Who is there?" tanya Devran melihat Ganesha yang menggemaskan.


" Dia tahu bang, aku orang baik dan penuh cinta. Siapa dia bang?" tanya Devran menyelidik.


" Anesh om" jawab Ganesha cedal.


" Ganesha om" jawab Rayina menjelaskan.


" Waow.. semoga kamu secerdas Ganesha. Bang kamu hutang penjelasan kepadaku" selidik Devran.


" Baiklah. Nanti aku ceritakan. Sekarang kita makan dulu. Lapar sudah perutku hanya menyaksikan dramamu" gerutu Ayden.


Mereka semua mengambil tempat duduk masing- masing. Seketika Devran menggoda abangnya untuk mengambil tempat duduk di sebelah kakak iparnya, Rayina.


Ayden seketika menjewer kupingnya. Karena itu adalag tempat duduknya.


" Ah.. kakak ipar dia menyikasku. Tolonglah aku" memelas Devran.


" Sudahlah sayang.. mari duduk. Aku ambilkan makannya" ucap Rayina lembut.


" Abang.. istimewa" sambil mengacungkan jempol..

__ADS_1


Semua sibuk dengan piringnya masing - masing dengan memilih sendiri isinya. Semua sibuk melihat dan mengamati apa yang akan di makannya.


" Semua masih sama. Tradisi ini tidak berubah. Ini yang aku rindukan. And you abang, kamu memilih istri yang sangat pintar memasak. Lihatlah betapa menggairahkan semua tampilan masakannya. Walaupun aku tidak tahu bagaimana rasa masakan ini " cerocos Devran.


" Ya, thank you lah pujiannya. Maka dari itu nikmatilah. Bagaimana kau tahu ini bukan masakan Mama?" tanya Ayden.


" Mana mungkin Mama memasak makanan asing ini" ucap Devran santai.


" Kamu!!" pukul Mama dengan lembut.


" Nikmatilah sayang, kakak iparmu sangat pandai memasak. Cobalah" pinta Mama.


" Papa kenapa kau diam saja? Apakah sungguh enak sehingga kau tidak keluarkan beomu itu?" ejek Devran.


"Diamlah! aku sedang menikmati masakan putriku. Kamu cukup diam dan nikmati setiap kunyahanmu" ucap Irfan.


" Baiklah beo tua" ejek Devran lagi.


" Seenak apa masakan kakak iparku ini. Aku jadi penasaran" cerocos Devran.


" Ada bakso, rendang, sate, kari, roti jala, masala, and then salad buah. What do you want Dev?" tawar Mama.


" Emb.. kakak ipar apakah ini masakan daerahmu atau negaramu?" tanya Devran penasaran.


" Bakso, rendang, sate adalah masakan di negaraku. Setiap daerah di negaraku pasti akan menemukan itu" jelas Rayina.


" Ini kari dan roti jala, kau juga yang buat kakak ipar?" tanya Devran menyelidik.


" Cerewet !! ambil saja dan nikmati" gertak Ayden.


" Ah.. baiklah.. kelihatnnya enak" ucap Devran.


Dia kemudian mengambil nasi dan rendang dengan siraman kuah kari. Dia merasa sepertinya cocok dipadukan.


Ketika suapan pertama masuk ke mulutnya, tidak ada beo berceloteh kembali. Seakan otak tidak mampu mengolah kata apa lagi yang akan dilontarkan.


Ayden yang menyaksikan pemandangan itu tertawa terbahak - bahak. Sangat lucu, tentu saja. Itu membuatnya tak hentinya tertawa.


" Pelan sayang, nanti tersedak" begitu lembut dan perhatiannya Rayina.


" Abang, kau benar - benar ya.. Tapi ini sangatlah enak kakak ipar. Kenapa tidak memulai bisnis kuliner saja di sini. Makanan khas negaramu ini. Pasti disini juga banyak bukan orang dari negaramu" terang Devran.


" Good idea" celetuk Rayina.


" No baby, aku tidak memberikan ijin atas itu. Aku masih mampu memberikan nafkah untukmu. Gajiku bahkan lebih dari cukup bukan?" tegas Ayden.

__ADS_1


" Ganesha siapa bang?" tanya Devran yang mengalihkan topik.


__ADS_2